เข้าสู่ระบบAku memang sakit, menerima kenyataan bahwa suamiku memiliki hubungan gelap dengan istri orang. Dan secara terang-terangan mengatakan padaku kalau aku bukan siapa-siapa baginya kecuali lintah darat yang ingin ia manfaatkan demi memiliki anak.
Namun kenyataan bahwa hatiku sakit tak menghentikanku untuk berharap bisa menjadi satu-satunya wanita di hati Dira, suamiku
Dira masih memegang tengkukku dengan kuat, tak membiarkanku melepas ciumannya.
Tiba-tiba saja, klek! Ibu mertuaku masuk ke kamar di saat yang tidak tepat.
Aku gelagapan tak karuan, bingung dan malu bercampur menjadi satu.
"Ibu, bisa nggak kalau masuk ketuk pintu dulu?!" teriak Dira, ibu juga memasang wajah kaget.
"Maaf, ibu sangat khawatir waktu ayah kamu bilang kamu sakit. Ibu cuma mau bilang kalau ibu udah telepon dokter buat ke sini. Ibu juga mau tanya kamu mau makan apa, ibu nggak ada niat buat ganggu kalian." ucap ibu mertuaku yang terdengar sedikit terbata.
Dira hanya diam, tampaknya ia kesal karena ibu masuk tiba-tiba. Aku mengambil kembali handuk yang Dira lempar.
"Kila mau ganti airnya, ini udah dingin." kilahku, namun belum sempat aku meninggalkan suamiku dan ibunya ini, tanganku dicekal dan ditahan oleh ibu mertuaku ini.
"Kila, wajah kamu kenapa?" teriak ibu mertuaku, aku terperanjat kaget, lupa kalau wajahku mungkin masih ada bekas luka lebam akibat ulah Dista kemarin.
Untungnya tadi waktu ketemu dengan ayah mertuaku, ia tak terlalu memperhatikanku.
"Ah, Kila alergi makan... udang bu." teriak Dira yang berbohong, asal saja mencari alasan.
"Tapi ini kayak dipukuli, jangan bohong." sahut ibu mertuaku yang kali ini memegang dan memperhatikan wajahku.
"Kila gatel-gatel terus digaruk aja, jadinya begini." dengan bodohnya aku mengikuti permainan Dira, membohongi ibu mertuaku.
Namun sepertinya ibu mertuaku tak percaya, jantungku berdegub tak karuan karena takut ketahuan berbohong.
"Emang makan apa? Ini kenapa sampai pakai plaster?" tanya ibu, tiba-tiba Dira batuk-batuk,
"Ough ough ough. Ibu, Dira sakit, jangan cuma Kila aja yang diperhatiin." ucap Dira mencoba menghentikan ibu yang masih saja menatap wajahku.
Ibu mertuaku segera menghampiri Dira, lalu menempelkan tangannya pada kening Dira.
Dira melirikku lalu memberi isyarat agar aku pergi ke kamar mandi.
"Ibu, aku mau bubur ayam." ucap Dira yang samar-samar kudengar dari dalam kamar mandi.
Aku menatap wajahku di depan cermin, sebenarnya luka lebam di wajahku sudah memudar.
Namun ibu mertuaku sangat memperhatikanku, dan akhirnya ketahuan.
Aku keluar dari kamar mandi setelah selesai mengambil air hangat.
Kulihat Dira sudah sendirian, mungkin ibu mertuaku sedang membuatkan bubur untuk anak semata wayangnya ini.
Aku segera meletakkan baskom berisi air hangat di meja, di dekat Dira.
"Kompres aja sendiri." ucapku kesal, mengingat perlakuannya padaku yang selalu seenaknya sendiri.
Dira memegang pergelangan tanganku, "Mau kemana?" tanyanya lirih.
"Aku nggak akan kemana-mana, aku cuma nggak mau deket-deket sama kamu kalau sikap kamu masih ssperti tadi." sahutku sinis.
"Aku cuma mencium istriku, apa ada larangannya?" teriak Dira, aku dibuat melongo berkat ucapannya barusan.
"Kamu melarangku menyentuh tubuhmu, kamu juga mau melarang aku menciummu?" lanjut Dira, aku semakin bingung harus menjawab apa.
Kami berdua membisu, dengan tanganku yang masih digenggam Dira, erat.
"Kamu bilang nggak suka sama aku, kenapa harus menciumku? Aku.." ucapku terbata, lalu berhenti, antara malu dan takut.
"Aku bisa aja suka sama kamu kalau kamu memperlakukanku seperti itu." ucapku dengan berteriak.
Dira menatapku lekat, "Bagus dong, apa salahnya seorang istri yang menyukai suaminya?" ucap Dira lantang.
"Salah, karena menyakitkan menyukai orang yang menyukai orang lain. Aku juga punya hati mas, aku sakit melihat kamu bersama perempuan itu." ucapku yang lalu melempar genggaman Dira dan langsung keluar kamar.
Aku menutup pintu kamar lalu duduk di depan pintu, tak terasa air mataku menetes perlahan.
"Apa kamu senang kalau aku menyukaimu? Kamu nggak peduli sama sekali dengan perasaanku mas. Aku punya hati, kalau aku bisa menyukaimu, aku juga bisa terluka karenamu." ucapku sendiri.
Aku duduk di depan pintu ini cukup lama, sampai aku dengar suara langkah kaki, aku segera masuk lagi ke kamar.
Dira menatapku lekat, aku mau tidak mau harus bersandiwara lagi di depan ibu mertuaku.
Aku mengambil handuk lalu kukompres lagi suamiku yang masih demam itu.
Tepat ketika aku menempelkan handuk di kening Dira, ibu masuk ke kamar setelah mengetuk pintu beberapa kali.
"Ibu bawain buburnya, Kila suapin Dira ya sayang." ucap ibu mertuaku, aku kemudian menerima nampan berisi semangkuk bubur dan segelas air putih dari ibu mertuaku.
"Dokternya mungkin masih di jalan, ditunggu ya." lanjut ibu mertuaku, aku dan Dira sama-sama diam, canggung karena perdebatan kami tadi.
Aku menyuapi Dira, tentu saja dengan terpaksa. Mungkin saja aku bisa menjadi aktris terkenal, lihat saja actingku yang sangat bagus ini, berpura-pura bahagia di depan ibu mertuaku walau hatiku sedang terluka.
Tak lama kemudian ayah mertuaku masuk bersama dokter wanita yang pernah datang memeriksaku waktu aku sakit dulu.
Dokter memeriksa Dira, aku, ibu dan ayah mertuaku menunggunya tak jauh dari ranjang.
Mata Dira masih saja menatapku, aku risi dibuatnya.
Segera setelah dokter pergi, ayah dan ibu mertuaku juga pergi keluar kamar.
Sekarang tinggal aku dan Dira, mau tidak mau aku harus berdua dengan Dira, dengan suasana yang sangat canggung ini.
Aku membantu Dira untuk merebahkan tubuhnya, agar ia bisa tidur.
Tak ada kata-kata di antara kami, kami saling membisu.
Dira terus menatapku dan aku terus menghindari tatapan Dira.
"Aku kedinginan." ucap Dira ketika aku menyelimuti tubuhnya.
"ACnya udah aku matiin." jawabku lirih,
"Peluk aku." ucap Dira yang membuat jantungku berdegub tak terkendali lagi.
Aku terdiam, Dira masih menatapku lekat, tak membiarkanku lepas dari pandangannya.
"Haruskah aku bilang sama ayah lagi kalau kamu nggak mau ngurus suami kamu yang sakit ini?" tanya Dira yang membuatku kesal.
"Kamu udah minum obat, sebentar lagi juga sembuh." ucapku menahan kesal.
"Ayah!!!" teriak Dira, aku secara reflek membungkam mulut Dira menggunakan telapak tanganku.
Dira melepas tanganku dan mencoba berteriak lagi, "Ayah!!!",
"Iya aku peluk!" teriakku kesal, kali ini aku mengalah.
Aku tidak mau Dira mengadu pada ayahnya lagi, ujung-ujungnya aku yang malu di depan Pak Bima yang baik hati itu.
Bagaimana bisa Pak Bima dan Bu Dewi yang sangat baik hati itu memiliki anak yang mirip iblis ini.
Aku secara terpaksa ikut berbaring bersama Dira, di bawah selimut yang sama.
Dira merentangkan lengan kirinya, aku kemudian menggunakannya sebagai bantal.
Baru saja aku berbaring, belum sempat aku mencari posisi yang nyaman, Dira sudah memelukku, erat.
"Ah, sebentar." ucapku sambil membenarkan posisi, aku kemudian memiringkan tubuhku sehingga Dira memelukku dari belakang.
"Badan kamu panas, argh." ucapku kesal, tak nyaman rasanya harus dipeluk Dira dengan kondisi tubuhnya yang masih demam ini.
"Lain kali aku akan berbagi kehangatan sama kamu." bisik Dira yang membuatku merinding tak terkendali.
Aku langsung memejamkan mataku, sebisa mungkin aku harus bisa tidur agar aku tak berlama-lama ada pada suasana mendebarkan ini.
Bersambung...
Dira melangkah mendekatiku, aku ketakutan setengah mati. Masih kuingat dengan jelas tamparan Dira ketika aku memergokinya bersetubuh dengan Dista.Kali ini tidak menutup kemungkinan Dira akan menamparku lagi kalau tahu aku mengangkat telepon dari wanita yang ia cintai itu."Apa yang kamu sembunyiin?" tanya Dira dengan suara datar, terdengar dingin, sangat menakutkan."Enggak ada." jawabku gemetar, Dira masih terus mendekatiku, sampai ia berada di depanku dan menarik tanganku yang sedari tadi kusembunyikan di belakang punggungku.Dira merebut ponselnya dengan kasar, tatapan matanya seperti mengisyaratkan kalau ia bisa membunuhku sekarang juga."Apa yang kamu lakukan?" tanyanya, membuatku semakin gemetar ketakutan.Dira menyalakan kembali ponselnya, aku berusaha menghindarinya dan berniat menghindarinya.Namun tangan Dira lebih dulu mencengkalku, menahanku agar aku tak pergi.
Sulit rasanya mataku ini diajak kompromi, aku tak kunjung tertidur.Sementara Dira, embusan nafasnya terdengar teratur, terasa meraba pundakku walau masih terhalang jilbabku, rasanya panas.Sepertinya Dira benar-benar tidur, mungkin karena efek obatnya. Karena aku tak biasa tidur pagi, yang ada aku terjaga dengan menahan hawa panas dari tubuh Dira.Karena aku merasa lelah, kupikir aku sudah bertahan cukup lama, hampir setengah jam berlalu.Aku mencoba mengangkat tangan Dira yang memelukku, sangat pelan, tentu saja agar ia tak bangun.Kacau kalau akhirnya ia terbangun, aku mungkin harus berada di dekapannya sampai nanti siang, argh, tak sanggup aku.Dengan sangat pelan aku mengangkat tangan Dira lalu pelan-pelan aku bangun.Baru satu kaki aku menurunkan kakiku dari ranjang, tangan Dira sudah menggapai tanganku."Kamu mau kemana?" ucap Dira, terdengar serak."Aku kepanasan mas,
Aku memang sakit, menerima kenyataan bahwa suamiku memiliki hubungan gelap dengan istri orang. Dan secara terang-terangan mengatakan padaku kalau aku bukan siapa-siapa baginya kecuali lintah darat yang ingin ia manfaatkan demi memiliki anak.Namun kenyataan bahwa hatiku sakit tak menghentikanku untuk berharap bisa menjadi satu-satunya wanita di hati Dira, suamikuDira masih memegang tengkukku dengan kuat, tak membiarkanku melepas ciumannya.Tiba-tiba saja, klek! Ibu mertuaku masuk ke kamar di saat yang tidak tepat.Aku gelagapan tak karuan, bingung dan malu bercampur menjadi satu."Ibu, bisa nggak kalau masuk ketuk pintu dulu?!" teriak Dira, ibu juga memasang wajah kaget."Maaf, ibu sangat khawatir waktu ayah kamu bilang kamu sakit. Ibu cuma mau bilang kalau ibu udah telepon dokter buat ke sini. Ibu juga mau tanya kamu mau makan apa, ibu nggak ada niat buat ganggu kalian." ucap ibu mertuaku ya
Suara adzan subuh yang berkumandang merdu di teleponku membangunkanku.Aku menggeliat lalu membuka mataku lebar-lebar ketika mendapati Dira sudah tidur di ranjang.Aku menyeringai, puas karena pastinya Dira semalam tidur tak nyenyak.
Dira menatapku tajam, ia kemudian turun dari atas tubuhku lalu duduk di sampingku.Aku hendak berlari, memungut pakaianku lagi. Namun tangan Dira segera mencegahku, ia menarik tanganku sampai aku duduk di sampingnya.Lalu tangan kanannya segera memiting leherku, aku merasa sedikit tercekik.Tanganku secara reflek menyilang menutupi bagian dadaku.Dira kemudian mendekatkan wajahnya ke samping telingaku."Kalau aku tahu kamu ngelakuin itu sama pria lain, aku akan hancurin pria itu sampai berkeping-keping." bisik Dira di telingaku, membuatku merinding tak karuan.Aku hanya diam, embusan nafas Dira masih meraba leher dan telingaku, membuatku semakin merinding.&
"Baiklah, kamu harus bayar Soni lebih, kalau perlu 3 kali lipat dari gaji yang kamu janjikan. Dia juga perlu menraktirku makan kalau kami jalan berdua." ucapku setengah berteriak.Karena rasa cemburuku pada Dira, aku semakin ingin membuatnya mengakui kalau dia menyukaiku, walau aku tahu itu adalah hal yang mustahil.Aku sadar kalau aku ini hanya wanita miskin, yang Dira anggap tak lebih dari lintah darat.Dira menatapku tajam, "Makanlah." ucapnya dingin.Aku tak menjawabnya, tak juga mengindahkan permintaannya untuk makan."Baiklah, aku akan beri gaji 3 kali lipat buat pacar kamu itu. Aku juga akan kasih kamu kartu kredit tanpa limit. Pakai aja duit itu buat senang-senang sama dia." ucap Dira, aku menyeringai."Makanlah, aku nggak mau kamu sakit. Merepotkan." ucap Dira ketus, aku akhirnya menuju sofa lalu memakan makanan yang Dira bawa."Apa kamu bener-bener menyuka