Share

BAB 11. TRAKTIR MAKAN

Author: Snow Sparkle
last update publish date: 2020-10-12 13:41:59

Albin berjalan pelan bersama temannya keluar dari Havana klub. Mereka saling tertawa. Sesekali saling menggoda dan bercanda. Tawa mereka mengisi lorong parkiran sepeda motor khusus karyawan. 

Jovan bersandar pada pilar lorong parkiran. Dia tersenyum manis saat mendengar Albin dan teman-temannya menggosipkan para pelanggan mereka. Dari yang menyebalkan sampai yang baik hati. 

Jovan tetap di tempatnya, dia menyimak lebih saksama siapa tahu namanya pun disebut. Namun, hingga mereka saling mengucapkan salam perpisahan namanya tidak pernah disebut. Dia memperhatikan aktivitas mereka.

“Aduuuuuh, mana kunci gue?” Jovan melihat Albin panik membuka setiap katong di dalam tasnya. 

“Cari dulu. Lo kebiasaan. Panik duluan.” Gina menggelengkan kepala. 

“Duuuuh mana, ya?” Albin cemas. Dia berjongkok di lantai mengeluarkan semua isi tasnya di lantai. Albin memperhatikan barang-barangnya yang berserakan di lantai. 

“Kok gak ada, ya?” Albin semakin gusar. 

“Coba cari dalam saku. Ada gak?” Rosi mendekati Albin. Dia ikut berjongkok memeriksa tas dan barang-barang Albin. 

“Gue capek Al, liat lo gini terus. Lo gak capek? Tiap hari ribuuuuut mulu cari kunci motor.” Gina memutar matanya. 

“Berisik. Lo diam dulu. Gue lagi pusing ini.” Albin menggaruk rambutnya dengan gerakan kasar. Albin merogoh semua sakunya. Dari saku blazer, saku rok hingga saku kemejanya. 

Albin tiba-tiba menyingkap roknya. 

“Lo mau apa, Al?” Gina heran melihat Albin. 

“Mau kencing!” 

“A-apa?!!” Rosi dan Gina terpekik. Mata mereka terbelalak. Albin belum masuk kategori mabuk meski dalam pengaruh alkohol. 

“Cari kunci-lah! Apalagi?!” Albin gusar. 

“Tuhaaaan!” ucap Gina dan Rosi bersamaan, “lo nyimpen kunci dalam celana-dalam?” ucap mereka keheranan.

Albin tidak menjawab mereka. Dia menyingkap roknya lebih tinggi lalu merogoh kantong celana hot pants yang dikenakannya hingga menjulurkan kantongnya keluar. 

“Gak ada juga. Gue pulang gimana?” ucap Albin nelangsa. 

Jovan melangkah mendekat, “Albin,” panggilnya. 

Albin dan teman-temannya memalingkan wajah. Mencari asal suara. 

“Hah?!” Albin terkejut. Dia segera menurunkan roknya, “ngapain lo di situ? Mau ngintip gue?” Albin berang. Wajahnya merah karena malu. 

“Albin!” Gina memandangi wajah Albin dengan mata yang membulat. Dia heran kenapa temannya itu bersikap tidak wajar. Dia biasanya selalu bersikap manis. 

“Apa?! Ngintip?! Amit-amit. Kurang kerjaan banget gue. Lagian kalau gue mau ngintip yang pasti bukan lo orangnya. Kayak gak ada cewek lain aja di dunia ini!”  Jovan menggelengkan kepalanya sambil berdecak kesal. 

“Ya abis? Lo ngapain diem ngumpet di situ?” Albin semakin berang. 

“Mau balikin kunci!” Jovan memutar matanya malas. 

“Kok bisa ada di elo ‘sih?” 

“Ada di lantai room. Gue mau tanya punya lo bukan?!” Jovan mengacungkan kunci motor. 

“Iya! Balikin!” Albin menadahkan tangan. 

“Gue liat lo gak gini sama orang lain.” Jovan mengeluhkan sikap Albin. 

“Orang lain gak iseng kaya lo!” 

“Lo masih marah masalah uang? Ini coba liat. Lo itu ceroboh. Kalau gue kasih uang itu pasti gini judulnya. Kunci aja lo nyari tiap hari.” 

“Kalian silahkan ngobrol dulu, kami duluan.” Gina dan Rosi merasa tidak nyaman berada di antara mereka. Mereka berdua merasa berada di tengah-tengah perang saudara antara Irak dan Iran. 

“Eh… mau ke mana? Tungguin!” Albin menjadi kikuk. 

“Mendingan kalian selesaikan dulu aja. Kami duluan, yaaa.” Rosi dan Gina sesegera mungkin pergi dari tempat itu. Mereka tertawa di jalanan. Mereka tidak mau menjadi sasaran amukan Albin karena secara tidak sengaja membongkar kecerobohan Albin. 

“Balikin kuncinya.” Albin memaksa. 

“Santai dikit kenapa sih? Ngomong baik-baik. Lo cewek teraneh yang gue temui.” Jovan kembali menggelengkan kepalanya. 

“Terima kasih, Jo. Untung kamu temukan kuncinya.” Albin tersenyum manis sambil mengerjapkan matanya. 

“Sama-sama. Eh tapi ini gak gratis. Aku gak terima hanya ucapan terima kasih. Ucapan terima kasih gak mendatangkan keuntungan. Aku sudah berdiri di sini. Nungguin kamu. Digigit nyamuk. Masa’ ucapan terima kasih doang?” 

“Apa yang bisa aku lakukan sebagai ucapan terima kasih?” Albin mulai gemas. 

“Traktir makan. Lapar nih!” Jovan tiba-tiba merangkul pundak Albin lalu memaksanya berjalan

Albin terkejut, dia melepaskan rangkulan tangan Jovan, “Aku gak ada uang buat traktir kamu makan.” 

“Loh, itu tadi uang. 500 dolar. Jangan pelit ‘lah, Al.” 

“Astaga…” Albin mengurut dada, “Emangnya bisa bayar pakai dolar? Kamu aneh banget, ya. Kasih uang tip gak ikhlas banget. Udah uang ditahan lama sampai sebulan. Malak pula.” 

“Nanti aku bayarin dulu. Setelah kamu tukarkan uangnya bayar balik, ya.” Jovan tersenyum konyol sambil mengangkat kedua alisnya. 

“Gini banget nasib gue, yaaaa.” Albin meratapi nasib di dalam hati. 

“Iya, deh. Tapi makannya di pinggir jalan, ya. Kita makan nasi kucing.” Albin menelan ludah. 

“Gak ‘ah. Aku tau tempat makan yang enak.” Jovan tersenyum manis. 

“Di mana?” 

“Ada laaah, tempat favorit.” Jovan menarik pergelangan tangan Albin memaksanya berjalan.

Albin terdiam. Langkahnya tertahan “Tempat favorit?” Albin memperhatikan penampilan Jovan dari ujung rambut sampai ujung kaki. Jovan sangat tampan dan stylish. Sangat terlihat pakaian yang dipakainya mahal. Tidak mungkin tempat favorit yang dimaksud Jovan itu warung kaki lima. 

“Gak usah dibalikin kuncinya. Aku pulang naik ojek aja.” Albin mengambil ponselnya lalu membuka aplikasi ojek online. 

“Kok gitu? Kenapa?” Jovan kecewa. 

“Aku panggil tukang kunci aja besok. Ambil aja kuncinya buat kamu.” 

“Ya udah, panggil besok.” Jovan kembali menarik tangan Albin. Memaksanya berjalan.

“Eh, ini mau ke mana?” Albin kebingungan.

“Makan! Aku lapar.” 

“Ya kamu makan sendiri sana.” Albin mendesah gusar.

“Kan kamu bilang tadi mau yang traktir?” 

“Kamu itu malak.”

“Bodo amat. Aku lapar. Pelit amat ‘sih?”

“Jo…! OK.OK. Motorku gimana?” Albin akhirnya menyerah. Sebenarnya dia lebih memilih memanggil tukang kunci pasti lebih murah daripada harus membayar makanan Jovan di tempat favoritnya. 

“Nanti ambil besok. Katanya mau panggil tukang kunci.” Jovan terus menarik pergelangan tangan Albin mengikutinya menuju parkiran mobil. 

“Aku besok kerja gimana?” 

“Naik ojek. ‘kan tadi mau panggil ojek?” Jovan bicara dengan nada cuek. 

Jovan memasuki mobilnya. Sementara Albin masih terpaku berdiri di sisi kiri mobil. 

Jovan membuka kaca mobil, “Albin. Ayo naik. Kenapa malah bengong di situ?”

Albin terpana melihat mobil Mercedes-Benz yang dikendarai Jovan. 

“Mati gue. Bukannya untung malah buntung ini.” Albin menggerutu. Dia ketakutan membayangkan menu makanan yang dipesan Jovan. 

“Naik!” Jovan bicara lebih keras. 

“Eh iya, iya.” Albin tergagap. Dia segera naik ke dalam mobil Jovan. 

Jovan terus bicara selama dalam perjalanan, tapi sayangnya Albin sama sekali tidak menyimak apa yang Jovan bicarakan. Di dalam benaknya berlarian jumlah tagihan yang harus dia bayarkan. 

“Albin! Kok melamun?” tanya Jovan.

“Hahahaha,” Albin tertawa miris, “Pusing nih.” 

“Kenapa? Gak biasa naik mobil?” tanya Jovan.

“Mungkin.” Albin tersenyum hambar. 

Jovan memasuki area parkiran cafe mewah. Kedua kaki Albin semakin melemah melihat tampilan cafe itu.

“Ayo, turun.” Jovan tertawa melihat wajah pucat Albin. 

“Di sini?” tanya Albin. 

“Iya.” Jovan membuka pintu mobil, dia berdiri di sisi pintu, “Albin. Ayo. Gak iklas bangat kayaknya traktir aku. Slow motion mulu dari tadi.” Jovan berdecak sambil menggelengkan kepalanya. 

“Emang gak ikhlas! Kamu itu malak! Mana ada orang ikhlas dipalak!” Albin merengut. Dengan terpaksa dia keluar dari mobil. 

Jovan tertawa gelak mendengar kata-kata Albin, “Bodo amat. Yang penting ditraktir.” Setelah itu Jovan mengunci pintunya mereka berjalan beriringan. 

Jovan meraih tangan Albin, berusaha menggandengnya. 

“Apa ‘sih?” Albin melepaskan tangan Jovan dengan kasar. 

“Aku pegangin.” Kilah Jovan sambil kembali meraih tangan Albin.

“Aku bukan anak kecil. Gak usah dipegangin. Emangnya layangan? Dijagain terus.” Albin menggerutu. 

“Ya… siapa tau kamu kabur. Janji traktir.” Jovan kembali tertawa. Deretan giginya terlihat. 

Mereka masuk ke dalam cafe. Albin mengedarkan pandangannya ke seisi cafe. Dia menelan ludah membasahi tenggorokan yang terasa kering. 

“Duduk.” Jovan menarik kursi untuk Albin 

Albin mengangguk pelan, “Aaaaah biarlah. Sekali ini,” ucap Albin di dalam hati. 

Jovan memanggil waiter. Seorang lelaki mendekat dan menyerahkan buku menu. 

“Huuuffff!” Albin menyeka keringat dingin di keningnya saat melihat tampilan buku menu itu dilapisi kulit asli. 

Albin membalik-balik buku menu. Keningnya semakin banyak memproduksi keringat dingin saat dia melihat harga yang tertera di bawah gambar makanan itu. Dia terus balik membalik mencari makanan dengan harga termurah. 

“Buseeeet air mineral doang gaji gue sehari. Di warung cuma 3000 perak.” Albin meletakkan dagunya di meja. Lalu menyembunyikan wajahnya di balik buku menu, “dosa apaaaaaa gue, ya. Dikasih hukuman ketemu dia.” Albin hampir menangis. 

Jovan tersenyum melihat Albin frustasi, “Kamu bingung, ya mau pilih makanan yang mana? Semuanya keliatan enak ‘kan? Sini aku yang pilihkan.” Jovan menyebutkan pesanannya kepada waiter. Dia memesan makanan pembuka menu utama hingga makan penutup. Lalu minuman. Untuknya dan untuk Albin. 

Albin membalik lembar demi lembar apa yang dipesan Jovan. Dia melihat harganya. 

“Mati gue… mati…. kali ini mati beneran!” Albin menghitung cepat. Wajahnya semakin pucat. 

Tidak lama kemudian menu pembuka dan minuman datang. Mata Albin tak henti-hentinya berkedip karena cemas melihat semua makanan terhidang di meja. 

“Mari makan.” ucap Jovan tersenyum lebar. 

Albin menyantap apa yang dipesankan Jovan. Dia memakannya dengan mata berkaca-kaca. Dia tidak tau harus bagaimana. Makanan itu memang sangat enak tapi dia yakin pasti menghabiskan 2 minggu gajinya untuk membayar tagihannya. 

Jovan tersenyum lebar saat melihat Albin uring-uringan. Wajahnya yang merengut terlihat kotak-kotak begitu menggemaskan bagi Jovan. 

Albin melahap semua makanan itu bagai orang kesetanan. Dia melampiaskan kekesalannya dengan menjejalkan semua makanan ke mulutnya. 

“Eh, kok gak dihabisin?” tanya Albin dengan pandangan mengenaskan saat melihat semua makanan milik Jovan bersisa. 

“Aku sudah kenyang,” jawab Jovan cuek.

“Tadi katanya lapar banget!”

“Iya sekarang sudah kenyang.” Jovan menyandarkan punggungnya di kursi.

“Sini aku yang makan!” ucap Albin. 

“Eh, kamu belum kenyang?” Jovan terkejut. Semua makanan Albin bersih. Bahkan piring makannya terlihat licin dan mengkilap seperti piring baru. Entah bagaimana caranya Albin bisa membuat piringnya selicin itu. Jovan tidak melihatnya tadi.

Albin tidak menjawabnya. Dia mengambil gelas Jovan dan menghabiskan minumannya. Perutnya sangat kekenyangan, tapi dia tidak bisa merelakan uangnya dibuang begitu saja dengan membuang makanan. 

Albin mengangkat tangannya. dia memanggil waiter. 

“Albin kamu mau apa? Pesan apa?” Jovan bingung. Albin tidak menjawabnya. 

“Mas, tolong bungkus makanannya,” ucap Albin dengan nada cuek.

“A-apa?” Jovan terkejut, “kalau kamu mau bawa pulang pesan lagi aja,” ucap Jovan. Dia merasa malu. Makanan itu sudah dimakan separuhnya. 

“Gak usaaah,” Albin mengibaskan tangannya, “itu aja.” ucap Albin dramatis menunjuk makanan sisa Jovan.

Jovan menepuk keningnya. 

“Jadi gimana? Jadi dibungkus?’” tanya waiter itu. 

“Iya, Mas. Bungkus, ya.” Albin bicara dengan hidung kembang kempis menahan malu. Dia pun malu. Tapi dia merasa akan sangat kerampokan. Setiap tetes air dan setiap suapan makanan yang mereka pesan di cafe itu sangat berharga menurut Albin.

“Gak usah!” sahut Jovan tegas. “Minta tagihannya.” ucap Jovan. 

Mereka pergi dari cafe itu dan kembali melanjutkan perjalanan. 

“Kita ke mana sekarang?” tanya Albin. 

“Anterin kamu pulang.” 

“Motorku gimana?” 

“Besok aja diambil. Albin, aku liat di sisi kanan Havana ada bilyard, ya?” tanya Jovan. 

“Iya lounge, ada bilyard-nya.” 

“Besok sore kujemput, ya. Kita ke sana.” Jovan memandangi wajah Albin sekilas. 

“Aku gak kerja di sana.” 

“Gak papa. Kamu bisa main bilyard?” tanya Jovan lagi. 

“Bisa sedikit-sedikit.” 

“Kita ke sana besok sore,” ucap Jovan. Ajakan yang dilontarkannya lebih mirip kata perintah.

“Aku 'kan kerja. Kamu gak kerja?” 

“Kerja. Iya makanya sore-sore kujemput. Nanti kamu sekalian kerja. Aku juga mau ketemu rekan kerja.” 

“Oh, Ok,” jawab Albin pendek. Dia menghela napas panjang. Dia bingung kenapa dia tidak bisa menolak permintaan Jovan. 

Jovan menghentikan mobilnya di depan rumah Albin, “Sampai besok sore.” Jovan tersenyum. 

“Ok. Mana tagihannya?” tanya Albin menadahkan tangan. 

“Tagihan apa?” Jovan bingung. 

“Katanya kamu bayarin dulu nanti aku ganti.” Albin menelan ludah. 

“Ooooh. Hahahahaha.” Jovan tertawa gelak. Dia mengusap rambut Albin dengan lembut, “masuklah. Kamu pasti capek.” 

Mata Albin mengerjap merasakan sentuhan hangat dari Jovan di kepalanya. 

Jovan memandangi mata biru Albin semakin dalam, “Kamu cantik sekali,” ucap Jovan di dalam hati sambil tersenyum.

“Ayo masuk sana. Aku juga mau istirahat.” Jovan mengingatkan Albin. 

“Hemmm.” Albin mengangguk. 

Albin dan Jovan saling melambaikan tangan sebagai salam perpisahan. 










Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Marry Me White Queen (Bahasa Indonesia)   BAB 11. TRAKTIR MAKAN

    Albin berjalan pelan bersama temannya keluar dari Havana klub. Mereka saling tertawa. Sesekali saling menggoda dan bercanda. Tawa mereka mengisi lorong parkiran sepeda motor khusus karyawan.Jovan bersandar pada pilar lorong parkiran. Dia tersenyum manis saat mendengar Albin dan teman-temannya menggosipkan para pelanggan mereka. Dari yang menyebalkan sampai yang baik hati.

  • Marry Me White Queen (Bahasa Indonesia)   BAB 10. PELANGGAN ROYAL?

    Sekate-kate ini orang, “Ok Jo yang baik hati, kenapa lo nipu gue?!”“Enak aja, aku gak nipu kamu.”

  • Marry Me White Queen (Bahasa Indonesia)   BAB 9 MAS JO YANG BAIK HATI

    Jovan menuruni tangga rumahnya sambil menenteng sebuah tas kerja di tangannya. Dia mau menikmati sarapan paginya sebelum berangkat ke kantor pagi ini. Tubuhnya sebenarnya masih terasa lelah karena baru kemarin sore dia tiba dari luar pulau meninjau lokasi lahan yang digarap perusahaannya, tetapi dia tetap ke kantor hari ini. Banyak hal yang harus dia kerjakan.Jovan bersenandung ringan sambil menapaki anak tangga, saat dia melihat lurus ke depan, di meja makan sudah duduk di kursi lelaki tua yang sangat dikenal

  • Marry Me White Queen (Bahasa Indonesia)   BAB 8. AKHIRNYA INGAT

    ~Jovan POV~Aku menyodorkan ponselku kepadaTasya, memintanya mengantikan ponselku besok. Tasya, dia seseorang yang sangat kupercayai. Dia bekerja bersama kami selama dua belas tahun, bersamaku enam tahun dan bersama papa selama enam tahun. Ya, Tasya sebelumnya asisten papa kemudian papa menyerahkan kepadaku saat dia tidak aktif lagi bekerja.Tasya adalah ses

  • Marry Me White Queen (Bahasa Indonesia)   BAB 7. TASYA

    Jovan memperhatikan presentasi dari direktur keuangan perusahaannya, mereka semua menatap ke LED screen besar yang berada di ruang meeting. Perusahaan kayu lapisnya semakin terancam karena kayu semakin sulit didapat. Bahkan mereka memiliki rencana mengurangi pegawai demi menyesuaikan keuangan perusahaan yang semakin sulit.Adi Jaya Sakti-ayahnya Jovan dan beberapa investor mendengarkan rapat dengan saksama. Tidak lama setelah itu Jovan memberikan presentasi untuk mengambil proyek membuka lahan yang dilakukan perusahan sawit, mereka bisa memberikan separuh harga untuk membuka lahan itu, tapi semua kayu yang diteb

  • Marry Me White Queen (Bahasa Indonesia)   BAB 6. SI PENIPU TAMPAN

    Aku melepaskan sabuk pengaman yang sudah terpasang di tubuhku lalu mencondongkan tubuhku mendekati Albin, mendekatkan wajahku ke wajahnya.Aku menyentuh bibirnya dengan ujung jemariku. Desiran darahku terasa semakin naik sampai ke ubun-ubun. Albin masih tertidur pulas. Aku mengepalkan tanganku kuat-kuat berusaha menyingkirkan pikiran liar di dalam kepalaku, aku menelan air liur, hela napas Albin terasa hangat menyentuh wajahku.Aku menyusupkan tangan ke belakang punggung Albin untuk mengambil tasnya yang tadi diletakkan Gina di belakangnya. Aku mengambil ponsel milik Albin, aku ingin mengirimkan pesan dari

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status