Share

BAB 8. AKHIRNYA INGAT

Author: Snow Sparkle
last update publish date: 2020-10-12 13:36:23

~Jovan POV~

Aku menyodorkan ponselku kepadaTasya, memintanya mengantikan ponselku besok. Tasya, dia seseorang yang sangat kupercayai. Dia bekerja bersama kami selama dua belas tahun, bersamaku enam tahun dan bersama papa selama enam tahun. Ya, Tasya sebelumnya asisten papa kemudian papa menyerahkan kepadaku saat dia tidak aktif lagi bekerja.

Tasya adalah seseorang yang jika diminta semua pekerjaan beres, kadang dia sudah mengerjakannya sebelum kuminta. Seringkali saat aku meminta sesuatu, semua sudah beres. Dia adalah salah satu dari tiga asisten papa. Salah satunya papa Jadikan istri. Entah kenapa saat itu papa mencari asisten muda, ada satu asisten senior yang membimbing merak hingga mereka begitu terampil. 

Tasya selalu berpenampilan sopan, bahkan bisa dibilang terlalu sopan. Dia tidak pernah membiarkan rambutnya terurai, dia selalu menggelungnya ke belakang, dia selalu mengenakan celana panjang atau rok panjang tanpa belahan. Sama sekali tidak sama seperti pekerja lainnya. Dia juga selalu menggunakan kacamata dengan bingkai terlalu besar di wajahnya. Hampir menutupi tulang pipinya. Tasya juga hampir selalu terlihat tanpa make-up. Bibirnya selalu terlihat pucat, dia sangat jauh berbeda dengan pekerja wanita lainnya, tapi aku tidak mempermasalahkannya, aku tidak butuh asisten yang cantik, pesolek tapi kerjaannya tidak becus. Aku rela menukar sepuluh pegawai wanitaku yang lain demi Tasya. 

Malam ini, dia terlihat begitu berbeda, aku berpikir keras, apa yang membuatnya berbeda? Dia pergi menjauh saat aku berkata tidak memerlukan apa-apa lagi. Aku memandanginya, sambil berpikir. 

Aaaah, aku tau, kacamata. Tasya tidak menggunakan kacamata. Dia terlihat cantik tanpa kacamata nenek-nenek itu. 

“Tasya…” aku memanggilnya. 

Tasya membalikkan tubuhnya, aku memperhatikannya lekat-lekat, Tasya hanya menggunakan celana pendek ketat menutupi separuh pahanya, baru kali ini aku melihat paha Tasya, tank top hitam membalut tubuhnya dengan indah, separuh dadanya menyembul dari bajunya yang berdada rendah, sangat kontras baju berwarna hitam itu dengan kulitnya yang kuning langsat, gundukan itu semakin terlihat menarik. 

“Tasya, seberapa penting sex untuk kamu?” tanyaku tiba-tiba. 

“Aa-pa, Pak?” Tasya tergagap. Aku memperhatikannya semakin dalam. Wajahnya terlihat merona. Aku melangkah mendekatinya, aroma harum sabun dan shampo menguar lembut dari tubuh Tasya. 

“Buka, Tasya.”

“Apa, Pak yang dibuka?” 

~Tasya POV~

“Aaahh,” aku mendesah puas saat air hangat mengaliri tubuh yang lengket dan lelah. Perjalanan meninjau lokasi ini sangat melelahkan, dari bandara kota memerlukan waktu 13 jam. Ya Tuhaaan, aku sangat lelah. Kami baru tiba di hotel sejam yang lalu. Setelah merebahkan diri beberapa saat di kasur baru aku mandi. Pinggangku, sakit sekali. Jalanan menuju lokasi hampir mirip track offroad. Setelah ini aku bisa tidur nyenyak, semoga saja bos gila kerja itu tidak menelponku. 

Tapi … rasanya itu mustahil! Dia selalu punya alasan menelponku, bahkan saat lebaran sekalipun! Dia memang keterlaluan! Tengah malam pun seringkali aku dihubungi. Kesal? Tentu saja, tapi mau bagaimana lagi, menjadi asistennya sama artinya menjual separuh jiwaku kepadanya dengan imbalan gaji perbulan yang kuterima. Doaku panjang sekali, meminta dia pingsan saja karena kelelahan.

Aku memijat kulit kepalaku, Uuuh! Enak sekali. Bahkan mandi air hangat saja sudah terasa membahagiakan bagiku saking jarangnya aku menerima kesenangan semenjak aku melangkahkan kaki ke gedung kantor PT. Adi Jaya Sakti Group dua belas tahun yang lalu. Saat itu, tanteku bekerja di sana sebagai asisten Bos-Besar, ayahnya-Jovan. Dia mengatakan Pak Adi mencari dua asisten baru, saat itu aku baru lulus kuliah, ada juga temanku kerjaku masuk di hari yang sama, dia juga asisten Pak Adi, namanya Eka. Tanteku membimbing kami berdua, dia berpesan kepadaku agar aku selalu menggunakan pakaian tertutup, sementara Eka, dia berpakaian sesuai keinginannya, dia cantik dan sexy. Sembilan bulan setelah kami bekerja, Pak Adi menikahi Eka. 

Saat aku bekerja bersama Pak Adi, banyak yang kulihat dan kudengar, tapi apa pun itu, apa bila tidak menyangkut pekerjaan, kami harus bersikap seolah-olah bagai dinding tembok, tak mendengar dan tak melihat. Saat bersama anaknya si Jovan? Terasa sedikit lebih baik, setidaknya dia tidak bersikap sadis kepada wanita, karena dia tidak pernah terlihat bersama wanita mana pun, bisa dikatakan dia terlalu cuek. Sesekali melihat wajah tampannya, sedikit menguraikan ketegangan. 

Aku masih ingin berlama-lama di bawah pancuran air, tapi rasanya samar-samar aku mendengar ponselku berdering. Nada dering itu sangat spesial, hanya untuknya nada dering dengan bunyi seperti itu. Aku segera keluar kamar mandi melilitkan handuk sekedarnya di dada lalu mengambil ponselku. 

“Hummmm tuh kan bener, ada aja alasannya nelponku tapi aku bisa apa?" aku hanya mampu berdecak kesal. 

“Halo, Pak.”

“Iya, Pak saya ke sana.” Aku mengenakan pakaian seadanya yang tersedia di atas kasur, kusiapkan tadi sebelum mandi. Aku menjepit rambutku yang basah seadanya. Semua itu harus kulakukan dengan cepat. Aku segera menuju kamar Pak Jovan yang berada di ujung lantai ini dengan setengah berlari.

Saat aku masuk, dia menyodorkan ponselnya yang retak kepadaku, dia bilang terkena dinding. Aku tau sebenarnya dia pasti mau mendapatkan ponsel baru saat ini juga, tapi dia pasti juga tau, tidak mungkin membeli ponsel di jam begini. Aku berniat melangkah ke luar kamar saat dia berkata tidak memerlukan hal lain. 

“Tasya,” dia memanggilku, langkahku terhenti. Aku membalikkan tubuhku, dia memandangku sangat dalam, kurasa baru kali ini dia memandangiku sebagai manusia, dia lalu menanyakan umurku

“Seberapa penting sex untuk kamu?” 

Aku sangat terkejut dengan pertanyaanya, kupikir aku salah dengar atau dia salah ucap? Mungkin maksudnya seberapa penting pekerjaan untukku, begitu?

“Buka Tasya.” Dia mendekatiku. Aku terdiam membeku, tak bergerak. 

“Apanya yang dibuka, Pak?” aku semakin gugup. Entah apa maunya kini, aku tidak berani menduga-duga. Dia semakin mendekat, aroma sabun maskulin menguar lembut dari tubuhnya, aku yakin dia pun baru mandi. 

Aku masih terdiam, dia semakin mendekat dan berdiri tepat di depanku. Aku menundukkan wajahku, tidak berani menatapnya. Dadanya tepat di depan wajahku, aroma wangi tubuhnya semakin tercium dan semakin menggetarkan tubuhku. Detak jantungku iramanya berubah jadi rancu tak beraturan. Jovan mengangkat tangannya, aku memejamkan mataku rapat-rapat. Dia mau memelukku. Aku yakin itu. Pasti!

Aku merasakan sentuhan di belakang kepalaku. Dadaku semakin bertalu cepat. Aku merasa hampir  black out karena jantungku terlalu cepat memompa, tubuhku lemas dan gemetar. Aku semakin merapatkan mataku kuat-kuat. 

“Kamu cantik, Tasya,” ucap Pak Jovan tiba-tiba. 

Aku terkejut, aku penasaran, apa yang terjadi? Aku membuka mata. Ternyata dia melepaskan penjepit rambutku sehingga rambutku yang basah dan panjang jatuh tergerai menutupi sebagian dadaku. 

“A-apa, Pak? Hemmm… maksud saya terima kasih,” aku memandanginya dengan gugup. Dia tersenyum manis sekali. 

“Tasya, kamu belum menjawabku. Seberapa penting sex untuk kamu?”

Sial! Pertanyaan apa itu?! Aku bingung mau menjawab apa, “Maksudnya, Pak?” 

“Maaf kalau pertanyaanku membuat kamu merasa gak nyaman, tapi kita sudah mengenal lama ‘kan? Aku harap kamu tidak salah paham.” 

“Gimana gak salah paham coba, ujug-ujug ditanya masalah sex. Di dalam kamar hotel, tengah malam, berduaan pula! Ini apa maksudnya?! Perempuan mana yang gak salah paham?” aku mencoba mengumpulkan kesadaranku yang tiba-tiba menguap karena pertanyaan anehnya.

“Maaf, Pak saya kurang paham dengan maksud pertanyaan, Bapak.” 

Dia berdecak kesal sambil membuang wajahnya, “Penting, Pak,” jawabku segera saat melihat raut wajahnya, “Gimana saya mau punya anak kalau gak berhubungan sex.” 

“Kamu mau punya anak?”

“Mau, Pak, tapi nanti kalau sudah menikah.” 

“Kamu mau menikah?”

“Ya mau lah … Pak.” 

“Sudah ada calon?”

“Sudah, Pak.” 

“Siapa?”

“Nanti kalau saya kawinan, Bapak datang, ya. Nanti bisa kenalan sama suami saya. Memangnya kenapa, Pak?” 

“Gak papa, tanya aja.” Dia memandangiku dengan tatapan yang sulit kuartikan, entah apa yang ada di dalam pikirannya. 

“Bapak gak mau menikah?”

“Mau.” 

“Udah ada calon?” 

“Dia udah punya calon suami.”

“Heh?! Siapa, Pak?” 

“Kamu.” 

“A-apa Pak?!” 

“Iya, kamu," ucapnya tanpa ragu.

Aku menelan ludah beberapa kali sambil mengerjapkan mata berulang kali. Aku terdiam membisu. Ogaaaaaah!!! Gue gak mau! Amit-amit! Ntar yang ada disuruh kerja 24 jam dan tujuh hari seminggu. 

“Saya sudah punya calon suami, Pak," ucapku susah payah.

Dia tertawa gelak, sepertinya ketakutan di wajahku terlihat jelas. Dia tertawa hingga terpingkal-pingkal, “Ya, udah balik ke kamar sana. Besok pagi-pagi kita balik ‘kan?” 

“Iya, Pak.” Aku segera pergi dari kejadian horor itu. Aku tidak tau apa maksud pertayaannya, apakah dia bercanda atau serius, bahkan dia bercanda pun sudah sangat menakutkan bagiku. 

****

Jovan duduk di lounge hotel sambil menikmati alunan musik yang lembut, Jovan menyesap wine-nya perlahan. Rasa manisnya memberikan ketenangan tersendiri baginya. Dia ingin ingin tidur nyenyak setelah ini, sedikit wine Jovan pikir bisa mengantarkan tidurnya jadi lebih cepat. 

Jovan berdiri dari kursinya, waktu sudah menunjukkan pukul 1:45 dini hari, dia bermaksud kembali ke kamarnya. Saat dia melewati lobby hotel, ketika itu juga siluet tubuh seseorang menarik perhatiannya. 

Seorang wanita berambut putih dan panjang terlihat memasuki lorong menuju toilet wanita. Jovan mengejarnya, “Albin!" dia memanggilnya dengan keras. Wanita itu tetap tidak menoleh. 

Jovan berlari semakin kencang, dia menarik pergelangan tangan wanita itu, “Albin!” ucap Jovan dengan napas terengah-engah. 

Wanita itu memalingkan wajahnya, “Maaf saya salah orang,” ucap Jovan sambil tersenyum malu. Wanita itu mengangguk dan meninggalkannya. Jovan memandangi punggung wanita itu hingga menghilang dari balik pintu toilet.

Jovan mengambil ponselnya yang retak, dia mengirim pesan kepada Tasya dan sekretarisnya untuk mengingatkannya menemui Albin besok malam jam 9. 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Marry Me White Queen (Bahasa Indonesia)   BAB 11. TRAKTIR MAKAN

    Albin berjalan pelan bersama temannya keluar dari Havana klub. Mereka saling tertawa. Sesekali saling menggoda dan bercanda. Tawa mereka mengisi lorong parkiran sepeda motor khusus karyawan.Jovan bersandar pada pilar lorong parkiran. Dia tersenyum manis saat mendengar Albin dan teman-temannya menggosipkan para pelanggan mereka. Dari yang menyebalkan sampai yang baik hati.

  • Marry Me White Queen (Bahasa Indonesia)   BAB 10. PELANGGAN ROYAL?

    Sekate-kate ini orang, “Ok Jo yang baik hati, kenapa lo nipu gue?!”“Enak aja, aku gak nipu kamu.”

  • Marry Me White Queen (Bahasa Indonesia)   BAB 9 MAS JO YANG BAIK HATI

    Jovan menuruni tangga rumahnya sambil menenteng sebuah tas kerja di tangannya. Dia mau menikmati sarapan paginya sebelum berangkat ke kantor pagi ini. Tubuhnya sebenarnya masih terasa lelah karena baru kemarin sore dia tiba dari luar pulau meninjau lokasi lahan yang digarap perusahaannya, tetapi dia tetap ke kantor hari ini. Banyak hal yang harus dia kerjakan.Jovan bersenandung ringan sambil menapaki anak tangga, saat dia melihat lurus ke depan, di meja makan sudah duduk di kursi lelaki tua yang sangat dikenal

  • Marry Me White Queen (Bahasa Indonesia)   BAB 8. AKHIRNYA INGAT

    ~Jovan POV~Aku menyodorkan ponselku kepadaTasya, memintanya mengantikan ponselku besok. Tasya, dia seseorang yang sangat kupercayai. Dia bekerja bersama kami selama dua belas tahun, bersamaku enam tahun dan bersama papa selama enam tahun. Ya, Tasya sebelumnya asisten papa kemudian papa menyerahkan kepadaku saat dia tidak aktif lagi bekerja.Tasya adalah ses

  • Marry Me White Queen (Bahasa Indonesia)   BAB 7. TASYA

    Jovan memperhatikan presentasi dari direktur keuangan perusahaannya, mereka semua menatap ke LED screen besar yang berada di ruang meeting. Perusahaan kayu lapisnya semakin terancam karena kayu semakin sulit didapat. Bahkan mereka memiliki rencana mengurangi pegawai demi menyesuaikan keuangan perusahaan yang semakin sulit.Adi Jaya Sakti-ayahnya Jovan dan beberapa investor mendengarkan rapat dengan saksama. Tidak lama setelah itu Jovan memberikan presentasi untuk mengambil proyek membuka lahan yang dilakukan perusahan sawit, mereka bisa memberikan separuh harga untuk membuka lahan itu, tapi semua kayu yang diteb

  • Marry Me White Queen (Bahasa Indonesia)   BAB 6. SI PENIPU TAMPAN

    Aku melepaskan sabuk pengaman yang sudah terpasang di tubuhku lalu mencondongkan tubuhku mendekati Albin, mendekatkan wajahku ke wajahnya.Aku menyentuh bibirnya dengan ujung jemariku. Desiran darahku terasa semakin naik sampai ke ubun-ubun. Albin masih tertidur pulas. Aku mengepalkan tanganku kuat-kuat berusaha menyingkirkan pikiran liar di dalam kepalaku, aku menelan air liur, hela napas Albin terasa hangat menyentuh wajahku.Aku menyusupkan tangan ke belakang punggung Albin untuk mengambil tasnya yang tadi diletakkan Gina di belakangnya. Aku mengambil ponsel milik Albin, aku ingin mengirimkan pesan dari

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status