LOGINSatu bulan sebelum hari pernikahan, Amaryllis Aquella harus menelan pil pahit. Saat kesucian yang ia jaga selama hidupnya harus terkoyak, saat dua pria yang tidak bertanggung jawab menghancurkannya. Zakary Emanuel harus menekan rasa sakit di hati saat kekasihnya menyerahkan kesucian pada pria lain. Hubungan yang terjalin lama harus terurai oleh sebuh dendam. Sanggupkah dua hati yang tersakiti kembali bersatu.
View MoreMata itu menatap kosong manik kemerahan yang sedang menarik rambutnya. Rasa sakit bahkan tidak bisa lagi tergambar dari rautnya. Ia mengulurkan tangan lemah ke arah wajah pria itu. Sudut bibirnya bergerak sedikit.
"Akhirilah, aku sangat lelah,” bisiknya dengan lemah. Matanya perlahan tertutup dengan rapat.
Zakary melepaskan cengkramannya. Ia melihat wanita yang menyandang status sebagai istrinya. Sudah tidak menatapnya, ia menepuk pipi wanita itu dengan pelan.
"Bangun, Jalang! Aku belum selesai denganmu!” teriaknya. Ritme jantungnya berdegup kencang. Sudut matanya mulai berair. Ia segera membawa istrinya ke rumah sakit.
Sepanjang ia berdiri di depan ruang UGD, hatinya tidak kunjung tenang. Semua perlakuan selama ini tersemat di benak—berputar bagai sebuah film.
Seorang dokter keluar dari sana sambil menghampiri Zakary.
"Bagaimana istri saya, Dokter?” tanyanya dengan suara sedikit bergetar. Manik hitamnya diliputi ketakutan. Bukan takut karena sudah menyiksa, ini lebih dari itu.
"Maaf, istri Anda sedang kritis."
Bukan kalimat itu yang sedang ia tunggu. Bukan sama sekali. Ia jatuh terduduk di depan UGD. Rasa sesal menghantuinya, perlakuan buruknya berputar di benaknya bagai sebuah film.
🌺🌺🌺
Seorang pria sedang menatap sebuah kalung bermata berlian. Satu bulan lagi ia akan menyematkan benda berkilau itu ke leher istrinya. Ia tersenyum membayangkan betapa bahagianya mereka berdua.
Ia keluar dari toko perhiasan dengan senyum menawan. Wajahnya yang tampan menjadi perpaduan menarik dengan kantong tebalnya. Mobil sport merek lamborgini melaju pelan menembus jalan raya.
Ia mendatangi kediaman Quella. Sudah menjadi kebiasaan ia langsung masuk ke dalam apartemen milik kekasihnya. Senyum bahagia masih terpatri sempurna di wajahnya.
"Sayang, kejut ...." Ia tampak syok melihat keadaan kekasihnya yang sangat kacau. Ia mendekat dan hendak bertanya. Namun, raungan histeris membuatnya mematung tak berkutik untuk sesaat.
"Pergi ... jangan sentuh aku!" raung Quella dengan histeris.
Ia lalu tersadar telah terjadi sesuatu pada kekasihnya. Ia melihat leher Quella banyak bercak merah seperti bekas ciuman. Ia jongkok dan menatap dengan bengis.
"Katakan, siapa yang melakukannya?!" tanya Zakary dengan dingin.
Gadis itu masih menangis, membuat jiwa pria itu meronta mengamuk.
"Katakan!" teriaknya ditemani air mata yang jatuh.
"Maaf ... maafkan aku, pergi!" raung Quella dengan sedih.
Zakary melangkah perlahan. Kakinya seperti jelly yang siap ambruk jika tidak berpegangan pada dinding. Kekecewaan meliputi seluruh tatapannya. Ia pergi dari sana dengan perasaan hancur berkeping-keping. Wanita yang sudah ia jaga selama lima tahun. Kini sudah ternodai oleh pria lain. Apa lagi yang tersisa dari semua yang ia jaga selama ini.
"Brengsek ... brengsek!" Zakary memukul stir mobilnya dengan kasar. Bahunya terguncang pelan saat lagi-lagi ia menangis. Tidak pernah ia sehancur sekarang.
Sedangkan Quella menangis meratapi kemalangan serta kepergian kekasih yang sudah ia kecewakan. Ia melihat sebuah kaca dengan tatapan kosong. Di sampingnya terdapat vas bunga yang terbuat dari bahan keramik. Dengan keras ia membanting ke arah kaca hingga berderai ke lantai membentuk berbagai serpihan.
Tangannya dengan gemetar mengambil serpihan tersebut. Sakit di hatinya tidak akan pernah sembuh jika ia masih berada di dunia yang sudah menghancurkannya.
Jantung Zakary berdetak tak menentu, ia merasakan sesuatu menusuk ulu hatinya. Ia kembali tersadar dari keterpurukannya. Ia segera keluar dari mobilnya dan kembali masuk menuju apartemen kekasihnya. Setiap jantungnya ngilu akan ada sesuatu yang terjadi pada kekasihnya.
Ia segera menekan lift menuju lantai dua puluh. Namun, perasaannya semakin tidak tentram. Dengan gerakan cepat kakinya lari ke arah tangga darurat. Ia berlari dengan cepat sampai menit ke sepuluh ia sampai ke lantai yang dituju. Ia segera menekan sandi pintu lalu masuk dengan tergesa-gesa.
Matanya hampir keluar dari tempat saat melihat gadis yang sangat ia cintai terkapar dengan genangan darah dari tangannya.
Napas pria itu terlihat memburu. Matanya tidak lepas memandang ruang UGD tempat kekasihnya dirawat. Sesekali ia menghela napas panjang sembari menyugar rambutnya.
Seorang dokter keluar dari sana diikuti seorang suster. Zakary segera menghampiri.
"Dok, bagaimana kondisi kekasih saya?"
"Untunglah luka sayatan pada tangannya tidak terlalu dalam, sehingga tidak melukai arterinya."
Pria itu menghela napas lega dan mengucap beribu syukur. Namun, senyumnya lenyap seketika saat mendengar sebuah kalimat dari dokter tersebut.
"Kondisi janinnya sangat lemah," ucap dokter tersebut dengan pelan.
Bibirnya bergetar hebat. "Ja ... maksud dokter janin bayi, kekasih saya hamil?"
Anggukan dokter membuat napasnya tercekat di kerongkongan. Hatinya seperti dicabik-cabik oleh ratusan duri beracun. Sangat menyakitkan.
"Kalau begitu saya permisi."
Zakary berjalan pelan ke tempat duduk. Seluruh sendi kakinya terasa lemas seketika. Satu yang berputar-putar di pikirannya. Kapan ia pernah meniduri Quella. Seingatnya mereka tidak seliar itu dalam pacaran.
Dunia Zakary hancur untuk yang kedua kalinya. Ia bisa memaafkan Quella jika hanya bagian luar yang disentuh. Tapi ini sudah keterlaluan. Hubungan yang mereka bina sekian lama kini hancur berkeping-keping oleh penghianatan gadisnya.
Kejutan yang seharusnya menjadi spesial kini berubah hambar dan menyakitkan. Air mata yang sempat turun kini perlahan mengering. Ia menatap tubuh lemah Quella yang masih terbaring di ranjang. Tidak ada rasa iba di sana, yang ada hanya kilatan kemarahan, kebencian dan dendam yang menyatu dengan kebengisan.
"Sekali kau mengkhianatiku maka sepuluh kali balasannya dariku. Aku memang sangat mencintaimu tapi kau membalasnya dengan luka. Maaf Quella mencintaimu adalah kesalahan terbesar yang pernah kulakukan dalam hidup."
Kakinya perlahan melenggang menjauh dari sana. Ia membuang segala kenangannya bersama penghianayan Quella. Ia tidak ingin lagi luluh pada wanita seperti Quella. Terlihat baik, tapi memyimpan banyak kebusukan. Ia sangat membenci gadis itu.