LOGINMusim apa yang mendatangkan cinta?
Pernahkah kamu bertanya, mengapa orang bisa merasakan jatuh cinta? Dan saat ditanya kenapa engkau jatuh cinta? Orang itu tak bisa menjawabnya. Hanya tergugu. Kelu. Seakan baru belajar bicara. Yang keluar hanya kata, "Aku juga gak tau."
Orang-orang berkata jangan pernah menasehati dua hal di dunia ini. Kalau kamu tak ingin capek hati. Satu, orang orang patah hati dan kedua orang yang jatuh cinta. Hahaha. Entahlah, kenapa hal itu jadi semacam nasihat turun temurun. Sedangkan... barangkali aku juga merasakannya. Bedanya aku sendiri bingung. Apakah aku pantas merasakan sakit hati untuk orang-orang yang harusnya kucintai?
Sebuah musim tak pernah menunggu kotanya siap sedia. Kota itu sendirilah yang harus selalu siap sedia. Apapun musimnya yang menyapa. Hari itu, sebuah musim semi. Dimana bunga-bunga mekar indah. Pun harum mewangi, dari berbagai bunga yang kutahu ataupun belum kuketahui.
Langkahku pelan. Mataku melihat sekitar pohon-pohon lebat. Rerumputan liar, yang entah bagaimana seperti pagar hutan. Tumbuh begitu lebatnya. Jalanan desa adalah pemandangan favoritku.
Hari ini jadwal observasiku. Sebut saja begitu. Aku memutuskan untuk mencari loker. Dan kemarin, aku mendapatkannya. Sebuah loker di PT di Bekasi. Kenapa harus aku? Apa wajahku terlihat menyatu dengan alam? Atau... memang aku terlihat pemberani? Berbagai tanya sempat menyergapku.
Setelah mengurusi perijinan, aku berangkat pagi itu. Ditemani seorang yang pengalaman mengurusi perijinan. Sempat aku bertanya-tanya padanya tentang proses pembuatan surat-surat yang kubutuhkan. Namun, jawabannya cukup mengejutkan. "Jaman sekarang susah kalau gak pake calo, Mas. Memang begitu sistemnya. Seakan dipersulit. Jadi mau gak mau ya pake calo."
Tapi, aku fokuskan lebih pada apa yang kulihat. Sebab prinsipku tetap kupegang "Ragukan apapun yang kamu dengar dulu, Genta!" Dengan tak sepenuhnya memercayai apa yang didengar, itu akan lebih membuka peluang untuk membaca. Membaca berbagai kemungkinan. Fakta-fakta mengerikan, bahkan yang memang berkebalikan dari awalnya. Itu sangat mungkin terjadi. Pun, kalaupun nanti hasilnya sama dengan apa yang didengar dari awal, itu tak akan salah. Justru makin menguatkan kebenaran itu sendiri.
Orang yang menemaniku adalah Pak Kardi. Ia adalah warga sekitar tak jauh dari rumahku. Cukup terkenal di desaku. Entah atas nama apa, ia memilih jadi calo. Meski terdengar salah, tapi aku coba tetap mendengarkan berbagai sisi lainnya.
"Pak, sudah berapa lama Pak Kardi jadi calo gini?"
"Sudah hampir tujuh tahun, Mas." Ia menjawab dengan suara beratnya. Tapi tetap terdengar begitu sopan dan lembut.
"Wah... sudah lama juga, ya. Kalau boleh tahu, kenapa Bapak mau? Maksudnya, Bapak kan pasti bertani seperti warga lainnya. Kenapa mau serabutan jadi calo gini?"
"Kalau ingat itu, pasti tiap orang punya kesibukannya masing-masing, Mas. Benar, mayoritas memang berkebun. Petani. Tapi saya juga perlu tambahan." Jawab Pak Kardi ramah.
"Maksud Bapak?" Aku pura-pura tak tahu.
"Iya. Bertani saja tak cukup. Apalagi kalau lagi kena hama. Gagal panen. Deuh, bukannya untung malah buntung. Hitung-hitung skalian bantu orang lain. Kayak Mas-mas ini kan pasti perlu cepet kan bikin surat-surat gini?
"Hehe iya sih, Pak."
"Makanya, calo-calo itu tetap bisa makan."
Aku hanya tersenyum mendengarkannya. Kalau urusan idealis dan realita dibenturkan—kadang-kadang, memang cukup diam. Kita tak bisa mudah menjudge mereka tak berguna. Hanya mengotori administrasi. Tapi nyatanya, persoalan membuat surat-surat kepentingan seperti ini memang cukup rumit.
***
Setelah kuputuskan, aku makin mantap. Bagaimanapun, aku tak mungkin membiarkan Ibu dan adikku hanya menahan diri. Menahan dari jeratan ekonomi yang pas-pasan. Bapak yang sudah meninggal dunia. Secara alami, tanggung jawab itu beralih ke pundakku. Seorang Genta. Sebelum lulus SMA nanti, aku harus mempersiapkannya. Ya, aku harus merantau!
"Pria yang baik tak boleh menangis. Cukup menitikkan air mata." Tegarku.
"Kalau menuruti keinginan, aku ingin sekali lanjut kuliah, Bu. Tapi...," ucapku sendiri.
"Ah, sudahlah. Seperti nasib yanh dipilih Pak Kardi, barangkali memang kehidupan begitu. Memilih pasrah atau menyerah. Tak peduli suka atau tidak."
Sesampainya di rumah, Ibu sudah menantiku. Duduk di teras, seakan begitu merindukan anaknya.
"Darimana, Genta?" Tanyanya lembut.
"Ada keperluan, Bu. Tadi habis muter-muter sama Pak Kardi."
"Ouh yasudah... pasti capek 'kan? Ibu buatin minum dulu, ya." Ia segera beranjak dari tempat duduknya.
"Gausah, Bu. Pria bisa ambil sendiri."
"Ndakpapa." Namun, Ibuku tetap berkeras hati membuatkan minum.
"Eh, Kakak habis darimana aja? Sukma cariin ko gak ada? Huh!" Keluh Sukma yang muncul tiba-tiba dari balik pintu.
"Eh, kamu, Dek. Dari luar tadi. Kenapa? Hum? PRnya susah? Uang jajannya kurang?"
"Enggak tau. Tapi kurang bangeeet. Eh."
"Ssssttt, nanti Ibu denger."
Sukma segera duduk mendekatiku.
"Kak, Sukma boleh jujur 'kan? Kata Kakak kalau ada masalah apapun mesti cerita."
"Iya. Emang harus cerita. Emang kenapa, Dek?"
"Jadi... bukannya uang jajan yang kurang. Tapi sebenernya Adek belum beli buku LKS dan buku paket lainnya. Sama SPP juga belum dibayar. Adek udah coba nyicil harian kalau LKS. Tapi masih belum cukup. Gimana ya, Kak? Adek gaenak bilang sama Ibu...," tutur Sukma.
"Ssttt, udah Adek tenang, ya. Kakak ada uang. Nanti bisa pake uang Kakak dulu. Jadi, tetep semangat belajarnya 'kan? Gak ngeluh lagi karena ditagih hutang?"
"Beneran, Kak?"
"Emang mau diboongin?"
"Ih seriusss."
"Iya. Kakak juga serius. Udah, buruan masuk. Nanti Ibu lihat lho."
"Siap, Kak! Makasih Kakak keliatan keren, deh!" Wajahnya yang kelu, berubah jadi ceria.
"Bisa aja ngrayunya. Udah, sana!"
"Iya, iya. Adek masuk. Jangan lupa, ya. Adek tunggu lho." Iapun segera terburu masuk ke rumah.
"Eh, eh ada apa nih? Apa yang ditungguin?" Ibunya berpapasan dengan Sukma di pintu—hampir saja menabraknya.
"Eh, Ibu. Enggak papa, Bu. Sukma cuma kangen berantem sama Kakak. Makanya Adek tunggu berantem lagi. Hehe."
"Eh, apaan Kakak Adek gak boleh berantem."
"Becanda, Bu. Biasa. Urusan Kakak Adek. Sukma masuk dulu ya, Bu."
"Eh, anak-anak. Ada-ada saja."
"Biarin, Bu. Lagi seneng dia."
"Emang ada apa si? Tadi cerita apa emang? Dapat duit dari sekolahnya? Menang lomba? Atau apa?"
"Haha enggak ko, Bu. Gak penting."
"Masa gak penting sampai segitunya."
"Beneran, Ibuku sayang. Genta mau minum kopinya dulu, ya."
"Hmmm, ada-ada saja. Bikin Ibu bingung."
"Hehe... Ibu sehat 'kan?"
"Tumben nanya begitu. Kayak orang jauh aja kamu, Nak. Kan sudah lihat Ibu sehat."
"Ya gapapa 'kan? Biarpun lihat Ibu tiap hari, tapi Genta juga harus pastiin. Ratu di rumah selalu sehat dan bahagia." Ucapku tenang.
"Bu... sebenernya memang aku ingin pergi jauh. Tapi aku masih belum yakin. Apakah Ibu akan setuju? Tapi lebih dari itu, apa ada pilihan lain melihat kondisi begini, kalau bukan dengan merantau?" Batinku ingin menangis. Tapi kutahan. Senyum Ibu sore itu, terasa sakit dan menguatkan. "Apakah cintaku ke mereka akan tetap sama, meski nanti jauh?" Aku meragu. Ragu dan yakin dengan keputusanku.
"Bu, sebentar lagi kan Genta lulus sekolah. Ibu pengin apa dari Genta?" Tanya Genta ke Ibunya.
"Ibu gak pengin apa-apa, Genta. Cukup kamu temenin Ibu dan adikmu di sini. Bersama-sama di sini. Kumpul bareng di desamu ini. Kamu bisa nerusin bertani."
Genta jadi semakin ragu akan keputusannya.
Apakah ia akan tetap membulatkan tekad untuk merantau?
Drrttt....
Sebuah panggilan telepon datang.
"Genta, kok belum masuk sekolah? Kamu kemana aja?"
"Lagian mau apa sih? Kan sudah bebas? Tinggal nunggu pengumuman lulus 'kan?"
"Bukan itu!! Tapi gawat!! Pokoknya kamu harus kesini!"
Keluarga Irfan menyelesaikan sarapannya. Begitu juga denganku."Nak Genta, saya sekeluarga pamit dulu. Sebentar lagi paling karyawan lain sudah masuk. Silahkan bekerja, ya.""Iya, Pak. Terimakasih banyak.""Semangat, Bro!" Irfan menepuk bahuku. Aku pun mengikuti langkah mereka keluar rumah.Saat Irfan dan keluarganya melesat jauh dengan mobil putih, aku terdiam sendiri. Mematung. Entah, menunggu seseorang menyapaku?Aku lihat sekelilingnya. Belum ada tanda-tanda karyawan lain sudah berangkat. Kulihat jam di ponselku. Pukul tujuh lebih dua puluh menit."Pantesan belum pada berangkat." Celetukku seraya memeriksa amplop upah pertamaku."Satu juta lima ratus ribu rupiah. Ah, sepertinya ini cukup untuk mengganti biaya hidupku. Sisanya bisa buat nyari kontrakan baru."Datang seorang perempuan berkerudung hitam. Berkulit kuning langsat, dan bermata teduh mendekatiku. Aku bergegas menaruh amplop di saku celanaku.
Kalian pernah menebak apa yang akan Genta itu putuskan? Tetap tinggal bersama Ahsan dan istrinya atau benar-benar memutuskan pindah?Begini, sayangnya kenyataan seringkali tak perlu ditebak. Meski takdir adalah sesuatu yang mirip tebak-tebakan. Bagaimana takdirmu beberapa detik setelah membaca ini? Pun tak ada yang tahu. Seseorang pernah mengatakan, "Jangan pernah menebak isi kepala perempuan."Namun, agaknya hal itu pun berlaku untuk laki-laki berwajah tegas bernama Genta itu. Ya, itulah dia. Aku sendiri. Setelah berbagai pertimbangan, ada satu hal yang benar-benar kuputuskan. Aku memilih pergi lebih jauh. Meski aku sendiri masih meragu bagaimana memakna jauh? Seperti seorang kekasih yang patah hati dan rela pergi sejauh ujung dunia ini? Ah, sebentar bukannya dunia ini bulat, bukan segitiga yang gampang ditebak ujungnya? Apa itu bermakna sejauh apapun pergi, hakikatnya ia tetap berada berputar di satu sisi: ingatan dan perasaannya sendiri.Aku merasa demikia
"Jangankan orang lain, tak jarang orangtua kita sendiripun belum tentu mengerti. Sejak aku mengenal kaum hawa, aku kira pertanyaan sia-sia yang paling populer dari mereka adalah, 'Kenapa gak bisa ngertiin aku?'"***Tak ada yang benar-benar mengerti selain diri sendiri. Kesepian barangkali semacam menu yang melekat pada tiap insan. Terutama, mereka yang senantiasa mengejar Cahaya. Berpegang teguh di dalamnya. Bersinar karena kebaikan-kebaikan yang ditebar, apapun yang diterimanya. Seorang aktivis Soe Hok Gie juga merasakan kesepian dalam menjalani hidupnya. Merasa sepi karena orang-orang tertentu tak mampu memahami jalan pikirnya. Idealisnya. Namun dia tetap fight dengan hal itu. Begitupun penulis sekelas Pramoedya Ananta Toer, selaras merasa kesepian—tersebab memang beberapa orang di sekitar kita barangkali memang tercipta bukan untuk memahami, tapi membentuk diri berjalan lebih tenang sendiri—tanpa puja puji."B
"Sukma, gimana? Sudah bisa dihubungi?" Ibunya Genta bertanya pada Sukma."Ibu kok kawatir sekali dengan Genta. Apa sudah sampai? Kenapa ia ndak kabarin Ibu?" Cemas kian menggelayutinya."Ibu tenang, ya. Mungkin hp Kakak mati. Jadi susah dihubungin."Gimana kalau dia benar-benar belum sampai?""Apa dia sudah makan?""Kenapa sampai sore hari tak berkabar?""Kan harusnya siang ini sudah sampai. Kenapa sampai sore begini, belum juga kabarin Ibu?""Ssstt, Ibu tenang, ya. Kakak pasti nggakpapa. Ibu istirahat dulu aja, ya. Biar nanti sorean Sukma telpon Kakak lagi.""Nak, tolong kabarin terus Kakakmu. Dia tak punya siapa-siapa di sana. Ibu kawatir dia kenapa-napa.""Iya, Bu... Ibu tenang, ya.""Ya Allah, Kakak kemana aja si? Kenapa gak berkabar juga?" Sukma ikut cemas.***Terik mentari siang itu cepat memudar. Setelah Genta makan siang di warung makan, ia segera bergegas pulang. Ada sedikit kelegaan yang di
Mataku memang tak berkaca. Tapi pikiranku sungguh penuh tanya. Apakah nanti di sana baik-baik saja? Di atas cemas Ibu dan adikku, sebenarnya aku lebih mencemasi diriku sendiri.Kupungut sedih yang tak kulukis di wajah. Tak kubiarkan wajah jadi kanvas lukisan mendung. Sebab awan mendung, tak pantas jadi pajangan. Begitu, pikirku.Kubalikkan wajah menatap Ibu dan Sukma, kutinggalkan senyum penuh tanda tanya."Esok?" "Bukankah hari inilah yang harus kulakukan sepenuhnya? Meski entah apa saja yang akan menimpa?" Aku tak membiarkan tanya itu keluar dari bagian tubuhku. Apalagi wajahku. Kembali, kukemasi segala cemas. Segala cemas kukemasi."Bismillaah... yaAllah, jika nanti benar yang terbaik, ridhoilah.""Bu, Genta pamit, ya. Cuma dua hari. Genta cuma ingin lihat suasana di sana dulu. Ada Kakaknya teman Genta di sana. Nanti Genta menginap di sana.""Kamu yakin?""Iya, Bu. Anggap saja ini semacam liburan. Tidak lama.""Bai
"Ada apa?" Genta bertanya pada salah satu temannya."Kamu dipanggil guru bimbingan konseling! Dari kemarin kenapa gak berangkat? Kamu ada masalah apa?""Masalah? Aku merasa tak ada masalah.""Ya sudah, lebih baik kamu temuin guru bimbingan konseling sana!""Baiklah. Makasih, infonya!"Beberapa saat kemudian, Genta keluar dari ruangan guru. Teman-temannya sudah cemas. Takut Genta tak lulus atau kabar buruk menyertainya."Gimana, Genta? Ada apa?""Tidak apa-apa. Bukan masalah ko. Tak usah kawatir.""Serius?""Iya.""Oh ya, kamu mau kemana setelah lulus nanti?""Lihat saja nanti ya. Aku mau pulang dulu.""Buru-buru?""Iya. Gatau kenapa lagi kangen Ibu.""Aneh banget kamu, Genta." Ucap salah seorang temannya.***Rumah ini pilihan IbuDipilih karena batu-batu rinduSapulah karena waktuKarena Ibu tahu kemana langkah waktuKarena Ibu...Rumah