Home / Lahat / Maryam / Bab 10

Share

Bab 10

Author: Hs.
last update Petsa ng paglalathala: 2020-09-30 05:47:26
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Maryam   Bab 14

    "Buang dimana anak saya?!" Zaidan tak bisa menahan amarah, sehingga menarik kerah baju pak Rahmat dengan kasar.Pak Rahman hanya bisa menangis merasa sesal, sesekali meringis pelan lukanya terbentur akibat tarikan Zaidan terlalu kasar."Pak Zaidan yang sabar, kasihan pak Rahman. Dia lagi sakit pak," pak Adi mencoba meredakan amarahnya Zaidan.Zaidan menyeringai dengan kepala menggeleng tidak terima ucapan Pak Adi. "Sabar!? Biarkan saja, lebih sakit saya pak. Saya kehilangan anak saya dan istri saya. Saya salah membenci seseorang yang terlibat bahkan dengan teganya saya menuduh istri saya."Zaidan tak bisa menahan laju air matanya, lima tahun dia mengabaikan sang istri karena salah paham ini. Ia kira sang istri dengan tega membunuh anak dirinya tapi ternyata itu hanya salah paham. Ya Tuhan, penyesalan memang datang diakhir waktu."Maafin saya pak, maafin saya ... saya di

  • Maryam   Bab 13

    Sesekali pria itu menarik napas dengan kasar. Pikirannya belalang buana, entah apa yang ia pikirkan. Tapi yang pasti ada perasaan aneh yang tidak mengerti oleh dirinya sendiri."Bapak enggak papa?" tanya pak supir di depan kemudi. Melihat sang majikan yang sesekali mengambil napas kemudian mengeluarkan dengan."Emang kenapa saya?""Hmmm, bapak seperti memikirkan sesuatu yang berat." jawab supir itu dengan tergagap-gagap, takut salah bicara.Pria itu Zaidan. Zaidan memilih diam, tak menjawab lagi percakapan tadi. Iya, ada sesuatu yang ia pikirkan dengan berat.Tiiiitttt ....."Ada apa pak?" tanya Zaidan dengan kening mengerut ketika mobil yang ia tumpangi berhenti mendadak."Maaf pak. Saya menabrak orang," kata pak supir itu dengan takut."Shit," umpat Zaidan.Sekita kerumunan orang men

  • Maryam   Bab 12

    Senja menyapa mahluk bumi. Semilir angin menambahkan kesan romantis bagi sebagian orang yang menikmati senja. Ada juga orang yang bernapas dengan lega karena senja mulai datang, tanda pekerjaan sedang selesai dan meninggal tempat kerja. Dan ada juga orang mengusap peluh dengan hati yang merana, pulang tak membawa uang ke keluarganya.Sore ini di rumah yang besar terdengar lantunan ayat suci Alquran, meskipun terdengar tergagap-gagap."Bukan Manya'mal mbak," tegur Romlah dengan lembut.Shila mengangkat alisnya bingung, dia menatap Maryam seakan bertanya 'apa?'."Mayya'mal yang benar mbak. Ketikan nun mati (نٔ) bertemu dengan huruf yaa' (ي) hukum bacaan nya Idgham bighunnah," Maryam mengambil sepidol kemudian menulis huruf yang dan nun di papan yang sudah disiapkan untuk mengajarkan ngaji Shila.Kemudian dia menjelaskan arti dari hukum bacaan Idgham bighunnah.

  • Maryam   Bab 11

    Pria itu dengan penuh semangat berjalan sambil menenteng sebuah paper bag yang agak besar. Senyuman pun tak pernah luntur dari wajah rupawan nya."Cari siapa Tuan?" tanya bibi Mus yang melihat sang tuan seperti mencari seseorang.Zaidan berdeham mengurangi rasa salah tingkah, kepergok mencari-cari seseorang. Image nya sebagai pria dingin kini dipertaruhkan! Zaidan tak sadar bahwasanya manusia itu abu-abu, kadang dia menunjukkan sikap dingin ke orang sekitarnya, ada juga menampilkan sikap yang suka nyinyir atau sikap yang ceria."Tidak ada!" Zaidan berbalik untuk pergi."Kalau cari Ar. Ar nya ada di taman sama bundanya," ucap bibi Mus menyembunyikan senyumnya.Zaidan berbalik "Tidak! Siapa yang mencari Ar," sangkal Zaidan dengan tegas."Oh begitu. Saya hanya memberi tahu tuan.""Tidak usah memberi tahu saya." Zaidan berbalik

  • Maryam   Bab 10

    "Ar juga puasa?" tanya Shila dengan penasaran. Pasalnya Ar itu masih kecil, dia tak mau Ar sakit."Iya mbak." jawab Maryam sambil sibuk dengan aktivitas nya membersihkan kasur Shila. "mbak mau mandi sekarang?""Enggak, nanti aja. Emang Ar kuat Maryam? Kasihan lho Ar masih kecil, udah di ajarkan puasa sama kamu." Ucap Shila mengeluarkan rasa khawatirnya, meskipun Ar bukan anaknya entah kenapa dia seperti ada ikatan dengan Ar.Maryam mengulum senyumnya "Ar puasa Dzuhur mbak. Aku melarang Ar puasa mahgrib takut nanti lambungnya gak kuat.""Oh, aku kira Ar puasa Maghrib.""Enggak lah mbak, kasihan. Ar itu anaknya keras kepala. Pernah bulan puasa kemaren Ar puasa Mahgrib karena Ar ketiduran siang, aku udah bangunin tapi yaitu Ar itu orang paling ribet kalau di bangunin. Bangun tidur aku udah nyuruh Ar membatalkan puasanya tapi Ar gak mau. Aku Sampek paksa Ar sampai Ar nangis

  • Maryam   Bab 09

    Semilir angin menerpa wajahnya, dengan perlahan Maryam menutup matanya. Merasa sejuk menerpa rongga dada nya. Embun pagi di ba'da subuh di Surabaya menyejukkan, ketika pagi datang embun itu sudah hilang digantikan kepulan asap kendaraan.Dalam hati tak henti-hentinya terucapkan rasa syukur kepada Allah. Telah memberikan nikmat yang begitu banyak sehingga tak bisa terhitung.Setelah selesai menikmati embun pagi, Maryam membuka jendela lebar-lebar, agar aroma wangi embun pagi merasuk memenuhi seantero kamar kecilnya.Ar yang sedang tertidur pulas, menggeliat kecil ketika hembusan angin menerpa wajahnya.Maryam tersenyum kecil. "Sayang, udah azan. Yuk sholat."Ar masih menggeliat didalam selimutnya."Sayang," panggil lembut Maryam, sambil menyibak selimut Ar.Ar masih bergeming, meskipun selimutnya tak ada. Dia membelakangi Maryam de

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status