공유

Kecemasan Genta

작가: Ana Oshibana
last update 게시일: 2020-11-13 06:55:16

Pria itu masih tertegun. Ia seperti seorang manusia dengan setengah kesadaran. Matanya menunduk seakan mencari kesalahan. Bukan hanya mencari, tapi mengutuk dirinya.

Wajahnya kian menyedihkan, saat menatap hujan. Menatap hujan membuatnya teringat gadis ajaib penyuka hujan dan malam itu. Ya, tak lain adalah kekasihnya. Naya.

Kekasih? Agaknya malam itu adalah jembatan pemutus kasih. Sebuah keraguan kembali dirasakan Genta. Ia merasa minder.

Seorang anak petani biasa. Pria realistis, begitu banyak orang menyebutnya. 

Genta setelah malam itu mengantarkan pulang Naya, ia makin merasa minder. Tanpa sepengetahuan Naya, Ibunya memanggil Genta.

"Kamu menyukai anakku, Naya?" Tanya Kinanthi.

"Iya, Bu."

"Lebih baik kamu jauhi dia!"

"Kenapa, Bu?"

"Kamu tak pantas bersama anak saya!"

***

Genta pulang dengan wajah penuh kesedihan. Ia tak bisa mengungkapkan apa yang dirasanya. Lalu, iapun memilih menuliskan sedikit yang dirasanya di buku hariannnya. Genta masih memegang kertas itu. Sebuah kertas ucapan ulang tahun dari kekasihnya. Seorang gadis yang selain pencinta hujan dan malam. Iapun penggila buku. Barangkali, lewat itu mereka bertemu.

Dipandanginya kertas ucapan itu. Wajahnya kian menyedihkan. Ditenggelamkan dirinya sendiri. Layu. Dan semakin layu.

"Naya, maafkan aku. Kamu hanya tak tau. Ini bukan kemauanku." Gumamnya.

"Kumohon, semoga kau mengerti."

Malam masih menitikkan bulir bening dan heningnya. Genta melirik jam tangan di tangan kirinya. Pukul sepuluh lebih empat puluh delapan menit. 

"Aku harus segera menyiapkan makanan malam. Bagaimanapun, Ibu pasti segera pulang ke rumah." Ibunya Genta adalah seorang janda miskin. Laras, namanya. Sehari-hari ia bekerja sebagai petani. Itupum bukan sawah miliknya. Bahkan, terkadang sampai larut seperti malam ini.

Genta menaruh kertas ucapan ulang tahun kekasihnya di atas buku harian yang tak jadi ditulisnya. Ia segera ke dapur menyiapkan makan malam untuk ibunya.

***

"Darimana saja kamu, Nak?" Sapa Ibunya setelah terlihat capek dari luar.

"Tadi kehujanan, Bu."

"Sama Naya? Habis jemput dia?"

"Ehm, Iya, Bu."

"Syukurlah. Semoga baik-baik saja Naya. Kapan-kapan ajak dia kesini, ya?"

Genta tertunduk. Wajahnya kembali meraba sedih. Namun, diangkatnya kembali wajah itu.

"Sudah tak bisa, Bu. Naya sepertinya gak bisa main ke sini nemenin Ibu."

"Kenapa sayang? Kalian berantem?"

"Entahlah... Genta capek, Bu. Mau ke kamar dulu ganti baju."

"Genta sudah masakin buat kamu."

"Kamu kenapa, Nak?"

***

"Aksa!! Besok ke sekolah lebih cepet, ya! Besok ada rapat penting!!"

"Alerta!! Alerta!! Besok lo mesti ke sekolah, Bro! Temen-temen nungguin lo!"

Berbagai pesan mendarat di ponsel Genta. Namun, ia seperti belum selera membalasnya. Ia buka kembali kertas ucapan dari Naya.

Selamat ulang tahun, Genta.

Semoga kau tetap merawat satu bunga di halaman matamu.

Ia baca dua kalimat itu. Ia terus membacanya. Mungkin, rasanya seperti berbagai benda tajam menusuknya berkali-kali. Ia telah melukai gadis berhati bening itu. Gadis yang tak pantas dilukai sedikitpun.

Namun, seakan percuma. Naya dikenalnya sebagai orang yang sabar. Baik hati. Penuh kepedulian. Namun, saat marah... jangan ditanya. Marahnya orang yang sabar, sungguh menakutkan. 

Itulah mungkin alasan Genta begitu membaca ulang ucapan dari Naya. Apa yang akan dikatakannya kalau dia benar-benar menghilang dari kehidupan Naya?

"Kenapa juga aku harus bertemu dengan Ibunya malam itu? Hah?" Aksa kesal dengan dirinya sendiri.

Terus memaki. Saat kembali memegang kepalanya sendiri. Merenung di meja kamarnya. 

Sebuah telepon berdering. 

Tak lain adalah temannya yang tadi mengiriminya pesan.

"Hallo, Bro. Lo dimana? Gawat, besok mesti ke sekolah! Temen-temen butuh lo!"

"Ada apa?"

"Pokoknya lo mesti ke sekolah. Besok jam tujuh pagi. Jangan telat!"

Klik. Telepon dimatikannya.

"Ish... bikin tambah pusing aja." Gerutunya.

Genta kembali menatap kertas ucapan itu.

"Maafkan aku sayang." Gumamnya.

***

"Naak... makan dulu. Kamu juga belum makan, 'kan?" Suara Ibunya terdengar dari kamar Genta.

Tak mau membuatnya kawatir, Genta pun keluar.

"Naah, sini makan dulu."

"Iya, Bu."

"Kamu beneran gapapa, Nak? Wajahmu terlihat lesu. Masih kepikiran Naya?"

"Ndapapa, Bu. Genta baik-baik aja."

"Naya itu perempuan baik. Hatinya lembut. Sabar. Perempuan sepertinya jangan pernah disia-siakan. Jangan pernah sedikitpun kamu menyakitinya."

Genta mendengarkan tutur Ibunya seksama.

"Memang, dia sabar, baik, peduli sama orang lain. Namun, saat di hatinya sudah kecewa, perlu ekstra perjuangan mendapatkan hatinya kembali. Itupun kalau masih bisa."

"Kamu inget dulu bagaimana mendapatkan hatinya Naya, 'kan?"

"Perempuan sepertinya tak mudah membuka hati untuk orang lain 'kan?"

Ibunya bertanya, tapi seakan tak perlu jawaban anaknya. Diamnya Genta sudah jadi jawaban bagi Ibunya.

Genta terdiam. Wajahnya masih penuh kekawatiran.

"Sudah... kamu tenang saja. Ibu punya rahasia untukmu."

"Rahasia?"

"Ya. Rahasia wanita."

"Maksud Ibu?"

"Perempuan seperti Naya bukan perempuan sembarangan. Yang bisa luluh hatinya, hanya dengan bunga, puisi, apalagi gombalan tak berisi. Benar 'kan?"

Genta memandang Ibunya. Seolah menebak-nebak apa maksud dari yang akan dijelaskan Ibunya.

"Perempuan sepertinya itu istimewa. Kamu harus mengerti bagaimana merawat hatinya. Bukan hanya mendapatkannya."

"Maksud Ibu? Genta gak paham."

"Kamu... sudah besar tapi gak paham tentang cinta. Gimana mau jadi anak yang bener-bener keren?"

"Ibu... jangan menyindir. Langsung saja kasih Genta nasehat yang Genta mudah mengerti."

"Begini. Kamu harus belajar sabar. Menjaga hati perempuan lebih perlu perjuangan daripada hanya sekedar mendapatkannya. Seperti saat sekarang, kamu ini, Nak."

"Kamu inget dulu bagaimana mendapatkannya? Meraih hatinya yang sulit membuka hati untuk pria manapun?"

"Tapi kamu berhasil mengetuk hatinya. Itu artinya, Naya melihat keindahan berbeda dari dirimu, Nak. Kamu inget-inget lagi apa itu."

"Itu semacam rahasia wanita. Dalam memandang pria. Tapi, kali ini entah apa masalah yang kamu lakukan ke Naya, kamu harus lebih sabar."

"Sudah. Makan dulu yah?"

"Oh ya, Bu. Besok aku mau berangkat cepet ke sekolah."

"Ada apa? Ada masalah lagi?"

"Kata temen sih gitu. Gawat katanya. Ibu tau sendiri temen-temen suka nungguin petuahku." Ucap Genta sedikit melegakan perasaan sedihnya. 

"Itulah anak Ibu."

Dalam benak Genta, berbagai tanya seperti masih menggantung. "Bagaimana mengurai rahasia wanita itu? Aku sungguh tak mengerti maksud Ibu." 

Namun, apa yang didengarkannya malam itu semacam resep. Bagaimana nanti ia bicara tentang hubungannya pada Naya. Meski Genta masih bertanya-tanya pada dirinya sendiri. "Bagaimana cara yang terbaik membicarakan ini padamu, Naya?"

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Behind The Wedding [INDONESIA]   Menjalani yang Ada

    Keluarga Irfan menyelesaikan sarapannya. Begitu juga denganku."Nak Genta, saya sekeluarga pamit dulu. Sebentar lagi paling karyawan lain sudah masuk. Silahkan bekerja, ya.""Iya, Pak. Terimakasih banyak.""Semangat, Bro!" Irfan menepuk bahuku. Aku pun mengikuti langkah mereka keluar rumah.Saat Irfan dan keluarganya melesat jauh dengan mobil putih, aku terdiam sendiri. Mematung. Entah, menunggu seseorang menyapaku?Aku lihat sekelilingnya. Belum ada tanda-tanda karyawan lain sudah berangkat. Kulihat jam di ponselku. Pukul tujuh lebih dua puluh menit."Pantesan belum pada berangkat." Celetukku seraya memeriksa amplop upah pertamaku."Satu juta lima ratus ribu rupiah. Ah, sepertinya ini cukup untuk mengganti biaya hidupku. Sisanya bisa buat nyari kontrakan baru."Datang seorang perempuan berkerudung hitam. Berkulit kuning langsat, dan bermata teduh mendekatiku. Aku bergegas menaruh amplop di saku celanaku.

  • Behind The Wedding [INDONESIA]   Jeda Sebelum Kembali

    Kalian pernah menebak apa yang akan Genta itu putuskan? Tetap tinggal bersama Ahsan dan istrinya atau benar-benar memutuskan pindah?Begini, sayangnya kenyataan seringkali tak perlu ditebak. Meski takdir adalah sesuatu yang mirip tebak-tebakan. Bagaimana takdirmu beberapa detik setelah membaca ini? Pun tak ada yang tahu. Seseorang pernah mengatakan, "Jangan pernah menebak isi kepala perempuan."Namun, agaknya hal itu pun berlaku untuk laki-laki berwajah tegas bernama Genta itu. Ya, itulah dia. Aku sendiri. Setelah berbagai pertimbangan, ada satu hal yang benar-benar kuputuskan. Aku memilih pergi lebih jauh. Meski aku sendiri masih meragu bagaimana memakna jauh? Seperti seorang kekasih yang patah hati dan rela pergi sejauh ujung dunia ini? Ah, sebentar bukannya dunia ini bulat, bukan segitiga yang gampang ditebak ujungnya? Apa itu bermakna sejauh apapun pergi, hakikatnya ia tetap berada berputar di satu sisi: ingatan dan perasaannya sendiri.Aku merasa demikia

  • Behind The Wedding [INDONESIA]   Keep Fighting

    "Jangankan orang lain, tak jarang orangtua kita sendiripun belum tentu mengerti. Sejak aku mengenal kaum hawa, aku kira pertanyaan sia-sia yang paling populer dari mereka adalah, 'Kenapa gak bisa ngertiin aku?'"***Tak ada yang benar-benar mengerti selain diri sendiri. Kesepian barangkali semacam menu yang melekat pada tiap insan. Terutama, mereka yang senantiasa mengejar Cahaya. Berpegang teguh di dalamnya. Bersinar karena kebaikan-kebaikan yang ditebar, apapun yang diterimanya. Seorang aktivis Soe Hok Gie juga merasakan kesepian dalam menjalani hidupnya. Merasa sepi karena orang-orang tertentu tak mampu memahami jalan pikirnya. Idealisnya. Namun dia tetap fight dengan hal itu. Begitupun penulis sekelas Pramoedya Ananta Toer, selaras merasa kesepian—tersebab memang beberapa orang di sekitar kita barangkali memang tercipta bukan untuk memahami, tapi membentuk diri berjalan lebih tenang sendiri—tanpa puja puji."B

  • Behind The Wedding [INDONESIA]   Pulang?

    "Sukma, gimana? Sudah bisa dihubungi?" Ibunya Genta bertanya pada Sukma."Ibu kok kawatir sekali dengan Genta. Apa sudah sampai? Kenapa ia ndak kabarin Ibu?" Cemas kian menggelayutinya."Ibu tenang, ya. Mungkin hp Kakak mati. Jadi susah dihubungin."Gimana kalau dia benar-benar belum sampai?""Apa dia sudah makan?""Kenapa sampai sore hari tak berkabar?""Kan harusnya siang ini sudah sampai. Kenapa sampai sore begini, belum juga kabarin Ibu?""Ssstt, Ibu tenang, ya. Kakak pasti nggakpapa. Ibu istirahat dulu aja, ya. Biar nanti sorean Sukma telpon Kakak lagi.""Nak, tolong kabarin terus Kakakmu. Dia tak punya siapa-siapa di sana. Ibu kawatir dia kenapa-napa.""Iya, Bu... Ibu tenang, ya.""Ya Allah, Kakak kemana aja si? Kenapa gak berkabar juga?" Sukma ikut cemas.***Terik mentari siang itu cepat memudar. Setelah Genta makan siang di warung makan, ia segera bergegas pulang. Ada sedikit kelegaan yang di

  • Behind The Wedding [INDONESIA]   Inilah Jalanku

    Mataku memang tak berkaca. Tapi pikiranku sungguh penuh tanya. Apakah nanti di sana baik-baik saja? Di atas cemas Ibu dan adikku, sebenarnya aku lebih mencemasi diriku sendiri.Kupungut sedih yang tak kulukis di wajah. Tak kubiarkan wajah jadi kanvas lukisan mendung. Sebab awan mendung, tak pantas jadi pajangan. Begitu, pikirku.Kubalikkan wajah menatap Ibu dan Sukma, kutinggalkan senyum penuh tanda tanya."Esok?" "Bukankah hari inilah yang harus kulakukan sepenuhnya? Meski entah apa saja yang akan menimpa?" Aku tak membiarkan tanya itu keluar dari bagian tubuhku. Apalagi wajahku. Kembali, kukemasi segala cemas. Segala cemas kukemasi."Bismillaah... yaAllah, jika nanti benar yang terbaik, ridhoilah.""Bu, Genta pamit, ya. Cuma dua hari. Genta cuma ingin lihat suasana di sana dulu. Ada Kakaknya teman Genta di sana. Nanti Genta menginap di sana.""Kamu yakin?""Iya, Bu. Anggap saja ini semacam liburan. Tidak lama.""Bai

  • Behind The Wedding [INDONESIA]   Memulai Pilihan

    "Ada apa?" Genta bertanya pada salah satu temannya."Kamu dipanggil guru bimbingan konseling! Dari kemarin kenapa gak berangkat? Kamu ada masalah apa?""Masalah? Aku merasa tak ada masalah.""Ya sudah, lebih baik kamu temuin guru bimbingan konseling sana!""Baiklah. Makasih, infonya!"Beberapa saat kemudian, Genta keluar dari ruangan guru. Teman-temannya sudah cemas. Takut Genta tak lulus atau kabar buruk menyertainya."Gimana, Genta? Ada apa?""Tidak apa-apa. Bukan masalah ko. Tak usah kawatir.""Serius?""Iya.""Oh ya, kamu mau kemana setelah lulus nanti?""Lihat saja nanti ya. Aku mau pulang dulu.""Buru-buru?""Iya. Gatau kenapa lagi kangen Ibu.""Aneh banget kamu, Genta." Ucap salah seorang temannya.***Rumah ini pilihan IbuDipilih karena batu-batu rinduSapulah karena waktuKarena Ibu tahu kemana langkah waktuKarena Ibu...Rumah

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status