แชร์

BAB 7. TASYA

ผู้เขียน: Snow Sparkle
last update วันที่เผยแพร่: 2020-10-12 13:35:46

Jovan memperhatikan presentasi dari direktur keuangan perusahaannya, mereka semua menatap ke LED screen besar yang berada di ruang meeting. Perusahaan kayu lapisnya semakin terancam karena kayu semakin sulit didapat. Bahkan mereka memiliki rencana mengurangi pegawai demi menyesuaikan keuangan perusahaan yang semakin sulit.

Adi Jaya Sakti-ayahnya Jovan dan beberapa investor mendengarkan rapat dengan saksama. Tidak lama setelah itu Jovan memberikan presentasi untuk mengambil proyek membuka lahan yang dilakukan perusahan sawit, mereka bisa memberikan separuh harga untuk membuka lahan itu, tapi semua kayu yang ditebang menjadi milik PT. Adi Jaya Sakti. Para pemegang saham setuju dengan solusi itu, mereka akan bekerjasama dengan beberapa perusahaan sawit yang akan membuka lahan. Rapat berlangsung lancar meski terjadi perdebatan ringan. 

Jovan merapikan beberapa dokumen miliknya dibantu sekretarisnya, hari yang sibuk dan melelahkan bagi Jovan, dia hampir tidak tidur kecuali beberapa jam saja. Dia baru sampai ke rumah pada jam 4:15 pagi setelah mengantarkan Albin pulang ke rumahnya. 

Hari berlalu pekan berganti, Jovan sangat sibuk mengatur proyek baru yang perusahaannya kerjakan. Memastikan semua berjalan baik, pegawai sudah dikirim ke lokasi, alat berat sudah dikirim, semua menyita waktu dan pikirannya. Dia selalu pulang di atas jam 9 malam, saat pulang pun dia masih bekerja di rumah. Jovan sangat sibuk hingga dia lupa seorang gadis sudah menunggunya seminggu lamanya, hingga gadis itu pun melupakannya dan tidak pernah lagi berharap kedatangannya. 

~Tiga pekan setelah pertemuan Albin dan Jovan~

Jovan memperhatikan hamparan pepohonan yang lebat, saat ini dia berada di tengah hutan belantara di luar pulau untuk meninjau langsung lahan yang akan mereka garap. Dia dan beberapa bawahannya termasuk personal asistennya harus berjalan kaki menuju camp terdekat karena medan tidak bisa lagi ditempuh mengendarai mobil. Dia senang semua berjalan baik, rasa lelahnya belasan jam dalam perjalanan terbayarkan. 

Jovan kembali ke hotel dengan kelas terbaik. Dia merebahkan tubuhnya yang lelah di atas kasur. Dia memijat pelipisnya yang terasa berdenyut kuat. Dia lelah dan juga bosan. Jovan mengambil ponselnya dan melihat jam, waktu sudah menunjukkan waktu 00.15. Jovan meletakkan kembali ponselnya, dia berusaha memejamkan matanya. 

Drrrtttt...Drrrttt...Drrrttt

Ponsel Jovan tak henti-hentinya bergetar. Meski malas dia berusaha membuka matanya, “Papa” namanya itu tertera di layar ponselnya. 

“Halo,” jawab Jovan dengan malas.

“Gimana semua lancar?” 

“Iya, Pa semua lancar. Kita harus pertimbangkan untuk beralih bisnis sawit, Pa.” 

“Iya, sepertinya juga begitu. Aku ingin mewariskan perkebunan sawit untuk cucuku nanti.” 

“Pa…” Jovan mendesah gusar.

“Gimana sudah ada? Kamu sudah menemukan calon menantuku?”

“Astaga, Papa…”

“Ini sudah hampir enam minggu, Jovan.” 

“Pa, kenapa aku cari istri dikejar deadline seperti ini?”

“Biar kamu berusaha lebih keras!”

“Pa… haruskah aku juga kerja lembur mencari istri?” dada Jovan menyesak, “Aku terus lembur untuk perusahaan. Kapan mau cari istri, Pa?”

“Papa yang carikan.” 

“Pa, aku capek. Boleh aku istirahat?” 

“Enam minggu lagi Jovan.” 

“Astagaaaaa, Papa…! Gak anak gak karyawan Papa tekan.” 

“Kadang orang lebih kreatif di bawah tekanan.” 

“Papa… cari istri bukan dengan kreatifitas, Pa!”

“Kamu gak niat, kalau niat pasti bisa.” 

“Ya ampuuuun!” Jovan ingin menangis rasanya. 

“Ya udah kamu istirahat, ingat enam minggu lagi Jovan!” 

“Iya… Pa. Iya! Gak usah diingetin terus. Itu namanya Papa bukan nyuruh istirahat, tapi nyuruh mati lebih cepat. Ampuuuuun deh.”

“Ya udah.” Adi memutuskan panggilannya. 

“Iiiiihhhh,” Jovan mengenggam ponselnya kuat-kuat. 

Braaaak!!!

Jovan melemparkan ponselnya ke dinding saking kesalnya. Setelah beberapa saat dia mengambil ponselnya, dia melihat layarnya retak. Jovan mendesah kasar, untung saja ponselnya masih berfungsi dengan baik. Ingin rasanya dia kembali melemparkannya puluhan kali, tapi dia ingat, dia butuh ponsel itu, setidaknya sebelum dia membeli yang baru. 

Jovan menekan menu kontak di ponselnya, lalu membuat panggilan, “Tasya, ke kamar saya sebentar,” dia bicara kepada asistennya. 

“Ok,” ucap seorang wanita di ujung sana. 

Jovan menunggu beberapa menit, tak lama setelahnya dia mendengar denting bel ditekan. Dia membuka pintu dan mempersilahkan Tasya masuk. 

“Ada apa, Pak?” tanya Tasya. 

“Ponselku rusak,” Jovan menyodorkan ponselnya. 

“Kenapa ini, Pak?” 

“Kena dinding. Besok berikan aku ponsel baru. Salinkan semua datanya.”

“Tipe yang sama, Pak?” 

“Iya.” 

“Siap, Pak. Ada lagi, Pak?” 

“Gak ada.” 

“Saya balik ke kamar, Pak,” ucap Tasya. Jovan mengangguk pelan. 

“Tasya…” panggil Jovan pelan. 

“Ya, Pak.” Tasya menghentikan langkahnya. Dia membalikkan tubuhnya lalu memandangi Jovan sambil menanti apa yang akan dia katakan. 

“Tasya, umur kamu berapa?” tanya Jovan sambil memperhatikan Tasya lekat-lekat. Dia mengernyitkan keningnya. Dia merasa ada yang lain dari asistennya. 

“Tiga puluh tiga, Pak.” jawab Tasya cepat, “kenapa Pak?” 

“Tasya, seberapa penting sex untuk kamu?” 

“A-apa, Pak?” Tasya sangat terkejut. 

















อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Marry Me White Queen (Bahasa Indonesia)   BAB 11. TRAKTIR MAKAN

    Albin berjalan pelan bersama temannya keluar dari Havana klub. Mereka saling tertawa. Sesekali saling menggoda dan bercanda. Tawa mereka mengisi lorong parkiran sepeda motor khusus karyawan.Jovan bersandar pada pilar lorong parkiran. Dia tersenyum manis saat mendengar Albin dan teman-temannya menggosipkan para pelanggan mereka. Dari yang menyebalkan sampai yang baik hati.

  • Marry Me White Queen (Bahasa Indonesia)   BAB 10. PELANGGAN ROYAL?

    Sekate-kate ini orang, “Ok Jo yang baik hati, kenapa lo nipu gue?!”“Enak aja, aku gak nipu kamu.”

  • Marry Me White Queen (Bahasa Indonesia)   BAB 9 MAS JO YANG BAIK HATI

    Jovan menuruni tangga rumahnya sambil menenteng sebuah tas kerja di tangannya. Dia mau menikmati sarapan paginya sebelum berangkat ke kantor pagi ini. Tubuhnya sebenarnya masih terasa lelah karena baru kemarin sore dia tiba dari luar pulau meninjau lokasi lahan yang digarap perusahaannya, tetapi dia tetap ke kantor hari ini. Banyak hal yang harus dia kerjakan.Jovan bersenandung ringan sambil menapaki anak tangga, saat dia melihat lurus ke depan, di meja makan sudah duduk di kursi lelaki tua yang sangat dikenal

  • Marry Me White Queen (Bahasa Indonesia)   BAB 8. AKHIRNYA INGAT

    ~Jovan POV~Aku menyodorkan ponselku kepadaTasya, memintanya mengantikan ponselku besok. Tasya, dia seseorang yang sangat kupercayai. Dia bekerja bersama kami selama dua belas tahun, bersamaku enam tahun dan bersama papa selama enam tahun. Ya, Tasya sebelumnya asisten papa kemudian papa menyerahkan kepadaku saat dia tidak aktif lagi bekerja.Tasya adalah ses

  • Marry Me White Queen (Bahasa Indonesia)   BAB 7. TASYA

    Jovan memperhatikan presentasi dari direktur keuangan perusahaannya, mereka semua menatap ke LED screen besar yang berada di ruang meeting. Perusahaan kayu lapisnya semakin terancam karena kayu semakin sulit didapat. Bahkan mereka memiliki rencana mengurangi pegawai demi menyesuaikan keuangan perusahaan yang semakin sulit.Adi Jaya Sakti-ayahnya Jovan dan beberapa investor mendengarkan rapat dengan saksama. Tidak lama setelah itu Jovan memberikan presentasi untuk mengambil proyek membuka lahan yang dilakukan perusahan sawit, mereka bisa memberikan separuh harga untuk membuka lahan itu, tapi semua kayu yang diteb

  • Marry Me White Queen (Bahasa Indonesia)   BAB 6. SI PENIPU TAMPAN

    Aku melepaskan sabuk pengaman yang sudah terpasang di tubuhku lalu mencondongkan tubuhku mendekati Albin, mendekatkan wajahku ke wajahnya.Aku menyentuh bibirnya dengan ujung jemariku. Desiran darahku terasa semakin naik sampai ke ubun-ubun. Albin masih tertidur pulas. Aku mengepalkan tanganku kuat-kuat berusaha menyingkirkan pikiran liar di dalam kepalaku, aku menelan air liur, hela napas Albin terasa hangat menyentuh wajahku.Aku menyusupkan tangan ke belakang punggung Albin untuk mengambil tasnya yang tadi diletakkan Gina di belakangnya. Aku mengambil ponsel milik Albin, aku ingin mengirimkan pesan dari

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status