Share

Kesedihan Naya

Penulis: Ana Oshibana
last update Tanggal publikasi: 2020-11-13 06:51:57

Kinanthi terdiam. Ia duduk di depan meja makan. Melamun. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Mungkin, kecemasan akan suaminya. Ya, Alan sudah tidak pulang ke rumah selama sepekan ini. Keheranan, sekaligus cemas menimpa suasana hati Kinanthi.

Tiba-tiba, Alan pulang.

"Habis darimana saja kamu?" Tanya Kinanthi pada Alan yang seketika datang di malam itu.

"Habis ada pekerjaan proyek luar kota. Bosen kerja jadi petani. Capek! Kenapa emang?" Jawabnya marah.

"Kenapa tak bilang? Sudah lupa punya anak dan istri?"

"Kamu yah! Suami datang, bukannya ditawari makan, malah dimarahin. Dasar, istri tak berguna!" Alan menampar pipi Kinanthi.

Kecemasan Kinanthi berubah jadi kesedihan yang panjang. Sejak malam itu, Alan kembali tak pulang. 

Puncak dari cemasnya adalah ketika malam minggu itu menjadi saksi. Kinanthi sudah mencurigai sejak dini hari. Ada hal berbeda pada suaminya. Ia pun bergegas mengikuti langkah Alan. Ia mengendap-ngendap pelan. Mengikuti jejak langkah suaminya.

Satu hingga berpuluh pekan lamanya, mata Kinanthi memerah. Matanya perlahan menitikkan air mata. Melihat kesedihan yang ada di hadapannya. Terlihat perempuan lain sedang memeluk suaminya penuh mesra. Kinanthi ingin tak percaya, tapi begitulah adanya. Kinanthi mencoba tak langsung marah. Iapun kembali pulang.

Hal itu kembali terulang. Alan datang dan pergi tiba-tiba. Kinanthi mulai kembali curiga.

Melihat Naya sudah tertidur, Kinanthi pun beranjak mengikuti suaminya. Melangkah pelan-pelan, untuk membuktikan. Meyakinkan diri apakah dia akan menemui perempuan itu kembali? Kemana arah laki-laki berkemeja dan sepatu hitam itu mengayunkan langkahnya? Kenapa begitu rapi? Dengan terang, di mata Kinanthi menyaksikan. Suaminya kembali bercumbu mesra di depan rumah wanita lain. Hati kecilnya seakan makin merintih, melihat suaminya kini telah jadi benalu baginya. Bahkan lebih berbahaya dari sekedar itu. Namun, Kinanthi hanya menahan sedihnya. Ia kembali pulang dengan kesedihannya.

***

"Sudah pulang, sayang?" seorang perempuan bermata bulat itu mendekati Alan. Penuh manja.

"Iya, sayang. Kamu sudah nunggu ya?" Jawab Alan.

"Iya, gimana? Kamu sudah bawa perhiasan yang aku pengin?" Pinta perempuan bernama Lisa itu.

"Sabar ya sayangku, saya akan berusaha sekuat mungkin biar dapat perhiasan terbagus untukmu," Alan menenangkan perempuan itu, sambil mengusap pelan rambutnya.

"Sayang ...,"

"Ya, sayang?"

"Gimana dengan kabar istrimu itu? Apa dia tak marah kamu di sini bersamaku?" 

"Tidak, sayang. Aku sudah bosan sama dia. Lebih baik sama kamu yang lebih cantik dan penyayang. Bosan kalau di rumah. Penginnya manja sama kamu aja." Jawab Alan sambil bermanja dengan Lisa. 

"Bagaimana kalau istrimu nanti tahu, sayang?"

"Ya sudah, tak masalah. Bukannya lebih bagus?"

"Apa?"

"Iya, jadi aku bisa bebas sama kamu, sayangku Lisa." Alan mencium kening Lisa. Penuh mesra.

***

Mata Kinanthi refleks menangis di kamarnya. Meskipun ia sudah berusaha mungkin tak menangis. Meski ia tak tahu, bagaimana caranya bersabar menghadapi semuanya. Bagaimana ia akan menghadapi semuanya? Apa yang akan dia lakukan kalau memutuskan berpisah dengan Alan? Bagaimana nasib Naya, putrinya? Semua itu membuat Kinanthi stres.

***

"Bu, Bapak kemana? Kenapa gak pulang?" Tanya Naya.

"Sudah, tak usah tanya bapakmu lagi! Mending kamu belajar saja, sana!" Bentak Ibu.

Sejak hari itu, Naya tak pernah melihat sedikitpun kelembutan Ibu. Ia justru terlihat semakin pemarah dan emosional.

***

Sakit hati Kinanthi kian bertumbuh. Ia melangkah pelan mendekati perempuan yang tiba-tiba datang ke rumahnya.

"Kamu Lisa, 'kan? Kenapa sendirian begini?"

"Kinanthi ... maafkan aku," dijatuhkannya segera tubuh Lisa memeluk lutut Kinanthi. Memohon maaf.

Kinanthi mengajaknya berdiri kembali. Dengan senyuman penuh, ia berusaha menahan amarahnya.

"Masuklah dulu," Kinanthi mempersilahkannya.

Lisa menggeleng.

"Kenapa? Karena tak sebagus rumahmu? Karena tak semegah rumah yang diberikan Alan padamu?"

"Tidak, Kinanthi. Aku malu. Aku tlah begitu jahat merebut kebahagiaanmu. Aku malu. Aku minta maaf, Kinanthi," tersedu ia mengatakannnya. Air mata tak bisa ditahannya

"Kamu malu? Kenapa tidak dari dulu? Kenapa baru sekarang kamu menyadarinya, Lisa?" Bentak Kinanthi.

"Maafkan aku, Kinanthi. Aku hanya mau minta maaf padamu. Alan sudah meninggalkanku, Kinanthi. Membiarkanku sendirian dengan beban yang sulit. Mungkin ini pembalasan yang tepat dari Tuhan atas kesalahanku. Aku telah tega merenggut kebahagiaanmu. Sekali lagi, maafkan aku, Kinanthi." Tangis Lisa.

"Maaf mungkin mudah. Tapi apa bisa mengembalikannya seperti semula? Tidak, bukan? Aku muak melihat mukamu, Lisa! Pergi dari sini! Pergi!! Aku tak peduli dengan semuanya!"

"Kinanthi, dengarkan aku dulu Kinanthi." Lisa memohon.

"Apa yang kau perlukan lagi di sini, Lisa? Kau bisa cari laki-laki lain yang lebih keren daripada Alan!"

"Kinanthi, aku cuma ingin minta maaf."

"Sudahlah. Aku tak ingin membahasnya lagi. Aku mohon, kamu pergi dari sini!" Kinanthi kembali marah.

Naya yang baru pulang dari sekolah melihatnya. Kaget.

"Ada apa, Bu? Siapa perempuan ini? Kenapa dia menangis?"

"Sudah. Kamu anak kecil! Masuk sana!"

"Tapi, Bu."

"Sudah. Ibu bilang masuk!!"

Karena takut, Naya langsung masuk ke dalam rumah. Namun, ia masih penasaran sebenarnya apa yang terjadi dengan Ibu dan perempuan itu. Kenapa ia begitu memohon pada Ibu? Dan kenapa Ibu terlihat sangat membencinya?

***

Matahari mulai jatuh, tapi tak pernah membuat semangat Naya turun. Sejak beberapa hari yang lalu—sejak ia tak melihat ayahnya--tapi hilang entah dimana, ia mulai melihat lebih pada Ibunya. Meski pemarah, Naya melihat ada ketulusan dalam tiap tatapannya. Meskipun, ia harus menjalani hari-hari yang menakutkan sejak kejadian itu. Naya selali dimarahi Ibunya. Seolah menjadi pelampiasan atas segala kekesalannya. Ingin sekali Naya bertanya kembali pada Ibunya. "Sebenernya, Ayah kemana, Bu?" Namun, ia takut bertanya kembali tentang Ayah. 

"Habis dari mana saja kamu, Naya?" Bentak Kinanthi.

"Habis belajar kelompok sama Genta, Bu."

"Ngapain masih temenan sama anak miskin itu?"

"Bu, Genta itu sahabatku yang baik. Dia yang paling mengertiku."

"Baik? Dimana-mana laki-laki sama saja. Hobi membuat perempuan jatuh cinta pada awalnya. Lalu, dalam sekejap memghancurkannya. Apalagi laki-laki miskin seperti Genta. Apa yang bisa kamu andalkan, Naya?" Bentak Ibunya.

"Naya senang bersama Genta, Bu. Dia baik."

"Dia baik, karena kamu belum melihat sifat aslinya saja. Nanti kalau dia menyakitimu, Ibu tak peduli!"

"Bu..."

"Ibu larang kamu bersahabat dengan Genta!!"

"Tapi, Bu."

"Kamu pilih menaati Ibu atau pergi bersama Genta?" 

"Bukan seperti itu, Bu."

"Naya sayang Ibu."

"Yasudah, kalau seperti itu. Awas kalau masih Ibu lihat kamu bersama Genta! Pilih laki-laki yang berkelas! Bukan laki-laki miskin sepertinya!"

Naya tak mampu lagi berkata. Ia pun pergi meninggalkan Ibunya. Sampai di kamarnya, Naya menangis. Ia selalu bertanya pada dirinya sendiri. "Kenapa Ibu selalu memarahiku?" "Apa karena perempuan itu datang kesini saat itu?" "Atau ini semua ada hubungannya dengan ayah?" "Atau, memang Ibu tak sayang padaku?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Behind The Wedding [INDONESIA]   Menjalani yang Ada

    Keluarga Irfan menyelesaikan sarapannya. Begitu juga denganku."Nak Genta, saya sekeluarga pamit dulu. Sebentar lagi paling karyawan lain sudah masuk. Silahkan bekerja, ya.""Iya, Pak. Terimakasih banyak.""Semangat, Bro!" Irfan menepuk bahuku. Aku pun mengikuti langkah mereka keluar rumah.Saat Irfan dan keluarganya melesat jauh dengan mobil putih, aku terdiam sendiri. Mematung. Entah, menunggu seseorang menyapaku?Aku lihat sekelilingnya. Belum ada tanda-tanda karyawan lain sudah berangkat. Kulihat jam di ponselku. Pukul tujuh lebih dua puluh menit."Pantesan belum pada berangkat." Celetukku seraya memeriksa amplop upah pertamaku."Satu juta lima ratus ribu rupiah. Ah, sepertinya ini cukup untuk mengganti biaya hidupku. Sisanya bisa buat nyari kontrakan baru."Datang seorang perempuan berkerudung hitam. Berkulit kuning langsat, dan bermata teduh mendekatiku. Aku bergegas menaruh amplop di saku celanaku.

  • Behind The Wedding [INDONESIA]   Jeda Sebelum Kembali

    Kalian pernah menebak apa yang akan Genta itu putuskan? Tetap tinggal bersama Ahsan dan istrinya atau benar-benar memutuskan pindah?Begini, sayangnya kenyataan seringkali tak perlu ditebak. Meski takdir adalah sesuatu yang mirip tebak-tebakan. Bagaimana takdirmu beberapa detik setelah membaca ini? Pun tak ada yang tahu. Seseorang pernah mengatakan, "Jangan pernah menebak isi kepala perempuan."Namun, agaknya hal itu pun berlaku untuk laki-laki berwajah tegas bernama Genta itu. Ya, itulah dia. Aku sendiri. Setelah berbagai pertimbangan, ada satu hal yang benar-benar kuputuskan. Aku memilih pergi lebih jauh. Meski aku sendiri masih meragu bagaimana memakna jauh? Seperti seorang kekasih yang patah hati dan rela pergi sejauh ujung dunia ini? Ah, sebentar bukannya dunia ini bulat, bukan segitiga yang gampang ditebak ujungnya? Apa itu bermakna sejauh apapun pergi, hakikatnya ia tetap berada berputar di satu sisi: ingatan dan perasaannya sendiri.Aku merasa demikia

  • Behind The Wedding [INDONESIA]   Keep Fighting

    "Jangankan orang lain, tak jarang orangtua kita sendiripun belum tentu mengerti. Sejak aku mengenal kaum hawa, aku kira pertanyaan sia-sia yang paling populer dari mereka adalah, 'Kenapa gak bisa ngertiin aku?'"***Tak ada yang benar-benar mengerti selain diri sendiri. Kesepian barangkali semacam menu yang melekat pada tiap insan. Terutama, mereka yang senantiasa mengejar Cahaya. Berpegang teguh di dalamnya. Bersinar karena kebaikan-kebaikan yang ditebar, apapun yang diterimanya. Seorang aktivis Soe Hok Gie juga merasakan kesepian dalam menjalani hidupnya. Merasa sepi karena orang-orang tertentu tak mampu memahami jalan pikirnya. Idealisnya. Namun dia tetap fight dengan hal itu. Begitupun penulis sekelas Pramoedya Ananta Toer, selaras merasa kesepian—tersebab memang beberapa orang di sekitar kita barangkali memang tercipta bukan untuk memahami, tapi membentuk diri berjalan lebih tenang sendiri—tanpa puja puji."B

  • Behind The Wedding [INDONESIA]   Pulang?

    "Sukma, gimana? Sudah bisa dihubungi?" Ibunya Genta bertanya pada Sukma."Ibu kok kawatir sekali dengan Genta. Apa sudah sampai? Kenapa ia ndak kabarin Ibu?" Cemas kian menggelayutinya."Ibu tenang, ya. Mungkin hp Kakak mati. Jadi susah dihubungin."Gimana kalau dia benar-benar belum sampai?""Apa dia sudah makan?""Kenapa sampai sore hari tak berkabar?""Kan harusnya siang ini sudah sampai. Kenapa sampai sore begini, belum juga kabarin Ibu?""Ssstt, Ibu tenang, ya. Kakak pasti nggakpapa. Ibu istirahat dulu aja, ya. Biar nanti sorean Sukma telpon Kakak lagi.""Nak, tolong kabarin terus Kakakmu. Dia tak punya siapa-siapa di sana. Ibu kawatir dia kenapa-napa.""Iya, Bu... Ibu tenang, ya.""Ya Allah, Kakak kemana aja si? Kenapa gak berkabar juga?" Sukma ikut cemas.***Terik mentari siang itu cepat memudar. Setelah Genta makan siang di warung makan, ia segera bergegas pulang. Ada sedikit kelegaan yang di

  • Behind The Wedding [INDONESIA]   Inilah Jalanku

    Mataku memang tak berkaca. Tapi pikiranku sungguh penuh tanya. Apakah nanti di sana baik-baik saja? Di atas cemas Ibu dan adikku, sebenarnya aku lebih mencemasi diriku sendiri.Kupungut sedih yang tak kulukis di wajah. Tak kubiarkan wajah jadi kanvas lukisan mendung. Sebab awan mendung, tak pantas jadi pajangan. Begitu, pikirku.Kubalikkan wajah menatap Ibu dan Sukma, kutinggalkan senyum penuh tanda tanya."Esok?" "Bukankah hari inilah yang harus kulakukan sepenuhnya? Meski entah apa saja yang akan menimpa?" Aku tak membiarkan tanya itu keluar dari bagian tubuhku. Apalagi wajahku. Kembali, kukemasi segala cemas. Segala cemas kukemasi."Bismillaah... yaAllah, jika nanti benar yang terbaik, ridhoilah.""Bu, Genta pamit, ya. Cuma dua hari. Genta cuma ingin lihat suasana di sana dulu. Ada Kakaknya teman Genta di sana. Nanti Genta menginap di sana.""Kamu yakin?""Iya, Bu. Anggap saja ini semacam liburan. Tidak lama.""Bai

  • Behind The Wedding [INDONESIA]   Memulai Pilihan

    "Ada apa?" Genta bertanya pada salah satu temannya."Kamu dipanggil guru bimbingan konseling! Dari kemarin kenapa gak berangkat? Kamu ada masalah apa?""Masalah? Aku merasa tak ada masalah.""Ya sudah, lebih baik kamu temuin guru bimbingan konseling sana!""Baiklah. Makasih, infonya!"Beberapa saat kemudian, Genta keluar dari ruangan guru. Teman-temannya sudah cemas. Takut Genta tak lulus atau kabar buruk menyertainya."Gimana, Genta? Ada apa?""Tidak apa-apa. Bukan masalah ko. Tak usah kawatir.""Serius?""Iya.""Oh ya, kamu mau kemana setelah lulus nanti?""Lihat saja nanti ya. Aku mau pulang dulu.""Buru-buru?""Iya. Gatau kenapa lagi kangen Ibu.""Aneh banget kamu, Genta." Ucap salah seorang temannya.***Rumah ini pilihan IbuDipilih karena batu-batu rinduSapulah karena waktuKarena Ibu tahu kemana langkah waktuKarena Ibu...Rumah

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status