Share

BAB 3. HAVANA CLUB

Author: Snow Sparkle
last update publish date: 2020-10-12 13:32:41

Albin POV.

Aku memperhatikan wajahku di cermin, aku harus tiba di tempat kerjaku dalam waktu satu jam lagi. Aku menyempurnakan tampilan riasanku, alisku yang berwarna putih kuberikan warna cokelat, bulu mataku yang berwarna putih juga kuberi maskara berwarna cokelat gelap. Tidak lupa aku memberi sedikit sapuan perona pipi berwarna pink peach, tak ketinggalan lipstik berwarna senada. Aku puas dengan tampilan akhirku. “Aku cantik,” aku meyakinkan diriku sendiri. 

Aku membuka lilitan handuk di rambutku yang basah. Rambutku yang berwarna putih tergerai indah. Aku tersenyum melihatnya, aku bangga dengan warna rambutku. Berapa banyak artis yang mewarnai rambutnya agar terlihat sepertiku? Berapa banyak uang yang harus mereka keluarkan? Besarnya sama seperti gajiku pokokku selama dua bulan. Sedangkan aku? Ini warna asli rambutku. “Ini anugerah,” aku mensyukuri semua yang ada pada diriku. Kata Mama, aku adalah anugerah dari Tuhan, dia bersyukur memiliki aku, aku juga bersyukur memiliki mereka, dan semua yang ada di tubuhku adalah anugerah, meski aku berbeda. Meski aku seringkali dikucilkan.

“Aku berbeda karena aku istimewa,” ucapku kepada diriku sendiri sambil menyisir rambut ikalku yang sebatas pinggang. Itu adalah ucapku setiap hari kepada diriku sendiri. Aku harus mencintai dan menghargai diriku sendiri. Aku menatap iris mataku yang berwarna biru. Aku mengerjapkan mataku berkali-kali, “Aku indah, aku cantik sekali.” aku tersenyum puas, berapa banyak orang yang ingin memiliki iris berwarna biru sepertiku? Mereka melakukan operasi atau memakai softlens, aku memilikinya, dan ini apa adanya.

 Aku sombong? Tidak! Aku mensyukuri apa yang ada pada diriku. Ini tidak mudah. Aku melewati masa sulit sepanjang hidupku. Aku tidak punya teman karena aku diejek sebagai hantu. Alis putih, bulu mata putih, mata biru, kulit putih pucat seputih kapas.

Beberapa kali aku mencoba mengakhiri hidupku sendiri karena aku menolak keadaanku berbeda dengan orang lain. Untunglah, Tuhan sayang kepadaku, hingga percobaan bunuh diri itu selalu gagal. Saat aku sekolah SMP aku tau, aku mengalami kelainan genetik, aku Albino, aku penderita Albines.

Saat aku tau, aku tidak mau namaku Albin, karena itu semakin mengingatkan kelainan yang kumiliki, tetapi belakangan aku tahu, Albin artinya putih. Orang tuaku memberikan nama Albin pasti karena mereka menyukaiku yang berwarna putih. Mamaku bilang begitu, semua orang tua pasti mencintai anaknya, tapi kenapa aku dibuang? Air mataku selalu menggenang saat mengingat hal ini. Mamaku bilang, dulu masih banyak orang yang menganggap penderita Albines itu setan dan harus dibunuh, jadi mamaku bilang, kemungkinan orang tua kandungku berusaha menyelamatkanku sehingga aku ‘diselundupkan’. Apa yang dikatakan mamaku membuat perasaanku menghangat. Aku sangat sayang Mama dan Bapak, semoga aku bisa membalas jasa mereka. 

Aku bergegas memakai pakaian kerjaku, pakaianku sama seperti para wanita yang bekerja di perkantoran, kami diwajibkan seperti itu. Aku bergegas memakai stoking hitam membungkus kedua kakiku lalu kukenakan hi-heels-ku sambil setengah berlari. Tempat kerjaku kejam, terlambat dua menit saja gajiku dipotong 30%. 

Jovan POV. 

Aku menyetir mobil sambil sedikit melamun, pikiranku melambung jauh, dua minggu sudah berlalu sejak papa memerintahkan wajib menikah, terdengar seperti wajib militer di telingaku. Aku melihat layar yang terdapat di dasbor mobil, waktu menunjukkan pukul 21:30. Aku mendesah kasar, aku baru saja pulang dari kantor, jika CEO dalam novel banyak waktu luang, tidak denganku, aku harus terus bekerja, kadang aku berada di kantor hingga jam 1 atau jam 2 malam. 

Aku melonggarkan dasi yang terasa menjerat erat leherku. Bukan! Bukan dasi sebenarnya yang membuatku sedikit kesulitan bernapas, aku terus terpikirkan kata-kata papa. Bawakan dia seorang gadis. Papa keterlaluan, bagaimana bisa aku mencari seseorang untuk dijadikan istri dalam waktu tiga bulan? Sekarang ini sudah dua minggu berlalu.

 Hasilnya? 

Masih nihil! 

Papa membuatku hampir gila rasanya, setiap kali aku melihat perempuan, aku memperhatikan mereka seperti kucing memperhatikan mangsanya, aku tidak melepaskan pandanganku dari mereka, dan reaksi mereka? Kebanyakan mereka salah tingkah. Mungkin mereka berpikir aku berpikiran mesum tentang mereka. Entahlah sepertinya begitu, para pekerja wanita di kantorku, kebanyakan dari mereka menurunkan rok mereka saat kupandangi seperti itu. 

Sial! Itu melukai harga diriku! Tapi, aku tidak bisa apa-apa, hanya bisa memijat kepalaku yang tiba-tiba berdenyut kuat. 

“Arrrrggghhh!” aku memukul stir mobil berkali-kali untuk menumpahkan kekesalanku. Bekerja pun aku sulit untuk konsentrasi, aku memikirkan papa, bagaimana jika dalam tiga bulan tidak ada gadis yang bisa kubawa? Bagaimana jika ternyata papa pergi dengan rasa kecewa kepadaku?

Aku kembali memperhatikan jalanan, lampu akrilik berwarna biru bertulisan “Havana Club” menarik perhatianku. Tanpa kusadari, aku mengarahkan mobilku masuk ke sebuah area club malam. Aku memarkir mobil, saat aku selesai menarik tuas rem tangan, tidak sengaja pandanganku terarah lurus ke depan, aku melihat seorang wanita berambut putih, ikal panjang sepinggang melambaikan tangan sambil tersenyum pada mobil yang perlahan pergi dari parkiran. 

Aku terpaku, terdiam beberapa saat, dia mirip gambar-gambar wanita cantik versi anime. Kulit dan rambutnya yang putih terlihat kontras dengan kegelapan malam, meski tempatnya berdiri saat ini tidaklah gelap. 

Wanita itu masuk ke dalam, aku bergegas menutup pintu mobil dan berlari mengejarnya. Dia memasuki lift dan menghilang. 

Aku berlari ke depan lift, lampu di atas pintu lift menunjukkan angka 4. Aku menghela napas panjang lalu menekan tombol lift di sebelahnya. Beberapa saat menunggu, lift turun dan pintunya terbuka untukku. Aku menekan tombol angka 4. Saat aku tiba di lantai 4, aku melihat tulisan akrilik “Havana Club”, aku masuk ke dalamnya setelah membayar tiket masuk. Kupikir dia pasti bekerja di sini, mengingat pakaiannya seperti seseorang yang bekerja di kantor. 

Aku memasuki klub itu, pemain band sedang bermain di atas panggung, lampu sorot berwarna warni tak henti-hentinya diarahkan kepada mereka. Aku mengedarkan pandanganku, mencoba mengenali seluruh tempat ini. 

Seorang wanita mendekat kepadaku, dia berpakaian seperti wanita yang kulihat di bawah tadi, tapi jelas wanita ini bukan dia. 

“Selamat malam, Mas.” Wanita itu mengulurkan tangan kepadaku.

“Malam,” aku pun menyambut tangannya sambil tersenyum. Wanita ini terlihat manis, aku membaca name tag di dadanya menyala di dalam gelap, “Gina” keningku mengkerut, bagaimana bisa menyala dalam gelap? Terlihat bagus dan menarik. 

“Sudah ada meja?” Gina bertanya kepadaku. 

“Belum,” sahutku cepat kami bicara dengan nada nyaring supaya tidak tenggelam dari suara musik yang keras. 

“Mari silahkan,” Gina membuka tangan mengajakku berjalan menuju meja kosong. Aku melewati sebuah meja. Napasku terasa terhenti, wanita itu di meja itu… itu dia! Si wanita berambut putih, dia terlihat semakin bersinar dalam keremangan cahaya seperti ini. Aku melihat nama di dadanya. “Albin” itu yang terbaca olehku. Albin terlihat asyik bicara dengan beberapa lelaki di meja itu, dia bicara sambil tersenyum, kadang dia tertawa. 

Aku masing bingung, apa yang dikerjakan para wanita ini? Apa mereka menemani para lelaki yang datang ke sini?

“Mari, Mas, silahkan duduk.” Gina tersenyum kepadaku. Aku menarik kursi lalu duduk di atasnya. 

“Mas mau apa?” Gina tersenyum ramah, dia duduk di sisiku. Aku merasa sedikit tidak nyaman. Kursi kami berdempetan. Gina meraih papan menu yang terselip di atas meja. 

“Aku mau dia,” aku menunjuk Albin yang terlihat begitu akrab dengan para lelaki di meja itu. 

“Albin?! Oh Albin sedang melayani customer lain,” jawab Gina sambil tersenyum hambar. 

“Tidak papa, aku akan menunggunya,” jawabku cepat. 

“Hum .. Ok, saya akan sampaikan. Mas mau pesan minum dulu sambil menunggu Albin?” tanya Gina masih dengan senyuman yang manis. 

“Boleh, whiskey double,” ucapku cepat. Gina menyalakan pemantik, seorang waiter datang mendekat, dia membisikkan sesuatu di telinga waiter itu, sepertinya pesananku. Si Waiter mengangguk lalu berlalu pergi.

“Saya beri tahu Albin, ya,” ucap Gina di telingaku. 

“Hum… Ok,” Ucapku sambil mengangguk. 

Gina menjauh, dia berjalan ke meja Albin lalu berbisik kepadanya, Albin melihat ke arahku. Tak lama kemudian dia bicara beberapa patah kata kepada empat pria di meja itu. Dia berjalan mendekatiku, sementara Gina dia duduk di depan meja bartender. 

“Hai … halo, saya Albin.” Albin tersenyum sambil mengulurkan tangan. Irisnya yang biru terlihat indah saat dia terkena biasan lampu sorot. 

“Hai … Jovan,” ucapku menyambut tangannya. Aku memperhatikannya lekat-lekat. Mataku mengerjap beberapa kali, dia secantik peri dalam dongeng. 

“Mas …. ada yang bisa saya bantu? Kata teman saya, Mas cari saya,” Albin tersenyum manis sekali. Aku masih terdiam, memperhatikan dia inci demi inci.

          “Mas, saya gak bertelinga runcing, jadi tenang aja saya bukan peri dari negeri dongeng, and i don’t have any magic at all, (aku tidak punya sihir sama sekali)” Albin tertawa renyah. Aku tertawa saat mendengarnya. Albin orang yang punya keceriaan sepertinya. 

“Duduk, Albin,” Aku tersenyum lebar kepadanya. 




Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Marry Me White Queen (Bahasa Indonesia)   BAB 11. TRAKTIR MAKAN

    Albin berjalan pelan bersama temannya keluar dari Havana klub. Mereka saling tertawa. Sesekali saling menggoda dan bercanda. Tawa mereka mengisi lorong parkiran sepeda motor khusus karyawan.Jovan bersandar pada pilar lorong parkiran. Dia tersenyum manis saat mendengar Albin dan teman-temannya menggosipkan para pelanggan mereka. Dari yang menyebalkan sampai yang baik hati.

  • Marry Me White Queen (Bahasa Indonesia)   BAB 10. PELANGGAN ROYAL?

    Sekate-kate ini orang, “Ok Jo yang baik hati, kenapa lo nipu gue?!”“Enak aja, aku gak nipu kamu.”

  • Marry Me White Queen (Bahasa Indonesia)   BAB 9 MAS JO YANG BAIK HATI

    Jovan menuruni tangga rumahnya sambil menenteng sebuah tas kerja di tangannya. Dia mau menikmati sarapan paginya sebelum berangkat ke kantor pagi ini. Tubuhnya sebenarnya masih terasa lelah karena baru kemarin sore dia tiba dari luar pulau meninjau lokasi lahan yang digarap perusahaannya, tetapi dia tetap ke kantor hari ini. Banyak hal yang harus dia kerjakan.Jovan bersenandung ringan sambil menapaki anak tangga, saat dia melihat lurus ke depan, di meja makan sudah duduk di kursi lelaki tua yang sangat dikenal

  • Marry Me White Queen (Bahasa Indonesia)   BAB 8. AKHIRNYA INGAT

    ~Jovan POV~Aku menyodorkan ponselku kepadaTasya, memintanya mengantikan ponselku besok. Tasya, dia seseorang yang sangat kupercayai. Dia bekerja bersama kami selama dua belas tahun, bersamaku enam tahun dan bersama papa selama enam tahun. Ya, Tasya sebelumnya asisten papa kemudian papa menyerahkan kepadaku saat dia tidak aktif lagi bekerja.Tasya adalah ses

  • Marry Me White Queen (Bahasa Indonesia)   BAB 7. TASYA

    Jovan memperhatikan presentasi dari direktur keuangan perusahaannya, mereka semua menatap ke LED screen besar yang berada di ruang meeting. Perusahaan kayu lapisnya semakin terancam karena kayu semakin sulit didapat. Bahkan mereka memiliki rencana mengurangi pegawai demi menyesuaikan keuangan perusahaan yang semakin sulit.Adi Jaya Sakti-ayahnya Jovan dan beberapa investor mendengarkan rapat dengan saksama. Tidak lama setelah itu Jovan memberikan presentasi untuk mengambil proyek membuka lahan yang dilakukan perusahan sawit, mereka bisa memberikan separuh harga untuk membuka lahan itu, tapi semua kayu yang diteb

  • Marry Me White Queen (Bahasa Indonesia)   BAB 6. SI PENIPU TAMPAN

    Aku melepaskan sabuk pengaman yang sudah terpasang di tubuhku lalu mencondongkan tubuhku mendekati Albin, mendekatkan wajahku ke wajahnya.Aku menyentuh bibirnya dengan ujung jemariku. Desiran darahku terasa semakin naik sampai ke ubun-ubun. Albin masih tertidur pulas. Aku mengepalkan tanganku kuat-kuat berusaha menyingkirkan pikiran liar di dalam kepalaku, aku menelan air liur, hela napas Albin terasa hangat menyentuh wajahku.Aku menyusupkan tangan ke belakang punggung Albin untuk mengambil tasnya yang tadi diletakkan Gina di belakangnya. Aku mengambil ponsel milik Albin, aku ingin mengirimkan pesan dari

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status