MasukBerangkat dari apartemen mewah sang atasan saat waktu menunjukkan pukul sembilan pagi bersama dengan mengendarai mobil sport mahal dari Davae Hernandez menuju ke kantor pria itu. Mereka berdua hanya membutuhkan 30 menit untuk menempuh jarak. Tidak ada hambatan berarti terjadi, misalkan saja kemacetan yang panjang. New York cukup bisa diajaknya bersahabat pagi ini. Alena tentu berharap hingga nanti malam, kendaraan tidak padat di jalan.
"Bagaimana menurutmu, Miss Alena?"
Alena segera mengalihkan pandangan dari julangan gedung besar dan berarsitektur modern, berlantai hampir dua puluhan yang baru saja dimasuki oleh kendaraan mewah kemudikan sang atasan. Ia pun menebak bahwa mereka akan menuju ke basement guna memarkirkan mobil sport Davae.
Sebagai tanggapan atas pertanyaan diajukan oleh pria itu yang sudah mampu dimengerti maksudnya, kepala dianggukan dengan mantap. "Penilaianku?"
"Aku semakin yakin kau adalah pria tampan dengan kekayaan yang melimpah. Dan, kau juga menjadi pewaris tunggal dari perusahaan ini bukan?" tanya Alena dengan gaya bicara santai, tak ada beban.
"Hahaha. Terima kasih atas pujianmu, Miss Alena. Kau memuji tidak berlebihan. Sesuai dengan fakta. Itu mengapa aku semakin suka kepadamu saja."
Alena tertawa, walau terkesan sedikit dipaksakan agar terluncur cukup kencang. Masih dipusatkannya tatapan pada sosok Davae Hernandez. Saat tertawa, pria itu tambah menawan. Hatinya dibuat bergetar.
"Kau semakin menyukaiku? Padahal, kita belum kenal lama. Baru satu hari. Tapi, kau sudah dapat menunjukkan ketertarikan semakin besar kepadaku. Dan, aku takut jika kurang dari satu bulan kau akan bisa jatuh cinta padaku. Wow, aku pasti kaget."
Davae berupaya menahan diri cukup keras agar tak mengeluarkan tawa segera. Bagaimana pun, harus tetap berkonsentrasi penuh dan fokus sebab tengah memarkirkan mobilnya. Ia tidak ingin sampai salah.
Dan, setelah menemukan posisi yang tepat, dengan cepat mesin kendaraan mewahnya dimatikan. Lalu, ia menolehkan kepalanya ke samping, yakni pada sosok Alena. Senyuman lebar masih mengembang. Tidak berapa lama kemudian, gelakan pun lolos.
Reaksi yang ditunjukkannya tentu mendapat rasa heran dari Alena, tampak nyata pada ekspresi serta tatapan wanita itu memandangnya. Namun, tetap saja memikat. Ia harus mampu dalam mengontrol diri untuk menyecap bibir ranum merah Alena.
"Mr. Davae…,"
Mendengar panggilan dari wanita itu yang begitu lembut, maka Davae berupaya dengan cepat untuk meredam tawanya. Berhasil dilakukan hanya dalam waktu beberapa detik saja. Lalu, kepala terangguk sembari melebarkan senyuman pada Alena.
"Ada apa, Miss Alena?" konfirmasinya dalam nada suara yang dibuat seksi, walau teralun berat.
"Katakan saja barang-barang ingin kau mau, akan aku belikan nanti sore, setelah selesai bekerja."
Alena pun meloloskan kekehannya seraya kedua tangan ditempatkan di masing-masing pipi Davae. Ia merasa gemas saja dengan ekspresi dan tentu juga cara pria itu dalam berkata. Senang sudah pasti mendapatkan tawaran yang demikian.
"Kau memang yang terbaik, Mr. Davae. Tapi, aku tidak ingin membeli apa-apa. Terima kasih," jawab Alena dengan suara lembut. Tetap diberi olehnya penekanan agar lebih memperjelas makna.
"Kenapa tidak, Sayang? Apakah kau berpikir jika aku membelikanmu barang-barang, aku akan minta kau malam ini juga tidur denganmu? Tidak begitu."
Alena mengencangkan tawanya sembari kepala digeleng-gelengkan. "Aku sama sekali tidak punya kesimpulan seperti yang baru kau sampaikan."
"Aku memang sedang tidak ingin membeli apa pun. Jika nanti aku mau berbelanja, aku akan gunakan uangku yang sudah kau berikan sebagai bayaran. Aku tidak akan menagih padamu, Mr. Davae."
Alena memerlihatkan lebih lebar lagi senyuman menggodanya. "Lagipula, aku pasti tidur bersama kau, Bos. Sesuai kesepakatan di antara kita."
"Sekalipun kau tidak membelanjaku barang-barang mewah. Aku masih ingin bercinta denganmu. Aku semakin menginginkan kau saja, Mr. Davae."
Davae segera menangkap tangan kanan Alena yang bergerak di atas kemejanya. Seringaian pun ditampakkan. "Jadi, apakah kita perlu memajukan waktu kita untuk bercinta? Misalkan malam ini."
Kemudian, dipegang tangan Alena. Diberikannya genggaman yang kuat saat mengangkat menuju ke wajah. Kecupan lembut beberapa kali dilakukan pada telapak tangan Alena yang begitu halus. Ia tak menghentikan kontak matanya dan wanita itu.
"Aku juga sangat menginginkanmu bersamaku bercinta yang panas. Pasti akan menyenangkan dan panas, Sayang." Davae melancarkan kalimat godaan guna meyakinkan ajakan ke Alena.
Wajahnya lantas didekatkan. "Aku sudah siapkan permainan yang dahsyat untuk kita berdua."
Alena merasakan perubahan pada sifat sang atasan sejak beberapa menit lalu berubah drastis. Lebih banyak diam, setelah David Morgan pergi dari ruangan. Hanya dua sampai tiga patah kata saja yang keluar dari mulut sang atasan.Tadi, pria itu sempat tersenyum dan menatapnya dengan hangat. Bahkan, memberikan perlakuan yang manis. Namun hanya bertahan sampai rekan bisnis pria itu tidak bersama mereka lagi.Alena pun enggan semakin lama menghadapi sikap aneh ditunjukkan oleh Davae. Sepertinya ia harus memulai terlebih dahulu. Menciptakan sebuah topik pembicaraan. Entah apa yang harus dibahas, tidak terlalu dipikirkan dengan matang.“Mr. Hernandez…,”“Ada apa?” Davae menanggapi cepat. Namun tak memandang Alena. Asyik membaca dokumen. Namun, percayalah ia benar-benar sedang tidak dalam konsentrasi yang penuh.“Rapat akan mulai lima belas menit lagi. Aku sarankan kau segera pergi ke ruangan rapa
.............................."Kau pasti gagal memperoleh proyek besar jika kegiatanmu hanya memandangiku."Davae memperlebar senyuman, ketika Alena menatap balik dirinya. "Tidak akan gagal.""Aku mempunyai dirimu. Kau pasti memberi hasil terbaik dalam membantuku. Aku telah membayarmu mahal. Ingatlah Miss Alena. Kau harus menolongku," imbuhnya santai.Hari ini akan menjadi momen pertamanya dan Alena berbagi ruangan kerja. Benar, ia sudah mengangkat resmi wanita itu menjadi sekretaris pribadinya. Mereka berdua akan menghabiskan waktu bersama kurang lebih delapan jam setiap hari selama satu minggu.Ditambah pula dengan menetap dalam satu apartemen, maka ia dan Alena berinteraksi setiap saat. Sangat rasional jika rasa tertarik dan hasratnya melihat wanita itu semakin menjadi-jadi. Tidak mampu dikendalikan.Alena terus saja menggoda. Wanita itu selalu memiliki pesona tersendiri untukny
Berangkat dari apartemen mewah sang atasan saat waktu menunjukkan pukul sembilan pagi bersama dengan mengendarai mobil sport mahal dari Davae Hernandez menuju ke kantor pria itu. Mereka berdua hanya membutuhkan 30 menit untuk menempuh jarak. Tidak ada hambatan berarti terjadi, misalkan saja kemacetan yang panjang. New York cukup bisa diajaknya bersahabat pagi ini. Alena tentu berharap hingga nanti malam, kendaraan tidak padat di jalan."Bagaimana menurutmu, Miss Alena?"Alena segera mengalihkan pandangan dari julangan gedung besar dan berarsitektur modern, berlantai hampir dua puluhan yang baru saja dimasuki oleh kendaraan mewah kemudikan sang atasan. Ia pun menebak bahwa mereka akan menuju ke basement guna memarkirkan mobil sport Davae.Sebagai tanggapan atas pertanyaan diajukan oleh pria itu yang sudah mampu dimengerti maksudnya, kepala dianggukan dengan mantap. "Penilaianku?""Aku semak
Biasanya, Davae akan sedikit malas menyambut hari baru karena mengingat sejumlah laporan yang di kantor harus dituntaskan sampai malam. Namun, pagi ini sangat berbeda. Ia tidak terbebani dengan pikiran tentang pekerjaan. Hanya diisi oleh sosok Alena. Mulai dari senyuman manis hingga tubuh wanita itu yang seksi. Membuatnya ingin terus saja berimajinasi. Tetapi, berusaha untuk dikontrolnya.Dan, daripada harus berkhayal menerus dan juga menciptakan fantasi semakin liar, Davae memilih menikmati pemandangan manis yang nyata tengah tersaji di hadapannya berkaitan dengan Alena. Ya, wanita itu tengah memasak, memunggunginya.Barang satu menit pun, tak mampu ia mengalihkan fokus dari Alena. Walaupun, hanya bagian belakang tubuh wanita itu dapat diabadikan. Namun, sudah dapat membangkitkan gairahnya. Terutama, bokong dan pinggang ramping Alena yang ingin sekali ia peluk secara erat. Merebahkan kepala juga di salah satu bahu putih wanita itu. Pastinya
.........................."Makanlah cepat, walau rasanya tidak enak. Tapi, bisa mengganjal lapar. Sekarang kau yang memilih. Mau makan atau tidak," ujar Alena santai. Namun, tetap ada penekanan dalam kalimat-kalimatnya."Aku akan makan semua ini. Rasanya tidak buruk. Masih bisa diterima oleh lidahku. Hmm harus aku akui kau cukup pandai memasak. Ada bakat."Alena menyiapkan sarapan yang sederhana. Menu tidak cukup sulit untuk ia buat. Roti panggang serta omelet. Ditambah dengan segelas susu hangat. Dirasanya akan mampu mengisi perut dari Davae hingga jam makan siang nanti tiba saatnya.Tadi, sekitar 30 menit yang lalu, Alena pun sempat dilanda oleh perasaan kesal. Sebab, tugasnya bertambah yakni membuatkan makanan untuk Davae Hernandez. Kewajiban yang tidak pernah tertulis di dalam kontrak.Alena terus berperang dengan ego dan juga rasa iba. Pada akhirnya, ia tak ragu memilih kata hati. Alena berpik
"Bangun, Mr. Davae!" seru Alena dengan sengajanya dalam intonasi begitu kencang."Astaga, kau ternyata menyebalkan dan pemalas juga." Alena mengungkapkan sindiran. Ia kesal.Nyaris seperti berteriak. Insting meminta ia melakukan hal yang demikian agar Davae Hernandez segera bisa mengakhiri tidur lelap. Mengingat waktu bangun sudah ditentukan. Alena juga mengguncang-guncang tubuh klien tampannya itu dengan cukup keras.Tak akan ada pemberlakuan toleransi atas kemalasan yang ditunjukkan. Alena hanya berusaha menjalankan tugas sebagaimana mestinya. Jika tak sesuai, maka ia memiliki hak menegur. Tercantum jelas di kontrak."Ckck. Kau tidak mendengarkanku?" gumam Alena kesal karena tak mendapat respons.Davae masih tetap tertidur, bahkan sekalipun tidak bergerak. Sungguh, pria itu menciptakan kesan negatif pada dirinya dan ampuh mengurangi kekaguman ia miliki.Berkaitan dengan sifat. Jik