LOGINSiti Maryam, nama perempuan itu. Nama yang sederhana. Sama persis dengan orangnya yang memiliki sifat; sederhana, ramah terhadap orang lain. Dengan bibir yang selalu dihiasi dengan senyuman itu membuat orang nyaman dekat dengan dirinya. Suatu hari Maryam diberi pilihan; meninggalkan sosok malaikat kecil itu atau menikah dengan lelaki yang beristri?
View More"Buang dimana anak saya?!" Zaidan tak bisa menahan amarah, sehingga menarik kerah baju pak Rahmat dengan kasar.Pak Rahman hanya bisa menangis merasa sesal, sesekali meringis pelan lukanya terbentur akibat tarikan Zaidan terlalu kasar."Pak Zaidan yang sabar, kasihan pak Rahman. Dia lagi sakit pak," pak Adi mencoba meredakan amarahnya Zaidan.Zaidan menyeringai dengan kepala menggeleng tidak terima ucapan Pak Adi. "Sabar!? Biarkan saja, lebih sakit saya pak. Saya kehilangan anak saya dan istri saya. Saya salah membenci seseorang yang terlibat bahkan dengan teganya saya menuduh istri saya."Zaidan tak bisa menahan laju air matanya, lima tahun dia mengabaikan sang istri karena salah paham ini. Ia kira sang istri dengan tega membunuh anak dirinya tapi ternyata itu hanya salah paham. Ya Tuhan, penyesalan memang datang diakhir waktu."Maafin saya pak, maafin saya ... saya di
Sesekali pria itu menarik napas dengan kasar. Pikirannya belalang buana, entah apa yang ia pikirkan. Tapi yang pasti ada perasaan aneh yang tidak mengerti oleh dirinya sendiri."Bapak enggak papa?" tanya pak supir di depan kemudi. Melihat sang majikan yang sesekali mengambil napas kemudian mengeluarkan dengan."Emang kenapa saya?""Hmmm, bapak seperti memikirkan sesuatu yang berat." jawab supir itu dengan tergagap-gagap, takut salah bicara.Pria itu Zaidan. Zaidan memilih diam, tak menjawab lagi percakapan tadi. Iya, ada sesuatu yang ia pikirkan dengan berat.Tiiiitttt ....."Ada apa pak?" tanya Zaidan dengan kening mengerut ketika mobil yang ia tumpangi berhenti mendadak."Maaf pak. Saya menabrak orang," kata pak supir itu dengan takut."Shit," umpat Zaidan.Sekita kerumunan orang men
Senja menyapa mahluk bumi. Semilir angin menambahkan kesan romantis bagi sebagian orang yang menikmati senja. Ada juga orang yang bernapas dengan lega karena senja mulai datang, tanda pekerjaan sedang selesai dan meninggal tempat kerja. Dan ada juga orang mengusap peluh dengan hati yang merana, pulang tak membawa uang ke keluarganya.Sore ini di rumah yang besar terdengar lantunan ayat suci Alquran, meskipun terdengar tergagap-gagap."Bukan Manya'mal mbak," tegur Romlah dengan lembut.Shila mengangkat alisnya bingung, dia menatap Maryam seakan bertanya 'apa?'."Mayya'mal yang benar mbak. Ketikan nun mati (نٔ) bertemu dengan huruf yaa' (ي) hukum bacaan nya Idgham bighunnah," Maryam mengambil sepidol kemudian menulis huruf yang dan nun di papan yang sudah disiapkan untuk mengajarkan ngaji Shila.Kemudian dia menjelaskan arti dari hukum bacaan Idgham bighunnah.
Pria itu dengan penuh semangat berjalan sambil menenteng sebuah paper bag yang agak besar. Senyuman pun tak pernah luntur dari wajah rupawan nya."Cari siapa Tuan?" tanya bibi Mus yang melihat sang tuan seperti mencari seseorang.Zaidan berdeham mengurangi rasa salah tingkah, kepergok mencari-cari seseorang. Image nya sebagai pria dingin kini dipertaruhkan! Zaidan tak sadar bahwasanya manusia itu abu-abu, kadang dia menunjukkan sikap dingin ke orang sekitarnya, ada juga menampilkan sikap yang suka nyinyir atau sikap yang ceria."Tidak ada!" Zaidan berbalik untuk pergi."Kalau cari Ar. Ar nya ada di taman sama bundanya," ucap bibi Mus menyembunyikan senyumnya.Zaidan berbalik "Tidak! Siapa yang mencari Ar," sangkal Zaidan dengan tegas."Oh begitu. Saya hanya memberi tahu tuan.""Tidak usah memberi tahu saya." Zaidan berbalik