Beranda / Semua / Pernikahan yang Tak Kuinginkan / Diselingkuhi, aku ingin cerai

Share

Diselingkuhi, aku ingin cerai

Penulis: komsatun
last update Tanggal publikasi: 2020-09-27 01:57:36

Mataku terbelalak selebar mungkin, sampai rasanya bola mataku ini ingin keluar dari sangkarnya.

Mulutku juga terbuka selebar mungkin, bahkan nyaris sobek, saking terkejutnya aku dengan apa yang kulihat kali ini.

Hatiku hancur, melihat suamiku sedang memadu kasih dengan wanita lain.

Sementara aku, istri sahnya saja tak pernah mendapatkan hakku yang satu itu.

"Apa yang kalian lakuin?!!" teriakku ketika melihat Dira mencoba bangkit dari aktivitasnya barusan.

"Yah! Apa-apaan kamu? Masuk tanpa ketuk pintu dulu, kamu mulai berani?" teriak Dira yang langsung mengambil celana pendeknya demi menutupi kemaluannya.

Aku kaget bukan kepalang menyadari bahwa Dira malah membentakku, bukannya meminta maaf padaku.


Sementara wanita yang sudah berzina dengan suamiku itu langsung mengambil pakaiannya dan lari ke kamar mandi.

Dira berjalan ke arahku, ia menampar pipi kiriku dengan tangan kanannya, sangat keras. Plak!!!

Aku memegangi pipiku yang sakitnya tak ada apa-apanya dibanding rasa sakit hatiku saat ini.

Air mataku mulai membasahu wajahku karena saking banyaknya yang keluar.

"Berani banget kamu masuk ke kamarku tanpa permisi!" teriak Dira sekeras mungkin.

"Jadi ini alasan kamu minta aku merayu orang tuamu agar kita pindah ke sini. Agar kamu bisa berzina dengan wanita jalang itu?!" jawabku dengan berteriak tak kalah keras.

Aku sudah dikuasai emosi, aku tak peduli lagi dosa karena sudah membentak suamiku.

Dira lah yang seharusnya minta maaf kepadaku karena menghianatiku, bukan aku yang meminta maaf.

Bukannya meminta maaf, Dira malah marah kepadaku dan bahkan menamparku dengan sangat keras.

"Iya, terus kamu mau apa? Mau bilang ke orang tuaku? Sana, aku pastiin kalau adik kamu nggak akan bisa berjalan normal lagi kalau kamu berani mengadu ke orang tuaku." ucap Dira yang kali ini dia mengancamku.

Aku tak habis pikir dengan orang kaya yang saat ini sudah sah menjadi suamiku ini.

Bagaimana bisa dia menikahiku kalau dia tak menginginkanku.

Bagaimana bisa dia melakukan hubungan intim dengan wanita lain sementara ia tak pernah melakukannya padaku.

Hatiku sakit, hancur berkeping-keoing, sulit rasanya aku menerima kenyataan ini.

Tanganku masih memegangi pipiku yang ditampar Dira, air mataku semakin deras terjatuh.

Kakiku rasanya gemetar, begitu pula jantungku yang sudah berdegub tak terkendali.

Aku tanpa menjawab ucapan Dira langsung berjalan menuju kamar mandi, melihat kembali wanita yang sudah tidur dengan suamiku.

Aku menggedor pintu kamar mandi, wanita jalang itu menguncinya dari dalam.

Dira menarikku sampai keluar dari kamarnya, ia lalu mendorongku sekuat mungkin sampai aku tersungkur di lantai.

Dira kemudian menutup pintu kamarnya, sangat keras.

Aku menangis tak karuan, menyadari betapa menyedihkannya hidupku ini.

Aku yang hanya dari keluarga miskun harus menikah karena keadaan. Sementara suamiku tak menginginkanku, sangat kejam padaku dan ternyata memiliki wanita lain di hatinya.

Aku menangis cukup lama, sampai akhirnya bik Asih menghampiriku.

"Non Kila nggak apa-apa?" tanyanya sambil membantuku berdiri.

"Bik Asih tahu semua ini?" tanyaku dengan isak tangis yang mulai dapat kuatur.

Bik Asih mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Aku berbalik lalu langsung menuruni tangga dengan berlari.

***

Aku pergi ke rumah mertuaku dengan menggunakan jasa taksi online.

Aku mulai bisa mengontrol air mataku, bahkan saat ini aku sudah tak menangis lagi.

Ketika aku bertemu dengan mertuaku, mereka memintaku untuk duduk terlebih dahulu.

"Ibu sama ayah tahu kalau mas Dira punya wanita lain?" tanyaku dengan gemetar.

Kuamati ekspresi kedua orang yang saat ini menjadi mertuaku, mereka menunduk dan tampak gelisah.

Kupikir aku di sini hanya dibodohi oleh keluarga kaya raya yang tak berperasaan.

Aku sudah ditipu oleh kebaikan mereka berdua, nyatanya mereka sama jahatnya dengan Dira, suamiku.

"Jadi kalian sudah tahu?" lanjutku lagi, kali ini aku mulai ingin menangis lagi.

Kugigit bibirku sekeras mungkin agar aku tak menangis lagi, namun percuma.

Pada akhirnya aku menangis meraung-raung menghadapi kenyataan yang teramat pahit bagiku.

Ibu mertuaku memelukku, aku hanya pasrah dan terus menangis dalam pelukannya.

Aku menangis cukup lama, sampai akhirnya ibu mertuaku mulai menceritakan awal mula kenapa Pak Bima memintaku sebagai menantunya.

*Dira yang pandai dalam pekerjaannya memilih untuk tinggal di rumahnya sendiri. Tanpa curiga orang tuanya membiarkan Dira hidup seorang diri

Sampai pada suatu saat Bu Dewi yang merupakan ibu mertuaku melihat Dira sedang melakukan hubungan intim dengan wanita di rumahnya Dira.

Ibunya kaget dan meminta mereka menikah dari pada harus berbuat dosa.

Namun ternyata wanita yang sedang memadu kasih dengan anaknya tersebut adalah istri orang.

Wanita itu bernama Tiara, salah satu staf kantor di rumah sakit tempat Dira bekerja.

Tiara sendiri memiliki suami seorang dokter yang bekerja di rumah sakit yang sama.

Itu sebabnya orang tua Dira menjodohkan aku dengan Dira ketika melihat peluang.

Awalnya niat Pak Bima menolong keluargaku ketika Sera dioperasi adalah ikhlas. Sampai terbesit pikiran di benak Pak Bima untuk memanfaatkan kesempatan itu agar bapakku mau menikahkanku dengan anaknya, Dira.

Pak Bima sadar betul kalau Tiara tak akan pernah meminta cerai kepada suami sahnya. Tiara hanya melakukan itu dengan Dira hanya untuk memenuhi kepuasan hasratnya saja.

Sementara Dira melakukannya karena ia mencintai wanita itu yang merupakan istri orang.

Akhirnya terciptalah hubungan cinta segitiga, yang kemudian aku masuk di antaranya dan menjadi orang keempat.

Rencana ayahnya Dira menikahkan kami secepatnya agar Dira dapat melupakan Tiara dan hidup bahagia denganku.

"Aku mau cerai bu, pak." ucapku lantang, tegas dan tanpa ragu sama sekali.

Kutatap wajah kedua mertuaku ini yang tampaknya terkejut dengan permintaanku.

"Kila, tolong bertahanlah demi..." ucap Pak Bima terputus, saat ini Pak Bima pingsan dengan memegang dada kirinya.

Aku dan ibunya Dira berteriak sekeras mungkin, datanglah mbok Ijem yang ikut membantu.

***

Ayah mertuaku saat ini terbaring dan tak sadarkan diri di ruang ICU.

Aku duduk di samping ibu mertuaku yang tak kunjung berhenti menangis.

Beliau terus meminta maaf padaku dan memintaku untuk tak bercerai dengan Dira, aku hanya diam mendengarnya.

"Dira mau menikah dengan kamu karena ayahnya yang sakit-sakitan. Ayahnya sangat ingin memiliki cucu sebelum meninggal. Tolong bertahanlah sebisa mungkin, tolong selamatkan ayahmu itu Kila..." ucap ibunya Dira yang sungguh menyayat hatiku.

Mengingat semua kebaikan Pak Bima kepada keluargaku selama ini, rasanya aku tak tega melihatnya terbaring tak berdaya di rumah sakit.

Namun aku juga tak bisa mengabaikan rasa sakit hatiku karena penghianatan yang dilakukan suamiku.

Aku benar-benar tak mampu memaafkan Dira yang sudah berselingkuh.

Belum lagi atas tamparannya dan semua sikap buruknya selama ini.

Terdengar suara langkah kaki yang iramanya sangat cepat, Dira rupanya.

Dira mendekati ibunya, " Bagaimana keadaan ayah, bu?" tanyanya cemas.

Ibunya Dira tak menjawab dan hanya menangis serta menggeleng-gelengkan kepala.

Dira kemudian menatapku, ia menarim bajuku sekuat mungkin sampai akhirnya aku berdiri sempoyongan.

"Apa yang kamu lakukan? Ha?" teriak Dira yang lupa kalau kami ada di rumah sakit.

Ibunya Dira melerai kami, aku hanya menyeringai menatap Dira yang sepertinya sangat cemas kepada ayahnya.

Bersambung..

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pernikahan yang Tak Kuinginkan   Tugas istri

    Dira melangkah mendekatiku, aku ketakutan setengah mati. Masih kuingat dengan jelas tamparan Dira ketika aku memergokinya bersetubuh dengan Dista.Kali ini tidak menutup kemungkinan Dira akan menamparku lagi kalau tahu aku mengangkat telepon dari wanita yang ia cintai itu."Apa yang kamu sembunyiin?" tanya Dira dengan suara datar, terdengar dingin, sangat menakutkan."Enggak ada." jawabku gemetar, Dira masih terus mendekatiku, sampai ia berada di depanku dan menarik tanganku yang sedari tadi kusembunyikan di belakang punggungku.Dira merebut ponselnya dengan kasar, tatapan matanya seperti mengisyaratkan kalau ia bisa membunuhku sekarang juga."Apa yang kamu lakukan?" tanyanya, membuatku semakin gemetar ketakutan.Dira menyalakan kembali ponselnya, aku berusaha menghindarinya dan berniat menghindarinya.Namun tangan Dira lebih dulu mencengkalku, menahanku agar aku tak pergi.

  • Pernikahan yang Tak Kuinginkan   Berdebat lagi

    Sulit rasanya mataku ini diajak kompromi, aku tak kunjung tertidur.Sementara Dira, embusan nafasnya terdengar teratur, terasa meraba pundakku walau masih terhalang jilbabku, rasanya panas.Sepertinya Dira benar-benar tidur, mungkin karena efek obatnya. Karena aku tak biasa tidur pagi, yang ada aku terjaga dengan menahan hawa panas dari tubuh Dira.Karena aku merasa lelah, kupikir aku sudah bertahan cukup lama, hampir setengah jam berlalu.Aku mencoba mengangkat tangan Dira yang memelukku, sangat pelan, tentu saja agar ia tak bangun.Kacau kalau akhirnya ia terbangun, aku mungkin harus berada di dekapannya sampai nanti siang, argh, tak sanggup aku.Dengan sangat pelan aku mengangkat tangan Dira lalu pelan-pelan aku bangun.Baru satu kaki aku menurunkan kakiku dari ranjang, tangan Dira sudah menggapai tanganku."Kamu mau kemana?" ucap Dira, terdengar serak."Aku kepanasan mas,

  • Pernikahan yang Tak Kuinginkan   Dira sakit (2)

    Aku memang sakit, menerima kenyataan bahwa suamiku memiliki hubungan gelap dengan istri orang. Dan secara terang-terangan mengatakan padaku kalau aku bukan siapa-siapa baginya kecuali lintah darat yang ingin ia manfaatkan demi memiliki anak.Namun kenyataan bahwa hatiku sakit tak menghentikanku untuk berharap bisa menjadi satu-satunya wanita di hati Dira, suamikuDira masih memegang tengkukku dengan kuat, tak membiarkanku melepas ciumannya.Tiba-tiba saja, klek! Ibu mertuaku masuk ke kamar di saat yang tidak tepat.Aku gelagapan tak karuan, bingung dan malu bercampur menjadi satu."Ibu, bisa nggak kalau masuk ketuk pintu dulu?!" teriak Dira, ibu juga memasang wajah kaget."Maaf, ibu sangat khawatir waktu ayah kamu bilang kamu sakit. Ibu cuma mau bilang kalau ibu udah telepon dokter buat ke sini. Ibu juga mau tanya kamu mau makan apa, ibu nggak ada niat buat ganggu kalian." ucap ibu mertuaku ya

  • Pernikahan yang Tak Kuinginkan   Dira sakit

    Suara adzan subuh yang berkumandang merdu di teleponku membangunkanku.Aku menggeliat lalu membuka mataku lebar-lebar ketika mendapati Dira sudah tidur di ranjang.Aku menyeringai, puas karena pastinya Dira semalam tidur tak nyenyak.

  • Pernikahan yang Tak Kuinginkan   Dira semakin kejam

    Dira menatapku tajam, ia kemudian turun dari atas tubuhku lalu duduk di sampingku.Aku hendak berlari, memungut pakaianku lagi. Namun tangan Dira segera mencegahku, ia menarik tanganku sampai aku duduk di sampingnya.Lalu tangan kanannya segera memiting leherku, aku merasa sedikit tercekik.Tanganku secara reflek menyilang menutupi bagian dadaku.Dira kemudian mendekatkan wajahnya ke samping telingaku."Kalau aku tahu kamu ngelakuin itu sama pria lain, aku akan hancurin pria itu sampai berkeping-keping." bisik Dira di telingaku, membuatku merinding tak karuan.Aku hanya diam, embusan nafas Dira masih meraba leher dan telingaku, membuatku semakin merinding.&

  • Pernikahan yang Tak Kuinginkan   Sandiwara, lagi

    "Baiklah, kamu harus bayar Soni lebih, kalau perlu 3 kali lipat dari gaji yang kamu janjikan. Dia juga perlu menraktirku makan kalau kami jalan berdua." ucapku setengah berteriak.Karena rasa cemburuku pada Dira, aku semakin ingin membuatnya mengakui kalau dia menyukaiku, walau aku tahu itu adalah hal yang mustahil.Aku sadar kalau aku ini hanya wanita miskin, yang Dira anggap tak lebih dari lintah darat.Dira menatapku tajam, "Makanlah." ucapnya dingin.Aku tak menjawabnya, tak juga mengindahkan permintaannya untuk makan."Baiklah, aku akan beri gaji 3 kali lipat buat pacar kamu itu. Aku juga akan kasih kamu kartu kredit tanpa limit. Pakai aja duit itu buat senang-senang sama dia." ucap Dira, aku menyeringai."Makanlah, aku nggak mau kamu sakit. Merepotkan." ucap Dira ketus, aku akhirnya menuju sofa lalu memakan makanan yang Dira bawa."Apa kamu bener-bener menyuka

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status