LOGINTidak pernah ia bayangkan akan menikah kembali setelah badai bernama anak yang tidak akan datang menerpa rumah tangganya, bukan mau dirinya membagi diri, bukan keinginannya membelah raga dan jiwa serta bahkan hati demi sepenggal kata 'Ayah', tetapi demi permohonan sang ibunda tercinta, mau tak mau Habibi membagi raganya. Menikahi salah seorang perempuan yang dipilih sendiri oleh sang istri tercinta. Malam itu, seharusnya menjadi malam sakral di mana tidak hanya raganya yang bergerak menjauh tetapi juga hati yang seharusnya dibagi sama rata. Namun, bayang sang istri menghantui, perasaan bersalah karena tidak bisa memilih menjadi alasan dirinya tidak menyentuh istri keduanya. Katanya, tulang rusuk itu berada begitu dekat. Bukan di samping hanya sebagai pendamping, tidak pula berada di belakang sebagai pengikut, ia berada tepat di dekat hati, melindungi ruhnya dari sebuah pengkhianatan yang bisa saja membawanya pada lorong neraka. Habibi berusaha sekuat tenaga untuk mencinta, apalah daya Tuhan tidak menggerakkannya ke sana. Hanya berada pada satu titik saja. Tulang rusuknya.
View More“Nduk?” Aku memintanya duduk diatas pangkuan. Dia tersenyum manis dan melipat sajadahnya setelah magrib. Ucapanku akan mematahkan hatinya, mungkin menghancurkan hidupnya juga.&
Seandainya aku ini Sawitri yang dengan bertapa saja bisa menaklukkan Bathara Yama dan membuatnya mengabulkan segala pinta. Kisah Sawitri yang pernah kubaca di salah satu buku sastra jawa, berkisah tentang pendidikan seorang istri yang harus rela berkorban dan ikhlas dalam segala hal ketika sudah berumah tangga.
Pagi ini langit tak secerah biasanya. Tetes bening berjatuhan dari langit, membasahi bumi seperti tangisan semesta. Hujan ringan yang mengguyur kota Malang, bagai kelambu berlian yang menjuntai indah di udara. Melunturkan kesedihan yang terpatri di dalam pikiran seorang hamba. Membawa embusan angin dingin yang menggigil, mengulitinya meninggalkan bekas perih yang kentara.
Ibu mertua, datang menghampiri di sela aku menunggu di depan kamar operasi, wanita itu duduk tepat di samping kanan, sambil tersenyum, “Le, ibu tahu. Dalam setiap rumah tangga perlu hadirnya seorang anak keturunan, kalian sudah memilih jalan ini, ibu harap agar kamu tidak mundur atau malah lari meninggalkan Zea. Dia putri kami, dan kamu adalah suaminya. Cinta kami dan cintamu kepadanya sama besar ....”