Mag-log inWajah langit mulai menunduk lesu. Seakan malu. Tak menentu. Namun, tidak lama kemudian, ia begitu sendu. Menitikkan air mata sedih. Ah, tau darimana ia sedih? Bukankah tak semua air mata pertanda sedih?
Seorang pemuda mencoba membaca wajah sahabat perempuannya. Mengapa ia sering tiba-tiba menitikkan air mata? Memangnya mata air di matanya sedalam apa? Samudera?
Berkali ia membaca, yang didapatinya hanya kalimat singkat, "Aku gapapa."
Bersamaan dengan itu, laki-laki itu selalu membungkus berbagai tanya pada dirinya.
"Apa yang diinginkan perempuan sebenarnya?" "Kenapa ia selalu mengatakan gapapa, padahal wajahnya menghujankan tangis?" Laki-laki itu adalah Genta. Pemuda desa berwajah tampan, tapi berpenampilan sangat sederhana. Ia adalah sahabat kecil Naya.
***
Wajah Naya itu kian tertutup mega. Sempat ada keinginan mencuri matahari agar terlihat berseri. Sesekali terlintas, ingin merampok purnama—agar dijadikannya objek puisi paling abadi—para penyair di luar sana. Ia pun memiliki ide gila. Menggadaikan wajahnya.
Di perjamuan malam pukul sembilan, ia mengendapkan langkah. Mencari-cari wajah. Ya, wajah mana yang ia akan pilih dari etalase di sana. Dadanya berdegup tak seperti biasanya. Berbagai wajah nampak menarik mata. Ia kebingungan dan capek. Capek dan kebingungan. Terperangkap dalam kepalsuan.
"Aku mau gadaikan wajahku dengan matahari." Ucapnya ragu.
"Kenapa?"
"Karena orang yang kukagumi sepertinya hanya menyukai matahari." Tegasnya setengah gugup. Gugup dan tegas.
Pemilik pegadaian wajah itu segera mengambilkannya. Sesuai pesanan. "Ini hanya bisa dipakai esok hari. Kalau wajah purnama, baru bisa dipakai malam ini."
"Tidak apa-apa. Memang aku butuh untuk esok hari." Ia semakin mantap menggadaikan wajahnya.
"Aku ambil wajah matahari." Naya meyakinkan diri.
"Benar, tak ingin wajah purnama?" pemilik pegadaian wajah itu seperti membaca gerak wajahnya.
"Tidak. Aku ambil wajah matahari. Terimakasih." Rahsa pun segera pergi dengan wajah barunya.
***
Keesokan hari Naya seperti lebih percaya diri. Dengan bangga, memakai wajah matahari. Bersiap menemui idaman hati. Meski itu hanya dipendamnya dalam hati. Padahal, tak jauh dari rak topeng wajahnya: tersimpan sejuta misteri. Lautan sabar yang berusaha terus digali. Hanya satu yang tak pernah ia simpan: mata api. Ia hanya punya wajah bermata sejuk.
"Kamu baik-baik saja, Naya?" Genta menyapanya.
"Sangat baik." Naya tersenyum berseri-seri.
"Aku mau ceritain kamu satu hal, Nay. Tapi kuharap kamu jangan marah, ya?"
"Ceritakan saja. Aku akan selalu jadi pendengarmu yang baik." Sinar matahari nampak kian bersinar dari wajahnya.
"Aku merasa bodoh saat di dekatmu, Nay. Sungguh."
"Mengapa begitu, Genta?"
"Aku tak pernah memahamimu seutuhnya. Wajah mana yang kau pakai hari ini? Atau yang kau beli hari ini?"
"Hanya untukku? Bukankah seharusnya aku yang lebih memahamimu?"
"Tidakkah kau memikirkan dirimu sendiri?" "Kita sahabat sudah cukup lama. Tapi aku tak pernah memahamimu seutuhnya." Genta menunduk. Laki-laki itu meneriaki sinar mataharinya. Diredupkannya dengan mendung sedemikian rupa. Persahabatan mereka sudah sangat lama. Berbagai kisah sering dituangkan Genta ke wajah sahabat perempuannya itu—Naya. Tapi semakin ia menuangkan kisah, ia makin tak mengerti. Mengapa perempuan terasa sangat sulit dipahami.
"Aku tak bermaksud membuatmu menangis, Naya. Aku hanya ingin kamu jadi dirimu sendiri." Genta mencoba meneguhkannya.
"Apa kamu mampu melihat wajahku, Ta?"
"Bukankah selama ini yang kamu inginkan adalah matahari dari wajahku?"
Naya beranjak pergi meninggalkan. Ditaruhnya wajah matahari itu di saku sweaternya. Hujan menemani pelataran pipinya seketika.
***
"Wajah mana lagi yang akan kau beli, Naya?"
Pertanyaan itu kian memutar di kepalanya. Ia ingin selalu membahagiakannya. Tak ingin terlihat lemah dengan segala air mata. Khas seorang perempuan pada umumnya.
"Aku harus bagaimana?" batinnya seakan kian bergemuruh.
Niat hati menggadaikan dengan wajah bulan diurungkannya. Naya tetap ke tempat pegadaian wajah itu. Tapi tidak seperti biasanya. Wajahnya menunduk lesu. Seolah mengamati apa yang sendu di balik wajahnya. Apakah benar-benar sendu?
"Aku ingin mengembalikan wajah matahari ini. Terimakasih sudah meminjamkannya." Naya memantapkan diri.
***
"Naya, kumohon kamu kesini, sekarang. Aku punya kejutan untukmu."
Sebuah pesan singkat menyapa di layar ponsel Naya. Ia mencari wajah di almari. Tapi anehnya, wajah yang ia koleksi, mendadak berubah sama. Iapun tak jadi memilihnya. Ketakutan sempat melewati wajahnya saat itu. Sebelum akhirnya ia bergegas diri. Kejutan apa yang akan diberikan kekasihnya itu? Beberapa hari ini perempuan itu sengaja menghilang. Bukan untuk mencari wajah. Tapi menenangkan segala resah. Ada berbagai masalah yang tak diceritakan. Ada berbagai keluh yang tak sempat ia curhatkan. Ada berbagai sedih yang tak diekspresikan. Akhirnya, ia pun memutuskan menemui kekasihnya.
Kedai "Kejujuran Kopi"
Dijual: Wajah Kejujuran. Temukan aroma wajahmu sebenarnya di sini.
Sebuah kedai kopi dengan tagline aneh membuatnya bertanya-tanya. Genta sudah menunggu di meja paling rindu.
"Silahkan, Naya. Semoga kamu suka," sapa Genta penuh kasih.
"Maafkan aku kalau waktu itu membuatmu sedih. Aku akan lebih belajar membuatmu bahagia. Kita tetap sahabatan 'kan?" Aroma suara lelakinya nampak berbeda. Ada kesejukan yang tak bisa dijelaskan kata. Mata bahagia mulai bersinar dari perempuannya.
"Maafin aku juga, ya, Ta. Selama ini aku gapernah cerita apapun ke kamu tentang masalahku. Sedih dan susahku. Aku cuma merasa, kau cukup bahagia dengan kisahmu. Aku tak ingin merusaknya." Genta tersenyum. Berusaha menenangkan gundahnya.
"Oh ya, apa maksud tagline kedai ini, Ta? Unik sekali." Wajah Naya tergakum.
"Ini hadiah spesial hari lahirmu. Maafkan aku tak pernah mengingatnya. Maafkan aku yang terkesan selalu memaksamu berwajah matahari dan bulan."
"Aku ingin di sini, kamu bisa mengenali wajahmu sendiri. Bahkan, meski tanpa aku nanti."
Genta memperlihatkan berbagai wajah di sana. Ada laki-laki yang asik bersenda gurau dengan berbagai dialeknya. Tanpa malu dengan berbagai orang di sekitarnya. Ada barista, supir kejujuran di kedai ini. Ia selalu bilang apa adanya apa yang dirasakannya terhadap kopi racikannya. Pun, nun jauh di sana, ada pelanggan kedai yang berencana menggadaikan wajahnya. Karena ragu, ia pergi ke kedai ini. Ia adalah seorang editor yang hampir stress diburu deadline.
Namun, tak kuasa mengatakan jelek pada naskah penulisnya. Ia dibuat ragu dengan dirinya sendiri. Mungkin, ia tak kuat lagi menahannya. Hingga saat suara marah-marah dari ponselnya, ia pun agak berteriak mengatakan, "Bukan salahku sepenuhnya! Tulisannya memang sangat berantakan! Aku perlu waktu lebih untuk mengeditnya. Bukan masalah profesional atau nggak! Mengerti?" Yap! Berhasil. Dia berhasil menemukan wajahnya sendiri.
"Untuk itulah, Naya. Jadilah dirimu sendiri. Wajahmu sendiri. Tak perlu memakai wajah matahari atau bulan demi aku atau demi siapa pun. Aku ingin melihatmu bahagia dengan wajahmu sendiri, Naya. Wajahmu sendiri." Genta mengatakan setengah berkaca. Air matanya hampir jatuh. Tapi segera ia tahan sendiri.
"Memang kamu tau wajahku sekarang, Ta?"
"Wajah penuh kerinduan." Celetuknya sambil mengacak-ngacak rambut Naya.
***
Waktu berganti satu demi satu. Dari hari sampai bulan paling rindu. Sudah beberapa pekan ini Genta tak kunjung mengajaknya bertemu. Sedikitpun tak ada kabar yang ditaruhnya. Meninggalkan matahari dan bulan tanpa pura-pura di wajah Naya. Sebuah wajah yang tak akan pernah digadaikannya.
Keluarga Irfan menyelesaikan sarapannya. Begitu juga denganku."Nak Genta, saya sekeluarga pamit dulu. Sebentar lagi paling karyawan lain sudah masuk. Silahkan bekerja, ya.""Iya, Pak. Terimakasih banyak.""Semangat, Bro!" Irfan menepuk bahuku. Aku pun mengikuti langkah mereka keluar rumah.Saat Irfan dan keluarganya melesat jauh dengan mobil putih, aku terdiam sendiri. Mematung. Entah, menunggu seseorang menyapaku?Aku lihat sekelilingnya. Belum ada tanda-tanda karyawan lain sudah berangkat. Kulihat jam di ponselku. Pukul tujuh lebih dua puluh menit."Pantesan belum pada berangkat." Celetukku seraya memeriksa amplop upah pertamaku."Satu juta lima ratus ribu rupiah. Ah, sepertinya ini cukup untuk mengganti biaya hidupku. Sisanya bisa buat nyari kontrakan baru."Datang seorang perempuan berkerudung hitam. Berkulit kuning langsat, dan bermata teduh mendekatiku. Aku bergegas menaruh amplop di saku celanaku.
Kalian pernah menebak apa yang akan Genta itu putuskan? Tetap tinggal bersama Ahsan dan istrinya atau benar-benar memutuskan pindah?Begini, sayangnya kenyataan seringkali tak perlu ditebak. Meski takdir adalah sesuatu yang mirip tebak-tebakan. Bagaimana takdirmu beberapa detik setelah membaca ini? Pun tak ada yang tahu. Seseorang pernah mengatakan, "Jangan pernah menebak isi kepala perempuan."Namun, agaknya hal itu pun berlaku untuk laki-laki berwajah tegas bernama Genta itu. Ya, itulah dia. Aku sendiri. Setelah berbagai pertimbangan, ada satu hal yang benar-benar kuputuskan. Aku memilih pergi lebih jauh. Meski aku sendiri masih meragu bagaimana memakna jauh? Seperti seorang kekasih yang patah hati dan rela pergi sejauh ujung dunia ini? Ah, sebentar bukannya dunia ini bulat, bukan segitiga yang gampang ditebak ujungnya? Apa itu bermakna sejauh apapun pergi, hakikatnya ia tetap berada berputar di satu sisi: ingatan dan perasaannya sendiri.Aku merasa demikia
"Jangankan orang lain, tak jarang orangtua kita sendiripun belum tentu mengerti. Sejak aku mengenal kaum hawa, aku kira pertanyaan sia-sia yang paling populer dari mereka adalah, 'Kenapa gak bisa ngertiin aku?'"***Tak ada yang benar-benar mengerti selain diri sendiri. Kesepian barangkali semacam menu yang melekat pada tiap insan. Terutama, mereka yang senantiasa mengejar Cahaya. Berpegang teguh di dalamnya. Bersinar karena kebaikan-kebaikan yang ditebar, apapun yang diterimanya. Seorang aktivis Soe Hok Gie juga merasakan kesepian dalam menjalani hidupnya. Merasa sepi karena orang-orang tertentu tak mampu memahami jalan pikirnya. Idealisnya. Namun dia tetap fight dengan hal itu. Begitupun penulis sekelas Pramoedya Ananta Toer, selaras merasa kesepian—tersebab memang beberapa orang di sekitar kita barangkali memang tercipta bukan untuk memahami, tapi membentuk diri berjalan lebih tenang sendiri—tanpa puja puji."B
"Sukma, gimana? Sudah bisa dihubungi?" Ibunya Genta bertanya pada Sukma."Ibu kok kawatir sekali dengan Genta. Apa sudah sampai? Kenapa ia ndak kabarin Ibu?" Cemas kian menggelayutinya."Ibu tenang, ya. Mungkin hp Kakak mati. Jadi susah dihubungin."Gimana kalau dia benar-benar belum sampai?""Apa dia sudah makan?""Kenapa sampai sore hari tak berkabar?""Kan harusnya siang ini sudah sampai. Kenapa sampai sore begini, belum juga kabarin Ibu?""Ssstt, Ibu tenang, ya. Kakak pasti nggakpapa. Ibu istirahat dulu aja, ya. Biar nanti sorean Sukma telpon Kakak lagi.""Nak, tolong kabarin terus Kakakmu. Dia tak punya siapa-siapa di sana. Ibu kawatir dia kenapa-napa.""Iya, Bu... Ibu tenang, ya.""Ya Allah, Kakak kemana aja si? Kenapa gak berkabar juga?" Sukma ikut cemas.***Terik mentari siang itu cepat memudar. Setelah Genta makan siang di warung makan, ia segera bergegas pulang. Ada sedikit kelegaan yang di
Mataku memang tak berkaca. Tapi pikiranku sungguh penuh tanya. Apakah nanti di sana baik-baik saja? Di atas cemas Ibu dan adikku, sebenarnya aku lebih mencemasi diriku sendiri.Kupungut sedih yang tak kulukis di wajah. Tak kubiarkan wajah jadi kanvas lukisan mendung. Sebab awan mendung, tak pantas jadi pajangan. Begitu, pikirku.Kubalikkan wajah menatap Ibu dan Sukma, kutinggalkan senyum penuh tanda tanya."Esok?" "Bukankah hari inilah yang harus kulakukan sepenuhnya? Meski entah apa saja yang akan menimpa?" Aku tak membiarkan tanya itu keluar dari bagian tubuhku. Apalagi wajahku. Kembali, kukemasi segala cemas. Segala cemas kukemasi."Bismillaah... yaAllah, jika nanti benar yang terbaik, ridhoilah.""Bu, Genta pamit, ya. Cuma dua hari. Genta cuma ingin lihat suasana di sana dulu. Ada Kakaknya teman Genta di sana. Nanti Genta menginap di sana.""Kamu yakin?""Iya, Bu. Anggap saja ini semacam liburan. Tidak lama.""Bai
"Ada apa?" Genta bertanya pada salah satu temannya."Kamu dipanggil guru bimbingan konseling! Dari kemarin kenapa gak berangkat? Kamu ada masalah apa?""Masalah? Aku merasa tak ada masalah.""Ya sudah, lebih baik kamu temuin guru bimbingan konseling sana!""Baiklah. Makasih, infonya!"Beberapa saat kemudian, Genta keluar dari ruangan guru. Teman-temannya sudah cemas. Takut Genta tak lulus atau kabar buruk menyertainya."Gimana, Genta? Ada apa?""Tidak apa-apa. Bukan masalah ko. Tak usah kawatir.""Serius?""Iya.""Oh ya, kamu mau kemana setelah lulus nanti?""Lihat saja nanti ya. Aku mau pulang dulu.""Buru-buru?""Iya. Gatau kenapa lagi kangen Ibu.""Aneh banget kamu, Genta." Ucap salah seorang temannya.***Rumah ini pilihan IbuDipilih karena batu-batu rinduSapulah karena waktuKarena Ibu tahu kemana langkah waktuKarena Ibu...Rumah