INICIAR SESIÓN
“Nduk?” Aku memintanya duduk diatas pangkuan. Dia tersenyum manis dan melipat sajadahnya setelah magrib. Ucapanku akan mematahkan hatinya, mungkin menghancurkan hidupnya juga.&
Seandainya aku ini Sawitri yang dengan bertapa saja bisa menaklukkan Bathara Yama dan membuatnya mengabulkan segala pinta. Kisah Sawitri yang pernah kubaca di salah satu buku sastra jawa, berkisah tentang pendidikan seorang istri yang harus rela berkorban dan ikhlas dalam segala hal ketika sudah berumah tangga.
Pagi ini langit tak secerah biasanya. Tetes bening berjatuhan dari langit, membasahi bumi seperti tangisan semesta. Hujan ringan yang mengguyur kota Malang, bagai kelambu berlian yang menjuntai indah di udara. Melunturkan kesedihan yang terpatri di dalam pikiran seorang hamba. Membawa embusan angin dingin yang menggigil, mengulitinya meninggalkan bekas perih yang kentara.
Ibu mertua, datang menghampiri di sela aku menunggu di depan kamar operasi, wanita itu duduk tepat di samping kanan, sambil tersenyum, “Le, ibu tahu. Dalam setiap rumah tangga perlu hadirnya seorang anak keturunan, kalian sudah memilih jalan ini, ibu harap agar kamu tidak mundur atau malah lari meninggalkan Zea. Dia putri kami, dan kamu adalah suaminya. Cinta kami dan cintamu kepadanya sama besar ....”
Tak perlu pergi untuk dicari, tak perlu lari agar ia menghampiri.Berjuang tak sebercanda itu.
Suatu siang, di saat kesibukan jadwal Imtihan, sebuah acara puncak setelah ujian akhir semester dan persiapan ziarah wali songo yang tiap akhir tahun pelajaran, kami selenggarakan menjadi puncak lelahku.Memaksa pulang kembali ke rumah, membuat Mbak Rom menatapku cemas, “