Se connecterApakah kalian percaya keajaiban wanita?
Entah percaya atau tidak, kemari. Akan kubisikan suatu rahasia.
Lebih tepatnya bukan tentang aku. Tapi dia. Pria beruntung yang memiliki wanita ajaib. Wanita bermata teduh yang datang dan pergi bersama hujan dan malam. Mungkin kalian tidak tahu. Atau, barangkali kalian tau, tapi tidak percaya. Kala langit menitikkan bulir-bulir bening nan dingin, dia ada diantara kalian. Terlebih, saat malam.
Namun, sayang seribu sayang. Malam itu, tepat di saat hujan, pria yang beruntung itu melakukan kesalahan fatal. Perpisahan pun terjadi. Begini, ceritanya.
Perempuan itu tak bisa tidak menengadahkan tangannya saat hujan. Tersenyum gembira sembari sesekali memejamkan mata. Barangkali karena dinginnya hujan, kilau bulir-bulirnya, ditambah angin yang menerpa, membuat mata kalian tak melihatnya.
Di salah satu sisi jalan yang basah, dia berdiri mamanggul ransel merah muda. Dia si gadis gila buku yang tidak percaya pada keajaiban. Payung selalu dibawanya. Bukan berarti ia tak suka hujan. Justru kebalikannya. Ia kerap kali menantinya. Dialah Naya.
Hujan memerangkap gadis itu di teras mushola. Di sisinya, berdampingan dengan jalan raya. Dia mengawasi langit kelabu sambil menggigiti bibir. Jari-jarinya mengetuk-ngetuk kaki. Di kedua pipinya, hujan meninggalkan jejak. Butir-butir kecil yang hampir tidak tampak. Tangan kanannya memegangi lengan kirinya yang ngilu—seakan tak menyatu.
"Kak Naya...," salah seorang anak berpayung motif kartun kucing memanggilnya.
Naya tersenyum. Sembari tetap memegangi lengan kirinya. Sesaat, dilepaskannya. Untuk leluasa melambaikan tangan pada anak berpayung kartun kucing yang memanggilnya.
"Kak Naya belum pulang?" salah seorang anak lain mendekatinya di teras Mushola.
"Belum, sayang. Adek kenapa belum pulang?"
"Mau sholat dulu, Kak."
Ia tersenyum. Sesekali memeriksa jalanan. Seperti sepasang kekasih di tengah hujan, lalu menunggu seseorang menjemput dengan payungnya. Namun, tunggu dulu. Apakah dia menanti seorang kekasih? Atau dirinya yang lain?
Ia malah memeriksa buku di ransel merah mudanya. Matanya lekat memastikam halamannya aman. Tak basah karena hujan. Tak rusak karena terlipat jarak.
Dia tidak punya waktu. Satu jam lagi, ia harus sampaikan sesuatu. Tak ada musim yang menunggu kotanya siap sedia. Kota itulah yang harus siap sedia selalu. Siapapun tak bisa mengutuk hujan, hanya karena waktu. Apalagi hanya karena gerutu.
Kalau saja di ranselnya tak ada buku dan sesuatu itu, mungkin ia akan menerobos hujan. Lebih dari satu jam ia menunggu di sana, hujan tak kunjung reda. Aroma petrichor yang dinantikannya, pun belum muncul sempurna.
Gadis itu kembali membuka ranselnya. Mencari pena dan menuliskan rahasia di bukunya. Percik-percik kembang api keluar darinya.
Bersama rintik jatuhnya bulir bening dari langit, dahinya mengernyit. Diperiksanya ponsel kembali.
"Kamu sudah sampai mana?" Sebuah pesan kembali dilayangkannya.
Namun, sampai lima menit tak ada balasan. Perempuan yang mengeluarkan percik kembang api dari penanya itu tetap membuat garis senyum penuh kesabaran. Kembali, ia mengirim pesan.
"Kamu masih dalam perjalanan? Disana hujan deras kah? Kamu bawa jas hujan 'kan?" Pesannya mulai berbeda. Ya. Kekawatiran mulai menyelimuti matanya.
Anak kecil yang tadi menyapanya keluar dari mushola. "Kak Naya belum pulang?" "Belum, sayang. Masih nunggu jemputan."
"Ouh gitu. Aku duluan ya, Kak. Kawatir ditungguin Bu Nana. Assalamualaikum, Kak Naya... ." Ia memakai sandal ungunya.
Segera berlari menerobos hujan dalam cerianya. Kawatir. Apakah kekawatiran hanya usaha sia-sia menebak takdir yang tak perlu ditebak?
Namun, lihatlah. Perempuan gila buku yang mengeluarkan percik kembang api di penanya tetap tersenyum. Tangannya mengulur pelan menerima bulir-bulir bening dari langit malam itu. Memejamkan mata. Meninabobokan cemas dan kawatir di matanya.
Sebuah kotak pesan masuk di ponselnya.
"Maaf, aku sepertinya terlambat. Kamu masih di sana 'kan?"
Tanpa membuat pengirim pesan itu menunggu, perempuan itu langsung membalasnya.
"Gapapa. Iya, aku masih di sini. Hati-hati, ya. Jangan ngebut." Segaris senyum kembali dibuat di bibirnya yang kian dingin.
Perempuan itu kembali melanjutkan yang ditulisnya di halaman buku. Percik kembang api keluar dari penanya. Letupan-letupan kecil nan lucu itu selalu saja disukainya. Aneh, memang. Kenapa perempuan ini menyukai hal-hal kecil yang bahkan orang lain akan menganggapnya sebuah kesia-siaan? Ah, tunggu dulu. Apa pula makna sia-sia?
Tak ada sia-sia dalam kamus hidupnya. Denting waktu di jam tangan bermotif buku itu menunjuk angka sembilan lewat sepuluh menit. Sudah satu setengah jam ia menunggunya.
Namun, tak ada raut wajah sedih, kesal, apalagi marah darinya. Kata orang, wajah perempuan sepertinya tak cocok kalau marah. Jadi, ia sudah belajar tak menampakkan marah sedari kecil di wajahnya. Ia pindahkan dalam pena. Ke dalam halaman-halaman buku yang penuh mata dan telinga.
"Kamu masih terjebak hujan? Atau sudah jalan?" Perempuan itu kembali mengirim pesan pada seseorang yang ditunggu.
"Sebentar lagi aku kesana. Sabar, ya."
"Sabar?" Ehm, sebut saja wanita itu belum memenuhi kriteria sabar. Saat hujan mulai kembali ke tanah sepenuhnya, aroma petrichor menyerbak indahnya. Mata perempuan itu terpejam. Dibiarkannya hidungnya mencium aroma khas itu.
"Indah... sejuk. Aku suka aromanya."
Ia menutup halaman buku yang berisi sesuatu. Memasukkannya ke dalam tas, dan mempersiapkan diri dijemput entah oleh siapa.
Perempuan itu memegang secarik kertas. Ternyata, ia sudah mengambilnya terlebih dahulu. Dimasukkannya ke dalam sebuah amplop lucu. Sebuah amplop bermotifkan buku dan hujan. Hujan dan buku.
"Semoga kamu suka." Lirihnya pada amplop lucu itu.
Namun, seseorang yang ditunggu tetap tak kunjung di depan matanya.
"Kamu gapapa 'kan? Ada halangan di jalan? Motormu macet? Atau... bajumu basah kena hujan?"
Anehnya, tak ada mata curiga apapun pada yang ditunggunya. Perempuan itu tetap menumbuhkan kasihnya. Semata, berharap seseorang yang akan diberinya kertas di amplop lucu itu baik-baik saja. Tak ada balasan. Namun, waktu terus berjalan. Angka di jam tangannya kian menghantarkan pada gelapnya malam. Pukul sepuluh lebih sepuluh.
"Ya Tuhan, sebenernya dia dimana? Dia baik-baik saja 'kan?" Matanya mulai berkaca, tapi ditahannya bulir mata segera.
"Kak Naya gak pulang? Mampir ke rumahku aja, yuk, Kak. Gapapa kan, Bu?" seorang anak kecil bersandal ungu itu merengek. Meminta ibunya untuk memberi atap rumah untuk Naya.
"Iya, Nak. Daripada di mushola. Sudah malam, kawatir. Ayuk, mampir ke rumah Ibu saja."
"Terimakasih, Bu. Tapi saya sedang menunggu seseorang." Jawabnya ramah.
Seseorang dengan motor biru itu tiba-tiba datang di depan matanya.
"Naah, dia sudah datang, Bu. Sebelumnya terimakasih ya, Bu. Maaf, kalau sudah membuat kawatir Ibu."
"Ouh, iya Nak. Gapapa. Syukur, kalau yang jemput sudah datang. Kalau ada apa-apa, mampir ke rumah Ibu aja, ya, Naya." Jawabnya ramah.
Anak kecil bersandal ungu dan Ibunya pun segera berlalu. Meninggalkan perempuan bergaun putih yang datang dan pergi bersama hujan. Pun, meninggalkan seseorang yang menjemput perempuan itu. Seorang laki-laki berwajah hujan dengan motor biru.
"Maaf, sudah membuatmu lama nunggu." Ucap laki-laki berwajah itu. Dialah Genta. Sahabat laki-lakinya yang sudah seperti kekasih tersendiri bagi Naya.
"Gapapa. Kamu baik-baik aja 'kan?" Perempuan itu masih saja mengkawatirkannya. Padahal, dirinya agaknya lebih perlu dikawatirkan.
Naya hanya tersenyum.
"Oh ya, kamu bawa apa?" Genta tak jadi mengenakan helm pada Naya.
"Kayanya itu buat aku yah?"
Perempuan itu mengangguk. Laki-laki berwajah hujan itu kian mendekatinya. Bersiap menerima amplop lucu itu. Amplop lucu yang berisi sesuatu—dibuat dari tinta yang dikeluarkan pena dengan percik kembang api di dalamnya.
Mata mereka semakin bertemu. Naya pun memberikannya.
Dibukanya amplo berisi sesuatu itu.
Selamat Ulang Tahun, Hujan.
Semoga kau tetap merawat satu bunga di halaman matamu.
Bulir bening mengalir begitu saja darinya. Tangis bahagia begitu terasa bagi Genta.
"Terima kasih, Naya."
***
Di jalan yang lain, perempuan itu terus menebar kasih. Ia tetap membaca buku. Menulis sesuatu. Mengeluarkan percik kembang api dari pena. Meluapkan amarah pada halaman buku yang penuh mata dan telinga.
Menebar senyum dan tawa pada anak-anak lesnya. Pun, menawarkan teduh puisi pada mereka. Ia terus saja begitu. Seakan melupa, hujan belum tentu tiba setiap saat ia menginginkannya. Hari ini Naya bisa saja merasa bahagia bersama Genta, esok?
Keluarga Irfan menyelesaikan sarapannya. Begitu juga denganku."Nak Genta, saya sekeluarga pamit dulu. Sebentar lagi paling karyawan lain sudah masuk. Silahkan bekerja, ya.""Iya, Pak. Terimakasih banyak.""Semangat, Bro!" Irfan menepuk bahuku. Aku pun mengikuti langkah mereka keluar rumah.Saat Irfan dan keluarganya melesat jauh dengan mobil putih, aku terdiam sendiri. Mematung. Entah, menunggu seseorang menyapaku?Aku lihat sekelilingnya. Belum ada tanda-tanda karyawan lain sudah berangkat. Kulihat jam di ponselku. Pukul tujuh lebih dua puluh menit."Pantesan belum pada berangkat." Celetukku seraya memeriksa amplop upah pertamaku."Satu juta lima ratus ribu rupiah. Ah, sepertinya ini cukup untuk mengganti biaya hidupku. Sisanya bisa buat nyari kontrakan baru."Datang seorang perempuan berkerudung hitam. Berkulit kuning langsat, dan bermata teduh mendekatiku. Aku bergegas menaruh amplop di saku celanaku.
Kalian pernah menebak apa yang akan Genta itu putuskan? Tetap tinggal bersama Ahsan dan istrinya atau benar-benar memutuskan pindah?Begini, sayangnya kenyataan seringkali tak perlu ditebak. Meski takdir adalah sesuatu yang mirip tebak-tebakan. Bagaimana takdirmu beberapa detik setelah membaca ini? Pun tak ada yang tahu. Seseorang pernah mengatakan, "Jangan pernah menebak isi kepala perempuan."Namun, agaknya hal itu pun berlaku untuk laki-laki berwajah tegas bernama Genta itu. Ya, itulah dia. Aku sendiri. Setelah berbagai pertimbangan, ada satu hal yang benar-benar kuputuskan. Aku memilih pergi lebih jauh. Meski aku sendiri masih meragu bagaimana memakna jauh? Seperti seorang kekasih yang patah hati dan rela pergi sejauh ujung dunia ini? Ah, sebentar bukannya dunia ini bulat, bukan segitiga yang gampang ditebak ujungnya? Apa itu bermakna sejauh apapun pergi, hakikatnya ia tetap berada berputar di satu sisi: ingatan dan perasaannya sendiri.Aku merasa demikia
"Jangankan orang lain, tak jarang orangtua kita sendiripun belum tentu mengerti. Sejak aku mengenal kaum hawa, aku kira pertanyaan sia-sia yang paling populer dari mereka adalah, 'Kenapa gak bisa ngertiin aku?'"***Tak ada yang benar-benar mengerti selain diri sendiri. Kesepian barangkali semacam menu yang melekat pada tiap insan. Terutama, mereka yang senantiasa mengejar Cahaya. Berpegang teguh di dalamnya. Bersinar karena kebaikan-kebaikan yang ditebar, apapun yang diterimanya. Seorang aktivis Soe Hok Gie juga merasakan kesepian dalam menjalani hidupnya. Merasa sepi karena orang-orang tertentu tak mampu memahami jalan pikirnya. Idealisnya. Namun dia tetap fight dengan hal itu. Begitupun penulis sekelas Pramoedya Ananta Toer, selaras merasa kesepian—tersebab memang beberapa orang di sekitar kita barangkali memang tercipta bukan untuk memahami, tapi membentuk diri berjalan lebih tenang sendiri—tanpa puja puji."B
"Sukma, gimana? Sudah bisa dihubungi?" Ibunya Genta bertanya pada Sukma."Ibu kok kawatir sekali dengan Genta. Apa sudah sampai? Kenapa ia ndak kabarin Ibu?" Cemas kian menggelayutinya."Ibu tenang, ya. Mungkin hp Kakak mati. Jadi susah dihubungin."Gimana kalau dia benar-benar belum sampai?""Apa dia sudah makan?""Kenapa sampai sore hari tak berkabar?""Kan harusnya siang ini sudah sampai. Kenapa sampai sore begini, belum juga kabarin Ibu?""Ssstt, Ibu tenang, ya. Kakak pasti nggakpapa. Ibu istirahat dulu aja, ya. Biar nanti sorean Sukma telpon Kakak lagi.""Nak, tolong kabarin terus Kakakmu. Dia tak punya siapa-siapa di sana. Ibu kawatir dia kenapa-napa.""Iya, Bu... Ibu tenang, ya.""Ya Allah, Kakak kemana aja si? Kenapa gak berkabar juga?" Sukma ikut cemas.***Terik mentari siang itu cepat memudar. Setelah Genta makan siang di warung makan, ia segera bergegas pulang. Ada sedikit kelegaan yang di
Mataku memang tak berkaca. Tapi pikiranku sungguh penuh tanya. Apakah nanti di sana baik-baik saja? Di atas cemas Ibu dan adikku, sebenarnya aku lebih mencemasi diriku sendiri.Kupungut sedih yang tak kulukis di wajah. Tak kubiarkan wajah jadi kanvas lukisan mendung. Sebab awan mendung, tak pantas jadi pajangan. Begitu, pikirku.Kubalikkan wajah menatap Ibu dan Sukma, kutinggalkan senyum penuh tanda tanya."Esok?" "Bukankah hari inilah yang harus kulakukan sepenuhnya? Meski entah apa saja yang akan menimpa?" Aku tak membiarkan tanya itu keluar dari bagian tubuhku. Apalagi wajahku. Kembali, kukemasi segala cemas. Segala cemas kukemasi."Bismillaah... yaAllah, jika nanti benar yang terbaik, ridhoilah.""Bu, Genta pamit, ya. Cuma dua hari. Genta cuma ingin lihat suasana di sana dulu. Ada Kakaknya teman Genta di sana. Nanti Genta menginap di sana.""Kamu yakin?""Iya, Bu. Anggap saja ini semacam liburan. Tidak lama.""Bai
"Ada apa?" Genta bertanya pada salah satu temannya."Kamu dipanggil guru bimbingan konseling! Dari kemarin kenapa gak berangkat? Kamu ada masalah apa?""Masalah? Aku merasa tak ada masalah.""Ya sudah, lebih baik kamu temuin guru bimbingan konseling sana!""Baiklah. Makasih, infonya!"Beberapa saat kemudian, Genta keluar dari ruangan guru. Teman-temannya sudah cemas. Takut Genta tak lulus atau kabar buruk menyertainya."Gimana, Genta? Ada apa?""Tidak apa-apa. Bukan masalah ko. Tak usah kawatir.""Serius?""Iya.""Oh ya, kamu mau kemana setelah lulus nanti?""Lihat saja nanti ya. Aku mau pulang dulu.""Buru-buru?""Iya. Gatau kenapa lagi kangen Ibu.""Aneh banget kamu, Genta." Ucap salah seorang temannya.***Rumah ini pilihan IbuDipilih karena batu-batu rinduSapulah karena waktuKarena Ibu tahu kemana langkah waktuKarena Ibu...Rumah