Share

SOMETHING FOR SOMEONE (INDONESIA)
SOMETHING FOR SOMEONE (INDONESIA)
Author: Awsyalalaw

Satu

Author: Awsyalalaw
last update publish date: 2020-09-23 07:49:20

Mereka bilang saya itu gadis egois.

Mereka bilang saya itu gadis menyebalkan.

Mereka bilang saya itu gadis cengeng.

Mereka bilang saya itu gadis bodoh.

Tapi, seegois-egoisnya saya.

Saya tidak pernah mencoba memanfaatkan seseorang dengan mengatasnamakan rasa Cinta.

Sepasang remaja terlihat berjalan bersisian menuju ke ruang kelas. Mereka memang baru-baru ini menjalin hubungan.  Jadi, kalau kata orang masih anget-angetnya untuk di gosipkan. Banyak siswa disekolah itu yang membicarakan keduanya. Terlebih si cowok yang notabene anak pemilik yayasan memacari seorang wanita yang bisa di bilang dari kalangan biasa saja.

Keduanya terlihat mesra dengan jari jemari yang saling bertautan satu sama lain. Sesekali sang cewek berceloteh ria membuat cowok disebelahnya gemas sendiri.

"Rion, kamu tau gak? Kem-"

"Gak tahu," potong cowok yang dipanggil Orion itu dengan cepat, membuat gadis disebelahnya memonyongkan bibirnya beberapa senti.

"Rion, aku belum selesai ngomong jangan dipotong dulu."

"Iya ıya, lanjut gih." Orion terkekeh sendiri melihat ekspresi Queena Altair, orang saat ini memenuhi ruang perasaannya.

Gadis disampingnya itu melepaskan tangannya yang semula bersatu dengan Ali. Ia kemudian melipat tangannya seraya membuang muka, "gak mau, ntar dipotong lagi."

"Engga, Alta. Jdi, mau dilanjut gak nih?"

"Mau."

"Yaudah lanjut," ucap Orion sambil melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti kemudian meraih jemari mungil kekasihnya untuk digenggam lagi.

"Kemarin 'kan, aku ja-"

"WOYY!" Teriak seseorang dari belakang.  Tanpa rasa bersalah, ia memisahkan tangan mereka yang saling menggenggam kemudian berdiri diantara Orion dan Altair kemudian merangkul bahu keduanya.

Orion menatap sengit kearah Auriga. Sahabatnya itu dengan santainya merangkul Altair. Orion tak pernah sekalipun membiarkan orang lain menyentuh miliknya.

Sedangkan Altair sama halnya yang dengan Orion. Ia menatap Auriga dengan pandangan tak suka. Alasannya, lagi-lagi omongannya terputus.

"RIGAA..!" Teriak keduanya.

Yang diteriaki hanya memamerkan deretan giginya yang rapi tanpa rasa bersalah sedikitpun.

"Gak boleh dua-duaan. Karena, yang ketiga adalah setan."

"Kamu setannya," tunjuk Altair seraya melepas rangkulan Auriga dari pundaknya.

"Iya juga ya, ya sudah. Ayo masuk kelas saja," ujar Auriga sembari merangkul Altair dan Orion kembali, lalu membawa keduanya masuk ke dalam kelas.

•••

Saat bel istirahat berbunyi, Altair dan juga sahabat dekatnya -- Lyra -- berjalan menuju kantin. Altair tidak memperdulikan tatapan bingung dari Orion yang ditujukan padanya. Pasalnya, Altair maupun Orion terbiasa menunggu satu sama lain. Jika salah satu masih ada urusan, maka yang satu harus bersabar menunggu.

Namun tidak untuk kali ini. Altair tidak dapat lagi menunggu Orion. Ia sudah sangat lapar akibat pelajaran matematika yang menurutnya banyak menguras tenaga.

Sesampainya di kantin, Lyra langsung menarik jemari Altair memesan nasi goreng. Setelah itu, ia kembali menarik Altair ke sebuah tempat duduk di sudut kantin.

Tidak terlalu lama menunggu, pesanan mereka sampai juga. Altair langsung menyuap sesendok penuh nasi goreng ke dalam mulutnya.

"Laper banget kayaknya, Ta?" Orion langsung duduk disamping Altair.

"Hmm," Altair menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari sepiring nasi goreng di hadapannya.

Hanya kata itu yang dapat ia ucapkan. Mulutnya penuh dengan makanan, sampai kedua pipinya menggembung. Ia tak memerdulikan tatapan aneh yang terang-terangan ditujukan padanya dari siswa lain yang melihatnya.

Ia hanya perlu mengisi perutnya, bukan menuruti gengsi yang tak pernah ada ujungnya.

Orion terkekeh geli melihat Altair yang tak pernah jaim jika memakan sesuatu didepannya. Bahkan, jika sedang makan dengan Orion, Altair tak segan-segan memesan banyak makanan dan memakannya sendiri. Begitu pula dengan Orion. Ia sama sekali tidak pernah merasa ilfeel dengan sikap Altair jika masalah makanan. Malah, ia bersyukur Altair tidak pernah mencari muka di depannya seperti kebanyakan orang.

"Kamu enak, Ta. Makan banyak tapi badan masih kecil. Kalau aku, makan sedikit saja badannya udah melar," ucap Lyra. Gadis itu kemudian memasukkan sesendok kecil nasi goreng ke dalam mulutnya.

Tubuh Lyra tidak ramping, tidak juga gendut. Tapi, lumayan berisi. Beruntung Lyra memiliki tinggi yang ideal. Jadi, walaupun tubuhnya berisi tapi tetap enak dipandang.

"Kamu mau gendut seperti apa, aku juga tetap sayang kok." Auriga tiba-tiba datang sembari membawa dua mangkuk bakso. Satu untuknya, dan satu untuk Orion. Lyra hanya diam, tak mau menanggapi ucapan Auriga.

Auriga memang menyukai Lyra sejak lama. Tetapi, Lyra sama sekali tidak  pernah mau membalas perasaan Auriga. Bukannya tidak mau, ia hanya enggan menunjukkannya. Karena, ia tahu bahwa Auriga adalah sosok berandalan yang gemar berteman dekat dengan banyak wanita.

Sementara itu, Calvin yang juga merupakan sahabat Orion dan Auriga hanya menatap keempat temannya. Ia bertopang dagu.

''Terus saja aja pamer kemesraan. Aku yang jomblo ini bisa apa?" Calvin menatap Orion dengan muka yang dibuat masam.

"Aku juga jomblo kok, Vin. Lagipula, mau pacaran tapi orangnya enggak peka-peka," ucap Auriga seraya melirik Lyra. Gadis itu sadar bahwa ia mendapat lirikan, justru sekarang ia berpura-pura tak mengetahui dan sibuk sendiri dengan makanannya yang tersisa setengah.

"Aneh sih, kalau memang suka kenapa takut untuk menyatakannya? Nanti, kalau sudah jadi kekasih orang, baru tahu." ujar Altair setelah menyedot habis teh es-nya.

Auriga dan Calvin hanya melirik sekilas kearah Altair. Kadang, mulut Altair itu tidak bisa di kontrol, walaupun begitu mereka tidak pernah membenci sikap Altair yang terkesan julid. Malah, terkadang mereka menganggapnya bahwa Altair itu seperti anak kecil yang kalau sudah bicara terlalu jujur.

"Permisi anak-anak." Suara mikrofon sekolah membuat seisi kantin yang tadinya riuh mendadak sunyi senyap. "Berhubung hari ini ada rapat dadakan, kalian semua boleh pulang."

Semuanya langsung bersorak girang, termasuk Altair dan Lyra.

"Mau nongkrong dulu nggak?" Tanya Calvin.

"Yuk, di caffe biasa," intruksi Auriga.

"Kalian enggak langsung pulang?" Altair menatap Orion, Calvin dan Auriga. "Pulang dulu, izin sama orang tua biar enggak khawatir."

Calvin menggeleng, "Kita ini remaja yang hampir dewasa, sudah tidak perlu izin lagi."

Altair memandang Orion, ia melayangkan tatapan bahwa ia tidak suka jika Orion ikut-ikutan.

"Aku gak ikut, maaf," ujar Orion seakan mengerti maksud Altair. "Izin dari seorang Ibu itu penting. Nanti, kalau kita kenapa-napa, bagaimana?"

"Yah, nggak asik banget." Keluh Calvin.

"Aku ikut Rion, kalau dia gak ikut aku juga enggak." Sahut Auriga. "Lagipula, mana tahu Lyra mau pulang bareng," cengirnya.

Altair berdiri diikuti oleh keempat temannya. Berjalan menuju kelas, mengambil tas dan bergegas pulang.

"Pulang bareng aku, mau?" Tawar Orion.

Altair mengangguk, ia segera mengikuti Orion menuju parkiran dan segera naik ke atas motor miliknya.

Kedua tangan milik Altair, ia lingkarkan dan memeluk erat pinggang Orion selama perjalanan. Sesekali, ia benamkan wajahnya dalam punggung Orion. Wangi parfum milik pria itu memenuhi indera penciumannya.

Tak terasa, motor Orion berhenti di depan rumah Altair. Gadis itu segera turun, "Terima kasih," ucap Altair sembari tersenyum ke arah Orion yang sedang melepaskan helm dari kepala Altair.

Orion hanya tersenyum kemudian mengangguk. "Iya, aku pulang duluan, ya."

"Gak mampir dulu?" Tanya Altair. Ia seperti tidak rela jika pria itu langsung pergi.

"Lain kali saja."

Mendengar ucapan Orion barusan, membuat Altair menundukkan kepalanya. "Ya sudah, kamu hati-hati."

Orion terkekeh dalam hati melihat Altair yang menunduk dalam. Sebelah tangannya terulur mengusap kepala Altair pelan, "Kenapa? Masih pengen berduaan, ya?" goda Orion.

Altair mendongakkan kepalanya kemudian menatap Orion dengan bibir yang mencebik. "Gak lah, sudah sana pergj, katanya mau pulang."

"Iya-iya, ini mau pulang. Kalau kangen, bilang ya. Nanti aku langsung kesini." Orion tersenyum dan menyalakan motornya.

"Aku engga bakal kangen, tau."

"Yakin gak kangen? Tapi, sepertinya tidak rela begitu di tinggal pulang." goda Orion lagi. Ia sangat senang melihat Altair yang kesal karena ulahnya. Seperti ada kepuasan tersendiri, jika gadisnya itu kesal. Entah apa yang membuatnya menjadi seperti itu.

"Siapa yang gak rela?" Tanya Altair seraya menaikkan sebelah alisnya.

Orion menggidikkan bahunya acuh. "Ituz orang di  pinggir jalan tadi," ujarnya sembari menunjuk jalan yang ada di belakangnya. Padahal, disana tidak ada siapa-siapa.

Altair memukul gemas lengan Orion. "Jahat, masa aku di samain dengan orang pinggir jalan," ucapnya dengan bibir yang terlihat manyun. Sangat lucu dan menggemaskan.

"Lagian, jadi cewek gengsinya tinggi banget," Orion tertawa kecil.

"Sudah sana, katanya mau pulang." usir Altair dengan sedikit mendorong bahu Orion. Ia malas jika sudah membahas gengsi.

"Iya, aku pulang. Gak di cium dulu, nih?" Tanya Orion sambil menunjuk pipi kirinya kemudian mengedipkan sebelah mata.

"Gak, biasanya juga gak pakai gitu-gituan," ujar Altair dengan nada kesal.

Orion terkekeh mendengar ucapan Altair. Ia mengacak-acak puncak kepala Altair gemas, "masuk sana, aku mau pulang."

"Iya, nanti kalau kamu sudah jalan, aku masuk."

Orion tersenyum ke arah Altair. Ia lalu menghidupkan mesin motornya.

"Hati-hati," ucap Altair pelan saat Orion hendak melajukan motornya.

Orion menoleh kemudian tersenyum sekilas, meskipun ia yakin Altair tidak tahu karena ia memakai helm fullface.

Setelah itu, Orion melajukan motornya meninggalkan rumah Altair.

Setelah Orion tak lagi terlihat, Altair baru membalikkan badannya dan memasuki rumah.

•••

Orion merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ia mencoba memejamkan mata, karena ia merasa lelah. Saat ini, seragam masih melekat pada badannya, tak ada niat untuk mengganti atau sekedar melepas baju yang sudah dua tahun terakhir menemani masa SMA-nya. Sebelah tangannya terulur mengambil ponsel yang berada di saku celana, ia mengeluarkan benda itu kemudian menyalakannya.

Hal pertama yang ia lihat adalah foto seorang gadis yang Orion jadikan sebagai wallpaper di ponselnya. Tak lain tak bukan adalah Queena Altair, kekasihnya.

Orion sangat menyayangi Altair. Apapun keadaan gadis itu, ia tetap menerimanya. Salah satu hal yang ia ketahui, terakhir kali tentang ekonomi keluarga Altair. Mereka  mengalami kebangkrutan karena terbelit hutang. Sekarang, keluarga itu baru akan membangkitkan lagi keadaannya.

Banyak yang mengira Altair hanya menginginkan harta Orion saja. Altair juga selalu merasa rendah saat bersama dengan Orion. Tapi, Orion selalu bisa membuktikan bahwa sebenarnya dirinyalah yang menginginkan Altair, bukan sebaliknya.

Pintu kamar Orion terbuka. Tampak Bundanya yang sedang menggendong Vella --adik bungsu Orion -- memasuki kamarnya.

"Rion, gak makan siang dulu?" Tanya Ara, Bunda Orion.

Orion mendudukkan dirinya di tepi ranjang, ia menatap ibunya, "Sebentar, Nda."

Ara menghampiri Orion, ikut duduk disampingnya. "Ganti baju dulu dong," ucap Ara seraya meraih kancing baju Orion dan membukanya.

Baru satu kancing yang terbuka, Orion sudah menjauhkan dirinya, ''Rion sudah besar, Bunda," ucapnya dengan nada kesal.

Selalu seperti itu, Bunda masih saja menganggapnya seperti anak kecil yang apa-apa masih disiapkan olehnya.

"Makanya, buruan ganti." Ara kemudian bangkit dari duduknya, menoleh ke arah Orion sebelum berjalan. "Bunda tunggu di bawah, kita makan bareng."

Orionnhanya mengangguk sekilas lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

•••

Altair masih terlelap meski sekarang sudah sangat sore. Seragam juga masih menempel pada tubuhnya, sehabis pulang tadi, Altair langsung masuk ke kamarnya kemudian tidur. Mama sudah membangunkannya, tetapi Altair tak bisa tidur dalam waktu yang sedikit.

Kalau teman-temannya bilang, Altair itu jagonya tidur. Apalagi jika sudah bertemu dengan tempat yang empuk dan menurutnya nyaman, tak sampai sepuluh menit ia bisa langsung tertidur pulas.

Vella -- Mama Altair --  membuka pintu kamar Altair, lalu menghampiri anak kesayangannya yang masih tertidur. Vella duduk di tepi kasur, menatap wajah putrinya yang begitu lugu saat tertidur. Ia merasa kasihan pada anak tunggalnya itu, karena harus merasakan hidup dalam keterbatasan dan tidak memiliki saudara.

Semua saudaranya membenci keluarga mereka. Hanya kakek dan nenek yang ada di pihak keluarga itu. Itu pun jika ingin memberi sesuatu kepada Altair, kakek dan neneknya harus lihai menyembunyikannya. Jika saudaranya ada yang mengetahui, Altair akan semakin di caci maki oleh saudaranya yang lain. Jadi, walaupun keluarga Altair dalam kesusahan, kakek dan neneknya tidak dapat membantu apa-apa.

Vella mendongakkan kepalanya saat merasa air matanya hampir menetes. Ini tidak benar, ia tak boleh terlihat sedih. Vella mengerjapkan matanya beberapa kali, setelah itu ia kembali menatap Altair.

"Tata, bangun nak. Sudah sore, mandi dulu." Vella menepuk pelan bahu Altair.

Altair yang mulai terusik, mengerjapkan matanya beberapa kali. "Jam berapa, Ma?" Tanya Altair dengan suara serak.

"Jam setengah lima, ayo bangun." Vella menarik paksa tangan anaknya, membuat Altair terpaksa bangun.

"Mama," protes Altair dengan wajah yang ia tekuk.

"Ayo mandi, keburu papa kamu pulang nanti, gantian kamar mandinya," ucap Vella seraya bangkit dari duduknya. Ia berjalan ke arah lemari pakaian Altair, tangannya mengambil handuk lalu kembali menghampiri Altair.

Altair turun dari ranjangnya dengan malas-malasan. Ia mengambil handuk yang berada ditangan mamanya, matanya masih belum terbuka sempurna.

Vella menggelengkan kepala melihat sikap anak semata wayangnya itu. "Buka matanya!" Vella menepuk pipi Altair sedikit kuat, membuat Altair kaget lalu memegang pipinya.

"Sakit, mama." rengeknya seperti anak kecil.

"Lagian, gak niat bangun. Anak gadis kok seperti itu. Mama bilangin Orion tahu rasa kamu, biar ditinggalin sekalian." omel Vella sambil berjalan keluar menuju pintu kamar Altair.

"Mama mah gitu, selalu bawa-bawa Orion," gerutu Altairbyang mengekor Mamanya keluar kamar.

"Sana, mandi! ngomel mulu dari tadi." Vella menatap tajam anaknya yang membuat Altair langsung terdiam dan berlari kecil ke kamar mandi.

•••

"Mau kemana, Rion?" Tanya Ara saat melihat Orion turun dari tangga, ia membawa sebuah jaket yang belum di pakai, serta kunci motor yang berada di tangan kanannya.

"Mau keluar, sebentar." Orion lalu menghampiri Bunda dan duduk di sebelahnya. Orion mengecup pipi sang adik yang berada dipangkuan Bunda kemudian menguyel-uyel pipi adiknya itu. Membuat Ara memberengut kesal.

"Sakit tau, adeknya," ujar Ara kesal.

"Hehe," cengir Orion.

"Jangan malam-malam, pulangnya." Ara mengingatkan putranya. Orion hanya mengangguk singkat kemudian berjalan menuju rak sepatu.

"Ke lumahnya kak Ata ya, bang?" tanya Ara dengan suara yang dibuat-buat.

"Altair, bukan Ata." Ralat Orion.

Ara -- bundanya tertawa.

"Aku mau ke tempatnya Riga, Bun."

"Kok nggak ke tempat Altair?"

"Memangnya kenapa?"

"Ya, engga apa-apa." Ara tertawa kecil.

"Besok aja. Pulang sekolah aku ajak dia ke sini lagi," ucap Orion sembari menyelesaikan ikatan sepatunya.

"Tata sehat 'kan, Rion?" Tanya Ara lagi.

"Sehat, Bunda." Ara menganggukkan kepalanya beberapa kali.

"Ya sudah, Bun. Aku pergi dulu," Orion segera bangkit dan mencium punggung tangan Ara.

"Iya, hati-hati."

.

.

.

.

Bersambung...

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • SOMETHING FOR SOMEONE (INDONESIA)   Dua

    "Saya tetap Orion yang mencintai Altair."⭐Seorang gadis tampak sedang berjalan kaki menuju ke arah halte bus dengan setelan seragam putih abu-abu. Kedua tangannya memegang tali tas dan berjalan sedikit menunduk. Entah itu gaya berjalan favoritnya atau ada hal lain yang membuatnya seperti itu, hanya ia lah yang mengetahuinya. Rambutnya yang tergerai memberi kesan cantik. Terlebih ia memakai sebuah jepit rambut yang berwarna putih, kontras dengan rambutnya yang berwarna hitam.Altair berjalan menyusuri pinggir jalan. Sedikit lagi, ia akan sampai di halte yang ia tuju. Setiap pagi selalu seperti itu, ia harus berjalan kaki dari rumah menuju halte lalu naik bus untuk sampai ke sekolah. Altair terkejut saat mendapati sebuah motor yang berhenti tepat didepannya. Pemilik motor itu lalu melepas helm yang ia kena

  • SOMETHING FOR SOMEONE (INDONESIA)   Satu

    Mereka bilang saya itu gadis egois.Mereka bilang saya itu gadis menyebalkan.Mereka bilang saya itu gadis cengeng.Mereka bilang saya itu gadis bodoh.Tapi, seegois-egoisnya saya.Saya tidak pernah mencoba memanfaatkan seseorang dengan mengatasnamakan rasa Cinta.⭐Sepasang remaja terlihat berjalan bersisian menuju ke ruang kelas. Mereka memang baru-baru ini menjalin hubungan. Jadi, kalau kata orang masih anget-angetnya untuk di gosipkan. Banyak siswa disekolah itu yang membicarakan keduanya. Terlebih si cowok yang notabene anak pemilik yayasan memacari seorang wanita yang bisa di bilang dari kalangan biasa saja.Keduanya terlihat mesra dengan jari jemari yang saling bertautan satu sama lain. Sesekali sang cewek berceloteh ria membuat cowok disebelahnya gemas sendiri."Rion, kamu tau gak?

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status