LOGINRahacinta Benaya tidak pernah berpikir bila pertemuan dengan Bree Ganapatih, calon adik ipar, mampu mengubah sudut pandangnya menganai cinta. Dia pernah bertanya apakah bahagia itu bila kamu tersenyum saat diminta kekasihmu? Bersama Bree dan mengenalnya sejak kedatangannya di Indonesia satu minggu yang lalu nyatanya membuatnya menyadari satu hal, bahwa; cinta memang buta dan dia merasa tidak bisa mengendalikan diri saat bersama dengan calon adik iparnya sendiri. Fahira, nama itu selalu terngiang dan menduduki benaknya, merongrongnya dengan perasaan bersalah teramat sangat, akan tetapi, perasaan yang sudah tumbuh tidak bisa dihapuskan. "Aku yang buta karena cinta, ataukah Cinta yang membutakanku."-Bree-
View MoreDengan dalih, aku mama yang mengandung dan melahirkanmu. Seakan membuat posisi Yuma, mendiang mama, setara dengan Sang Pencipta, hingga rasa-rasanya semua ucapannya adalah sebuah titah yang tidak boleh digugat, merasa paling benar, dan bisa mengatur keturunannya sesuka hati. Nasib anak berada dalam kuasanya.Mama ….Kembali, senyum miris tersumir tipis menghiasi wajah manisnya. Segelas kopi dengan kepulan uap yang tak lagi menguasai udara sebab suhu terlalu dingin sehingga malam ini mereka, di antara orang-orang yang berkerumun itu menghangatkan badan dengan kopi sembari mendekat pada unggun yang dibuat
Bila sudah malam suasana di sekitar ternyata lumayan ramai, buktinya Surya—gadis kenalan pertama Bree datang ke rumah untuk memberikan minuman hangat dan makanan yang Cinta pastikan baru dituang dari penanak. Bree tidak membiarkan Cinta sendirian di rumah tetapi juga tidak mengizinkannya keluar. Selain karena suhu udara yang rendah pun karena dirinya tidak boleh banyak bergerak. Cinta sampai gemas melihat betapa tidak masuk akalnya sikap Bree yang sudah berlebihan. Selain itu, lelaki jangkung yang kini melapisi tubuhnya dengan jaket tebal yang memang sudah ada di dalam mobil, kini terlihat sibuk menata makanan dengan berbagai menu—hasil pemberian warga sekitar yang begitu ramah menyambut sang bintang.
Sudah beranjak dari kata siang saat cakrawala berubah warna menjadi kekuningan, Cinta melirik benda yang melingkar pada pergelangan kirinya. Pukul empat sore ternyata. Keinginan pulang begitu kuat dirasakan selain karena pekerjaan yang melambai-lambai ingin segera diselesaikan pun dengan situasi saat ini. Berada di puncak bukit, entah nama desa ini apa, yang jelas ketika si pemilik rumah sudah lenyap dari pandangan, dia dan Bree menikmati waktu sejenak. Pemandangan hijau terhampar begitu memanjakan mata ketika memandang.Jika di depan tadi mereka disambut dengan halaman hijau yang menyejukkan maka setelah berada di belakang bangunan rumah—yang juga terdapat banyak sekali tumbuhan—Cinta bisa menikmati suguhan bukit bertabur warna hijau dan kuning. Ya, Cinta pikir awalnya lingkungan di sekitar menjadi salah satu komoditas apel seperti yang diketahuinya di daerah Batu. Di sini sebagian masyarakat bahkan mungkin sembilan puluh perse
Pagi-pagi Cinta sudah berada di meja, duduk di kursi yang sama dengan puluhan hari kemarin. Menikmati menu selembar roti tanpa isi, karena telurnya habis, dan secangkir kopi pahit yang uapnya masih mengepul hebat. Bree tidak terlihat di manapun, Cinta pikir lelaki itu sedang berjalan-jalan di halaman karena daun pintu di ruang tamu terbuka.Selembar koran pagi mengenai kasus penjambretan mengisi halaman pertama, di mana seorang ibu-ibu harus kehilangan tangan kanannya karena perampok menggunakan senjata tajam untuk menaklukkan lawannya sedangkan benda yang diambil berupa tas yang isinya dompet dengan uang tidak lebih dari seratus ribu rupiah berhasil dijarah.