MasukCemburuan? Awalnya biasa saja. Namun semakin hari, dia semakin manjadi saja. _______________________ "Aku bukan badut bodoh yang bisa kamu bohongin." Potong Elora yang berhasil membuat Nezar terdiam dengan tangan yang mengepal kuat. Nezar menatap Elora cukup lama. Bukan tatapan kemarahan, justru menyiratkan sebuah rasa bersalah yang teramat dalam. "Yes, you are." Ucap Nezar dalam hati. Elora mengangkat sebelah alisnya. "Kenapa diem?" "Gak pa-pa. Cuma aku yang berhak atas kamu." Sahutnya yang berhasil membuat Elora memutar bola mata sebal. Ketika kasih sayang dan wajah tampan tidak menjadi karakter seseorang.
Lihat lebih banyakSepulangnya dari kediaman Elora, Nezar kembali berkutat dengan buku dan laptopnya di kamar.Sampai akhirnya sebuah panggilan masuk ke dalam ponselnya."Halo, Al?""Kamu kemana aja, kenapa tadi gak bales pesan aku dan kamu gak nolak panggilan aku? Nyebelin tau."Nezar menutup laptop dan menyimpannya ke atas meja samping tempat tidur, juga buku-bukunya."Tadi aku lagi bareng El," ucap Nezar jujur."Sakit, Zar. Beneran deh, kayaknya aku gak bisa biarin kamu. Putusin El.""Gak bisa gitu dong, El bisa mikir yang macem-macem. Dia bisa sakit hati--""Aku juga sakit, Zar."Nezar terdiam."Video call, By."Nezar mengalihkan panggilan suara tersebut dengan Video call.Nezar terdiam
Sesampainya Nezar di rumah, ia langsung saja masuk ke dalam kamar dengan melempar tas nya ke atas meja dengan kasar.Raut kesal belum juga sirna dari wajah tampannya. Ia terlihat menutup matanya dan menengadahkan kepala untuk menenangkan pikirannya.Ceklek."Shit." Umpat Nezar seraya melirik ke arah pintu.Qila berdiri dengan tersenyum remeh pada sang Kakak. "Kusut banget, berantem sama Kak El?"Nezar hanya diam seraya mengeluarkan ponselnya dari dalam saku.Nezar terdiam mengingat betapa kasarnya ia merebut ponsel tersebut dari El dan melemparnya ke kursi belakang. Ia pun tidak melupakan bentakan yang terlontar dengan sendirinya."Udah lah, putus aja sih!" Ucap Qila yang kini duduk di atas tempat tidur sang Kakak.Nezar melepas sepatu dengan paksa."Kasian banget sepatunya jadi pelampiasan,""Bisa diem gak?" Ucap
Siang ini benar-benar sangat membosankan. Suasana kelas pun sangat tidak bergairah, ditambah dengan pelajaran ekonomi yang benar-benar membuat sebagian besar siswa kelas IPS 2 ini berkeringat."Lin..." panggil Elora pelan."hn?" sahut Linda tanpa menghentikan kegiatan mencatatnya."Perih..." rengek Elora yang terdengar menahan tangisan.Linda melirik kaki kanan Elora. "Kena keringet nih pasti, makanya perih kena luka.""Bantuin, perih ih pengen nang--""Linda! Elora! Jangan ngobrol, salin semua yang Ibu tulis di board!" Ujar Guru Ekonomi mereka.Linda mengangkat tangan kanannya, "Bu, kaki Elora perih, boleh minta izin ke UKS sebentar gak?"Guru tersebut berjalan menghampiri bangku mereka berdua."Mana?"Elora pun memperlihatkan perban yang membungkus tumit kaki kanannya."Kaki kamu kena
Hembusan angin menerpa helaian rambut Elora yang tak terikat. Dengan tangan yang melipat di depan dada dan raut wajah kesal, Elora terlihat berdiri di depan gerbang sekolah.Pasalnya Nezar telah memintanya untuk menunggu, tapi setelah 15 menit berlalu belum datang juga.Tin... Tin... Elora menghembuskan nafas lega saat mobil Nezar telah berada di sampingnya.Nezar membukakan pintu samping kemudia dari dalam. "Masuk yaang," ucapnya. Elora pun masuk ke dalam mobil. Dan mereka pun berlalu dari lingkungan sekolah. "Maaf lama, Qila minta aku ke kelasnya dulu." Ucap Nezar.