เข้าสู่ระบบSuara adzan subuh yang berkumandang merdu di teleponku membangunkanku.
Aku menggeliat lalu membuka mataku lebar-lebar ketika mendapati Dira sudah tidur di ranjang.
Aku menyeringai, puas karena pastinya Dira semalam tidur tak nyenyak.
"Pria manja yang selalu bergelimang harta seperti kamu, mana bisa tidur di sofa. Tahu rasa kan kamu?!" ucapku berbisik lalu kutinggalkan suamiku itu.
Selesai sholat subuh, aku mendengar suara air gemericik di dalam kamar mandi.
Dira sudah bangun, mungkin Dira mandi sebelum sholat subuh.
Ketika Dira keluar kamar mandi dengan bertelanjang dada, aku segera menyibukkan diriku dengan mengemas buku-buku yang akan kubawa kuliah nanti.
"Ambilin bajuku." ucap Dira santai, aku pura-pura tak mendengarnya.
Sebenarnya aku tahu dosa hukumnya kalau aku menolak melayani suamiku.
Namun rasanya aku masih sakit hati berkat ucapannya semalam, rasanya aku tak rela melakukan perintahnya walau hanya sekedar menyiapkan baju untuknya.
"Kamu nggak dengar?" tanya Dira yang mulai menaikkan volume suaranya.
"Ambil sendiri kan bisa." jawabku santai, aku kemudian menatap Dira yang ternyata sudah menatapku dengan tatapan dinginnya.
Dira kemudian melempar handuk yang sedari tadi ia gunakan untuk menggosok rambutnya ke lantai.
Dira berjalan mendekat ke arahku, aku langsung berdiri dengan perasaan takut.
"Iya, aku ambilin." teriakku yang langsung berlari menuju ke ruang pakaian.
Aku takut Dira akan memaksaku melayaninya di ranjang, pagi-pagi begini.
Segera setelah aku mengambil pakaian Dira, aku menyerahkannya ke Dira.
"Jangan baju kerja, aku nggak kerja hari ini." ucap Dira lirih, aku mengerutkan dahi.
Tanpa bertanya apapun, aku kembali ke ruang pakaian lalu mencari baju kasual untuk Dira.
Aku kembali ke ranjang, Dira langsung memakai baju yang aku bawa, aku mencoba mengalihkan pandanganku.
"Kamu nggak usah kuliah hari ini." ucap Dira pelan setelah selesai sholat,
"Kenapa? Aku ada ujian hari ini." sahutku menahan kesal sambil membaca materi kuliahku.
"Aku sakit. Kamu istriku, aku mau kamu ngurus aku di rumah hari ini." ucap Dira, masih dengan suaranya yang nyaman didengar.
"Kamu pergi ke hotel aja kayak waktu itu, minta pacar kamu yang ngurus." ucapku sinis.
Untuk apa juga aku mengurus Dira kalau yang dia pikirkan hanya Dista dan Dista.
"Kamu nggak mau ngurus suami kamu?!" teriak Dira, kali ini dia kembali menjadi iblis bagiku.
"Pagi-pagi udah ngajak ribut aja." sahutku sinis yang kemudian berjalan menuju pintu kamar.
Dira menghadangku, tepat di depan pintu kamar.
"Kamu mau kemana?" tanyanya yang tampaknya marah padaku.
"Aku mau keluar, aku capek berdebat sama kamu." jawabku santai, padahal jantungku berdegub tak karuan.
"Aku sakit, gara-gara kamu. Aku tidur di sofa, hal yang tak pernah aku lakukan seumur hidupku!" ucap Dira setengah berteriak, aku hanya menyeringai.
"Yang nyuruh kamu siapa mas? Aku yang mau tidur di sofa, kamu yang gendong aku biar tidur di kasur. Kamu sendiri yang maksa biar tidur di sofa, walaupun akhirnya kamu pindah juga kan ke kasur. Dasar laki-laki cengeng." ucapku kesal yang lalu mendorong tubuh Dira agar tak menghalangi jalanku lagi.
Aku segera keluar kamar, menuruni tangga. Dira mengikutiku, dengan setengah berlari.
"Apa kamu bilang? Aku cengeng? Maksud kamu apa?" tanya Dira pelan, ia kemudian menahan lenganku agar aku berhenti berjalan meninggalkannya.
"Lepas nggak?" ucapku sambil melotot, namun lenganku terasa kepanasan karena dipegang Dira.
Mungkinkah Dira benar-benar sakit karena tidur di sofa? Ah, tidak mungkin.
"Kila, Dira, ada apa?" tanya Pak Bima yang membuatku dan Dira sama-sama kelabakan.
"Kenapa pagi-pagi udah ribut?" tanya ayah mertuaku ini dari ruang keluarga.
"Aku sakit Yah, aku minta Kila buat bolos kuliah. Tapi Kila nggak mau." ucap Dira yang tampak manja, aku dibuat heran oleh kelakuannya yang sangat aneh ini.
Dira yang sangat kejam selama ini, bisa-bisanya bersikap manja seperti anak kecil, mengejutkan.
"Benar itu Kila?" tanya ayah mertuaku, aku tiba-tiba seperti orang bodoh karena tak tahu harus berkata apa.
"Coba kalian ke sini." ucap ayah mertuaku, aku dan Dira menurut saja.
Pak Bima menempelkan punggung tangannya di kening Dira.
"Badan kamu panas sekali, kamu beneran sakit?" teriak Pak Bima, aku melotot dibuatnya.
"Ayah kira aku bohong?" teriak Dira, Pak Bima lalu menatapku lekat.
Aku kemudian ikut menempelkan punggung tanganku di kening Dira, panas memang.
Aku terkejut, aku tak menyangka kalau Dira benar-benar sakit hanya karena tidur di sofa.
"Kila kenapa nggak mau nemenin Dira di rumah? Dira kan lagi sakit, dia pasti pengen istrinya nemenin dia di rumah." ucap Pak Bima, aku bingung harus menjawab apa.
"Kila ada ujian Yah." kilahku, sebenarnya tak ad ujian hari ini, aku hanya tidak ingin di rumah dengan Dira.
Aku juga sudah tak sabar ingin menemui Soni dan melihatnya, apa benar kalau Dira meminta Soni bekerja lagi dan memberinga gaji yang lebih besar.
Kalau aku tak kuliah, aku tak akan ketemu Soni. Dan aku harus menghabiskan waktuku dengan Dira sampai besok pagi, sungguh aku tak mau.
"Siapa dosenmu? Kasih tahu namanya, ayah yang akan menghubunginya. Ayah akan memintanya menyediakan waktunya untuk ujian kamu nanti." ucap Pak Bima dengan santainya, aku membuka mulutku lebar-lebar.
"Ah nggak perlu Yah, iya, Kila nggak akan kuliah." sahutku sedikit terbata.
Aku lupa kalau mertuaku ini orang berduit, dia pasti bisa melakukan apa saja sesuai keinginannya.
"Ya udah, kalian ke kamar aja. Nanti ayah bilang sama ibu kalian buat bawain makanan ke atas." ucap Pak Bima, aku hanya mengangguk.
Kulihat Dira tampak tersenyum, aku secara terpaksa kembali masuk ke dalam kamar.
Dira mengikutiku, sesampainya di kamar, Dira langsung duduk di kasur dan menyandarkan tubuhnya di tumpukan bantal.
"Kamu mau aku gimana?" tanyaku pelan, mencoba menahan kesal.
"Kompres aku, biar demamnya turun." pinta Dira dengan suara lirih.
Aku kemudian mengambil baskom kecil lalu kuisi dengan air hangat.
Aku mengompres Dira menggunakan handuk kecil, Dira menatapku dengan tatapan datar.
"Apalagi?" tanyaku sinis,
"Kamu nggak ikhlas kan ngurusi aku begini?" tanya Dira lirih.
"Tentu saja, yang kamu cintai wanita lain, kenapa harus aku yang mengurusimu." sahutku sinis, Dira masih saja menatapku.
"Kenapa tadi mandi kalau kamu demam?" tanyaku mencoba mencairkan suasana, entah kenapa jantungku rasanya berdegub kencang hanya karena ditatap suamiku sendiri.
"Aku tanya begitu aja kamu nggak mau jawab, apa aku sebegitu nggak penting buat kamu?" tanyaku kesal karena Dira masih diam dan menatapku lekat.
"Udah kebiasaan." sahutnya lirih, aku merasa aneh dengan tatapan Dira. Namun aku tetap mengompres Dira, walau aku berusaha mengalihkan pandanganku agar tak beradu tatap dengannya.
"Berhenti menatapku seperti itu." ucapku pelan karena Dira masih saja menatapku, membuatku risi.
Dira yang sebelumnya duduk bersandar di ranjang, saat ini duduk tegak menghadapku.
Dira melepas handuk yang menempel di keningnya, lalu menarik tengkukku.
Seketika saja Dira menciumku, menyesap seluruh bibirku tanpa sisa.
Aku ingin menolak, namun nyatanya tubuhku merespon lain, tubuhku menerima, seperti tak punya harga diri saja aku ini.
Dira menarik lagi tengkukku, seperti kurang puas dengan kedekatan jarak kami.
Dengan jarak sedekat ini, aku ikut merasakan panas tubuh Dira.
Bahkan bibir Dira terasa panas, namun aku tak bisa memungkiri kalau saat ini aku menyukai apa yang ia lakukan, menikmatinya dalam diam.
Bersambung...
Dira melangkah mendekatiku, aku ketakutan setengah mati. Masih kuingat dengan jelas tamparan Dira ketika aku memergokinya bersetubuh dengan Dista.Kali ini tidak menutup kemungkinan Dira akan menamparku lagi kalau tahu aku mengangkat telepon dari wanita yang ia cintai itu."Apa yang kamu sembunyiin?" tanya Dira dengan suara datar, terdengar dingin, sangat menakutkan."Enggak ada." jawabku gemetar, Dira masih terus mendekatiku, sampai ia berada di depanku dan menarik tanganku yang sedari tadi kusembunyikan di belakang punggungku.Dira merebut ponselnya dengan kasar, tatapan matanya seperti mengisyaratkan kalau ia bisa membunuhku sekarang juga."Apa yang kamu lakukan?" tanyanya, membuatku semakin gemetar ketakutan.Dira menyalakan kembali ponselnya, aku berusaha menghindarinya dan berniat menghindarinya.Namun tangan Dira lebih dulu mencengkalku, menahanku agar aku tak pergi.
Sulit rasanya mataku ini diajak kompromi, aku tak kunjung tertidur.Sementara Dira, embusan nafasnya terdengar teratur, terasa meraba pundakku walau masih terhalang jilbabku, rasanya panas.Sepertinya Dira benar-benar tidur, mungkin karena efek obatnya. Karena aku tak biasa tidur pagi, yang ada aku terjaga dengan menahan hawa panas dari tubuh Dira.Karena aku merasa lelah, kupikir aku sudah bertahan cukup lama, hampir setengah jam berlalu.Aku mencoba mengangkat tangan Dira yang memelukku, sangat pelan, tentu saja agar ia tak bangun.Kacau kalau akhirnya ia terbangun, aku mungkin harus berada di dekapannya sampai nanti siang, argh, tak sanggup aku.Dengan sangat pelan aku mengangkat tangan Dira lalu pelan-pelan aku bangun.Baru satu kaki aku menurunkan kakiku dari ranjang, tangan Dira sudah menggapai tanganku."Kamu mau kemana?" ucap Dira, terdengar serak."Aku kepanasan mas,
Aku memang sakit, menerima kenyataan bahwa suamiku memiliki hubungan gelap dengan istri orang. Dan secara terang-terangan mengatakan padaku kalau aku bukan siapa-siapa baginya kecuali lintah darat yang ingin ia manfaatkan demi memiliki anak.Namun kenyataan bahwa hatiku sakit tak menghentikanku untuk berharap bisa menjadi satu-satunya wanita di hati Dira, suamikuDira masih memegang tengkukku dengan kuat, tak membiarkanku melepas ciumannya.Tiba-tiba saja, klek! Ibu mertuaku masuk ke kamar di saat yang tidak tepat.Aku gelagapan tak karuan, bingung dan malu bercampur menjadi satu."Ibu, bisa nggak kalau masuk ketuk pintu dulu?!" teriak Dira, ibu juga memasang wajah kaget."Maaf, ibu sangat khawatir waktu ayah kamu bilang kamu sakit. Ibu cuma mau bilang kalau ibu udah telepon dokter buat ke sini. Ibu juga mau tanya kamu mau makan apa, ibu nggak ada niat buat ganggu kalian." ucap ibu mertuaku ya
Suara adzan subuh yang berkumandang merdu di teleponku membangunkanku.Aku menggeliat lalu membuka mataku lebar-lebar ketika mendapati Dira sudah tidur di ranjang.Aku menyeringai, puas karena pastinya Dira semalam tidur tak nyenyak.
Dira menatapku tajam, ia kemudian turun dari atas tubuhku lalu duduk di sampingku.Aku hendak berlari, memungut pakaianku lagi. Namun tangan Dira segera mencegahku, ia menarik tanganku sampai aku duduk di sampingnya.Lalu tangan kanannya segera memiting leherku, aku merasa sedikit tercekik.Tanganku secara reflek menyilang menutupi bagian dadaku.Dira kemudian mendekatkan wajahnya ke samping telingaku."Kalau aku tahu kamu ngelakuin itu sama pria lain, aku akan hancurin pria itu sampai berkeping-keping." bisik Dira di telingaku, membuatku merinding tak karuan.Aku hanya diam, embusan nafas Dira masih meraba leher dan telingaku, membuatku semakin merinding.&
"Baiklah, kamu harus bayar Soni lebih, kalau perlu 3 kali lipat dari gaji yang kamu janjikan. Dia juga perlu menraktirku makan kalau kami jalan berdua." ucapku setengah berteriak.Karena rasa cemburuku pada Dira, aku semakin ingin membuatnya mengakui kalau dia menyukaiku, walau aku tahu itu adalah hal yang mustahil.Aku sadar kalau aku ini hanya wanita miskin, yang Dira anggap tak lebih dari lintah darat.Dira menatapku tajam, "Makanlah." ucapnya dingin.Aku tak menjawabnya, tak juga mengindahkan permintaannya untuk makan."Baiklah, aku akan beri gaji 3 kali lipat buat pacar kamu itu. Aku juga akan kasih kamu kartu kredit tanpa limit. Pakai aja duit itu buat senang-senang sama dia." ucap Dira, aku menyeringai."Makanlah, aku nggak mau kamu sakit. Merepotkan." ucap Dira ketus, aku akhirnya menuju sofa lalu memakan makanan yang Dira bawa."Apa kamu bener-bener menyuka