LOGIN"Saya tetap Orion yang mencintai Altair."
⭐
Seorang gadis tampak sedang berjalan kaki menuju ke arah halte bus dengan setelan seragam putih abu-abu. Kedua tangannya memegang tali tas dan berjalan sedikit menunduk. Entah itu gaya berjalan favoritnya atau ada hal lain yang membuatnya seperti itu, hanya ia lah yang mengetahuinya.
Rambutnya yang tergerai memberi kesan cantik. Terlebih ia memakai sebuah jepit rambut yang berwarna putih, kontras dengan rambutnya yang berwarna hitam.
Altair berjalan menyusuri pinggir jalan. Sedikit lagi, ia akan sampai di halte yang ia tuju. Setiap pagi selalu seperti itu, ia harus berjalan kaki dari rumah menuju halte lalu naik bus untuk sampai ke sekolah.
Altair terkejut saat mendapati sebuah motor yang berhenti tepat didepannya. Pemilik motor itu lalu melepas helm yang ia kenakan.
"Sendirian aja, cantik?" Tanyanya sedikit menggoda.
"Iya, kamu nggak mau nemenin." Balas Altair dengan suara yang ia buat sedikit kekanakan.
Orion terkekeh mendengar suara Altair. Suara yang selalu ia rindukan. "Ayo, naik." Pinta Orion kepada Altair.
"Kamu bawa helm cuma satu, ya?" Tanya Altair.
"Iya, 'kan aku gak tahu kalau ketemu kamu disini."
Altair menganggukkan kepalanya sekali. Ia lalu mendekat kearah Orion, memegang bahu pria itu untuk membantunya menaiki motor dengan posisi menyamping.
"Jalan, bang," ucap Altair seraya menepuk pelan bahu Orion.
"Cium dulu, dong." Orion membalikkan badannya, menatap sang pujaan hati kemudian mencondongkan wajahnya mendekati Altair.
Altair menyatukan kelima jarinya membentuk sebuah kuncup lalu menempelkan ke pipi kiri Orion. "Tuh, cium," ucap Altair yang membuat Orion mendengus.
Orion segera memakai helmnya kemudian menyalakan motor, melajukan motornya menuju ke sekolah.
"Ta," panggil Orion. Ia menolehkan sedikit kepalanya kebelakang.
"Apa?" Altair sedikit berteriak karena kebisingan suara motor.
"Nanti pulang sekolah beli hp, ya?" Ajak Orion.
Altair terdiam sejenak, "Buat apa?"
"Aku susah mau ngehubungin kamu kalau nggak ada hp," ucap Orion dengan hati-hati.
"Kan setiap hari juga ketemu, Rion."
"Nanti, kalau misal aku mau jemput kamu, 'kan nggak bisa ngabarin."
Altair diam, ia bingung harus mengatakan apa.
Orion melirik Altair dari kaca spion. Karena Altair tak kunjung bersuara, Orion kembali membuka mulutnya. "Aku beliin, ya?" Tanya Orion lagi.
Altair menundukkan kepala, lalu menggeleng. Rasanya ia ingin menangis saja, melihat kebaikan Orion kepadanya. Altair tidak ingin menjauhi Orion karena ia sama sekali tidak pantas bagi Orion. Tapi, ia sangat menyayangi pria itu.
Orion dan Altair seperti langit dan bumi.
Motor Orion berhenti saat sampai di parkiran sekolah. Altair turun dari motor dengan kepala yang masih menunduk.
"Mau, ya?" Tanya Orion yang juga sudah turun dari motor. Ia bersandar di motor dan menatap Altair yang masih menunduk.
"Nggak usah," Altair tetap menggeleng.
"Kenapa?"
Altair mendongakkan kepala menatap Orion. "Aku tidak berhak dapat itu semua dari kamu, Rion. Itu terlalu berlebihan," ujarnya dengan suara serak.
"Ta-"
"Ke kelas saja yuk, sudah mau masuk," ajak Altair, mengalihkan pembicaraan.
Orion menghela nafas pasrah, lalu mengikuti Altair yang sudah berjalan di depannya.
Tak menunggu waktu lama, bel masuk berbunyi.
Jam pelajaran dimulai, pelajaran di jam pertama adalah Agama Islam. Guru mata pelajaran itu masih terlihat muda, namun sudah berkeluarga. Pak Dennis nama nya, sedikit galak namun juga lucu.
"Kalian harus selalu menunaikan ibadah, jangan sampai kalian sengaja meninggalkannya. Jika itu terjadi, pintu neraka siap menanti kedatangan kalian. Jangan pernah berpikiran kalau kalian masih muda dan perjalanan masih panjang. Maaf loh ya, siapa tahu besok pagi Auriga atau siapa gitu meninggal. Bisa apa kalian kalau sudah seperti itu?"
Auriga yang namanya disebut, hendak protes. Ia sudah membuka mulutnya siap mengomel, namun Pak Dennis sudah menyela.
"Kita tidak tahu loh, Riga, kapan kita mati. Walaupun saya lebih tua dari kamu, bisa saja kamu lebih dulu meninggalnya," ucap Pak Dennis seraya menunjuk Auriga.
Satu kelas tertawa riuh.
"Iya, Pak." Auriga hanya bisa pasrah.
"Iya apa?"
"Iya itu."
"Sekarang,bsaya mau tanya. Kamu berniat meninggal pada usia berapa?"
Auriga terlihat berpikir. "Waktu kiamat, mungkin?"
"Yakin, kiamat?"
Auriga mengangguk tanpa ragu.
"Bilang Amin semuanya."
"AMIIIN." Koar satu kelas dengan serentak.
"Saya do'akan kamu meninggalnya pas kiamat, biar ketemu dajjal." Pak Dennis lalu mengalihkan pandangannya ke seluruh siswa. "Ingat! Jangan sampai meninggalkan ibadah. Apalagi yang cewek-cewek itu, pasti kalau disuruh sholat bilang nya 'lagi ada tamu, Pak." Pak Dennis menirukan gaya bicara perempuan.
"Seperti Altair 'kan begitu. Benar, Ta?"
"Nggak Pak," Altair melambaikan tangannya.
"Kalau sampai iya, saya banting kamu."
"Astaghfirullah. Saya bilangin Bapak saya kalau Pak Dennis berani," ujar Altair sedikit menantang. Altair memang seperti itu jika dengan Pak Dennis. Gurunya pun tidak mempermasalahkan. Karena, memang Pak Dennis memberi kelonggaran untuk sedikit bercanda. Tapi dengan syarat tak berlebihan.
"Mau bilangin Bapak kamu? Ayo."
Semua murid mengernyit mendengar ucapan Pak Dennis, termasuk Altair
"Sekalian, kamu saya lamar." Ucap Pak Dennis dengan senyum lebarnya.
"CIIEEEE." Serentak semua murid menyoraki ucapan Pak Dennis. Satu kelas kembali riuh.
"INGAT ISTRI DI RUMAH, PAK."
"RION, PACAR KAMU DIEMBAT, TUH."
"PAK DENNIS BERBAHAYA."
"ANAK SAMA ISTRI DIRUMAH NUNGGUIN, PAK."
Semua itu hanyalah sekedar gurauan, menambah kesan menyenangkan kalau sedang belajar.
Waktu terus berputar hingga tak sadar, sekarang sudah waktunya pulang sekolah. Seusai mengantar Altair hingga sampai di rumah, Orion melajukan motornya ingin segera sampai di rumahnya juga. Ia lupa dengan janjinya pada Ara, sang Bunda yang akan membawa Altair ke rumahnya.
•••
Orion menghempaskan bokongnya di samping Ayah dan Bunda. Mereka berada di sofa ruang tamu, Bunda berkata bahwa ada yang ingin dibicarakan Ayah padanya.
"Ada apa, Yah?" Tanya Orion.
"Lusa, kamu ikut ayah ke New Zealand, ya?!" Terdengar seperti perintah juga seperti peryataan.
Kening Orion berkerut samar. "Memangnya kenapa?"
"Urusan bisnis. Ayah mau ngenalin kamu ke rekan bisnis Ayah, kalau kamu yang bakal meneruskan perusahaan Ayah."
Ekspresi wajah Orionnberubah datar. "Kenapa sekarang? Aku masih sekolah, Yah."
"Ayah maunya sekarang! Lagipula hanya ingin mengenalkan kamu aja. Kalau pun membantu pekerjaan paling-paling hanya sedikit, tidak sampai dua minggu disana." Ayah Orion berujar dengan santai.
"Rion nggak mau, dulu ayah bilang kalau Ali udah selesai sekolah, bukan sekarang."
"Tapi ayah tidak menerima penolakan."
Orion beranjak dari duduknya. "Terserah!" Setelah itu, ia pergi menuju kamarnya.
Orion mengurung diri hingga pagi, ia mengabaikan ajakan Bunda untuk makan malam bersamam
Pagi harinya, Orion keluar kamar dengan malas-malasan. Ia berjalan menuju ruang makan dengan langkah gontai.
"Sarapan dulu, sayang," Ara menyambut kedatangan Orion. Diluar dugaan, Orion malah mengambil tangan Ara lalu menciumnya, lalu beralih ke arah Ayahnya lalu melakukan hal yang sama.
"Aku berangkat," ucap Orion seraya berlalu dari ruang makan.
"Rion nggak sarapan dulu, sayang?" Tanya Ara.
Mood Orion sudah sangat buruk. Ia hanya diam dan mengeluarkan motornya dari garasi.
Setelah Orion pergi, Ara menatap suaminya yang masih memakan sarapannya.
"Yah." Panggil Ara.
Bayu -- Ayah Orion -- menoleh ke arah Ara, istrinya. "Ada apa?"
Ara menghela nafas sebentar sebelum membuka suara. "Apa nggak sebaiknya besok setelah lulus saja Orion pergi?"
''Memangnya kenapa, Bun?"
"Bunda tahu, kenapa Orion jadi nggak semangat kayak tadi. Dia seperti nggak mau meninggalkan Alta, kekasihnya."
Ayah Orion terkekeh. Ia lalu mengambil air minum lalu meneguknya, Bayu kembali menatap istrinya. "Tidak akan menetap disana juga, 'kan? Hanya satu minggu ini." Bayu berkata dengan santai.
"Ayah ini kayak nggak tahu anak muda saja. Dulu Ayah juga begitu, 'kan?" Tanya Ara kesal. Ia tak habis pikir dengan pola pikir suaminya yang begitu menuntut anaknya.
"Kata siapa? Ayah tidak begitu waktu muda dulu." Bayu memberi jeda, "Lagipula ini untuk belajar, Bun. Buat bekal masa depannya nanti. Siapa tahu dia berkeinginan nikah muda, setelah lulus misalnya, atau malah sebelum." Ayah Orion mengedikkan bahunya.
Ara meletakkan sendok di atas piring setelah makanan bayinya habis. Ia lalu mengambil air minum lalu memberikan kepada anak bungsunya yang berusia enam bulan. "Terserah Ayah saja. Yang penting, Orion jangan dibuat tertekan, kasihan dia masih muda. Nanti malah cepat tua."
•••
Altair bingung dengan sikap Orion hari ini. Mulai dari berangkat sekolah hingga hampir pulang, Orion terlihat murung dan tidak bersemangat. Wajahnya terlihat sedang ada masalah. Tetapi, Altair tidak berani menanyakan langsung kepada Orion. Ia hanya membiarkan Orion seperti itu, siapa tahu nanti pria itu mau bercerita kepadanya dengan sendirinya.
"Hmm?" Altair merubah posisinya menjadi sedikit menghadap Orion.
"Nanti pulang sekolah, ke rumah ya? Bunda pengen ketemu."
"Iya."
Setelah itu tidak ada lagi yang membuka suara. Orion sibuk memainkan ponselnya, bermain game. Tapi, pikirannya tidak terfokus pada ponselnya itu. Orion bermain dengan asal-asalan sehingga ia kalah. Alasannya hanya satu, Orion masih memikirkan permintaan Ayahnya. Ia bingung harus menurutinya atau tidak. Disatu sisi ia ingin belajar bisnis untuk bekal masa depannya. Tapi disisi lain, Ia merasa ada yang janggal jika harus mengikuti ayahnya. Entah apa itu.
Satu yang pasti, Bayu -- ayahnya itu sangat keras. Ia tipikal orang yang tidak suka di tentang dan di tolak.
Sementara itu, Altair sibuk menulis catatan yang tadi diberikan oleh gurunya sebelum bel istirahat. Altair belum selesai, dan sekarang ia meminjam buku milik Orion, sesekali kedua netra Altair melirik Orion dari sudut matanya. Orion masih berkutat dengan ponselnya. Tapi yang Altair lihat, Orion seperti terlihat sedang mengontrol emosi saat memainkannya. Altair lalu meletakkan bolpin diatas bukunya, ia menatap Orion intens.
"Rion," panggil Altair pelan. Kebetulan guru yang mengajar belum masuk, ia jadi lebih leluasa untuk berbicara kepada Orion.
Pria itu menoleh sekilas, lalu kembali menatap ponselnya. Ia mematikan benda pipih tersebut lalu meletakkan diatas meja. Ia menatap Altair, "Apa?"
"Aku perhatiin dari pagi kamu kayak nggak semangat. Kamu, lagi ada masalah?" Tanya Altair dengan hati-hati. Ia memberanikan diri untuk bertanya. Daripada mati penasaran, pikirnya.
Orion menggeleng kecil. Tentu saja ia berbohong. Ia tak mau Altair jadi ikut kepikiran.
"Aku tahu kamu, Rion. Hari ini kamu sangat berbeda. Lesu, nggak kayak biasanya. Kalau ada masalah bilang, Rion, biar aku tahu. Agar aku tahu diri, buat gak bikin kamu kesal. Kalau kamu nggak mau cerita, aku juga nggak tahu apa masalah kamu," ucapan Altair terdengar seperti keluhan.
Calvin dan Auriga yang duduk di bangku belakang, sebenarnya mendengar apa yang dua orang itu bicarakan. Namun, mereka mencari kesibukan lain agar tak mendengarnya. Kali ini, mereka tidak akan mengganggu waktu bicara keduanya.
Orion menghela nafas pelan. Terpaksa ia harus mengatakan kepada Altair. Ketimbang, besok gadisnya itu mencari keberadaannya karena tak melihatnya disekolah. "Ayah ngajak aku ke New Zealand, urusan bisnis."
"Kapan?"
"Lusa." Orion melirik Altair sekilas, melihat bagaimana reaksi gadis itu. Tapi, Altair sedikit menunduk hingga ekspresinya tidak jelas.
"Berapa lama?" Altair bertanya dengan pelan, malah terdengar seperti bisikan.
"Satu minggu."
Altair menganggukkan kepala, memberanikan diri menatap Orion. Memberikan sedikit senyuman manisnya. Sejujurnya, ia sedikit tidak rela. Tapi, mau bagaimana lagi? Ia tidak bisa memaksa Orion untuk tetap disini, seperti keinginannya.
"Kamu kenapa?" Tanya Orion pelan.
"Aku baik-baik saja, memangnya kenapa?" Altair malah balik bertanya.
Orion menggeleng pelan. "Nggak, kamu hati-hati, ya, selama aku pergi. jaga diri baik-baik. Entah kenapa, aku ngerasa kayak ada kejadian buruk yang bakal terjadi."
"Hust, nggak boleh ngomong kayak gitu, nggak baik. Aku bisa jaga diri, Rion. Aku bukan anak kecil lagi," ucap Altair yang diakhiri dengan bibir yang manyun.
"Jangan begitu, jelek. Bagaimana juga, aku tetap Orion yang mencintai Altair. Selamanya akan seperti itu."
Altair tersenyum kecil. Perasaan hangat menjalar hingga membuat semu merah pudar di pipinya yang chubby.
Orion tertawa kecil. Tangannya terulur mengacak poni Altair gemas. "Lucu," ujar Orion seraya mendekatkan bibirnya ke telinga Altair. "Jadi pengen bawa pulang," bisik Orion yang membuat pipi
Altair merona. Hanya hal kecil, tapi Altair mudah tersipu. Itulah yang membuat Orion tak ingin meninggalkannya.Bersambung
"Saya tetap Orion yang mencintai Altair."⭐Seorang gadis tampak sedang berjalan kaki menuju ke arah halte bus dengan setelan seragam putih abu-abu. Kedua tangannya memegang tali tas dan berjalan sedikit menunduk. Entah itu gaya berjalan favoritnya atau ada hal lain yang membuatnya seperti itu, hanya ia lah yang mengetahuinya. Rambutnya yang tergerai memberi kesan cantik. Terlebih ia memakai sebuah jepit rambut yang berwarna putih, kontras dengan rambutnya yang berwarna hitam.Altair berjalan menyusuri pinggir jalan. Sedikit lagi, ia akan sampai di halte yang ia tuju. Setiap pagi selalu seperti itu, ia harus berjalan kaki dari rumah menuju halte lalu naik bus untuk sampai ke sekolah. Altair terkejut saat mendapati sebuah motor yang berhenti tepat didepannya. Pemilik motor itu lalu melepas helm yang ia kena
Mereka bilang saya itu gadis egois.Mereka bilang saya itu gadis menyebalkan.Mereka bilang saya itu gadis cengeng.Mereka bilang saya itu gadis bodoh.Tapi, seegois-egoisnya saya.Saya tidak pernah mencoba memanfaatkan seseorang dengan mengatasnamakan rasa Cinta.⭐Sepasang remaja terlihat berjalan bersisian menuju ke ruang kelas. Mereka memang baru-baru ini menjalin hubungan. Jadi, kalau kata orang masih anget-angetnya untuk di gosipkan. Banyak siswa disekolah itu yang membicarakan keduanya. Terlebih si cowok yang notabene anak pemilik yayasan memacari seorang wanita yang bisa di bilang dari kalangan biasa saja.Keduanya terlihat mesra dengan jari jemari yang saling bertautan satu sama lain. Sesekali sang cewek berceloteh ria membuat cowok disebelahnya gemas sendiri."Rion, kamu tau gak?