로그인![Without You [Indonesia]](/pcdist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)
Tahun 2035
Senin, 25 Juli.
Dua orang gadis menatap keadaan sekitar. Matanya menangkap pemandangan memilukan, debu bertebaran di mana-mana, mobil hancur, gedung-gedung runtuh, jalanan rusak, juga mayat-mayat yang terkapar di setiap jalan.
"Kak ..." ringisnya.
Ia semakin mempererat pelukannya, ini benar-benar mengerikan. Kenapa semua harus terjadi pada kami? Kenapa hanya negara kami yang terkena dampaknya? Dan kenapa kami harus selamat?
Aila memeriksa pakaiannya dengan cepat, saat kejadian ia menyelipkan buku di celananya, dan syukurlah bukunya ada.
Terdengar dering dari tangan sang kakak, ia menyentuh tombol hitam, lalu muncul layar transparan, terlihat pesan peringatan bencana susulan dari pemerintah.
"Apa isinya kak?" tanya gadis berambut panjang.
"Kita ada di bagian blok 7 bencana, mereka belum menyiapkan tempat pengungsian untuk kita, jadi mereka meminta kita bertahan di tempat yang masih kuat bangunannya," jawab sang kakak sambil matanya terus menatap layar G-Trick.
G-Trick adalah sebuah inovasi baru dari handphone, penggunaanya lebih mudah dipahami, serta dapat menggunakan perintah suara. Layar G-Trick juga bisa digunakan untuk persentasi. Secara tak langsung G-Trick merupakan sebuah ponsel, kartu atm, dan lcd projector.
"Kita harus kemana kak? Hampir seluruh bangunan disini tak bersisa," cicit adiknya sambil menahan tangis.
Aila tengah berpikir keras. Matanya menelisik ke sekitar. Lalu ia melihat sebuah sepeda. Tanpa pikir panjang Aila berlari mendekat.
Oh tuhan, sepertinya Aila harus terbiasa dengan pemandangan tumpukan mayat di hadapannya.
Aila menendang mayat yang dekat dengan sepeda lalu mengambil sepedanya, ia memastikan apa sepeda itu masih layak pakai atau tidak. Ia menaiki sepeda tersebut, lalu mendekat pada adiknya yang diam ketakutan.
Aila turun di sepeda lalu melemparnya asal, memeluk adiknya erat. "Tenanglah, aku disini bersamamu. Semua akan baik-baik saja." Aila terus memberikan instruksi supaya adiknya tenang, setelah dirasa cukup Aila mulai menceritakan tujuannya mengambil sepeda.
Aila melepaskan pelukannya. "Dri, Ail mengambil sepeda ada tujuannya. Ail yakin pemerintah tak akan memberikan tempat pengungsian pada blok 7, kamu bisa melihat sendiri dari sekian meter hal yang dapat kita liat, hanya mayat. Kita tak menemukan manusia lain yang hidup." Audri mengedarkan pandangan, betul. Kenapa tidak terpikir oleh Audri ya?
Karena aku tau Dri, G-Trick akan tetap menyala dan hidup selama orang tersebut masih berdenyut nadinya. Mungkin pemerintah tau berdasarkan gps hanya kita yang masih terlacak. Jadi ia mungkin tak mau repot-repot mengirim pasukan hanya untuk 2 orang, masih banyak orang hidup di blok lain, batin Aila.
Aila memegang pundak Audri dan meremasnya sedikit kuat. "Jadi..." Aila pun tak mau mempercayai apa yang ia ucapkan pada Audri barusan. Jujur saja Aila takut, takut apa yang ia ucapkan adalah kebenaran.
"Jadi, mari kita ke blok 6!" ucap Aila serius. Ia menatap mata Audri dengan tegas.
Audri melepaskan lengan Aila yang dipundaknya dengan paksa. "Apa kau gila bodoh?! Blok 6 ada sekitar 60 kilometer dari sini! Dan kau mau kita mengayuh sepeda butut ini kesana?!" protes Audri dengan mata yang memerah dan berkacak pinggang.
"Tidak, lebih jelasnya hanya aku yang mengayuh sepeda. Kau cukup diam di belakang," jelas Aila.
"Aila Nadia! 60 kilometer bukanlah jarak yang dekat!" teriak Audri.
Aila terdiam mendengar penuturan adiknya, lalu memeluk Audri. Jujur saja ia tak tau harus apa, ia takut. Sangat takut bahkan, pemandangan mayat yang dilihatnya, bayangan air keluar dari tanah yang menghancurkan jalanan, serta letusan gunung yang tiba-tiba. Semuanya masih terekam jelas di mata Aila.
Audri berusaha melepaskan pelukan kakaknya, tapi bahu kakaknya bergetar. Audri terdiam. Apakah Aila menangis?
"Aku takut Audri ..."
Audri memeluk balik Aila. "Hey tenanglah, semua akan baik-baik saja selama kita bersama," ucap Audri sambil mengusap punggung sang kakak.
"Aku takut apa yang ku ucapkan padamu tadi adalah sebuah kebenaran, bahwa tak ada manusia lain yang hidup di blok 7 selain kita, lalu ... lalu ... kita--" Audri memotong--"Ssshttt, tutup mulut bodohmu kakak! Aku mengerti ketakutanmu, aku hanya shock dengan keputusanmu."
"Baiklah kita akan ke blok 6, tapi kita harus menemukan supermarket terlebih dahulu, aku benar-benar lapar." Aila melepas pelukannya lalu menghapus air matanya, menggesekan lengannya kekanan dan kekiri. Membuat Audri yang melihatnya terkikik geli, Aila seperti balita yang habis dimarahi orang tuanya.
Setelah cukup tenang, "Baiklah ayo." Mereka berdua menaiki sepeda, lalu Aila mengayuh sepedanya. Mereka pun berteriak bersama, "Ayo!".
Aila sedikit kesusahan memilih jalan, karena jalanan disini hampir 70% rusak. Reruntuhan bangunan juga menghalangi jalan, sampai membuat Aila frustasi lagi-lagi ia harus memutar jalan seperti sekarang.
"Astaga, Audri kita harus memutar jalan lagi," ucap Aila lesu. Jujur saja tubuhnya lelah mengayuh sepeda.
Audri menatap sekeliling, "Kak! Bukankah itu bekas minimarket yang waktu itu kita kunjungi?" tanya Audri.
Aila mengikuti arah pandang Audri. Ya betul, dan sepertinya ada beberapa makanan disana. Aila pun dengan segera mengayuh sepedanya.
Saat ini mereka tengah menghadap minimarket, separuh bangunan benar-benar hancur, ludes tak tersisa. Aila turun dari sepeda lalu menaruhnya di jalan. Ia bergegas mendekat, mencari beberapa makanan yang masih layak disantap.
"Kak, nih minum." Audri melemparkan minuman bersoda pada Aila. Oke tak apa lah, mereka pun meminumnya dengan sekali tegukan.
"Ah nikmatnya," ucap Aila.
Audri tersenyum lalu melanjutkan pencariannya. Ia melihat uang yang berhamburan. Audri hendak mengambilnya tapi, yang lebih dibutuhkan saat ini hanyalah makanan dan pakaian.
Aila menggeser batu di hadapannya yang menghalangi, dan voila! Ia menemukan roti, tapi bungkusnya terlihat kumal. Tak apalah.
"Dri sini!" panggil Aila. Audri bergegas menuju Aila lalu mereka menyantap roti bersama.
30 menit berlalu, dan mereka hanya bisa mengambil 5 botol air minum dan 6 bungkus snack. Aila terduduk diatas reruntuhan. Ia menatap sekitar, lagi-lagi yang ia temukan hanya kekosongan.
"Ini benar-benar sepi ..." gumam Aila.
Audri menatap Aila. Sorot matanya terlihat sangat terluka, ketakutan, lelah, dan bimbang. Tapi lihatlah, Aila bertingkah seolah baik-baik saja.
"Kak mau lanjut? Kita tak mempunyai banyak waktu."
Aila memperhatikan langit yang mulai gelap, lalu menaiki sepedanya. "Kamu benar, kita harus bergegas!". Tidak ada yang tidak mungkin. Satu kalimat yang selalu Aila pegang teguh. Ya mungkin terlihat mustahil di waktu yang mulai menggelap ini Aila akan sampai blok 6. Menurut gps sekitar 6 kilometer lagi baru mereka akan sampai di blok 6.
"Kak, bukannya listrik belum pulih?" tanya Audri. Ia tampak cemas. Masalahnya jika listrik belum pulih, maka keadaan kota akan gelap gulita dan jalanan menjadi tidak terlihat.
"Kita akan menggunakan layar G-Trick milikmu. Lebarkan layarnya seperti persentasi, lalu gunakan background putih, kemudian biarkan layarnya menyorot jalanan, dengan begitu setidaknya jalanan di hadapan kita terang," jelas Aila sambil mengayuh sepeda dengan cepat.
Tidak. Tidak boleh lelah, masih jauh. Masih jauh batin Aila.
Peluh saling tetes di sekujur tubuh, jujur saja ini melelahkan. Kakinya terasa sakit, jika sendiri mungkin lebih mudah dan cepat sampai, tapi masalahnya ada Audri di belakang. Jadi tenaga Aila pun harus dikuras secara lebih.
Kayuhannya melambat, Aila lelah.
"Kak? Apa kau baik-baik saja?" tanya Audri sambil menggerakan bahu Aila berkali-kali. Aila mengangguk samar tanda jawaban, iya.
Aku tak boleh lemah, dan terlihat lelah. Ini bukan saat yang tepat, gumam Aila.
Malam akhirnya tiba, rembulan jadi saksi betapa kerasnya perjuangan Aila Nadia dan Audri Andhara untuk bertahan hidup. Mulai dari menerima kenyataan pahit bahwa mereka 'terbuang', mencari makanan di reruntuhan, dan perjuangan terakhir mereka, mengayuh sepeda sepanjang 60 kilometer.
"Tsuki ga kire desu-ne?" ucap Aila tiba-tiba sambil mendongak menatap langit. Ia bersinar sangat terang. Aila merasa damai.
Audri mengikuti arah pandang Aila, benar. Sangat cantik. Bulan itu tak malu-malu seperti biasanya. Ia berdiri sendiri diantara jutaan bintang yang bersembunyi. Langit juga nampak bersih dan bercahaya, sangat terang.
Ah ya, aku harus tetap kuat seperti bulan. Meskipun suatu saat nanti bintang menghilang, Audri menatap punggung kokoh Aila.
"Kakak selalu aku anggap bintang," bisiknya pada Aila.
Pukul 2 pagi.Aila masih mengayuh. Sedikit banyak ia bangga dengan dirinya yang selalu melatih fisiknya setiap hari, karena apa? Karena ia berhasil mengayuh sepeda 50 kilometer jauhnya. Ya, meskipun tidak dengan kecepatan yang stabil, tapi ini merupakan pencapaian cukup besar. Tapi, tubuh Aila sangat lelah. Ia ingin tidur lalu berendam di air hangat, jangan lupakan musik klasik juga.Aila menghela nafas panjang, tubuhnya ingin istirahat."Kak Ail, berhenti dulu sebentar aku haus," ucap Audri sambil menepuk bahu Aila.Aila hanya mampu mengangguk lalu memberhentikan sepedanya. Adiknya memberikan minuman isotonik, Aila langsung meminumnya hingga tandas. Aila melirik Audri yang sepertinya kedinginan, Aila pun sama, dingin sekali udara pagi ini. Padahal malam tadi sangat panas. Cuaca bumi sedang labil."Dri pake," ucap Aila sambil memberikan jaket yang baru ia lepas, meskipun s
Tahun 2035Senin, 25 Juli.Dua orang gadis menatap keadaan sekitar. Matanya menangkap pemandangan memilukan, debu bertebaran di mana-mana, mobil hancur, gedung-gedung runtuh, jalanan rusak, juga mayat-mayat yang terkapar di setiap jalan."Kak ..." ringisnya.Ia semakin mempererat pelukannya, ini benar-benar mengerikan. Kenapa semua harus terjadi pada kami? Kenapa hanya negara kami yang terkena dampaknya? Dan kenapa kami harus selamat?Aila memeriksa pakaiannya dengan cepat, saat kejadian ia menyelipkan buku di celananya, dan syukurlah bukunya ada.Terdengar dering dari tangan sang kakak, ia menyentuh tombol hitam, lalu muncul layar transparan, terlihat pesan peringatan bencana susulan dari pemerintah."Apa isinya kak?" tanya gadis berambut panjang."Kita ada di bagian blok 7 bencana, mereka belum menyiapkan tempat pengungsian unt