Compartir

2.

Autor: Anjani
last update Fecha de publicación: 2020-11-02 17:48:19

Pukul 2 pagi.

Aila masih mengayuh. Sedikit banyak ia bangga dengan dirinya yang selalu melatih fisiknya setiap hari, karena apa? Karena ia berhasil mengayuh sepeda 50 kilometer jauhnya. Ya, meskipun tidak dengan kecepatan yang stabil, tapi ini merupakan pencapaian cukup besar. Tapi, tubuh Aila sangat lelah. Ia ingin tidur lalu berendam di air hangat, jangan lupakan musik klasik juga.

Aila menghela nafas panjang, tubuhnya ingin istirahat.

"Kak Ail, berhenti dulu sebentar aku haus," ucap Audri sambil menepuk bahu Aila.

Aila hanya mampu mengangguk lalu memberhentikan sepedanya. Adiknya memberikan minuman isotonik, Aila langsung meminumnya hingga tandas. Aila melirik Audri yang sepertinya kedinginan, Aila pun sama, dingin sekali udara pagi ini. Padahal malam tadi sangat panas. Cuaca bumi sedang labil.

"Dri pake," ucap Aila sambil memberikan jaket yang baru ia lepas, meskipun sedikit rusak setidaknya masih hangat.

"Kak Ail bagaimana?" jawab Audri sambil mengambil dan mengenakan jaket tersebut. Benar, hangat. Bau khas Aila juga dapat tercium oleh hidung Audri.

Aila terkekeh, Audri ini aneh sekali. Bertanya 'bagaimana' tapi ia ambil dan kenakan juga. Aila menggelengkan kepalanya. Ya sedikit hiburan, pikirnya.

Aila melanjutkan perjalanannya, 36 menit berlalu. Dan sepertinya Aila sudah mencapai batas kemampuannya, mengayuh sepeda dari jam 5 sore hingga jam 2.40 pagi, bukanlah hal mudah.

"Kak, sedikit lagi kita sampai," ucap Audri sambil memeluk leher Aila, ia senang. Perjuangannya tak sia-sia, mereka benar-benar sampai. Yang terpenting, Aila membuktikan bahwa ini bukanlah hal gila seperti apa yang dikatakan Audri.

"Terimakasih telah membuktikannya kak, Audri sayang kakak," bisiknya.

Pandangan Aila kabur, kepalanya terasa pening. Tepat saat ia sampai di pengungsian blok 6, saat para penjaga mendekat, dan Audri turun, tubuhnya ambruk. Aila, pingsan karena kelelahan.

Para penjaga langsung berdatangan, mereka menggendong Aila menuju ruang pengobatan sementara, Audri mengekor di belakang. Jujur saja Audri khawatir, takut sesuatu terjadi pada kakaknya.

"Kalian dari mana?" cegat seorang pria menggunakan seragam tentara sambil memegang pulpen. Sepertinya bagian pendataan, Aila semakin jauh dari pandangan Audri.

"Kami dari blok 7!" ucap Audri sambil berusaha melewati tubuh pria tersebut. Masalahnya tubuh Audri sangat lelah, dan kenapa pria sialan ini diam di hadapannya. Ayolah, Audri takut sesuatu terjadi pada kakaknya.

"Kalian menggunakan sepeda menuju kemari?" tanya nya lagi. Audri mengangguk sambil berusaha menggeser pria tersebut. Sayangnya, datang 2 pria lain dan memegang kedua lengan Audri. "Menyingkirlah! Aku ingin mengetahui kondisi kakak ku!" teriak Audri sambil berontak.

"Tenanglah, kami hanya ingin menanyakan beberapa hal. Kakakmu pasti baik-baik saja," ucap pria yang memegang pulpen. Audri melirik name tag di seragam pria tersebut, tercetak jelas nama A.P Damian.

Sepertinya dia orang baik, batin Audri. Ia pun berhenti berontak. Audri dibawa ke tempat yang berbeda arah dengan Aila. Ia ditanyai beberapa hal oleh tentara. Setelah usai Audri bergegas keluar, tapi pikirannya tak menentu. Apa maksud dari ucapan para tentara tadi tentang Kak Ail? Audri menggelengkan kepalanya, lalu menepuk kedua pipinya, "Shhtt, tidak perlu dipikirkan. Sekarang, temukan Kak Ail." Audri langsung berlari menuju tempat terakhir kali ia melihat kakaknya.

Ia bertanya pada orang-orang yang lewat, beruntung ada yang tau. Dan disinilah Audri sekarang. Di hadapan Aila Nadia.

"Kak Ail, kita sudah sampai. Bangunlah," lirih Audri. Tadi dokter mengatakan Aila kelelahan, tubuhnya juga kekurangan cairan. Jadi terpaksa harus diinfus. Ia juga diberi obat tidur oleh suster, Aila sempat sadar dan menyadari Audri tidak ada, jadi ia menolak tidur dan istirahat. Dengan terpaksa suster pun memberinya obat tidur. Karena kondisinya jauh dari kata baik-baik saja.

Audri menatap sekitar, kantuk menyerangnya tiba-tiba. Ia menguap, lalu tertidur dengan lengan bertumpu pada bangsal milik Aila. Hanya 5 menit, Audri ingin tidur sebentar saja. Lalu ia pun terlelap.

***

Udara sudah mulai menghangat, mentari juga sudah mulai muncul. Warna keemasan memenuhi langit, ini pemandangan matahari terbit yang indah setelah kejadian tersebut.

Aila sudah merasa sehat dan bugar, ia tengah meregangkan ototnya yang terasa kaku. Disampingnya juga ada Audri yang tengah menggosok gigi sambil melihat pemandangan pagi yang menyenangkan.

"Setidaknya selesaikanlah urusanmu dulu Audri," tegur Aila sambil menggerakan tangan dan kakinya. Mungkin, pemanasan?

Audri mengangguk lalu pergi ke samping tenda, untuk sementara tempat itu digunakan untuk mencuci piring seusai makan, dan menggosok gigi juga mencuci wajah setiap pagi dan malam. Para tentara belum mampu membuat kamar mandi yang seperti biasa, karena kita kekurangan tenda. Jadi hanya ada wc darurat dan tempat mencuci wajah dan gosok gigi.

Keadaan masih belum pulih, gempa kecil masih sering terjadi. Tapi tidak apa, karena Aila dan Audri bersama-sama. Mereka bisa mengatasinya. Sehari-hari tak ada kegiatan spesial, para pengungsi masih sulit mendapatkan izin keluar dari area pengungsian. Jadi mereka hanya bergelut dengan tidur, makan dan menyapu. Sesekali mereka juga membantu para tentara membawa suplai makanan.

Di blok 6 ada sekitar 352 orang pengungsi, 52 dari mereka sama seperti Aila, mereka berasal dari blok 7. Dan blok 7 merupakan lokasi terparah juga lokasi yang menimbulkan banyak korban.

Sudah satu minggu Aila memperhatikan aktivitas anak-anak pengungsi. Kegiatan mereka hanya berputar di bangun, mencuci wajah, sarapan, bermain, dan tidur. Aila merasa anak-anak tersebut harus mendapatkan pendidikan. Aila juga yakin beberapa dari mereka ada yang mentalnya bermasalah. Kedua alis Aila tertaut, matanya menatap tajam para anak-anak. Aila tengah berpikir keras.

Ia harus berbicara pada Damian. Ini hal penting.

Audri yang melihatnya cukup ngeri, tapi wajah serius Aila cukup menawan. Wajar saja, Aila cantik. Audri mendekat kearah Aila dan menepuk bahunya pelan. Untuk beberapa saat Aila tersentak, Audri berhasil membuyarkan semua fokus Aila.

"Ya! Apa yang kau lakukan?!" teriak Aila pada Audri sambil menahan emosi. Audri hanya tertawa, "Wajahmu nampak serius kak Ail, sedikit menyeramkan juga," ucap Audri sambil tersenyum dan menggoda Aila, dan berlalu meninggalkannya.

"Sialan dasar bocah!" sungut Aila berapi-api. Aila menarik nafasnya dan menghembuskannya perlahan. Aila berpikir untuk menggunakan alasan memberikan pendidikan bencana dan cara mengendalikan mental anak-anak untuk bicara pada tentara. Aila hanya perlu meminta izin pada para tentara sekarang. Semoga itu sesuatu yang cukup mudah. Ia berlalu dan berlari menyusul Audri.

Mobil suplai sampai di blok 6 pukul 5 sore. Sebagian orang tengah membantu memasak makanan, anak-anak masih sibuk bermain. Sedangkan remaja tengah memindahkan dan menata kotak suplai yang berisi makanan dan obat-obatan.

Di blok 6 ada Medi Cube atau rumah sakit dalam sebuah kotak besar. Itu digunakan untuk operasi. Karena tak bisa dipungkiri, dampak bencana lumayan besar. Dan pasien dengan luka-luka yang parah di blok 6 juga cukup banyak.

"Ah akhirnya selesai!" ucap Audri setelah menata kotak suplai terakhir. Aila mengacak rambut Audri, "Kerja bagus." Audri hanya tersenyum lalu mengajak Aila menuju tempat makan malam.

Menu makan hari ini adalah roti dan segelas susu jahe, juga mie instan. Karena orang dewasa banyak yang sakit, penjaga dapur hanya ada 7 orang dan setiap harinya mereka harus menyiapkan ±300 porsi makanan pagi, siang juga malam. Tentu itu bukanlah hal yang mudah, bahkan merepotkan.

Aila dan Audri menyantap makanan mereka dengan khidmat. Bagi Aila mie instan adalah makanan terbaik yang pernah ada. "Ah enaknya, Audri maukah kau membaginya sedikit untukku?" ucap Aila sambil menyiapkan sumpit untuk mengambil mie Audri. Audri menggeleng dan menghabiskannya dengan cepat.

"Dasar pelit!" ucap Aila. Audri menjulurkan lidahnya. Aila melihat keadaan sekitar, orang-orang mulai kembali menuju tenda nya masing-masing. Para tentara juga mulai gantian berjaga. "Dri, pergilah duluan menuju tenda. Perutku sakit, aku ingin ke wc," ucap Aila sambil memegangi perutnya. "Aish! Menjijikan sekali, sana pergi!" ucap Audri sambil membayangkan yang iya-iya. Aila sedikit tertawa, menggoda Audri cukup menyenangkan.

Setelah memastikan Audri masuk ke tenda Aila bergegas menemui markas tentara. Ia ingin mengutarakan pendapatnya.

"Damian!" teriak Aila. Tentara yang dipanggil tersebut menoleh lalu tersenyum, "Ada perlu apa Nadia?" ucapnya sambil menoleh ke kanan dan kiri, sepertinya ini obrolan yang cukup rahasia. Aila langsung menutup mulut Damian, memanggilnya Nadia di situasi sekarang akan sangat buruk. Karena sebetulnya Aila adalah anak yang cukup terkenal. Ia anak yang jenius, bahkan tujuannya ke blok 7 sebenarnya adalah untuk menerima penghargaan atas kemenangannya dalam lomba antar negara. Tapi, sayangnya kejadian itu terjadi.

"Panggil aku Aila!" ucapnya sambil menutup mulut Damian. Ia terkekeh lalu mengangguk dan melepaskan lengan Aila yang berada di mulutnya.

Damian melihat sekitar, hampir saja. Sepertinya Nadia tengah jadi buronan sekarang, orang-orang licik tengah mencari dirinya. "Sepertinya ini sesuatu yang penting, mari pergi ke tribun disana." Aila menyetujui usulan Damian. Mereka pergi bersama menuju tribun, dan sepertinya Audri melihat hal itu.

Perut Audri seperti dicubit, Aila membohonginya.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Without You [Indonesia]   2.

    Pukul 2 pagi.Aila masih mengayuh. Sedikit banyak ia bangga dengan dirinya yang selalu melatih fisiknya setiap hari, karena apa? Karena ia berhasil mengayuh sepeda 50 kilometer jauhnya. Ya, meskipun tidak dengan kecepatan yang stabil, tapi ini merupakan pencapaian cukup besar. Tapi, tubuh Aila sangat lelah. Ia ingin tidur lalu berendam di air hangat, jangan lupakan musik klasik juga.Aila menghela nafas panjang, tubuhnya ingin istirahat."Kak Ail, berhenti dulu sebentar aku haus," ucap Audri sambil menepuk bahu Aila.Aila hanya mampu mengangguk lalu memberhentikan sepedanya. Adiknya memberikan minuman isotonik, Aila langsung meminumnya hingga tandas. Aila melirik Audri yang sepertinya kedinginan, Aila pun sama, dingin sekali udara pagi ini. Padahal malam tadi sangat panas. Cuaca bumi sedang labil."Dri pake," ucap Aila sambil memberikan jaket yang baru ia lepas, meskipun s

  • Without You [Indonesia]   1. Gila!

    Tahun 2035Senin, 25 Juli.Dua orang gadis menatap keadaan sekitar. Matanya menangkap pemandangan memilukan, debu bertebaran di mana-mana, mobil hancur, gedung-gedung runtuh, jalanan rusak, juga mayat-mayat yang terkapar di setiap jalan."Kak ..." ringisnya.Ia semakin mempererat pelukannya, ini benar-benar mengerikan. Kenapa semua harus terjadi pada kami? Kenapa hanya negara kami yang terkena dampaknya? Dan kenapa kami harus selamat?Aila memeriksa pakaiannya dengan cepat, saat kejadian ia menyelipkan buku di celananya, dan syukurlah bukunya ada.Terdengar dering dari tangan sang kakak, ia menyentuh tombol hitam, lalu muncul layar transparan, terlihat pesan peringatan bencana susulan dari pemerintah."Apa isinya kak?" tanya gadis berambut panjang."Kita ada di bagian blok 7 bencana, mereka belum menyiapkan tempat pengungsian unt

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status