Home / All / Behind The Wedding [INDONESIA] / Kecemasan Genta (2)

Share

Kecemasan Genta (2)

Author: Ana Oshibana
last update publish date: 2020-11-13 06:55:48

"Kamu, apa kabar, Naya?"

***

Sejak pertemuan di hujan malam itu, Naya alpa. Seakan ditelan masa yang entah darimana datang dan perginya. Dia bahkan tak berkabar meski hanya sedikit. Semuanya mendadak pahit. Tak ada semanis kopi, yang ada hanya pahitnya di hati.

Genta semakin membawa berbagai tanya. Sampai ia tak tahu akan ditaruh dimana berbagai tanya itu. Di tepian jalan dengan pohon yang teduh? Di pelataran rindu? Ia sendiri tak tahu. Ingatan-ingatan jatuh seketika. Membasahi mata, menumbuhkan rindu di pipi wajahnya.

***

Genta Mahardika

Rumah ini pilihan Ibu. Dipilih karena batu-batu rindu. Disapu oleh berbagai waktu. Karena Ibu, lalu rumah ini juga pilihan Ayah. Dibangun dengan payah. Lahirlah aku: Genta Mahardika. Kau pasti sudah bisa menebak siapa ayahku, bukan? Ya, Mahardika. Lengkapnya, Rudi Mahardika.

"Nak, kamu ndapapa nda berangkat sekolah. Asal tetep giat belajar,"

"Kenapa begitu, Bu?"

"Sebab sekolah hanya satu tempat belajar. Kehidupan adalah tempat kamu belajar sesungguhnya."

Genta masih ingat, pagi ini Ibu mengucapkannya ke dua ratus tujuh puluh  tiga kali. Ya, ia menyebut itu karena ia selalu menuliskannya di buku diary.

Genta memahami kalimat itu begitu dalam. Hanya dengan Ibunyalah, ia lebih merasai makna kehidupan. Laki-laki berwajah tegas tapi tak begitu yakin dengan tindakannya. Namun, ia seperti hanya mengikuti kegelisahan batinnya sendiri.

***

Suatu sore, ia tak sengaja melihat seorang anak mengemis di jalanan. Ia tanyai anak itu. Rasa iba hatinya begitu dalam. Didapatinya anak itu putus sekolah. Genta seakan tak bisa diam, kalau sudah melihat penderitaan orang lain. Iapun memutuskan tak berangkat sekolah tiga hari. Menemui anak itu, dan menyelami lebih dekat kehidupannya.

***

"Kamu mau jadi apa?" "Orangtua banting tulang untuk nyekolahin kamu. Kenapa malah bolos?" Rentetan tanya menyerbu Genta seketika dari mulut Ayahnya dahulu kala. "Kenapa diam saja, hah?"

"Genta pergi ketemu anak-anak, yah."

Begitu dapat pemberitahuan dari sekolah, ayahnya marah. Sebab itu pula, Genta tak begitu dekat dengan Ayah. Tapi tidak dengan Ibunya. Ibunya tak pernah memarahinya. Ibunya pula yang lebih memahami. Bahkan tersenyum dengan kejadian ini.

Genta memeluk kejadian itu sendiri. Bertahun lamanya, sampai benar-benar Ayahnya meninggal dunia. Sebelum esok hari, ia taruh di mata perempuan itu; Naya.

***

Aku ingin menceritakan seporsi kenangan, Naya. Tentang masa-masa itu. Masa dimana siang jadi malam. Malam kian temaram. Sesunyi itu rasanya. Meski deru nampak kulontarkan. Namun sepi tak terhindarkan. Aku senang memesan kenangan itu kembali, Naya. 

Entahlah. Sedikit banyaknya, agar kamu mengerti. Sebenarnya, karena kamu punya mata yang selalu kurindukan. Didalamnya, seperti banyak kisah, namun menjadi misteri tak terpecah. Karena kamu sendiri memilih memasuki kubu 'a women's heart is deeper than ocean for a secret.' Entah, memaknai gimana.

Yang kuingat adalah kamu. Kamu yang bisu dari kata-kata. Tapi pendengar setia. Sebab itu pula, dengarkan aku kali ini, Naya. Sebentar, kulihat-lihat dulu menunya, ya. Aku menunjuk menu kenangan itu. Lima menit kemudian, tersaji menu kenangan di meja ingatan. Awan mulai membumbui kembali menu ingatanku.

"Aku bosan sekolah."

Rona wajah laki-laki yang duduk di samping Naya berubah. Nampak gurat sedih mulai menjalari otot wajahnya. Perempuan berambut panjang, yang mendengarkan itu hanya menjawab dengan ekspresi—seakan bahasa tubuh berdialog, "Kenapa begitu?"

Namun tak ada suara yang keluar dari mulutnya. Inilah yang cukup harus Genta kunyah tiap kali cerita padanya. Ia harus sabar, tidak mengharap dia lekas berkomentar. Namun, justru sifatnya inilah yang membuatnya betah bercerita panjang lebar dengannya.

Genta melanjutkan ceritanya sendiri. Aneh memang. Absurd memang. Begitulah, laki-laki pun terkadang semenyebalkan itu. Tapi bagaimanapun itu, Genta; adalah sahabat terbaiknya. Ya, kala itu hanya sahabat.

"Aku bosan sekolah, Naya. Ya ... aku ngrasa bosen aja. Seakan semua orang berlomba-lomba nyari ijazah. Selama pembelajaran di kelas, kepalaku rasanya ingin pecah. Aku tak mampu melahap semua pelajaran itu. Di kelas sosiologi kita belajar arti bersosial, tapi apa pernah kita peduli bagaimana keadaan pengamen jalanan bisa makan tiap hari?"

"Aku merasa ... sekolah ini aneh aja, Naya. Pernah gak sih, merasa begitu?"

Angin menjawab desaunya. Naya—perempuan berambut panjang dan bermata teduh—yang Genta rindui bola matanya itu, belum menjawab sepatah kata pun. Justru ia menatap langit.

Beberapa menit seakan menyeka air mata yang hampir menetes dari mata yang Genta rindui itu. Tidak. Aksa tak akan membiarkannya menangis dulu. Katanya, 'air mata adalah hal yang berharga kedua setelah mata air.' Apa yang diucapkannya ia ingat begitu refleks. Ia lalu menundukkan kepala dan tersenyum pada Genta.

Ya, ia tahu. Isyarat itu adalah kode agar Genta mengabaikannya, dan melanjutkan cerita sampai tuntas. Bahkan, tak ia sadari. Bersahabat dengan makhluk misterius yang ia rindui matanya ini, Genta seakan terbawa. Kepekaan yang lebih dari kemarin. Genta agak senyum-senyum sendiri mengingatnya. Ternyata, peka itu menyenangkan juga. Pikirnya.

Genta melanjutkan lagi ceritanya yang belum tuntas. Ia petik diam dari awan yang menjantung di dermaga langit. Meski ia agak pelit. Namun, Genta paksa juga ia memberi keteduhan. Agar diamnya, kian tak membosankan. Aksa pesan lagi, kenangan kemarin saat ia baca buku, jawabnya pada pelayan yang berada di balik awan itu.

"Naya, aku tahu ini hanya kegelisahanku. Tapi aku tak punya hal lain yang bisa kulakukan lebih untuk membantu mereka. Kita seharian sekolah disini, tapi semakin aku belajar, semakin merasa hampa," 

"Aku pengin ngelakuin lebih aja. Kamu tahu 'kan?" Keluhnya. 

"Kemarin aku absen dua hari untuk tahu lebih dekat anak-anak di jalanan itu. Dan ... begitu Ayahku tahu, ya diomelin deh. Tahu deh, pusing."

"Sekarang, aku tanya kamu. Apa yang harus kulakukan sekarang?" Genta mulai terdiam. Rasanya begitu perih mengingat kenangan yang ia pesan dari awan siang—yang mendung kali itu.

"Kamu ingin tetap jadi orang baik, Ta? Yang tak sekadar baik, tapi bisa membahagiakan banyak orang 'kan?"

Genta hanya menganggukkan kepala. Sebuah kode—bahasa tubuh Genta sudah begitu rindu kata yang keluar dari mulutnya.

"Barangkali, kesadaranmu kali ini, adalah salah satu pintu rahmat-Nya bukan? Allah ingin melembutkan hatimu lewat keresahan jiwamu. Tak nyaman dengan penderitaan orang lain. Ingin berbuat sesuatu, tapi tak tahu. Iya, 'kan?"

"Cara terbaik melawan kenangan, biarlah jadi kenangan. Suatu saat kau pun akan memesannya lagi pada awan mendung itu 'kan? Yang barangkali kau bisa ceritakan kembali pada mereka yang pernah sama sepertimu hari ini. Katanya, mengajak orang lain kepada kebaikan, kita ikut dapat kebaikannya juga lo. Indah bukan?"

"Jangan ulangi lagi bolos sekolah. Kasian orangtua. Kan berbakti juga bagian dari berbuat baik 'kan?"

Genta tersenyum mendengar suaranya nan lembut.

"Gausah sok bad boy," ledek Naya.

"Apaan?" "Ya sok keren pengin bantu orang lain, tapi bikin susah orangtua. Sama aja boong." "Iya deh iya yang rajin bantu orangtua."

"Ya nggak gitu juga."

***

Kenangan-kenangan mulai berdatangan. Sesekali Genta jenguk. Pikirannya seolah mengatakan "Kamu boleh menjenguk, tapi tidak untuk dipeluk-peluk." Tapi di saat yang tak dikehendakinya, refleks begitu saja. Yang awalnya hanya menjenguk, jadi dipeluk-peluk. Entah, esok akan datang dari memori yang mana? Genta merawat kepingan-kepingan itu di hatinya. Sampai kapan?

"Engkau selalu ada di saat susah sedihku, tapi aku? Naya, maafkan aku." Gumam Genta.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Behind The Wedding [INDONESIA]   Menjalani yang Ada

    Keluarga Irfan menyelesaikan sarapannya. Begitu juga denganku."Nak Genta, saya sekeluarga pamit dulu. Sebentar lagi paling karyawan lain sudah masuk. Silahkan bekerja, ya.""Iya, Pak. Terimakasih banyak.""Semangat, Bro!" Irfan menepuk bahuku. Aku pun mengikuti langkah mereka keluar rumah.Saat Irfan dan keluarganya melesat jauh dengan mobil putih, aku terdiam sendiri. Mematung. Entah, menunggu seseorang menyapaku?Aku lihat sekelilingnya. Belum ada tanda-tanda karyawan lain sudah berangkat. Kulihat jam di ponselku. Pukul tujuh lebih dua puluh menit."Pantesan belum pada berangkat." Celetukku seraya memeriksa amplop upah pertamaku."Satu juta lima ratus ribu rupiah. Ah, sepertinya ini cukup untuk mengganti biaya hidupku. Sisanya bisa buat nyari kontrakan baru."Datang seorang perempuan berkerudung hitam. Berkulit kuning langsat, dan bermata teduh mendekatiku. Aku bergegas menaruh amplop di saku celanaku.

  • Behind The Wedding [INDONESIA]   Jeda Sebelum Kembali

    Kalian pernah menebak apa yang akan Genta itu putuskan? Tetap tinggal bersama Ahsan dan istrinya atau benar-benar memutuskan pindah?Begini, sayangnya kenyataan seringkali tak perlu ditebak. Meski takdir adalah sesuatu yang mirip tebak-tebakan. Bagaimana takdirmu beberapa detik setelah membaca ini? Pun tak ada yang tahu. Seseorang pernah mengatakan, "Jangan pernah menebak isi kepala perempuan."Namun, agaknya hal itu pun berlaku untuk laki-laki berwajah tegas bernama Genta itu. Ya, itulah dia. Aku sendiri. Setelah berbagai pertimbangan, ada satu hal yang benar-benar kuputuskan. Aku memilih pergi lebih jauh. Meski aku sendiri masih meragu bagaimana memakna jauh? Seperti seorang kekasih yang patah hati dan rela pergi sejauh ujung dunia ini? Ah, sebentar bukannya dunia ini bulat, bukan segitiga yang gampang ditebak ujungnya? Apa itu bermakna sejauh apapun pergi, hakikatnya ia tetap berada berputar di satu sisi: ingatan dan perasaannya sendiri.Aku merasa demikia

  • Behind The Wedding [INDONESIA]   Keep Fighting

    "Jangankan orang lain, tak jarang orangtua kita sendiripun belum tentu mengerti. Sejak aku mengenal kaum hawa, aku kira pertanyaan sia-sia yang paling populer dari mereka adalah, 'Kenapa gak bisa ngertiin aku?'"***Tak ada yang benar-benar mengerti selain diri sendiri. Kesepian barangkali semacam menu yang melekat pada tiap insan. Terutama, mereka yang senantiasa mengejar Cahaya. Berpegang teguh di dalamnya. Bersinar karena kebaikan-kebaikan yang ditebar, apapun yang diterimanya. Seorang aktivis Soe Hok Gie juga merasakan kesepian dalam menjalani hidupnya. Merasa sepi karena orang-orang tertentu tak mampu memahami jalan pikirnya. Idealisnya. Namun dia tetap fight dengan hal itu. Begitupun penulis sekelas Pramoedya Ananta Toer, selaras merasa kesepian—tersebab memang beberapa orang di sekitar kita barangkali memang tercipta bukan untuk memahami, tapi membentuk diri berjalan lebih tenang sendiri—tanpa puja puji."B

  • Behind The Wedding [INDONESIA]   Pulang?

    "Sukma, gimana? Sudah bisa dihubungi?" Ibunya Genta bertanya pada Sukma."Ibu kok kawatir sekali dengan Genta. Apa sudah sampai? Kenapa ia ndak kabarin Ibu?" Cemas kian menggelayutinya."Ibu tenang, ya. Mungkin hp Kakak mati. Jadi susah dihubungin."Gimana kalau dia benar-benar belum sampai?""Apa dia sudah makan?""Kenapa sampai sore hari tak berkabar?""Kan harusnya siang ini sudah sampai. Kenapa sampai sore begini, belum juga kabarin Ibu?""Ssstt, Ibu tenang, ya. Kakak pasti nggakpapa. Ibu istirahat dulu aja, ya. Biar nanti sorean Sukma telpon Kakak lagi.""Nak, tolong kabarin terus Kakakmu. Dia tak punya siapa-siapa di sana. Ibu kawatir dia kenapa-napa.""Iya, Bu... Ibu tenang, ya.""Ya Allah, Kakak kemana aja si? Kenapa gak berkabar juga?" Sukma ikut cemas.***Terik mentari siang itu cepat memudar. Setelah Genta makan siang di warung makan, ia segera bergegas pulang. Ada sedikit kelegaan yang di

  • Behind The Wedding [INDONESIA]   Inilah Jalanku

    Mataku memang tak berkaca. Tapi pikiranku sungguh penuh tanya. Apakah nanti di sana baik-baik saja? Di atas cemas Ibu dan adikku, sebenarnya aku lebih mencemasi diriku sendiri.Kupungut sedih yang tak kulukis di wajah. Tak kubiarkan wajah jadi kanvas lukisan mendung. Sebab awan mendung, tak pantas jadi pajangan. Begitu, pikirku.Kubalikkan wajah menatap Ibu dan Sukma, kutinggalkan senyum penuh tanda tanya."Esok?" "Bukankah hari inilah yang harus kulakukan sepenuhnya? Meski entah apa saja yang akan menimpa?" Aku tak membiarkan tanya itu keluar dari bagian tubuhku. Apalagi wajahku. Kembali, kukemasi segala cemas. Segala cemas kukemasi."Bismillaah... yaAllah, jika nanti benar yang terbaik, ridhoilah.""Bu, Genta pamit, ya. Cuma dua hari. Genta cuma ingin lihat suasana di sana dulu. Ada Kakaknya teman Genta di sana. Nanti Genta menginap di sana.""Kamu yakin?""Iya, Bu. Anggap saja ini semacam liburan. Tidak lama.""Bai

  • Behind The Wedding [INDONESIA]   Memulai Pilihan

    "Ada apa?" Genta bertanya pada salah satu temannya."Kamu dipanggil guru bimbingan konseling! Dari kemarin kenapa gak berangkat? Kamu ada masalah apa?""Masalah? Aku merasa tak ada masalah.""Ya sudah, lebih baik kamu temuin guru bimbingan konseling sana!""Baiklah. Makasih, infonya!"Beberapa saat kemudian, Genta keluar dari ruangan guru. Teman-temannya sudah cemas. Takut Genta tak lulus atau kabar buruk menyertainya."Gimana, Genta? Ada apa?""Tidak apa-apa. Bukan masalah ko. Tak usah kawatir.""Serius?""Iya.""Oh ya, kamu mau kemana setelah lulus nanti?""Lihat saja nanti ya. Aku mau pulang dulu.""Buru-buru?""Iya. Gatau kenapa lagi kangen Ibu.""Aneh banget kamu, Genta." Ucap salah seorang temannya.***Rumah ini pilihan IbuDipilih karena batu-batu rinduSapulah karena waktuKarena Ibu tahu kemana langkah waktuKarena Ibu...Rumah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status