LOGIN
Sean menggeram tertahan lantaran menyaksikan adik satu-satunya mengenakan rok seragam sekolah sebatas paha, menampilkan kulit mulus tanpa cacat sedikit pun. Sean ingin sekali mengomeli Joana pagi ini, menyuruh mengganti ke seragam yang lebih sopan, tetapi ia urungkan lantaran melihat binar bahagia di mata sang adik. Sean tidak ingin menghancurkan mood si bungsu dan juga tidak ingin memulai hari dengan buruk.Untuk hari ini, ia akan memberi kelonggaran, tetapi tidak lain kali! Adiknya bukan barang pajangan yang bebas dilihat dan disentuh oleh siapa saja.“Pagi, Abang.” Joana mengecup pipi Sean dengan lembut sembari tersenyum. Lantas duduk di kursi kosong.Joana menghela napas pelan saat Mbok Rahma memberikan roti berisi selai stroberi dan susu hangat. Joana tidak suka aroma dan rasa stroberi, tetapi ia tidak punya pilihan lain selain menikmati. Kata Sean, itu adalah buah kesukaan Joana, tetapi Joana merasa itu adalah buah yang paling ia benci di
“Aku hamil!” Sean terbangun dari tidurnya dengan napas memburu bersamaan dengan air matanya yang mengalir dari sudut mata. Mimpi yang sama dengan kalimat yang sama, selalu datang tiap ia terlelap. Mimpi yang menghantuinya sejak setahun lalu!Wajah gadis cantik di mimpinya itu tidak berubah sama sekali. Hanya wajah pucat dengan rambut acak-acakan, daster warna biru langit yang bercampur dengan bercak merah menandakan jika si bidadari berada dalam kekelaman dunia. Tangan yang memegang pisau sembari terduduk di lantai bersandar pada lemari kayu.“Argh!” Sean mengusap wajahnya frustrasi. Di sudut hatinya banyak hal yang ia rasakan. Amarah, kebencian, kekecewaan dan rasa bersalah bercampur menjadi satu, menghantamnya tanpa ampun, hingga untuk bergerak dari poros hidup yang sudah ia bentuk sejak dulu terlalu sulit.Sean telah terluka sedalam samudera!&ldq