Home / All / Pernikahan yang Tak Kuinginkan / Hari pertama menjadi istri

Share

Hari pertama menjadi istri

Author: komsatun
last update publish date: 2020-09-23 08:27:10

Aku duduk di samping pria yang akan menjadi imam keluargaku, pria yang dijodohkan orang tuaku.

Pria yang masih tampak muda, namun sudah berumur 30 tahun.
Karena wajahnya yang tampan sehingga ia terlihat lebih muda dari yang seharusnya.

Selendang putih mengerudungi kepalaku dan kepala pria di sampingku.
Baru kuingat, bahwa aku tidak tahu siapa nama pria yang akan menjadi suamiku ini.

Aku meniliknya, namun ia sama sekali tak menolehku.
Aku semakin yakin kalau pria di sampingku ini juga terpaksa menikahiku.

Lantas kenapa ia tak menolaknya saja, aku akan sangat berterima-kasih jika ia melakukannya.

Kudengar suaranya yang juga nikmat didengar, mengucapkan ijab qabul untukku.
Ada rasa sakit teramat yang kurasakan kali ini, membuat dadaku sesak.

Semua orang yang hadir serentak meneriakkan kata 'Sah!'.
Lantunan doa menyambut ijab qabulku yang entah bagaimana ada bulir-bulir bening melintas di pipiku.

Dengan sigap aku mengelap pipiku, aku tidak ingin orang tuaku melihatku menitikkan air mata.

***
Acara ijab qabul berjalan lancar, tanpa ada hambatan.

"Kila, mulai hari ini kamu akan tinggal di rumah Bapak Bima." ucap ibu yang membuatku meneteskan air mata yang sedari tadi kubendung.

Ibu segera memelukku, menepuk punggungku pelan, hangat rasanya.

Setelah berpamitan dengan orang tuaku dan adikku, Sera, aku pergi meninggalkan rumah yang sudah kutempati sejak bayi ini.

Jangan ditanya bagaimana hatiku saat ini, sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata.
Hari yang seharusnya menjadi hari bersejarah nan indah bagiku, terasa menyakitkan.

Di sepanjang perjalanan aku hanya diam, mematung.
Begitu juga dengan pria yang duduk di sampingku, ia sama sekali tak mengucapkan apapun kepadaku.
Ia adalah suami sahku, sah di mata agama dan negara.
Namun nyatanya dia tak menganggap ku sebagai istrinya.

Aku memang menaiki mobil sedan mewah berwarna hitam bersama dengan pria yang sudah mengucapkan ijab qabul untukku.
Sementara Pak Bima dan istrinya menaiki mobil lain, tepat berada di belakang mobil yang aku naiki.

Setelah sekitar 1 jam perjalanan, akhirnya aku sampai di kediaman Pak Bima.

Aku keluar dari mobil, aku menyapu pandangan di halaman rumah yang super luas.
Bangunan rumah juga tampak luas dan besar, sangat megah untukku.

Tanpa mengajakku, pria yang sudah menjadi suamiku hanya meninggalkanku dan masuk ke dalam rumah.

"Kenapa cuma diam saja Kila, ayo masuk. Sekarang kamu menjadi bagian keluarga kami, ini juga rumah kamu." ucap istri Pak Bima, Bu Wati, ibu dari suamiku.

Aku akhirnya berjalan masuk ke dalam rumah yang bak istana ini dengan digandeng oleh ibu mertuaku.

"Dira sebenarnya punya rumah sendiri, namun sementara kalian tinggal di sini dulu sebagai pasangan pengantin baru.".

Dira, ternyata itu nama pria yang sudah sah menjadi suamiku.

Ibu mertuaku mengantarkan ku ke kamarku, tentu saja kamar Dira selama ini.
Ketika aku masuk, kulihat Dira sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian kasual.
Ia duduk bersandar di ranjang, sementara matanya fokus menatap ponselnya.

"Nanti barang-barang kamu akan dibawa ke sini sana mbok Ijem. Kamu kalau ada perlu apapun, bilang sama ibu ya." ucap ibu Wati, ibu mertuaku yang sangat baik sejauh ini.

"Dira, kamu jangan kerja terus. Luangkan waktu kamu di hari pernikahanmu ini dengan bijak." ucap ibu mertuaku ke anak laki-lakinya yang sejak tadi tak melihatku sama sekali.

Dira tampak tak mempedulikan ibunya, aku heran kenapa bisa dia bersikap dingin kepada ibunya sendiri.
Ibu mertuaku sudah keluar kamar dengan memelukku sebelumnya.

"Kamu tidur di lantai. Di kamar ini sengaja nggak ada sofa agar kita bisa tidur seranjang. Tapi aku nggak akan sudi tidur dengan lintah darat seperti kamu. Mimpi saja kamu, nikmati tidur di lantai." ucap Dira yang masih tak mau melihatku.

Hatiku hancur setelah mendengar ucapan Dira barusan.
Dia bahkan menganggap aku lintah darat, mungkin karena aku hanya anak orang miskin yang tak sederajat dengannya.

Luas kamar Dira sendiri 10 kali lipat luas kamarku.
Bagaimana dia tidak berpikir negatif kepadaku, aku hanyalah anak karyawan Pak Bima, ayahnya.
Sementara sekarang aku sudah menyandang status istrinya, istri Dira Sudrajat.

"Iya." jawabku singkat karena rasa sakit hatiku yang sudah menggunung.

Aku lalu membaringkan tubuhku di lantai, tak jauh dari ranjang.

"Jauh-jauh kamu, aku nggak sudi dekat dengan kamu." ucapnya lagi yang semakin menyayat hatiku.

Aku beranjak lalu berjalan menjauh, barulah aku membaringkan tubuhku dengan posisi miring.

Tiba-tiba kepalaku dihantam bantal yang cukup menyakitkan, membuat kepalaku pusing.
"Itu bantalmu." ternyata Dira yang melempar bantal untukku.
Namun caranya melemparkan bantal seperti sengaja agar aku terkena, tepat di kepalaku.

Aku mengambil bantal lalu kubaringkan tubuhku pelan, dengan posisi miring.

"Hei, lindar (singkatan lintah darat). Kunci dulu pintu kamar. Jangan sampai ibu apalagi bapak tahu kalau kamu tidur di lantai. Atau aku akan menyiksamu lebih dari ini!".

Teriak Dira padaku yang seakan-akan aku ini tidak ada harga dirinya sama sekali.
Aku beranjak lalu mengunci pintu kamar, tanpa berganti pakaian aku langsung berbaring di lantai.

Rasa amarahku seakan memuncak, ingin sekali aku menangis namun sepertinya tak akan bisa.
Yang ada, pria yang sudah berstatus suamiku ini akan semakin membenciku.

Sekarang yang bisa kulakukan hanyalah diam, berusaha agar suamiku, Dira tak semakin membuatku tersiksa berada di rumah megah ini.

***
Tok tok tok, terdengar ketukan pintu kamar yang disambung dengan panggilan suara wanita.
"Mbak Kila, den Dira, ibu sama bapak udah nunggu di meja makan." ucap wanita itu dibalik pintu, mungkin itu adalah mbok Ijem.

Mbok Ijem sendiri merupakan asisten rumah tangga di rumah semegah ini.

"Iya." ucap Dira setengah berteriak, ia lalu melirikku yang sudah beranjak dari tempat kuberbaring berjam-jam lamanya.

"Ganti pakaianmu, bodoh!" ucapnya dengan tatapan benci yang diluncurkan kepadaku.

Aku tanpa menunggu lama lalu masuk ke ruangan pakaian yang ada di kamar ini.
Aku membelalakkan mata melihat betapa besar dan mewahnya untuk sekedar ruang pakaian ini.

Aku mengingat bahwa ibu tadi bilang sudah membelikanku beberapa baju dan beliau letakkan di ruangan ini.

Aku menyapu pandanganku sampai akhirnya kutemui gamis-gamis cantik menggantung dengan sempurna.
Aku kemudian mengambil satu untuk kukenakan.

Selesai mengganti pakaian, aku berniat untuk mengganti jilbab yang aku pakai.
Siapa sangka sesosok pria berdiri memperhatikanku dari luar ruangan, siapa lagi kalau bukan Dira.
Aku yang sudah melepaskan hijabku sebelumnya lalu dengan cekatan memakainya.

"Cih, aku juga tidak akan sudi menyentuhmu." ucap Dira yang kemudian berlalu pergi.

Aku kemudian berjongkok, kakiku terasa lemas tiba-tiba.
Bagaimana bisa aku menutupi tubuhku dari pria yang berhak atas tubuhku ini, suamiku-Dira.
Aku seperti sudah melakukan dosa besar, aku menyesali perbuatanku barusan walaupun aku melakukannya tanpa sengaja.

Bulir bening tiba-tiba menghampiri pipiku mengingat apa yang barusan Dira katakan padaku, dia tak sudi menyentuhku.

Lalu apakah aku harus bahagia karena sebenarnya aku juga belum bisa membuka hatiku untuk suami yang dipilih orang tuaku ini.

Namun untuk apa pernikahan kami jika kami saling tidak menginginkan, kenapa aku harus menjalani takdir yang menyedihkan ini? Kenapa ia harus setuju dengan perjodohan kami kalau ia tak mengharapkanku?


Bersambung...

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pernikahan yang Tak Kuinginkan   Tugas istri

    Dira melangkah mendekatiku, aku ketakutan setengah mati. Masih kuingat dengan jelas tamparan Dira ketika aku memergokinya bersetubuh dengan Dista.Kali ini tidak menutup kemungkinan Dira akan menamparku lagi kalau tahu aku mengangkat telepon dari wanita yang ia cintai itu."Apa yang kamu sembunyiin?" tanya Dira dengan suara datar, terdengar dingin, sangat menakutkan."Enggak ada." jawabku gemetar, Dira masih terus mendekatiku, sampai ia berada di depanku dan menarik tanganku yang sedari tadi kusembunyikan di belakang punggungku.Dira merebut ponselnya dengan kasar, tatapan matanya seperti mengisyaratkan kalau ia bisa membunuhku sekarang juga."Apa yang kamu lakukan?" tanyanya, membuatku semakin gemetar ketakutan.Dira menyalakan kembali ponselnya, aku berusaha menghindarinya dan berniat menghindarinya.Namun tangan Dira lebih dulu mencengkalku, menahanku agar aku tak pergi.

  • Pernikahan yang Tak Kuinginkan   Berdebat lagi

    Sulit rasanya mataku ini diajak kompromi, aku tak kunjung tertidur.Sementara Dira, embusan nafasnya terdengar teratur, terasa meraba pundakku walau masih terhalang jilbabku, rasanya panas.Sepertinya Dira benar-benar tidur, mungkin karena efek obatnya. Karena aku tak biasa tidur pagi, yang ada aku terjaga dengan menahan hawa panas dari tubuh Dira.Karena aku merasa lelah, kupikir aku sudah bertahan cukup lama, hampir setengah jam berlalu.Aku mencoba mengangkat tangan Dira yang memelukku, sangat pelan, tentu saja agar ia tak bangun.Kacau kalau akhirnya ia terbangun, aku mungkin harus berada di dekapannya sampai nanti siang, argh, tak sanggup aku.Dengan sangat pelan aku mengangkat tangan Dira lalu pelan-pelan aku bangun.Baru satu kaki aku menurunkan kakiku dari ranjang, tangan Dira sudah menggapai tanganku."Kamu mau kemana?" ucap Dira, terdengar serak."Aku kepanasan mas,

  • Pernikahan yang Tak Kuinginkan   Dira sakit (2)

    Aku memang sakit, menerima kenyataan bahwa suamiku memiliki hubungan gelap dengan istri orang. Dan secara terang-terangan mengatakan padaku kalau aku bukan siapa-siapa baginya kecuali lintah darat yang ingin ia manfaatkan demi memiliki anak.Namun kenyataan bahwa hatiku sakit tak menghentikanku untuk berharap bisa menjadi satu-satunya wanita di hati Dira, suamikuDira masih memegang tengkukku dengan kuat, tak membiarkanku melepas ciumannya.Tiba-tiba saja, klek! Ibu mertuaku masuk ke kamar di saat yang tidak tepat.Aku gelagapan tak karuan, bingung dan malu bercampur menjadi satu."Ibu, bisa nggak kalau masuk ketuk pintu dulu?!" teriak Dira, ibu juga memasang wajah kaget."Maaf, ibu sangat khawatir waktu ayah kamu bilang kamu sakit. Ibu cuma mau bilang kalau ibu udah telepon dokter buat ke sini. Ibu juga mau tanya kamu mau makan apa, ibu nggak ada niat buat ganggu kalian." ucap ibu mertuaku ya

  • Pernikahan yang Tak Kuinginkan   Dira sakit

    Suara adzan subuh yang berkumandang merdu di teleponku membangunkanku.Aku menggeliat lalu membuka mataku lebar-lebar ketika mendapati Dira sudah tidur di ranjang.Aku menyeringai, puas karena pastinya Dira semalam tidur tak nyenyak.

  • Pernikahan yang Tak Kuinginkan   Dira semakin kejam

    Dira menatapku tajam, ia kemudian turun dari atas tubuhku lalu duduk di sampingku.Aku hendak berlari, memungut pakaianku lagi. Namun tangan Dira segera mencegahku, ia menarik tanganku sampai aku duduk di sampingnya.Lalu tangan kanannya segera memiting leherku, aku merasa sedikit tercekik.Tanganku secara reflek menyilang menutupi bagian dadaku.Dira kemudian mendekatkan wajahnya ke samping telingaku."Kalau aku tahu kamu ngelakuin itu sama pria lain, aku akan hancurin pria itu sampai berkeping-keping." bisik Dira di telingaku, membuatku merinding tak karuan.Aku hanya diam, embusan nafas Dira masih meraba leher dan telingaku, membuatku semakin merinding.&

  • Pernikahan yang Tak Kuinginkan   Sandiwara, lagi

    "Baiklah, kamu harus bayar Soni lebih, kalau perlu 3 kali lipat dari gaji yang kamu janjikan. Dia juga perlu menraktirku makan kalau kami jalan berdua." ucapku setengah berteriak.Karena rasa cemburuku pada Dira, aku semakin ingin membuatnya mengakui kalau dia menyukaiku, walau aku tahu itu adalah hal yang mustahil.Aku sadar kalau aku ini hanya wanita miskin, yang Dira anggap tak lebih dari lintah darat.Dira menatapku tajam, "Makanlah." ucapnya dingin.Aku tak menjawabnya, tak juga mengindahkan permintaannya untuk makan."Baiklah, aku akan beri gaji 3 kali lipat buat pacar kamu itu. Aku juga akan kasih kamu kartu kredit tanpa limit. Pakai aja duit itu buat senang-senang sama dia." ucap Dira, aku menyeringai."Makanlah, aku nggak mau kamu sakit. Merepotkan." ucap Dira ketus, aku akhirnya menuju sofa lalu memakan makanan yang Dira bawa."Apa kamu bener-bener menyuka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status