MasukLisa.Kadang, hidup ini begitu lucu. Bertahun-tahun aku merindukannya, dia sama sekali tak tergapai. Kini, saat aku ingin semua masa lalu itu hilang, dia hadir tanpa diminta.Apakah ini jawaban atas ketakutanku?Suara magis itu menyebut namaku tanpa beban, tanpa dosa. Seolah memang tidak ada satu hal pun yang terjadi di antara kami berdua.Aku yakin, dia sadar tubuhku gemetar dan dingin saat jemarinya menyentuh bahuku yang telanjang.Kenapa harus sekarang dia datang?"Hi ... Iya?""Benar, Lisa, kan?" Jari telunjuknya menunjuk ke arah wajahku, yang aku yakin sudah pucat pasi.Aku tidak menjawab. Hanya tersenyum."Masih ingat aku, kan? Enggak mungkin kamu lupa."Are you kidding me, Adrian? Aku lupa sama kamu?Mataku nanar menatap matanya. And
Indonesia. Lisa.Langit mendung, tak nampak bintang-bintang di sana. Hanya gedung-gedung tinggi yang memanjakan mata, dan keramaian jalanan di depan hotel. Ini sudah pukul 18.00 wib, tapi aku masih termenung di balkon kamar. Menatap langit yang tak ada menariknya sama sekali. Harusnya, aku sudah berada di depan cermin, memoles wajah dan memakai gaun terbaik untuk hadir di pesta resepsi Rosie.Nyatanya, aku memilih menikmati atmosfer negara ini yang justru membuka semua luka lama. Mengingat mereka, orang-orang yang menyakitiku. Ibuku yang menghianati aku dan ayah, juga Adrian yang menggantung perasaanku sepanjang belasan tahun.Semilir angin dingin menyapa tubuhku, bersamaan dengan perasaan takut yang tiba-tiba hadir begitu saja. Kini aku berada begitu dekat dengan mereka, orang-orang di masa laluku. Apakah aku akan tersakiti kembali? Pertanyaan itu sedikit mengusik ketenanganku malam ini.
Indonesia. Lisa.Kesal membuatku menjadi tidak fokus. Apapun yang aku kerjakan rasanya salah.Sepatu dengan hak yang terlalu tinggi, kain bawahan yang menyapu lantai, sungguh bukan suatu hal yang aku suka.Sepanjang menuju ballroom aku mengumpat tidak jelas. Rasa frustrasi yang sebenarnya aku sendiri tidak mengerti karena apa? Seorang Lisa, tidak akan hilang kendali hanya karena sepatu yang ketinggian dan kain yang kepanjangan.But ... I'm doing it now!Dan, saat melihat seberapa banyak anak tangga yang harus aku naiki? Umpatan keras hewan pink berkaki empat itu meluncur begitu saja dari mulutku tanpa bisa dicegah."BABI!!!"-Aku menarik napasku dalam-dalam. Aku mulai menyesali keputusanku datang ke negara ini dan acara ini. Aku tidak pernah punya keberuntungan di negara ini!Perlahan aku mulai m
Indonesia. Lisa.Aku tak percaya pada keputusanku saat menapakkan kaki di bandara Soekarno-Hatta. Aku kembali ke negara ini setelah sekian lama aku berusaha lari.Dua minggu yang lalu, Rosie memaksaku untuk berangkat bersama dirinya dan keluarga besarnya. Namun, aku menolak dengan berbagai macam alasan.Sebenarnya aku ragu untuk kembali ke negara ini, jika bukan karena Rosie. Aku sudah terlanjur berjanji kepadanya untuk menjadi pendamping mempelai di hari bahagianya.Sekarang aku bingung harus bagaimana? Aku memutuskan datang di detik-detik terakhir. Dan hari ini adalah acara mereka berdua. Aku tidak yakin akan sampai tepat waktu untuk datang ke acara tersebut. Apalagi mengingat bagaimana macetnya ibukota negara ini."This is my first time to Jakarta."Ucapan Lucas menyentak kesadaranku. Kami sedang mengantre bagasi. Ya ... Aku mengajak Lucas, aku butuh
Rotterdam. William.Shit!Sepanjang jalan aku mengumpat, bahkan Big tampak marah dengan kelakuanku.Oh my God, Willy. What is happening to you?Sial, aku terus mengutuk diriku sendiri dan juga Lisa, pemilik kedai tempat Rosie bekerja. Bagaimana mungkin suara desahan wanita itu terus mengganggu otakku sepanjang perjalanan pulang.Aku sungguh tidak fokus menyetir, aku membayangkan wanita itu di bawahku, mendesah karena aku memasukinya, dan dia mendesahkan nama ku. Damn, ini gila!Aku benar-benar sudah gila. Kemarin wanita bermantel merah yang mengganggu pikiranku, dan sekarang desahan Lisa yang bahkan wujud wanita itu belum aku ketahui. Dan lebih gila lagi sekarang aku merasakan ngilu, bahkan sakit pada junior ku yang sudah menegang.Aku mengetik beberapa kata untuk Rosie, tapi aku gamang untuk mengirim pesan itu. Apa yang akan dipi
Utrecht. Lisa.Aku tergelak bersama Rosie saat melihat Pizza sibuk mengganggu Big. Big naik ke atas kursi dan Pizza terus menggonggong dari bawah kursi. Sesekali tamparan tangan gempal Big mengenai wajah Pizza. Hiburan tersendiri melihat mereka berdua. Sepertinya aku harus mempertimbangkan usul George, bahwa aku harus mulai memikirkan teman untuk Pizza agar dia tidak kesepian.Hari ini kedai tutup. Terpaksa tutup lebih tepatnya. Becca ijin cuti dan George mendadak tidak bisa datang. Antoni dan Micky bertugas untuk nanti malam. Tidak mungkin pagi ini hanya aku dan Rosie yang handle semua. Sedangkan hari minggu pagi adalah ramai-ramainya pengunjung."Jadi, kau sekarang berkencan dengan Lucas?" pertanyaan Rosie membuat pandanganku pada Pizza dan Big teralih kepadanya. Aku menggeleng, mencecap kopi pagi ku dan memasukkan satu Nastar utuh dalam mulut.Kami sedang menikmati kopi pagi di sudut sofa