LOGINHening adalah gadis serampangan dan sembrono yang hanya bisa menerima nasib karena perbuatan Ayahnya sebagai preman. Pada akhirnya ia hanya akan mengikuti ke mana takdir akan membawa jalan hidupnya.Genta, pria yang sangat mencintai keluarga terutama Mamanya itu, tidak pernah menyangka akan jatuh cinta kepada gadis preman yang akan membawa kepahitan pada masa lalu keluarganya. Kalau dulu, Genta dengan ikhlas melepaskan cinta pertamanya karena ikatan darah diantara mereka. Namun bagaimana untuk kali ini? Akankah Genta melepaskan lagi cintanya karena sebuah alasan klise yang disebut keluarga? -Saat mata harus dibalas mata, begitupun nyawa harus dibalas dengan nyawa. Dan, bagian terberat ketika aku mencintaimu adalah melepasmu serta kehilangan bagian terbesar dari diriku.--Hidup ini warna warni, tidak mungkin hanya hitam putih saja. Jangan berharap selalu bahagia, jangan juga berpikir kesedihan akan selamanya-
View MoreI'll say will you marry meI swear that I will mean itI'll say will you marry me...By Jason Derulo--Tubuh Genta sudah berada di bawah guyuran shower di kamar mandi. Ia masih mengingat dengan jelas malam panjang yang dilewatinya bersama Hening, beberapa jam yang lalu. Luar biasa! hanya itu yang bisa ia katakan untuk mengungkapkan semua perasaannya saat ini.Menghabiskan malam bersama wanita, memanglah bukan yang pertama kali bagi Genta. Namun bercinta dengan seseorang yang ia cintai dan menjadi pria pertama bagi wanita tersebut, membuatnya tidak bisa mengeluarkan kata-kata apapun. Hanya ada perasaan membuncah di dalam hatinya, yang selalu membuat bibirnya melengkung dengan sempurna.Namun ada satu yang mengganjal di hatinya. Genta bukan orang bodoh yang tidak tau apa sebenarnya, yang terjadi pada diri Hening semalam. Tapi, siapa yang punya niat jahat kepada gadis itu? Siapa yang di temui ol
A real man gives up one nigth stands, for a woman he can't one night without-Unknown--Kalau biasanya, di hari ulang tahunnya, Genta selalu merayakan dengan makan malam bersama keluarganya -mama dan papanya-. Namun kali ini, tidak. Ia hanya terpekur sendiri menatap pemandangan kota dari jendela kamar hotel yang telah di sewanya selama 2 hari ini.Mamanya sangat marah, atas sikap tidak sopannya terhadap keluarga Ara dan papanya angkat tangan, tidak ingin ikut campur. Selama hidup Genta, ia tidak pernah melihat mamanya itu marah kepadanya, apalagi hanya karena seorang wanita.Dan Hening, gadis itu masih tidak mau mengangkat telepon dari Genta. Chat darinya pun tidak di buka sama sekali. Pergi ke mana sebenarnya gadis itu, ia juga sudah dua hari tidak muncul di kantor. Kabar yang Genta terima dari Mei hanyalah kalau Hening di pindah tugas oleh Agam ke luar kota, tanpa tau pastinya. Aneh! Ya sungguh aneh.Lain lagi saat Genta
Pride comes before a fall-Unknown--Genta meletakkan dagunya pada setir mobil, mengetukkan jemarinya berulang kali menatap tanpa menoleh sedikitpun pada pagar kos Hening. Dari semalam gadis itu tidak mau mengangkat telepon maupun membaca chat dari Genta. Dan hari ini, pagi-pagi sekali Genta sudah berada untuk mencegatnya sebelum gadis itu berangkat menuju kantornya.Setelah pertemuan dadakannya dengan Zio semalam, sepertinya Genta sudah bisa menarik sebuah kesimpulan, meskipun ia belum bisa memastikannya. Tapi setidaknya ia sudah ada bayangan, apa sebenarnya yang sedang terjadi di sini. Tinggal bertanya dan menuntut kejujuran dari Hening, maka semuanya akan clear.Semalam langkah Genta terhenti, tidak menyusul Hening, karena selain menyebut mamanya, Zio juga menyebutkan nama Ara untuk dibicarakan.“Ngomong cepetan, nyokap gue sama Ara kenapa?” Pertanyaan Genta terkesan terburu serta
Illusion never changed, Into something realI'm wide awake and I can seeThe perfect sky is torn, You're a little lateI'm already torn By Natalie Imbruglia --Hening baru saja mendorong pintu kaca untuk melangkahkan kakinya keluar dari kantor saat Ara berdiri tepat di depannya dengan senyum manisnya.“Hai.” Sapa Ara.Mulus banget sih ni cewek. Gumam Hening dalam hati“Oh, hai juga.” Balas Hening tanpa canggung meskipun sedikit terkejut. “Mbak yang waktu itu di tempatnya Om Genta kan?”Om? Ara membatin sambil mengangguk.“Mau ke dalam ya Mbak?” Hening sudah membukakan pintu untuk Ara dengan sopan. “Silakan.” Lanjutnya.“Aku bukan mau ke dalam, tapi, aku mau bicara sama kamu.” Ucap Ara tanpa melepas senyuman dari wajahnya. “Bisa kan? Gak lama kok, cuma sebentar.” La