Share

Tidur seranjang

Author: komsatun
last update publish date: 2020-09-23 16:39:27

Pagi ini, aku kembali berlarian mengambilkan pakaian yang harus sesuai dengan selera suamiku.

Jika ia tak suka, aku harus memilihkan pakaian lain sampai dia bilang ok.

Setelah selesai melayani suamiku di kamar, aku turun menuju dapur mengikuti langkah suamiku, Dira.

Baru sampai di dapur, aku rasanya seperti ingin muntah.

Belum sempat aku duduk, aku berlari ke toilet yang ada di dekat dapur.

Perutku mual tak terkendali, mungkin karena 2 malam berturut-turut hanya tidur beralaskan selimut.

Keluar dari toilet, seluruh mata menatapku lekat.

"Kamu sakit?" tanya ibu mertuaku, beliau mendekat lalu merangkul pundakku.

"Mungkin perut Kila kembung bu." jawabku santai, ada mata yang tampak berbinar menatapku, Pak Bima.

"Kamu hamil?" tanyanya girang, aku menggeleng cepat.

"Nggak Pak Bima, aku cuma masuk angin kayaknya." jawabku meyakinkan, Pak Bima tampak kecewa.

"Panggil ayah, sekarang kan udah jadi ayah Kila juga." ucap ibu mertuaku lembut, aku mengangguk lalu tersenyum menatapnya.

"Ayah apaan sih, baru juga 2 hari menikah.  Kila nggak usah kuliah dulu ya, istirahat di rumah." lanjut ibu mertuaku, masih dengan suaranya yang lembut dan nyaman didengar.

"Nanti minum obat juga baikan kok, bu. Kila baik-baik aja." kilahku, aku kemudian duduk di samping Dira.

Selesai makan, aku langsung pamit berangkat kuliah.

Betapa terkejutnya aku melihat mobil Dira yang masih terparkir di halaman rumah.

Ketika aku berjalan mendekat, Dira membuka kaca mobilnya.

"Masuk." ucapnya pelan dari bangku belakang, Dira memang selalu diantar oleh sopir pribadinya.

"Aku naik ojek aja, mas." kataku pelan,

"Masuk! Kamu berani membantah suamimu?!" teriak Dira yang membuatku terperanjat bercampur malu. Malu karena ada sopirnya dan tukang kebun yang melihatnya membentakku.

Aku dengan kesal masuk ke mobilnya lalu duduk di sampingnya.

"Jalan pak." ucap Dira, mobilnya kemudian melaju meninggalkan rumah yang bak istana ini.

Aku hanya diam di dalam mobil, aku tahu Dira tak suka kalau aku mengajaknya mengobrol.

Lagi pula aku masih kesal karena dia membentakku di depan orang lain.

"Rayulah ayah sama ibu, agar kita bisa tinggal di rumahku. Kamu bisa tidur nyaman di sana. Kalau kamu nggak pinter nyari alasan, tidur aja di lantai selamanya." bisik Dira di telingaku sebelum aku turun dari mobilnya.

Aku memandang mobil Dira pergi lalu berteriak sepuasnya, aku tak peduli pada tatapan aneh orang-orang.

***

Selesai kuliah, aku langsung pulang karena kondisi tubuhku yang memburuk.

Aku demam, perutku masih terasa mual dan mulutku rasanya pahit.

Ketika waktu makan malam, aku terpaksa makan bersama mertuaku.

Dira pulang ketika kami baru mulai makan, ia langsung menyusul ikut makan malam dengan kami.

"Kila kok pucat? Udah minum obat?" tanya ibu mertuaku,

"Kila udah beli obat, bu. Nanti habis makan langsung minum obatnya." jawabku dengan melempar senyum kepada ibu mertuaku yang sangat perhatian padaku.

Selesai makan, aku langsung meminum obat dan ingin segera tidur.

Seperti biasa, aku tidur di lantai yang sudah kulapisi selimut.

Tiba-tiba Dira melangkah mendekatiku, aku terkejut mendengar suara langkahnya.

Aku sudah mengunci pintu kamar, aku nggak salah, pikirku.

Kenapa dia kesini? Aku takut Dira akan memarahiku lagi.

Tiba-tiba Dira menempelkan tangannya di keningku, aku secara reflek memundurkan kepalaku.

"Kamu nggak mau disentuh suamimu?!" bentaknya lagi, aku benar-benar lelah mendengarnya meneriakiku.

"Maaf mas." ucapku lesu, aku menunduk dengan menahan amarahku.

"Tidurlah di kasur, aku yang akan tidur di lantai." ucapnya yang mengejutkanku, aku mengedipkan mataku berkali-kali.

"Kamu budeg atau bisu?" tanya Dira pelan melihatku diam saja.

"Di lantai dingin mas." ucapku pelan,

"Makanya kamu rayu ibu sama ayah, biar kita tinggal di rumahku. Kamu bisa tidur di kasur setiap hari. Kenapa kamu nggak mau dengerin omonganku?" sahut Dira pelan, kali ini dia terlihat seperti manusia pada umumnya.

Ketika marah, aku melihat Dira bak iblis yang dikelilingi api panas.

Namun saat ini dia tampak berbeda, ucapannya yang terdengar pelan sangat nyaman di telingaku.

"Udahlah, kamu sana tidur di atas." Dira menendang kakiku cukup keras.

Baru saja aku melihat dia tampak seperti manusia, sekarang kembali lagi Dira menjadi iblis bagiku.

Aku beranjak dan melangkah ke kasur, kurebahkan tubuhku di kasur yang super lebar ini, nyamannya pikirku.

Aku memakai selimut sampai ke pundakku, rasanya memang dingin walau AC sudah dimatikan.

Rasanya hangat dan empuk, sangat nyaman bisa tidur di kasur. 

Terlebih ini adalah kasur mahal, tentu saja berbeda dengan kasurku di rumahku dulu.

Aku melirik Dira, ia tampak berguling kesana-kemari, baru tahu rasa dia pikirku.

Tidur di lantai sangat tidak nyaman, dingin dan badan terasa sakit semuanya.

Apalagi buat anak orang kaya seperti dia, mana mungkin tahan tidur di lantai.

"Aku tidur di lantai aja nggak apa-apa mas. Nanti aku ambil selimut lagi biar tebel alasnya." ucapku basa-basi, karena sebenarnya aku sangat menikmati bisa merasakan empuknya kasur ini.

"Ah, kita berbagi ranjang kali ini." teriak Dira yang kemudian ikut berbaring di kasur.

Aku terperanjat lalu duduk, menatap Dira yang sudah masuk ke dalam selimut yang sama dengan yang kupakai.

"Aku tidur di lantai aja, mas." kataku kesal karena melihat Dira tidur di kasur lagi.

"Kamu mau buat suami kamu murka?! Hah?! Aku bilang malam ini kita berbagi ranjang?! Kamu mau durhaka sama suami kamu?! Aku nggak akan nyentuh kamu! Bahkan kalaupun aku mau, kamu itu istri aku! Sudah kewajiban kamu melayaniku! Dasar lintah darat tak tahu diri!" teriak Dira, tanpa sadar ada bulir bening melintas di pipiku.

Aku mengusap pipiku pelan dengan memalingkan wajah, malu rasanya.

Aku batalkan pikiranku kalau Dira ini manusia biasa, dia hanya iblis yang sangat jahat bagiku.

Kalau memang tak suka, ia bisa bilang baik-baik tanpa membentakku.

Ia juga tak perlu memanggilku lintah darat, sakit hatiku mendengar ucapan Dira barusan.

"Kamu nangis?! Kenapa?! Malu?!" teriak Dira lagi,

"Bunuh aku kalau kamu mau." ucapku pelan namun tegas, kali ini aku sudah tak mampu menahan emosiku.

"Kamu berani menantangku?!!!" teriak Dira lagi,

"Kalau kamu nggak suka sama aku, kenapa kamu mau nikah sama aku? Hah? Kamu pikir aku mau nikah sama kamu? Aku juga terpaksa, iya benar, aku memang lintah darat yang menikah karena uang. Puas?" teriakku pada Dira.

Dira tampak begitu emosi mendengar perkataanku barusan.

Dira mendekatiku lalu meletakkan tangan kirinya di leherku, ia mencekikku lalu mendorongku sampai aku terjatuh ke kasur, sangat keras.

Aku teriak kesakitan, Dira masih mencekikku dengan raut wajah mengerikan.

"Kamu berani sama aku?!" teriak Dira, aku tak mampu menjawabnya karena kesulitan bernafas.

Tanganku memukul Dira sekenanya, namun tak ada hasil karena dia masih mencekikku.

"Kamu mau aku bunuh? Baiklah, bersiaplah mati malam ini." ucap Dira yang semakin membuatku takut, aku menangis kesakitan.

Tak lama kemudian Dira melepas cekikannya, aku batuk menahan sakit di leherku.

"Kamu nggak mau minta ampun padaku? Kalau kamu mati, keluarga kamu juga mati." ucap Dira yang menatapku bak malaikat pencabut nyawa.

"Ampun.." ucapku dalam tangis, aku menyesal karena sudah melawannya.

"Cuma itu?" ucap Dira yang saat ini memegang daguku, kencang.

"Ampun mas, aku salah, aku minta maaf. Maafin aku." ucapku masih dengan dagu yang kesakitan akibat ulah Dira.

"Kalau kamu berani melawanku lagi, kamu akan mati di tanganku." ancam Dira yang langsung melempar wajahku sekuat mungkin.

Bahkan tanpa Dira mengancamku, aku sangat menyesal karena sudah berani membentaknya.

Aku adalah istri berdosa karena berani membangkang pada suami, bahkan menolak tidur seranjang dengannya.

Aku menangis terisak, betapa bodohnya aku yang tak mampu menahan emosi.

"Diam! Aku mau tidur! Aku nggak mau denger tangisanmu itu! Dan mulai malam ini, kita tidur seranjang! Inget itu!" teriak Dira, dia kemudian tidur memunggungiku.

Aku langsung menghentikan tangisanku, namun air mata masih terus keluar.

Aku kemudian membaringkan tubuhku dan tidur memeluk guling dan menghadap Dira.

Bersambung...

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pernikahan yang Tak Kuinginkan   Tugas istri

    Dira melangkah mendekatiku, aku ketakutan setengah mati. Masih kuingat dengan jelas tamparan Dira ketika aku memergokinya bersetubuh dengan Dista.Kali ini tidak menutup kemungkinan Dira akan menamparku lagi kalau tahu aku mengangkat telepon dari wanita yang ia cintai itu."Apa yang kamu sembunyiin?" tanya Dira dengan suara datar, terdengar dingin, sangat menakutkan."Enggak ada." jawabku gemetar, Dira masih terus mendekatiku, sampai ia berada di depanku dan menarik tanganku yang sedari tadi kusembunyikan di belakang punggungku.Dira merebut ponselnya dengan kasar, tatapan matanya seperti mengisyaratkan kalau ia bisa membunuhku sekarang juga."Apa yang kamu lakukan?" tanyanya, membuatku semakin gemetar ketakutan.Dira menyalakan kembali ponselnya, aku berusaha menghindarinya dan berniat menghindarinya.Namun tangan Dira lebih dulu mencengkalku, menahanku agar aku tak pergi.

  • Pernikahan yang Tak Kuinginkan   Berdebat lagi

    Sulit rasanya mataku ini diajak kompromi, aku tak kunjung tertidur.Sementara Dira, embusan nafasnya terdengar teratur, terasa meraba pundakku walau masih terhalang jilbabku, rasanya panas.Sepertinya Dira benar-benar tidur, mungkin karena efek obatnya. Karena aku tak biasa tidur pagi, yang ada aku terjaga dengan menahan hawa panas dari tubuh Dira.Karena aku merasa lelah, kupikir aku sudah bertahan cukup lama, hampir setengah jam berlalu.Aku mencoba mengangkat tangan Dira yang memelukku, sangat pelan, tentu saja agar ia tak bangun.Kacau kalau akhirnya ia terbangun, aku mungkin harus berada di dekapannya sampai nanti siang, argh, tak sanggup aku.Dengan sangat pelan aku mengangkat tangan Dira lalu pelan-pelan aku bangun.Baru satu kaki aku menurunkan kakiku dari ranjang, tangan Dira sudah menggapai tanganku."Kamu mau kemana?" ucap Dira, terdengar serak."Aku kepanasan mas,

  • Pernikahan yang Tak Kuinginkan   Dira sakit (2)

    Aku memang sakit, menerima kenyataan bahwa suamiku memiliki hubungan gelap dengan istri orang. Dan secara terang-terangan mengatakan padaku kalau aku bukan siapa-siapa baginya kecuali lintah darat yang ingin ia manfaatkan demi memiliki anak.Namun kenyataan bahwa hatiku sakit tak menghentikanku untuk berharap bisa menjadi satu-satunya wanita di hati Dira, suamikuDira masih memegang tengkukku dengan kuat, tak membiarkanku melepas ciumannya.Tiba-tiba saja, klek! Ibu mertuaku masuk ke kamar di saat yang tidak tepat.Aku gelagapan tak karuan, bingung dan malu bercampur menjadi satu."Ibu, bisa nggak kalau masuk ketuk pintu dulu?!" teriak Dira, ibu juga memasang wajah kaget."Maaf, ibu sangat khawatir waktu ayah kamu bilang kamu sakit. Ibu cuma mau bilang kalau ibu udah telepon dokter buat ke sini. Ibu juga mau tanya kamu mau makan apa, ibu nggak ada niat buat ganggu kalian." ucap ibu mertuaku ya

  • Pernikahan yang Tak Kuinginkan   Dira sakit

    Suara adzan subuh yang berkumandang merdu di teleponku membangunkanku.Aku menggeliat lalu membuka mataku lebar-lebar ketika mendapati Dira sudah tidur di ranjang.Aku menyeringai, puas karena pastinya Dira semalam tidur tak nyenyak.

  • Pernikahan yang Tak Kuinginkan   Dira semakin kejam

    Dira menatapku tajam, ia kemudian turun dari atas tubuhku lalu duduk di sampingku.Aku hendak berlari, memungut pakaianku lagi. Namun tangan Dira segera mencegahku, ia menarik tanganku sampai aku duduk di sampingnya.Lalu tangan kanannya segera memiting leherku, aku merasa sedikit tercekik.Tanganku secara reflek menyilang menutupi bagian dadaku.Dira kemudian mendekatkan wajahnya ke samping telingaku."Kalau aku tahu kamu ngelakuin itu sama pria lain, aku akan hancurin pria itu sampai berkeping-keping." bisik Dira di telingaku, membuatku merinding tak karuan.Aku hanya diam, embusan nafas Dira masih meraba leher dan telingaku, membuatku semakin merinding.&

  • Pernikahan yang Tak Kuinginkan   Sandiwara, lagi

    "Baiklah, kamu harus bayar Soni lebih, kalau perlu 3 kali lipat dari gaji yang kamu janjikan. Dia juga perlu menraktirku makan kalau kami jalan berdua." ucapku setengah berteriak.Karena rasa cemburuku pada Dira, aku semakin ingin membuatnya mengakui kalau dia menyukaiku, walau aku tahu itu adalah hal yang mustahil.Aku sadar kalau aku ini hanya wanita miskin, yang Dira anggap tak lebih dari lintah darat.Dira menatapku tajam, "Makanlah." ucapnya dingin.Aku tak menjawabnya, tak juga mengindahkan permintaannya untuk makan."Baiklah, aku akan beri gaji 3 kali lipat buat pacar kamu itu. Aku juga akan kasih kamu kartu kredit tanpa limit. Pakai aja duit itu buat senang-senang sama dia." ucap Dira, aku menyeringai."Makanlah, aku nggak mau kamu sakit. Merepotkan." ucap Dira ketus, aku akhirnya menuju sofa lalu memakan makanan yang Dira bawa."Apa kamu bener-bener menyuka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status