MasukAlena merasakan perubahan pada sifat sang atasan sejak beberapa menit lalu berubah drastis. Lebih banyak diam, setelah David Morgan pergi dari ruangan. Hanya dua sampai tiga patah kata saja yang keluar dari mulut sang atasan.
Tadi, pria itu sempat tersenyum dan menatapnya dengan hangat. Bahkan, memberikan perlakuan yang manis. Namun hanya bertahan sampai rekan bisnis pria itu tidak bersama mereka lagi.
Alena pun enggan semakin lama menghadapi sikap aneh ditunjukkan oleh Davae. Sepertinya ia harus memulai terlebih dahulu. Menciptakan sebuah topik pembicaraan. Entah apa yang harus dibahas, tidak terlalu dipikirkan dengan matang.
“Mr. Hernandez…,”
“Ada apa?” Davae menanggapi cepat. Namun tak memandang Alena. Asyik membaca dokumen. Namun, percayalah ia benar-benar sedang tidak dalam konsentrasi yang penuh.
“Rapat akan mulai lima belas menit lagi. Aku sarankan kau segera pergi ke ruangan rapat karena kau yang memimpin, jadi lebih baik kau sampai di sana, lima menit sebelum rapat dibuka.”
Davae mengangguk segera. “Baiklah, aku akan ke sana. Dan, kau tetap di sini. Seperti yang aku sudah katakan tadi. Kau masih mengingat dengan benar ucapanku bukan, Miss Feyord?"
"Kau harus menurut. Jangan membantahku."
“Maaf, Mr. Davae, apa yang kau inginkan? Aku tetap berada di sini? Di ruangan kerjamu? Aku tidak boleh ikut rapat? Bagaimana caraku untuk menjalankan tugasku nanti jika kau me—"
“Aku tidak akan mengubah keputusanku. Kau tetap berada di sini. Jangan ke mana-mana. Aku yang ke hanya akan menghadiri rapat. Aku tidak butuh kau menemaniku. Semua materi sudah aku kuasai. Dan, aku yakin bisa memberikan hasil yang terbaik sesuai rencana kita. Kau tidak usah khawatir."
"Sudah aku katakan jika aku tidak suka kau bantah. Kau hanya perlu menuruti apa yang aku perintahkan. Jangan memprotes. Kau paham, Miss Alena? Jika iya, beri balasan."
Alena tidak segera menjawab. Namun, tetap dipandang sosok Davae. Bayang kesal dan marah masih tampak jelas pada sepasang mata pria itu. Belum menampakkan adanya pengurangan. Ia juga ditatap dengan tajam. Benar-benar kontras akan biasa diperlihatkan oleh pria itu.
Alena pun kian sadar sikap yang tak bersahabat Davae kepadanya diakibatkan oleh peristiwa tadi. Kedatangan rekan pria itu ke ruangan kerja dan menunjukkan godaan kepada dirinya secara gamblang. Tak sopan sedikit pun. Ia bahkan tidak merasakan ketertarikan apa-apa ke David Morgan.
Benar, Davae masih cemburu. Sikap ditunjukkan pria itu sudah menjadi bukti yang nyata. Tak berusaha disembunyikan sang atasan darinya. Sengaja agar dirinya dapat mengetahui.
Mengetahui fakta ini, entah mengapa Alena menjadi senang. Harusnya, ia bereaksi yang biasa saja. Namun, kebahagiaan di dalam dirinya justru semakin membuncah saja atas sikap Davae. Setidaknya, ia semakin jelas tahu apa yang pria sedang rasakan padanya.
“Kau mengerti, Miss Alena? Kenapa hanya diam saja? Kau harus menaati perintahku. Aku tidak suka mendapatkan bantahan. Oke? Paham?"
Sikap Davae semakin menyebalkan. Terlebih cara pria itu mengatakan kalimat-kalimat dengan nada yang tegas. Walau, tak berisi ancaman. Tetap saja dirinya merasa bahwa tidak ada pilihan lain. Dan hal tersebut diputuskan sepihak saja oleh Davae.
Alena segera menggeleng. “Kenapa kau seenaknya saja mengaturku? Kau tahu sendiri jika aku yang mengerjakan semua rancangan belanja dan anggaran proyek tapi kenapa kau melarangku untuk ikut rapat? Kau jangan bersikap seenaknya saja. Lagipula sudah menjadi tuga—”
Alena tidak bisa melanjutkan kata hendak diucapkannya karena jari telunjuk tangan kanan sang atasan ditempatkan di permukaan bibirnya. Ingin sekali melawan, tetapi diurungkan karena menyaksikan tatapan Davae yang tak bisa diajak bersahabat. Ia bahkan sedikit merasa takut dilempar sorot mata semakin menusuk dan tajam. Aura dingin pria itu pun bertambah nyata.
Alena tidak bisa menunjukkan penolakan, ketika sang atasan menggendongnya. Memilih diam seraya melingkarkan kedua tangan di leher Davae dengan erat. Pikirannya sudah disita akan apa pria itu ingin lakukan untuk menumpahkan sisa rasa cemburu yang belum kunjung usai juga.
"Kau hanya akan bersamaku bukan, Sayang?"
Respons Alena berupa anggukan saja, tidak bisa memikirkan jawaban dalam bentuk kata-kata sebab ia sedang menghadapi keganasan kedua tangan sang atasan sedang menyingkap rok hitam yang digunakannya. Tak dilepas memang, tetapi tetap dapat memerlihatkan keseluruhan paha putihnya. Bahkan juga, celana dalam warna birunya.
Davae tengah memusatkan perhatian tepat ke arah sana. Cara pria itu memandang pun membuat dirinya menjadi tersipu. Terlebih lagi, posisi mereka terbilang cukup intim. Pria itu berada di antara kedua kakinya. Ia harus duduk mengangkang.
"Kau hanya akan untukku saja, Sayang?"
Lagi-lagi, Alena memberikan reaksi untuk apa yang ditanyakan Davae dengan anggukan saja. Ia masih tak bisa berpikir jernih, apalagi kata-kata manis dalam untaian kalimat panjang bernada godaan.
Difokuskan perhatian pada tangan besar Davae yang tengah digesek-gesekan di luar celana dalam berendanya. Menimbulkan sensasi semakin kacau untuk ketahanan akal sehatnya. Hasrat pun terus saja bangkit. Tak bisa dikendalikan sama sekali.
"Astaga!" Alena berseru dengan lumayan kencang dan kaget merasakan telapak tangan Davae yang hangat membelai di pusat areal sensitifnya.
Alena merasakan perubahan pada sifat sang atasan sejak beberapa menit lalu berubah drastis. Lebih banyak diam, setelah David Morgan pergi dari ruangan. Hanya dua sampai tiga patah kata saja yang keluar dari mulut sang atasan.Tadi, pria itu sempat tersenyum dan menatapnya dengan hangat. Bahkan, memberikan perlakuan yang manis. Namun hanya bertahan sampai rekan bisnis pria itu tidak bersama mereka lagi.Alena pun enggan semakin lama menghadapi sikap aneh ditunjukkan oleh Davae. Sepertinya ia harus memulai terlebih dahulu. Menciptakan sebuah topik pembicaraan. Entah apa yang harus dibahas, tidak terlalu dipikirkan dengan matang.“Mr. Hernandez…,”“Ada apa?” Davae menanggapi cepat. Namun tak memandang Alena. Asyik membaca dokumen. Namun, percayalah ia benar-benar sedang tidak dalam konsentrasi yang penuh.“Rapat akan mulai lima belas menit lagi. Aku sarankan kau segera pergi ke ruangan rapa
.............................."Kau pasti gagal memperoleh proyek besar jika kegiatanmu hanya memandangiku."Davae memperlebar senyuman, ketika Alena menatap balik dirinya. "Tidak akan gagal.""Aku mempunyai dirimu. Kau pasti memberi hasil terbaik dalam membantuku. Aku telah membayarmu mahal. Ingatlah Miss Alena. Kau harus menolongku," imbuhnya santai.Hari ini akan menjadi momen pertamanya dan Alena berbagi ruangan kerja. Benar, ia sudah mengangkat resmi wanita itu menjadi sekretaris pribadinya. Mereka berdua akan menghabiskan waktu bersama kurang lebih delapan jam setiap hari selama satu minggu.Ditambah pula dengan menetap dalam satu apartemen, maka ia dan Alena berinteraksi setiap saat. Sangat rasional jika rasa tertarik dan hasratnya melihat wanita itu semakin menjadi-jadi. Tidak mampu dikendalikan.Alena terus saja menggoda. Wanita itu selalu memiliki pesona tersendiri untukny
Berangkat dari apartemen mewah sang atasan saat waktu menunjukkan pukul sembilan pagi bersama dengan mengendarai mobil sport mahal dari Davae Hernandez menuju ke kantor pria itu. Mereka berdua hanya membutuhkan 30 menit untuk menempuh jarak. Tidak ada hambatan berarti terjadi, misalkan saja kemacetan yang panjang. New York cukup bisa diajaknya bersahabat pagi ini. Alena tentu berharap hingga nanti malam, kendaraan tidak padat di jalan."Bagaimana menurutmu, Miss Alena?"Alena segera mengalihkan pandangan dari julangan gedung besar dan berarsitektur modern, berlantai hampir dua puluhan yang baru saja dimasuki oleh kendaraan mewah kemudikan sang atasan. Ia pun menebak bahwa mereka akan menuju ke basement guna memarkirkan mobil sport Davae.Sebagai tanggapan atas pertanyaan diajukan oleh pria itu yang sudah mampu dimengerti maksudnya, kepala dianggukan dengan mantap. "Penilaianku?""Aku semak
Biasanya, Davae akan sedikit malas menyambut hari baru karena mengingat sejumlah laporan yang di kantor harus dituntaskan sampai malam. Namun, pagi ini sangat berbeda. Ia tidak terbebani dengan pikiran tentang pekerjaan. Hanya diisi oleh sosok Alena. Mulai dari senyuman manis hingga tubuh wanita itu yang seksi. Membuatnya ingin terus saja berimajinasi. Tetapi, berusaha untuk dikontrolnya.Dan, daripada harus berkhayal menerus dan juga menciptakan fantasi semakin liar, Davae memilih menikmati pemandangan manis yang nyata tengah tersaji di hadapannya berkaitan dengan Alena. Ya, wanita itu tengah memasak, memunggunginya.Barang satu menit pun, tak mampu ia mengalihkan fokus dari Alena. Walaupun, hanya bagian belakang tubuh wanita itu dapat diabadikan. Namun, sudah dapat membangkitkan gairahnya. Terutama, bokong dan pinggang ramping Alena yang ingin sekali ia peluk secara erat. Merebahkan kepala juga di salah satu bahu putih wanita itu. Pastinya
.........................."Makanlah cepat, walau rasanya tidak enak. Tapi, bisa mengganjal lapar. Sekarang kau yang memilih. Mau makan atau tidak," ujar Alena santai. Namun, tetap ada penekanan dalam kalimat-kalimatnya."Aku akan makan semua ini. Rasanya tidak buruk. Masih bisa diterima oleh lidahku. Hmm harus aku akui kau cukup pandai memasak. Ada bakat."Alena menyiapkan sarapan yang sederhana. Menu tidak cukup sulit untuk ia buat. Roti panggang serta omelet. Ditambah dengan segelas susu hangat. Dirasanya akan mampu mengisi perut dari Davae hingga jam makan siang nanti tiba saatnya.Tadi, sekitar 30 menit yang lalu, Alena pun sempat dilanda oleh perasaan kesal. Sebab, tugasnya bertambah yakni membuatkan makanan untuk Davae Hernandez. Kewajiban yang tidak pernah tertulis di dalam kontrak.Alena terus berperang dengan ego dan juga rasa iba. Pada akhirnya, ia tak ragu memilih kata hati. Alena berpik
"Bangun, Mr. Davae!" seru Alena dengan sengajanya dalam intonasi begitu kencang."Astaga, kau ternyata menyebalkan dan pemalas juga." Alena mengungkapkan sindiran. Ia kesal.Nyaris seperti berteriak. Insting meminta ia melakukan hal yang demikian agar Davae Hernandez segera bisa mengakhiri tidur lelap. Mengingat waktu bangun sudah ditentukan. Alena juga mengguncang-guncang tubuh klien tampannya itu dengan cukup keras.Tak akan ada pemberlakuan toleransi atas kemalasan yang ditunjukkan. Alena hanya berusaha menjalankan tugas sebagaimana mestinya. Jika tak sesuai, maka ia memiliki hak menegur. Tercantum jelas di kontrak."Ckck. Kau tidak mendengarkanku?" gumam Alena kesal karena tak mendapat respons.Davae masih tetap tertidur, bahkan sekalipun tidak bergerak. Sungguh, pria itu menciptakan kesan negatif pada dirinya dan ampuh mengurangi kekaguman ia miliki.Berkaitan dengan sifat. Jik