Share

Chapter - 4

Author: Megan Fe
last update publish date: 2020-09-23 23:58:35

Setelah Antonio keluar dari kamarnya, Serena merasakan kemarahan dalam dirinya memuncak. “Keluar.”

Maria tercengang mendengar kalimat pertama yang terucap dari bibir Serena semenjak gadis itu tiba di rumah ini. “Ren, ada apa?”

“Aku bilang keluar!” Teriaknya.

“Calon suamimu sebentar lagi tiba. Lihat, sudah hampir jam 7 malam.” Maria masih membujuk Serena agar segera menyelesaikan riasannya. “Sudah hampir selesai. Lila akan melakukan sesuatu pada rambutmu.”

“Keluarlah Maria! Aku bisa melakukannya.” Bentak Serena hingga membuat ketiga wanita itu berpandangan. Maria menghela napas dan mengedikkan kepala pada Sora dan Lila.

“Baiklah, aku yakin kau bisa menyelesaikan semuanya.” Maria memegang kedua pundak Serena lalu ia melangkah untuk keluar dari kamar itu walaupun tidak tahu kenapa tiba – tiba Serena bersikap seperti itu. “Ayo Sora, Lila. Biarkan Serena menikmati waktunya sendiri.” Lalu mereka bertiga meninggalkan Serena sendirian di dalam kamar yang tertutup.

Serena berdiri dari meja riasnya menuju lemari. Ia menarik sepasang pakaian tidur longgar dan segera mengganti gaun cantik itu dengan marah. Ia tidak sudi untuk memuaskan keinginan ayahnya dengan memamerkan dirinya yang berpenampilan sempurna. Ia akan membuat pria asing itu kecewa dan berbalik dari perjanjian yang mereka berdua ciptakan.

“Dasar bajingan mereka semua!” Umpat Serena sambil mengenakan pakaian tidur bermotif sapi itu. “Mereka pikir dapat menjual hidupku demi tahta kerajaan mafia terkutuk ini, hah?”

Serena ke kamar mandi dan mencuci muka yang sudah Sora rias sebelumnya. Lalu ia mengambil ikat rambut untuk mengikat rambutnya secara asal sambil berjalan menuju tempat tidurnya. “Aku tidak akan memberikan apa yang kalian mau.” Ujar Serena dengan kesal.

Seharusnya ia tahu bahwa Antonio tidak akan pernah memikirkan kebahagiaan dirinya.

Serena berbaring di tempat tidurnya dengan selimut menutupi seluruh badannya sekitar dua puluh menit sampai akhirnya seseorang mengetuk pintu kamarnya.

Ia tidak menjawab sehingga membuat orang itu masuk. Lila melongokkan kepalanya ke dalam kamar untuk memanggil Serena.

“Nona, tuan Lucien sudah datang. Tuan Antonio meminta saya menjemput anda ke ruang makan.” Lila berkata sambil membelalakkan matanya saat melihat Serena tengah berbaring di atas kasur. Ia khawatir gaun yang dikenakan Serena akan menjadi kusut dan rambutnya berantakan. Lila menghampirinya karena melihat Serena sama sekali tidak bergerak dan mengabaikannya.

“Nona, pakaian dan riasanmu akan berantakan jika berbaring seperti ini.” Tangan Lila menarik selimut yang menutupi tubuh Serena hingga membuat Serena kesal karena telah diganggu.

Lila terkesiap saat melihat Serena telah mengganti gaunnya dengan pakaian tidur konyolnya itu. Wanita itu bahkan menghapus riasan yang tadi ia bubuhkan di wajahnya. “Nona, mengapa anda melakukan itu? Tuan Antonio dan tuan Lucien pasti akan kecewa melihat anda seperti ini pada pertemuan penting.”

Ucapan Lila justru membuat Serena tersenyum. “Kalau begitu, mari kita buat mereka berdua lebih kecewa lagi, Lila.”

Serena bangkit dari tempat tidurnya dan mengenakan sandal rumah yang berbulu imut itu. Ia menuruni tangga dengan Lila mengikutinya panik di belakang. “Tunggu nona. Anda tidak seharusnya muncul dengan penampilan seperti itu.”

Serena mendengar itu dan semakin ingin tertawa dan bersemangat menuju ruang makan tempat di mana mereka semua menunggu dirinya.

“Nona!” Teriak Lila masih berusaha mengejarnya. Karena tahu ia akan gagal menghentikan Serena, Lila berteriak memanggil bantuan. “Maria!”

Maria yang sedang berada di dalam ruang makan menyajikan hidangan untuk tamu spesial malam ini mendengar teriakan Lila. Ia mengerutkan kening dan kesal pada Lila karena wanita itu berteriak di saat ada tamu undangan. Antonio dan Lucien pun bahkan mendengar teriakan seorang gadis itu.

“Maria, mengapa pelayanmu bersikap tidak sopan begitu saat ada tamu?!” Antonio menegur Maria karena Lila membuat onar.

“Aku tidak tahu, tuan. Sebentar aku lihat dulu.” Maria memang terkadang memanggil Antonio dengan sebutan tuan pada saat kesempatan tertentu seperti saat ini contohnya. Namun tidak jarang ia memanggil pria itu hanya dengan sebutan nama saking sudah lamanya ia bekerja pada keluarga ini.

Saat Maria bergegas keluar dari ruang makan untuk melihat apa yang Lila ributkan, Maria justru kaget karena bersamaan dengan itu ia melihat Serena datang memasuki ruangan. Yang membuat ia tercengang adalah gadis itu telah menanggalkan gaun yang tadi sudah ia pilih dan menggantinya dengan baju tidur bermotif tolol. Serena bahkan menghapus riasan tipis dan mengikat rambutnya dengan asal. “Serena!” Bisik Maria sambil menarik Serena. Tapi Serena menghempaskan lengan Maria dari tangannya dan ia terus melangkah menuju kursi kosong di sebelah ayahnya.

Ayahnya sudah tahu Serena pasti akan mengacau di pertemuan kali ini. Walaupun ia tidak mengira Serena mengacau lebih awal dengan penampilannya yang seperti ini. “Sayang, mengapa kau berpenampilan seperti ini saat ada calon suamimu datang untuk bertemu denganmu?” Tanya Antonio dengan tenang.

Serena yang sudah duduk di kursinya lantas melayangkan pandangan pada pria yang ayahnya sebut sebagai calon suami.

Pada detik itulah Serena terkejut pada penampilan pria itu.

Pria itu memiliki wajah tertampan yang pernah ia lihat, walaupun ia merasa mata pria itu mempunyai aura dingin dan bengis namun alis yang melengkung indah di atas kedua mata itu dapat menyeimbangkan aura menakutkan yang terpancar darinya. Mata itu menyorot tajam memperhatikan dirinya sehingga Serena kewalahan untuk tidak bereaksi apapun dan tetap menjaga ekspresinya sedatar mungkin.

Pria itu mengenakan kemeja yang membalut tubuhnya dengan pas, menampilkan otot bersembulan di balik kain itu. Serena dapat membayangkan seberapa keras tubuh pria itu jika ia menelusurkan jarinya di sana. Pria ini berbahaya! Semakin lama ia semakin terpikat pada penampilan fisiknya. Ia harus segera mengalihkan perhatiannya dari pria itu sebelum ia tertarik lebih jauh. Bagaimanapun pria itu sama liciknya dengan Antonio. Mereka berdua merupakan spesies manusia yang sama, yang lebih mementingkan kekuasaannya dibandingkan hidupnya.

“Sayang, ayo sapa calon suamimu.” Perintah Antonio. Ia bersyukur pria tua itu menyadarkan Serena dari keterpanaanya pada Lucien. Sehingga ia dapat kembali menenangkan dirinya dan terlihat bosan menanggapi ayahnya, seperti biasa.

Serena bersandar pada kursi makan bersandaran tinggi itu. Mengistirahatkan kepalanya.

Antonio mengusap kepalanya dengan tangan kirinya. “Baiklah jika kau tidak mau. Kau bisa mulai makan saja sekarang.” Antonio memanggil Maria untuk menyiapkan makanan untuk putrinya sementara Lucien masih memandangi Serena semenjak pertama kali mata mereka bertaut.

Lucien mencari celah dari gadis itu. namun, ia tidak menemukan kekurangan dari wanita bernama Serena tersebut. satu – satunya kekurangan yang gadis itu miliki adalah akal pikirannya. Seandainya Serena tidak gila, ia pasti akan dengan senang hati menikahi gadis itu. walaupun saat ini ia juga memang sudah bertekad untuk menerima perjodohan yang ditawarkan Antonio. Namun, jika Serena waras ia akan menganggap wanita itu sebagai istri sungguhannya setelah mereka menikah. Sayang sekali wanita secantik ini harus memiliki gangguan jiwa.

Tiba – tiba saja ia merasa sedikit kecewa karena Serena gila. Padahal sebelumnya ia sudah bersiap untuk menerima kondisi mental gadis yang belum pernah ia temui. Setelah melihat bagaimana cantiknya Serena, hatinya dihinggapi rasa kecewa yang berlebihan dibandingkan saat pertama ia tahu mengenai hal ini dari mulut Andrew.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • The Italian Mafia (Indonesia)   Chapter - 4

    Setelah Antonio keluar dari kamarnya, Serena merasakan kemarahan dalam dirinya memuncak. “Keluar.”Maria tercengang mendengar kalimat pertama yang terucap dari bibir Serena semenjak gadis itu tiba di rumah ini. “Ren, ada apa?”“Aku bilang keluar!” Teriaknya.“Calon suamimu sebentar lagi tiba. Lihat, sudah hampir jam 7 malam.” Maria masih membujuk Serena agar segera menyelesaikan riasannya. “Sudah hampir selesai. Lila akan melakukan sesuatu pada rambutmu.”“Keluarlah Maria! Aku bisa melakukannya.” Bentak Serena hingga membuat ketiga wanita itu berpandangan. Maria menghela napas dan mengedikkan kepala pada Sora dan Lila.

  • The Italian Mafia (Indonesia)   Chapter - 3

    Serena, atau yang akrab dipanggil Ren adalah seorang putri ketua mafia nomor satu di seluruh negara bagian Amerika Serikat. Ayahnya memimpin kelompok mafia tertua seantero benua ini, namun kini pria itu sudah berniat untuk lengser dari posisinya mengingat sudah menginjak usia ke enam puluh. Antonio, pria tua bangka itu dengan hati – hati memilih calon penerus tahta kekuasaannya yang telah ia duduki selama hampir tiga puluh tahun.Satu hal yang disayangkan Antonio adalah, ia tidak memiliki anak laki – laki yang dapat ia wariskan tahtanya. Satu – satunya anak yang ia miliki adalah Serena. Gadis itu memiliki wajah bak dewi yunani, cantik hingga nyaris membuat pria manapun yang melihat ingin memilikinya. Bentuk tubuh sensualnya membuat decak kagum kaum pria maupun wanita. Rambut berwarna cokelat keemasannya menambah kesan seksi sekaligus melembutkan wajah wanita itu. Be

  • The Italian Mafia (Indonesia)   Chapter - 2

    Lucien Salvatore, pria kelahiran California yang berdarah setengah Italia berumur 32 tahun itu merenungkan perkataan Antonio sepanjang perjalanannya menuju rumah. Dengan posisinya saat ini, sebagai ketua mafia terbesar di California tentu bukan hal yang mustahil untuk menjadi seperti Antonio. Penguasa Amerika Serikat (AS). Namun pertanyaannya adalah kapan ia akan menjadi seperti itu? Antonio menguasai AS sekitar sepuluh tahun lalu. Itu artinya saat Antonio berusia 50 tahun. Apa ia juga harus menunggu sekitar 20 tahun untuk menguasai apa yang telah Antonio capai?Ah, itu terlalu lama. Belum tentu hidupnya akan mencapai umur setua itu. Jika dilihat dari banyaknya musuh yang ingin membunuhnya, bisa bertahan hingga saat ini pun ia sudah termasuk beruntung. Jadi, apakah ia harus menerima tawaran Antonio untuk duduk di singgasana pria itu tanpa

  • The Italian Mafia (Indonesia)   chapter - 1

    Di dalam ruang makan dengan meja panjang berisikan dua belas kursi itu, Antonio duduk di ujung kepala meja dengan seorang pria berumur tiga puluhan di samping kanannya. Di meja itu terhidang berbagai macam makanan untuk menjamu sang tamu yang hanya seorang diri.Tamunya tidak menyentuh makanannya sama sekali, sementara Antonio sudah melahap steak yang dibuat oleh koki rumahnya. Dengan tenang, pria tua itu mengiris daging sapi itu sebelum memakannya. “Mengapa kau tidak makan?” Tanya Antonio tanpa mengalihkan wajah dari piringnya.Pria tersebut memiringkan senyumnya. “Aku tidak berselera makan hingga kau memberi tahuku apa maksud undanganmu hari ini.”“Kalau begitu tunggulah sebentar lagi. Aku akan menikmati makananku terlebih dahulu.” Ujar Ant

  • The Italian Mafia (Indonesia)   Prolog

    Lucien kesal pada Serena, istrinya. Hari ini Serena berdandan layaknya putri raja dan seperti sengaja mengenakan pakaian yang begitu mempertontonkan bagian tubuh indahnya sehingga mencuri perhatian semua tamu yang hadir di pestanya.Ia sudah meminta pelayan untuk mengawasi Serena agar tidak keluar dari dalam kamar tapi saat ia sedang menikmati hidangan bersama tamu dan rekannya, wanita itu justru menuruni tangga dengan penampilan memukau dan bahkan berani menggoda salah satu tamu pria di depan matanya. Pria itu bahkan tidak berusaha untuk mengalihkan pandangannya dan justru menanggapi permainan Serena dengan senang hati.Sialan!Tangannya mengepal saat menghampiri mereka berdua. Kepalan tinjunya terayun dengan cepat pada wajah pria itu yang tampak terkejut karena tiba – t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status