MasukSepulangnya dari kediaman Elora, Nezar kembali berkutat dengan buku dan laptopnya di kamar.Sampai akhirnya sebuah panggilan masuk ke dalam ponselnya."Halo, Al?""Kamu kemana aja, kenapa tadi gak bales pesan aku dan kamu gak nolak panggilan aku? Nyebelin tau."Nezar menutup laptop dan menyimpannya ke atas meja samping tempat tidur, juga buku-bukunya."Tadi aku lagi bareng El," ucap Nezar jujur."Sakit, Zar. Beneran deh, kayaknya aku gak bisa biarin kamu. Putusin El.""Gak bisa gitu dong, El bisa mikir yang macem-macem. Dia bisa sakit hati--""Aku juga sakit, Zar."Nezar terdiam."Video call, By."Nezar mengalihkan panggilan suara tersebut dengan Video call.Nezar terdiam
Sesampainya Nezar di rumah, ia langsung saja masuk ke dalam kamar dengan melempar tas nya ke atas meja dengan kasar.Raut kesal belum juga sirna dari wajah tampannya. Ia terlihat menutup matanya dan menengadahkan kepala untuk menenangkan pikirannya.Ceklek."Shit." Umpat Nezar seraya melirik ke arah pintu.Qila berdiri dengan tersenyum remeh pada sang Kakak. "Kusut banget, berantem sama Kak El?"Nezar hanya diam seraya mengeluarkan ponselnya dari dalam saku.Nezar terdiam mengingat betapa kasarnya ia merebut ponsel tersebut dari El dan melemparnya ke kursi belakang. Ia pun tidak melupakan bentakan yang terlontar dengan sendirinya."Udah lah, putus aja sih!" Ucap Qila yang kini duduk di atas tempat tidur sang Kakak.Nezar melepas sepatu dengan paksa."Kasian banget sepatunya jadi pelampiasan,""Bisa diem gak?" Ucap
Siang ini benar-benar sangat membosankan. Suasana kelas pun sangat tidak bergairah, ditambah dengan pelajaran ekonomi yang benar-benar membuat sebagian besar siswa kelas IPS 2 ini berkeringat."Lin..." panggil Elora pelan."hn?" sahut Linda tanpa menghentikan kegiatan mencatatnya."Perih..." rengek Elora yang terdengar menahan tangisan.Linda melirik kaki kanan Elora. "Kena keringet nih pasti, makanya perih kena luka.""Bantuin, perih ih pengen nang--""Linda! Elora! Jangan ngobrol, salin semua yang Ibu tulis di board!" Ujar Guru Ekonomi mereka.Linda mengangkat tangan kanannya, "Bu, kaki Elora perih, boleh minta izin ke UKS sebentar gak?"Guru tersebut berjalan menghampiri bangku mereka berdua."Mana?"Elora pun memperlihatkan perban yang membungkus tumit kaki kanannya."Kaki kamu kena
Hembusan angin menerpa helaian rambut Elora yang tak terikat. Dengan tangan yang melipat di depan dada dan raut wajah kesal, Elora terlihat berdiri di depan gerbang sekolah.Pasalnya Nezar telah memintanya untuk menunggu, tapi setelah 15 menit berlalu belum datang juga.Tin... Tin... Elora menghembuskan nafas lega saat mobil Nezar telah berada di sampingnya.Nezar membukakan pintu samping kemudia dari dalam. "Masuk yaang," ucapnya. Elora pun masuk ke dalam mobil. Dan mereka pun berlalu dari lingkungan sekolah. "Maaf lama, Qila minta aku ke kelasnya dulu." Ucap Nezar.
Elora, Linda dan Darren terlihat mengobrol di depan sebuah mini market dengan memegang es krim masing-masing. Mereka tertawa dengan candaan yang sesekali di berikan satu sama lain. Setelah membeli buku yang mereka perlukan, mini market itulah yang menjadi pilihan untuk mengobrol sebentar."Ini udah jam setengah 6, pulang yuk!" Ujar Linda seraya melirik jam di tangannya.Elora mengangguk setuju."Ya udah, kita pulang." Putus Darren."Anterin dulu gue pulang, okay?"Darren mengangguk sebagai jawaban. "Iya bawel, buruan! El, lo ikut dulu ke rumah Linda, abis itu baru gue anter pulang.""Okay, yuk lah!" ucap Elora.Mereka pun berlalu untuk mengantarkan Linda pulang terlebih dahulu dengan Darren yang menyetir."Seatbeltnya di pasang," ujar Darren pada kedua sahabatnya itu.Linda yang duduk di kursi belakang tersenyum remeh.
Elora terlihat tatap berjalan walaupun pandangan terlihat tidak fokus pada sekitar, ia tengah fokus pada pikirannya. Ia masih tidak menyangka jika Nezar bisa semarah itu, tapi Elora langsung membuang semua kebingungannya dan memutuskan untuk bersandar pada mobil Nezar sembari menunggu pemiliknya datang."Yaang, maaf lama." Ucap Nezar.Nezar mengernyit heran saat mendapatkan tatapan aneh dan penuh selidik dari kekasihnya."Why?" Tanya Nezar seraya membukakan pintu mobil untuk Elora.Elora tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Gak pa-pa, takut kamu masih marah aja."Nezar mengangguk paham. Kemudian mengusap kepala Elora dengan lembut."Maaf, tapi biasain yah,"Elora hendak mengangguk namun langsung menghentikan anggukannya. "Maksudnya biasain?""Udah, masuk mobil. Otak kamu bisa sakit kalau kebanyakan mikir." Ucap Nezar seraya mendorong