Share

Sandiwara, lagi

Author: komsatun
last update publish date: 2020-10-21 12:24:36

"Baiklah, kamu harus bayar Soni lebih, kalau perlu 3 kali lipat dari gaji yang kamu janjikan. Dia juga perlu menraktirku makan kalau kami jalan berdua." ucapku setengah berteriak.

Karena rasa cemburuku pada Dira, aku semakin ingin membuatnya mengakui kalau dia menyukaiku, walau aku tahu itu adalah hal yang mustahil.

Aku sadar kalau aku ini hanya wanita miskin, yang Dira anggap tak lebih dari lintah darat.

Dira menatapku tajam, "Makanlah." ucapnya dingin.

Aku tak menjawabnya, tak juga mengindahkan permintaannya untuk makan.

"Baiklah, aku akan beri gaji 3 kali lipat buat pacar kamu itu. Aku juga akan kasih kamu kartu kredit tanpa limit. Pakai aja duit itu buat senang-senang sama dia." ucap Dira, aku menyeringai.

"Makanlah, aku nggak mau kamu sakit. Merepotkan." ucap Dira ketus, aku akhirnya menuju sofa lalu memakan makanan yang Dira bawa.

"Apa kamu bener-bener menyukai Soni?" tanya Dira yang saat ini duduk di bibir ranjang.

Aku masih mengunyah makanan, tak menjawabnya, menatapnya pun tidak.

"Kalau kamu cuma mau bikin aku cemburu, kamu nggak perlu ngelakuin itu. Aku nggak akan cemburu, carilah pria yang benar-benar menyukaimu." ucap Dira yang terdengar tulus, aku meliriknya lalu menyeringai.

"Kamu pikir Soni menggodaku karena aku istrimu?" tanyaku, Dira hanya terdiam dan menatapku lekat.

"Kami sudah kenal lama, dia memang menyukaiku, bahkan sebelum dia tahu kalau aku ini istri kamu. Lihat saja room chatku dengannya, jangan terlalu percaya diri." sahutku kesal, Dira tampak mengetatkan dagunya, entah kenapa.

"Jangan berani kamu melakukannya dengan dia terlebih dahulu." ucap Dira yang terdengar seperti ancaman.

"Kamu saja melakukan dengan pacar kamu berulang kali, kenapa memang kalau aku sama Soni melakukannya?" ucapku kesal, aku bahkan sudah meletakkan sendokku, hilang sudah nafsu makanku.

Bodoh, kamu pikir aku wanita apa? Bahkan ciumanpun, hanya kamu yang pernah melakukannya denganku. Aku tak akan melakukan dosa besar itu hanya untuk membalas kejahatanmu.

Dira menatapku lekat, sedari tadi, kami memang lebih sering adu tatap dari pada adu mulut.

"Kamu nggak mau dapet bekas? Kamu sendiri udah bekas, mas." kataku tegas, Dira sepertinya mulai emosi mendengar kata-kataku yang memprovokasinya.

Dira berdiri lalu mendekatiku, sekali lagi, ia memegang daguku kuat.

"Sepertinya di sini ada yang lupa diri. Kamu nggak lebih dari lintah darat yang hanya menginginkan uang, jangan sok suci." ucapnya yang lalu melempar wajahku.

Aku terkekeh kecil, lihatlah, seperti itulah aku bagi Dira, mana mungkin Dira akan mencintaiku.

Sia-sia aku perjuangkan perasaanku yang hanya bertepuk sebelah tangan ini.

"Ah iya, lintah darat ini minta janji kamu. Mana? Kamu bilang kamu bakal ngasih aku sertifikat kebun yang ayah kasih buat aku?" aku menagih janji Dira, saat ini Dira masih berdiri di depanku.

"Kamu bener-bener nggak tahu malu ya?" ucap Dira yang sebenarnya melukai harga diriku, namun aku berpura-pura kuat di depannya.

"Aku cuma minta hakku, aku nggak butuh kartu kredit kamu, beri aku sertifikat itu." ucapku lantang,

"Aku udah bilang kan kalau sertifikat itu ada di tangan ayah. Aku juga udah beliin kamu kebun yang lebih banyak dari yang ayah beri ke kamu!" teriak Dira, namun aku seperti tak takut akan teriakannya.

Tiba-tiba, tok tok tok, terdengar suara ketukan pintu yang membuatku dan Dira seketika langsung menatap pintu kamar.

"Yah, sini." Dira menarikku ke kasur lalu membuka paksa jilbab dan bajuku.

Aku ingin menolaknya namun tak bisa menolaknya, entah apa yang ia rencanakan, aku tak tahu.

Dira membuatku telanjang dada lalu menutupi tubuhku dengan selimut.

Tidak hanya sampai disitu, Dira membuka bajunya dan ikut bertelanjang dada.

"Dira.. Kila..." panggil ibu dari luar pintu, membuatku ketakutan tanpa alasan.

Ah tidak, aku takut kalau ibu mertuaku melihat luka lebam di wajahku dan mendengar pertikaianku dengan Dira.

Yang ada Pak Bima akan tahu semua sandiwaraku dengan Dira yang akan memperburuk keadaannya.

"Iya bu, bentar." ucap Dira yang kemudian turun dari kasur.

Baru beberapa langkah berjalan, Dira kembali lagi lalu mengacak-acak rambutku, aku hanya pasrah padanya.

Dira kemudian berlari membukakan pintu untuk ibunya.

Sementara aku duduk di kasur dengan menutupi sebagian tubuhku dengan selimut, tentu saja dengan rambut acak-acakan.

"Ada apa bu?" ucap Dira yang terdengar gugup, aku tak menyangka kalau Dira yang sudah berusia 30 tahun itu akan bersikap ketakutan seperti itu.

"Kenapa Kila nggak makan malam bareng?" tanya ibu mertuaku, kepalanya tampak menengok ke arahku.

Dira yang sebelumnya hanya membuka sedikit saja pintu kamar kami, kali ini ia membukanya lebar-lebar.

"Ibu nggak mau punya cucu cepet-cepet? Ganggu aja." ucap Dira ketika ibu tampak kaget melihat penampilanku, aku hanya bisa menunduk.

"Maaf, ibu kira Kila sakit." ucap ibu yang tampak tersenyum malu.

"Udah sana pergi, jangan ganggu lagi. Atau ibu nggak akan gendong cucu dalam kurun waktu dekat." ucap Dira yang kemudian mendorong tubuh ibunya, lalu menutup pintu kamar dan menguncinya.

Aku bernafas lega karena akhirnya ibu percaya pada apa yang diucapkan Dira.

Tiba-tiba saja aku tersadar kalau Dira menatapku dengan tajam, membuatku merinding ketakutan.

Aku segera memungut pakaianku dan jilbabku yang dilempar Dira di bawah kasur.

Aku hendak masuk ke kamar mandi, namun tiba-tiba tangan Dira sudah menarik lenganku dan merebut pakaianku dari tanganku.

Dira melempar pakaianku lagi, membuatku melotot.

Mata Dira menatap ke arah dadaku, aku secara refleks langsung menyilangkan tanganku ke depan dadaku.

"Kamu mau kemana?" ucap Dira yang membuatku semakin merinding.

Dira maju selangkah, membuatku mundur selangkah, begitu terus sampai akhirnya kakiku terpentok pada ranjang.

Dira mendorong tubuhku lalu menindihku, lagi.

"Mas, kamu bilang bakal nunggu aku." ucapku terbata, Dira mengunci tanganku lagi.

Dira mendekatkan bibirnya ke bibirku, aku mengalihkan pandanganku sampai akhirnya bibir Dira meraba telingaku, membuatku semakin merinding.

Seperti ada yang mengalir aneh pada tubuhku, aku ingin menolak perlakuan Dira ini, namun sepertinya tubuhku menerima begitu saja.

Lidah Dira menyapu leherku, "Mas!!!" teriakku, Dira terkekeh kecil.

"Aku nggak akan biarin orang lain menyentuhmu, sebelum aku." ucap Dira yang kemudian mengul*m leherku.

"Nggak akan mas, aku nggak akan melakukan itu dengan Soni. Aku bahkan nggak pernah ciuman selain sama kamu, mana mungkin aku berani melakukan itu dengan pria lain?!" teriakku, berharap Dira melepaskanku.

Dira akhirnya melepas tanganku, namun kedua tangannya masih mengekangku di samping tubuhku.

Mata Dira menuju ke dadaku lagi, aku menutupinya dengan menyilangkan tanganku di dada.

Dira tersenyum melihatku, lalu ia kembali lagi menarik dan mengunci kedua tanganku.

Kali ini bibir Dira sudah bermain di dadaku, tanpa sadar keluar desahan lembut dari mulutku.

Ketika aku menyadari aku terhanyut pada permainan Dira, sementara aku masih belum siap melakukannya, aku mencoba mengancam Dira.

"Kalau mas nggak berhenti sekarang, aku akan bilang sama ayah dan ibu, semuanya. Termasuk perbuatan Dista tadi yang udah mukuli aku." ancamku, Dira menghentikan aksinya lalu menatapku tajam.

Semoga saja kali ini aku berhasil lolos dari hal yang masih belum kupersiapkan ini, lagi.

Aku masih tak rela jika harus melakukan tugasku sebagai istri di saat Dira tak mencintaiku.

Bersambung...

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pernikahan yang Tak Kuinginkan   Tugas istri

    Dira melangkah mendekatiku, aku ketakutan setengah mati. Masih kuingat dengan jelas tamparan Dira ketika aku memergokinya bersetubuh dengan Dista.Kali ini tidak menutup kemungkinan Dira akan menamparku lagi kalau tahu aku mengangkat telepon dari wanita yang ia cintai itu."Apa yang kamu sembunyiin?" tanya Dira dengan suara datar, terdengar dingin, sangat menakutkan."Enggak ada." jawabku gemetar, Dira masih terus mendekatiku, sampai ia berada di depanku dan menarik tanganku yang sedari tadi kusembunyikan di belakang punggungku.Dira merebut ponselnya dengan kasar, tatapan matanya seperti mengisyaratkan kalau ia bisa membunuhku sekarang juga."Apa yang kamu lakukan?" tanyanya, membuatku semakin gemetar ketakutan.Dira menyalakan kembali ponselnya, aku berusaha menghindarinya dan berniat menghindarinya.Namun tangan Dira lebih dulu mencengkalku, menahanku agar aku tak pergi.

  • Pernikahan yang Tak Kuinginkan   Berdebat lagi

    Sulit rasanya mataku ini diajak kompromi, aku tak kunjung tertidur.Sementara Dira, embusan nafasnya terdengar teratur, terasa meraba pundakku walau masih terhalang jilbabku, rasanya panas.Sepertinya Dira benar-benar tidur, mungkin karena efek obatnya. Karena aku tak biasa tidur pagi, yang ada aku terjaga dengan menahan hawa panas dari tubuh Dira.Karena aku merasa lelah, kupikir aku sudah bertahan cukup lama, hampir setengah jam berlalu.Aku mencoba mengangkat tangan Dira yang memelukku, sangat pelan, tentu saja agar ia tak bangun.Kacau kalau akhirnya ia terbangun, aku mungkin harus berada di dekapannya sampai nanti siang, argh, tak sanggup aku.Dengan sangat pelan aku mengangkat tangan Dira lalu pelan-pelan aku bangun.Baru satu kaki aku menurunkan kakiku dari ranjang, tangan Dira sudah menggapai tanganku."Kamu mau kemana?" ucap Dira, terdengar serak."Aku kepanasan mas,

  • Pernikahan yang Tak Kuinginkan   Dira sakit (2)

    Aku memang sakit, menerima kenyataan bahwa suamiku memiliki hubungan gelap dengan istri orang. Dan secara terang-terangan mengatakan padaku kalau aku bukan siapa-siapa baginya kecuali lintah darat yang ingin ia manfaatkan demi memiliki anak.Namun kenyataan bahwa hatiku sakit tak menghentikanku untuk berharap bisa menjadi satu-satunya wanita di hati Dira, suamikuDira masih memegang tengkukku dengan kuat, tak membiarkanku melepas ciumannya.Tiba-tiba saja, klek! Ibu mertuaku masuk ke kamar di saat yang tidak tepat.Aku gelagapan tak karuan, bingung dan malu bercampur menjadi satu."Ibu, bisa nggak kalau masuk ketuk pintu dulu?!" teriak Dira, ibu juga memasang wajah kaget."Maaf, ibu sangat khawatir waktu ayah kamu bilang kamu sakit. Ibu cuma mau bilang kalau ibu udah telepon dokter buat ke sini. Ibu juga mau tanya kamu mau makan apa, ibu nggak ada niat buat ganggu kalian." ucap ibu mertuaku ya

  • Pernikahan yang Tak Kuinginkan   Dira sakit

    Suara adzan subuh yang berkumandang merdu di teleponku membangunkanku.Aku menggeliat lalu membuka mataku lebar-lebar ketika mendapati Dira sudah tidur di ranjang.Aku menyeringai, puas karena pastinya Dira semalam tidur tak nyenyak.

  • Pernikahan yang Tak Kuinginkan   Dira semakin kejam

    Dira menatapku tajam, ia kemudian turun dari atas tubuhku lalu duduk di sampingku.Aku hendak berlari, memungut pakaianku lagi. Namun tangan Dira segera mencegahku, ia menarik tanganku sampai aku duduk di sampingnya.Lalu tangan kanannya segera memiting leherku, aku merasa sedikit tercekik.Tanganku secara reflek menyilang menutupi bagian dadaku.Dira kemudian mendekatkan wajahnya ke samping telingaku."Kalau aku tahu kamu ngelakuin itu sama pria lain, aku akan hancurin pria itu sampai berkeping-keping." bisik Dira di telingaku, membuatku merinding tak karuan.Aku hanya diam, embusan nafas Dira masih meraba leher dan telingaku, membuatku semakin merinding.&

  • Pernikahan yang Tak Kuinginkan   Sandiwara, lagi

    "Baiklah, kamu harus bayar Soni lebih, kalau perlu 3 kali lipat dari gaji yang kamu janjikan. Dia juga perlu menraktirku makan kalau kami jalan berdua." ucapku setengah berteriak.Karena rasa cemburuku pada Dira, aku semakin ingin membuatnya mengakui kalau dia menyukaiku, walau aku tahu itu adalah hal yang mustahil.Aku sadar kalau aku ini hanya wanita miskin, yang Dira anggap tak lebih dari lintah darat.Dira menatapku tajam, "Makanlah." ucapnya dingin.Aku tak menjawabnya, tak juga mengindahkan permintaannya untuk makan."Baiklah, aku akan beri gaji 3 kali lipat buat pacar kamu itu. Aku juga akan kasih kamu kartu kredit tanpa limit. Pakai aja duit itu buat senang-senang sama dia." ucap Dira, aku menyeringai."Makanlah, aku nggak mau kamu sakit. Merepotkan." ucap Dira ketus, aku akhirnya menuju sofa lalu memakan makanan yang Dira bawa."Apa kamu bener-bener menyuka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status