LOGINAlbin tersedak, beberapa detik setelah dia menghabiskan minuman yang terakhir. Dia hampir terjatuh ke belakang, aku menahannya, menariknya ke dalam pelukanku.
Uang yang kuberikan tadi, dia kumpulkan di atas meja. Jatuh berhamburan ke lantai saat gelas yang dipakainya untuk menahan uang itu terjatuh terkena tangannya.
Aku memeluk Albin dengan erat, dagunya tepat betopang di pundakku, aku menghirup aroma harum dari rambutnya, sesuatu yang hangat lembut dan kenyal menempel tepat di dadaku. Aku terdiam, kesadaraanku seakan lenyap beberapa saat, aku merasakan sesuatu yang tidak pernah aku rasakan lagi sejak hampir 16 tahun yang lalu. Aku menikmatinya, aku menikmati wangi rambut dan tubuh Albin, aku menikmati rasa hangat yang menyentuh dadaku bahkan sepertinya tubuhku menuntut lebih, kesadaranku kembali saat aku melihat orang berlalu lalang di depan meja kami dan melangkahi uang yang kuberikan untuk Albin.
Perlahan aku melepaskan pelukanku lalu menyandarkan tubuh Albin di sandaran kursi, aku berdiri kemudian mengambil uang yang berserakan di lantai, aku memasukkan kembali uang itu ke dalam dompetku.
Aku menyalakan pemantik memanggil waiter sambil melihat ke arloji yang melingkari pergelangan tangan kiriku. Waktu sudah menunjukkan pukul 2:30 dini hari, kurasa klub ini akan segera tutup tidak lama lagi.
Seorang waiter mendekatiku, dia mendekatkan telinganya ke wajahku, "Dia bisa dibawa pulang?" tanyaku kepada waiter yang melayaniku. Sebagai sesama lelaki pasti dia paham maksudku.
"Setahu saya gak bisa," ucap si waiter dengan nada penuh keyakinan.
“Panggilkan aku manager dan bawakan billing-nya,” kataku kepada waiter itu. Dia mengangguk pelan.
Seorang lelaki berperawakan gagah serta memiliki wajah sangat menarik mendekati meja kami. Dia mengenakan setelan kemeja slim fit, celana hitam dan juga dasi melingkari lehernya.
“Halo, saya Irwan. Saya manger Havana Club. Ada yang bisa saya bantu?” Irwan menyurungkan tangannya kepadaku. Aku menyambut tangannya, dia menarik kursi lalu duduk.
“Aku mau membawanya pulang, apa ada biaya yang harus dibayarkan? Atau berapa yang harus kubayar selama dia bersamaku,” tanyaku kepada irwan. Di tempat hiburan lain begitu, ada biaya yang harus dibayarkan untuk seorang wanita yang menemani duduk di klub malam. Apalagi jika membawanya keluar, tentu biayanya lebih besar.
“Jadi gini, Mas. Albin dan teman-temannya bukan perempuan yang digaji untuk menemani pelanggan. Mereka bekerja sebagai viar atau PR (public relationship) untuk membantu pelanggan mendapatkan apa yang mereka butuhkan selama berada di Havana Club. Mereka tidak memiliki kewajiban untuk menemani pelanggan berjam-jam saat berada di sini. Mereka free, boleh tetap menemani atau meninggalkannya saat pelanggan sudah mendapatkan apa yang mereka butuhkan, jika sedang ramai, mereka tidak boleh hanya berada di satu meja, karena pelanggan lain juga membutuhkan mereka.” Irwan menjelaskan panjang lebar.
Itu artinya Artinya Albin menyukaiku hingga dia duduk dan menemaniku? Pikiran itu membuat bibirku mau tidak mau tersenyum manis dan lebar.
"Oh begitu, jadi aku bisa membawanya pulang dan gak kena charge."
"Maaf, Mas. Gak boleh. Kami gak bisa izinkan pegawai kami dibawa pulang."
"Gak kok, aku cuma mau mengantarkan dia pulang. Masa gak boleh?"
"Saat keadaan Albin mabuk parah seperti ini, kami tidak mengizinkan. Sudah peraturannya seperti itu demi menjaga keselamatan pegawai kami."
"Kata kamu tadi dia free, berarti dia bebas dong mau pulang sama siapa aja?"
"Betul, tapi itu dia yang memutuskan, bukan dari pelanggan atau dari kami."
Aku menghela napas panjang saat mendengar dia bicara, tak lama kemudian seorang waiter datang membawa nampan berisi tagihan yang terselip di sampul buku yang terbuat dari kulit berwarna hitam pekat. Aku membaca rincian yang harus kubayar serta jumlah totalnya, ada tulisan "PR, Albin" lalu ada tulisan 10% lalu rincian sejumlah uang. Aku paham sekarang, jadi Albin mendapatkan 10% dari setiap harga minuman yang dibayarkan. Pantas saja dia minum dengan senang. Aku mengangguk pelan. Berarti misi Albin dan teman-temannya mengeluarkan minuman sebanyak-banyaknya.
Apa aku terlihat seperti orang pelit yang perhitungan? Memperhatikan begitu rupa padahal banyak uang? Aku harus melakukannya, karena tidak sedikit klub malam yang nakal, sebenarnya itu oknum, tidak mungkin management klub malam yang berbuat seperti itu , karena hal itu adalah kebodohan yang berlipat-lipat. Jika melakukannya nama baik mereka dipertaruhkan. Jadi pasti oknumnya yang berbuat. Mereka membuat tagihan lebih dari yang seharusnya saat mereka melihat pelanggan terlalu mabuk untuk memeriksa tagihan mereka, jadi pastikan jangan sampai terlalu mabuk saat sendirian. Tidak sedikit teman-temanku yang terkena kasus semacam itu.
Aku menyerahkan kartu di atas nota tagihan untuk melakukan pembayaran.
"Albin, mau kuantar pulang?" tanyaku di telinganya. Albin tidak merespon, setelah aku bertanya berulang kali sambil mengguncang tubuhnya, Albin membuka matanya, dia memandangiku lekat-lekat, "mau kuantar pulang?" tanyaku lagi. Albin mengangguk dengan cepat. Dia melingkarkan kedua tangannya di tubuhku. Albin memelukku lebih erat.
"Pak Irwan, Albin mau kuantarkan pulang. Kurasa tidak ada masalah sekarang." Aku kembali menghirup aroma harum dari rambut Albin.
"Maaf, Mas, gak bisa. Albin sepertinya terlalu mabuk. Dia tidak bisa memutuskan dengan baik. Kami punya mobil operasional untuk mengantarkan pekerja kami pulang saat mereka terlalu mabuk seperti ini." Irwan menyalakan senter kecil berwarna merah dan mengarahkannya ke atas sambil mematikan dan menyalakannya berulang kali. sepertinya dia memanggil seseorang. Benar saja, beberapa saat kemudian datang waiter mendekat, dia mendekatkan wajahnya.
"Panggil Gina dan Rosi, suruh mereka bawa Albin ke ruang istirahat." Irwan bicara dengan nada nyaring sehingga aku bisa mendengarnya. Waiter itu mengangguk lalu pergi.
Aku menggelengkan kepala kesal, "Ini kartu identitasku, kamu bisa cek di internet siapa aku. Aku gak melakukan yang macam-macam. Kamu bisa tanya Albin besok kalau dia kerja. Kalau terjadi sesuatu kamu bisa menuntutku.
Irwan mengambil kartu identitasku, dia mencariku di Internet, dia terlihat fokus memperhatikan layar ponselnya. Irwan menyerahkan kembali kartu identitasku, "Terima kasih, Pak Jovan. Kami merasa tersanjung Bapak meluangkan waktu untuk singgah di tempat kami," ucap Irwan.
Hum … tuh 'kan gaya bicaranya jadi berubah, aku tersenyum, "Tapi maaf, kami tetap tidak bisa mengizinkannya," ucapnya lagi. Membuat senyuman di bibirku langsung memudar.
Aku berdecak kesal sambil merogoh dompet di saku belakang celanaku. Aku memasukkan kembali kartu identitasku, "Ini …" ucapku sambil menyurungkan uang 100$ di atas meja, "sebaiknya kamu simpan sebelum teman-teman Albin datang," ucapku cuek.
Irwan menatapku lekat-lekat lalu memperhatikan Albin yang terlihat begitu nyaman menyandarkan kepalanya di dadaku, "Terima kasih," ucapnya sambil mengambil uang itu lalu memasukkannya ke dalam saku bajunya.
Kenapa aku berikan uang dollar bukan rupiah? Jujur saja aku tidak banyak pegang uang rupiah. Hanya tiga ratus hingga empat ratus ribu saja di dompetku, tapi aku selalu memiliki beberapa puluh lembar uang dollar. Saat aku harus membayar tagihan, aku tinggal menyerahkan kartu saja, jadi aku tidak terlalu membutuhkan uang cash, tapi … dollar sepertinya bahkan lebih tidak terpakai 'kan? Dalam lingkungan sosialku bersama teman-teman, kami menggunakan dollar, baik itu pinjam uang atau saat harus melakukan sesuatu yang diperlukan menggunakan uang, contohnya saat harus memberikan uang kepada Irwan. Kenapa? Karena dollar lebih sedikit lembarannya tapi jauh lebih besar nilainya sehingga dompetku tidak kepenuhan dengan uang
Gina dan satu orang lagi wanita mendekati kami, aku membaca tulisan di dadanya "Rosi".
"Ada apa, Pak?" tanya Rosi.
"Albin, dia mau pulang sama pelanggan kita," ucap Irwan sambil memandangi kedua pegawai wanitanya.
"Tapi, dia terlalu mabuk," ucap Rosi dengan nada keberatan setelah melihat keadaan Albin.
"Iya, tapi Albin yang memaksa," ucap Irwan lagi. Aku tersenyum miring melihat dia.
"Albin, pulang sama kita, yuk," Gina menarik lengan Albin, berusaha melepaskan pelukannya dari tubuhku.
Albin menyentakkan tangan Gina, "Gak mau," ucap Albin, dia justru semakin mengeratkan pelukannya.
Gina, Rosi dan Irwan saling pandang beberapa saat, "Biarkan dia," ucap Irwan dengan nada pasrah.
Tidak berselang lama, waiter datang mengembalikan kartu-ku dan menyerahkan nota pembayaran, aku memasukkan kembali kartuku ke dalam dompet. Irwan, Gina dan Rosi masih memperhatikan kami.
"Albin, ayo pulang," ucapku di telinganya.
Lampu klub malam semuanya dinyalakan, keadaan menjadi terang benderang, musik menghentak dimatikan, berganti dengan musik slow, itu artinya Havana Club sudah tutup. Para pengunjung mulai berjalan ke arah pintu keluar, para waiter berbondong-bondong ke tengah ruangan, mereka membersihkan semua meja dan sebagian lainnya menyapu lantai.
"Albin," panggilku sambil menggoyangkan lengannya.
Albin menarik kepalanya dari dadaku, dia membuka matanya menatap lekat ke arahku dengan matanya yang sayu, "Hummm," ucapnya dengan gumaman yang terdengar parau.
"Ayo kita pulang," ucapku menatap lekat ke dalam matanya yang berwarna biru.
"Sama kamu?" tanya Albin sambil tersenyum. Wajah kami hanya berjarak beberapa inci. Dadaku berdebar lebih cepat.
"Iya," kataku sambil mengangguk pelan.
"Ok," ucap Albin sambil tersenyum, dia kembali memejamkan matanya.
Mata Albin terpejam, bibirnya tersenyum dan sedikit terbuka, membuat tubuhku tiba-tiba meremang. Aku ingin sekali melumat bibirnya. Aku menelan ludah berkali-kali. Albin kembali menempelkan kepalanya di dadaku.
Aku mencoba mengalihkan sensasi rasa yang tiba-tiba membuat napas dan celanaku terasa sesak. Aku memandangi Rosi, Gina dan Irwan, "Kami pulang sekarang," ucapku kepada mereka.
"Ya, hati-hati di jalan," ucap Irwan dia mengangguk pelan, "Gina bawakan sekalian barang-barang Albin, ya.
"Ok," jawab Gina, dia mendekati Albin lalu merogoh saku blazer-nya, dia mengambil kunci kecil, "tunggu sebentar, ya, Mas. Saya ambilkan tas Albin di locker-nya."
"Ok, kutunggu di depan pintu masuk, ya," ucapku sambil menarik pinggang Albin agar dia berdiri bersamaku.
"Kamu bisa jalan 'kan?" tanyaku, "Albin, kamu bisa jalan?" ulangku lagi.
Albin mengangguk, aku melingkarkan tangan di punggungnya sementara Albin melingkarkan kedua tangannya di tubuhku sambil menyandarkan kepalanya di dadaku. Kami berjalan bersisian. Aku berjalan perlahan mengikuti langkahnya yang terseok
Aku berdiri di samping pintu masuk sambil menyandarkan tubuh di dinding menunggu Gina datang membawakan tas Albin. Setelah beberapa saat menunggu dia mendatangiku.
"Mari saya bawakan tasnya ke mobil," kata Gina.
Aku mengangguk, "Terima kasih." Tentu saja sulit bagiku jika harus membawa serta tas Albin, sementara aku harus berjalan sambil menopang tubuhnya agar dia tidak jatuh.
Aku berbincang ringan bersama Gina ketika kami berjalan menuju parkiran. Aku menanyakan alamat Albin, Gina mengatakan alamat lengkap kontrakan Albin setelah membaca kartu identitas Albin, dia lalu menjelaskan serinci-rincinya yang mana rumah Albin, karena Google Map hanya bisa menunjukkan alamat jalan dan posisi perumahan saja, aku harus mencarinya untuk menemukannya.
Sesampainya di mobil aku meletakkan Albin hati-hati di kursi depan lalu memakaikannya sabuk pengaman. Matanya masih terpejam.
Gina melambaikan tangan kepadaku, aku pun mengangguk dan tersenyum kepadanya. Aku menutup jendela mobil lalu memasang sabuk pengaman
Aku memandangi Albin, meneliti rambut, wajah dan tubuhnya dengan saksama. Tatapan mataku terpusat pada bibir, dada dan pinggangnya.
"Sial! Sial!!!" Aku menggerutu di dalam hati. Bagaimana bisa Albin berkata tidak memiliki sihir apa pun? Bahkan pikiranku tak bisa lepas darinya.
Aku … aku tidak bisa menolak keinginan ini, aku begitu ingin merengkuhnya ke dalam pelukanku, menarik pinggangnya merapat ke tubuhku. Melumat bibirnya penuh gairah. Kepalaku berdenyut kuat. Perasaan ini sudah lama sekali tidak pernah aku rasakan. Aku bahkan lupa tepatnya, mungkin terakhir kali saat aku berusia delapan belas tahun.
"Tidak, aku tidak boleh melakukannya, Albin tidak sadar," aku menolak keinginanku kuat-kuat.
Aku kembali memandangi Albin lekat-lekat dan terdiam beberapa saat.
Aku melepaskan sabuk pengaman yang sudah terpasang di tubuhku lalu mencondongkan tubuhku mendekati Albin, mendekatkan wajahku ke wajahnya.
Albin berjalan pelan bersama temannya keluar dari Havana klub. Mereka saling tertawa. Sesekali saling menggoda dan bercanda. Tawa mereka mengisi lorong parkiran sepeda motor khusus karyawan.Jovan bersandar pada pilar lorong parkiran. Dia tersenyum manis saat mendengar Albin dan teman-temannya menggosipkan para pelanggan mereka. Dari yang menyebalkan sampai yang baik hati.
Sekate-kate ini orang, “Ok Jo yang baik hati, kenapa lo nipu gue?!”“Enak aja, aku gak nipu kamu.”
Jovan menuruni tangga rumahnya sambil menenteng sebuah tas kerja di tangannya. Dia mau menikmati sarapan paginya sebelum berangkat ke kantor pagi ini. Tubuhnya sebenarnya masih terasa lelah karena baru kemarin sore dia tiba dari luar pulau meninjau lokasi lahan yang digarap perusahaannya, tetapi dia tetap ke kantor hari ini. Banyak hal yang harus dia kerjakan.Jovan bersenandung ringan sambil menapaki anak tangga, saat dia melihat lurus ke depan, di meja makan sudah duduk di kursi lelaki tua yang sangat dikenal
~Jovan POV~Aku menyodorkan ponselku kepadaTasya, memintanya mengantikan ponselku besok. Tasya, dia seseorang yang sangat kupercayai. Dia bekerja bersama kami selama dua belas tahun, bersamaku enam tahun dan bersama papa selama enam tahun. Ya, Tasya sebelumnya asisten papa kemudian papa menyerahkan kepadaku saat dia tidak aktif lagi bekerja.Tasya adalah ses
Jovan memperhatikan presentasi dari direktur keuangan perusahaannya, mereka semua menatap ke LED screen besar yang berada di ruang meeting. Perusahaan kayu lapisnya semakin terancam karena kayu semakin sulit didapat. Bahkan mereka memiliki rencana mengurangi pegawai demi menyesuaikan keuangan perusahaan yang semakin sulit.Adi Jaya Sakti-ayahnya Jovan dan beberapa investor mendengarkan rapat dengan saksama. Tidak lama setelah itu Jovan memberikan presentasi untuk mengambil proyek membuka lahan yang dilakukan perusahan sawit, mereka bisa memberikan separuh harga untuk membuka lahan itu, tapi semua kayu yang diteb
Aku melepaskan sabuk pengaman yang sudah terpasang di tubuhku lalu mencondongkan tubuhku mendekati Albin, mendekatkan wajahku ke wajahnya.Aku menyentuh bibirnya dengan ujung jemariku. Desiran darahku terasa semakin naik sampai ke ubun-ubun. Albin masih tertidur pulas. Aku mengepalkan tanganku kuat-kuat berusaha menyingkirkan pikiran liar di dalam kepalaku, aku menelan air liur, hela napas Albin terasa hangat menyentuh wajahku.Aku menyusupkan tangan ke belakang punggung Albin untuk mengambil tasnya yang tadi diletakkan Gina di belakangnya. Aku mengambil ponsel milik Albin, aku ingin mengirimkan pesan dari