Mag-log in![Behind The Wedding [INDONESIA]](/pcdist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)
Senja mulai tenggelam. Tinggallah Naya bersama ruangan paling gelap di muka bumi. Pekat. Sunyi. Sepi. Naya seolah banyak bertanya pada dirinya sendiri. Kian bertanya pada dirinya sendiri. Naya tetap diam dengan mematung begitu saja. Seolah tak berdaya. Sesekali memeluk lutut. Memandangi mata mereka. Hampa. Lalu menunduk, dan menjatuhkannya di mana saja. Terdiam. Dan terdiam lagi. Kenapa sebenarnya ia?
Naya begitu diam. Berharap masih ada yang mengendap, setelah jeda. Pertengkaran orangtuanya hampir setiap hari disaksikannya. Berbagai umpatan kasar, hinaan, tak habis-habisnya dikutuk Ayah ke Ibu.
Riuh suara terdengar dimana-mana. Mangkok, piring, sampai ke telinga Naya. Dari Ayahnya sendiri yang seharusnya menyayanginya. Saat dia laki-laki capek, dia marah. Memukil apa saja untuk meluapkannya. Apalagi saat bertemu Ibu dalam kondisi marah. Suasana rumah menjadi sangat jengah.
***
Ayah tak bisa melihat Ibu hanya berdoa. Saat kecewa, matanya terlihat memunculkan api. Tiada tara membaranya. Begitu menyala. Siapa saja yang melihatnya, pasti akan menoleh. Menutup mata, membalikkan wajahnya. Dan lari sekencang-kencangnya. Ibu sering ketakutakan—mencari karung goni basah—untuk meredam api di mata Ayah. Namun alpa. Mata Ayah kian membara. Mencengkram apa saja di hadapannya. Termasuk mengeluarkan kata-kata tak sepantasnya. Naya tidak. Naya tak berlari dari mata ayah yang membara seram. Juga tak memaki dari air mata ibu yang terus mengalir di matanya.
"Sana kamu saja yang bekerja di sawah!"
"Ibu hanya coba kasih saran," sambil merintih menahan tangis.
"Capek kerja di sawan! Nyangkul! Emang kamu kerjaannya hanya berdoa di rumah?"
"Jangan sok ngatur!!" Bentak Ayah.
Naya mendengarnya dari bilik kamarnya. Kejadian itu hanya satu dari sekian yang tak pernah alpa dari telinganya. Ada satu kerinduan darinya. Yakni mencari seseorang pendengar yang baik. Di usianya yang remaja--ia sangat ingin menceritakan segala masalahnya. Namun, keadaan—memaksanya lebih banyak mendengar gemuruh api dari mata Ayah dengan keseramannya. Dan tangis dari mata Ibu.
***
Naya baru saja pulang dari sekolah. Kegiatannya yang bertambah--hanya membuat bebannya kian payah. Ia makin memimpikan kehadiran seseorang pendengar yang baik. Tapi tak tahu, dimana harus mencarinya??
"Bu,... Naya mau cerita sama Ibu."
"Cerita apa? Mau keluar sekolah lagi? Hah? Jangan bikin Ibu tambah susah!"
"Gak, Bu. Gajadi." Ia segera menyusuri bibir pintu kamarnya. Merebahkan tubuhnya yang lelah—mendengarkan pewarta dirinya yang makin cerewet parah. "Apa susahnya mendengar dulu?" "Kenapa rumah ini penuh jengah?" "Kenapa sulit sekali mencari pendengar yang baik itu, Tuhan?" "Naya gak capek?" "Kalau capek, hilang aja dari dunia!" Setan-setan seolah mulai membisikinya. Tapi ia tak sebodoh itu untuk bunuh diri.
***
Remaja memang wajar membutuhkan orang lain yang tepat untuk mendengarkannya. Entah itu sedih, keluh, atau segala hal-hal kecil yang menurutnya seru diceritakan. Tapi Naya tak mengenal itu. Jangankan hal-hal kecil yang ia temui untuk diceritakan. Seperti kucing yang tiba-tiba muncul saat ia sedang mengendarai sepeda motornya, capung yang tiba-tiba masuk ke helmnya, sekarat lalu mati seketika saat mengendarai sepeda motornya, atau bentuk awan yang amat indah pada hari itu. Itu terlalu terlihat tidak penting di mata Ayah dan Ibunya. Entah, apa yang penting dari mereka. Ia terus mempertanyakan hal-hal itu. Sesekali terus mencari seseorang pendengar yang baik. Mencari dan mencari meski yang dicari seringkali berkebalikan. Ia sendiri yang dicari.
***
"Naya, Aku main yah!"
Salah seorang teman sekolahnya ingin menemuinya. Curhat. Entah bagaimana rupanya, Naya merindukan seseorang pendengar yang baik —tapi bersamaan diminta jadi pendengar yang baik. Naya seakan makin sendiri. Lagi dan lagi.
"Aku lagi kesel banget, Nay. Gimana enggak? Masa aku curhat ke temen, tapi ia tega banget bilang ke yang lain!"
"Sssttt, tenang dulu. Ini minum," Naya menyodorkan jus stroberi—meski itu minuman kesukaannya sendiri.
"Terimakasih, Nay. Kamu emang sahabat yang baik!"
"Ah, kamu bilang gitu pas lagi butuh aja kan?" Candanya.
"Beneran deh, Nay. Padahal pas aku curhat ke dia tuh, udah janji gabakal cerita ke orang lain. Tapi malah tega ngegosipin lagi. Nambah parah deh. Aku capek banget." Keluhnya.
"Kamu udah tau gitu. Kenapa masih curhat sama dia?"
"Ya aku baru tau dia kegitu, Nay. Kirain baik. Bisa dipercaya. Nyatanya, tukang gosip!"
"Kata psikolog favoritku—mereka yang benar-benar sahabatmu itu adalah ia yang bisa menjadi seorang pendengar yang baik."
"Kamu sok tau aja, Nay. Emang seperti apa?"
"Ya seperti psikolog. Mereka akan berusaha mendengar dengan baik dulu. Sebelum mengatakan saran."
***
Naya masih mencari-cari. Seorang pendengar yang baik di muka bumi ini. Bagaimana mendeteksinya, tanpa harus bercerita terlebih dahulu? Apakah dari matanya? Senyumnya? tapi kembali ia melihat. Mata yang tampak teduh—bukan berarti tempat teduh yang baik. Tak menjadi satu ciri utama—bahwa ia seorang pendengar yang baik. Mereka akan pura-pura mendengar—tapi di belakang mata itu, menyimpan ranjau penuh jebakan.
Ternyata matanya hampir menyerupai mata Ayah. Penuh amarah. Senyum. Senyum pun tak dapat dijadikan patokan utama—ia adalah sosok pendengar yang baik. Kita jumpai—mereka yang tersenyum manis—tak jarang lebih berpura-pura menjadi pendengar yang baik. Namun tujuannya hanya agar dilihat senyumnya. Mereka penuh keinginan untuk dipuji. Dikagumi. Dikagumi bahwa mereka bisa menjadi pendengar yang baik. Mungkin satu kali mereka bisa, tapi selanjutnya? Segala hal yang bukan dari ketulusan hati—akan mati seiring tujuan semunya dimiliki. Mereka bukanlah sosok pendengar yang baik sejati.
"Naya, jangan melamun! Aku masih mau cerita," rengek Anindya—temannya.
Hati Naya seperti ingin meledak. Tapi bersamanya diredam kembali segala duka. Melihat cerita temannya yang dikecewakan—barangkali memang pelipurnya. Barangkali memang lebih enak didengar—daripada ia bercerita tentang masalah orangtuanya. Padahal, cerita temannya itu—terlalu remeh daripada apa yang dihadapi Naya. Tapi Naya tak peduli. Naya masih bisa mendengarkan suara curhatan teman di sore hari, itu jauh lebih baik dari mendengar kemarahan Ayah. Ia tak peduli. Sungguh, tak terhitung berapa kali—ia meredam dirinya sendiri. Sambil matanya terus mencari. Manusia mana yang bisa jadi pendengar yang baik itu, Tuhan?
***
Keesokan harinya, ia masih belum menemui seseorang pendengar yang baik itu. Naya hanya menyaksikan hal sama. Melihat kemarahan Ayahnya dan melihat tangis Ibunya.
"Sana kamu saja yang bekerja di sawah!"
"Ibu hanya coba kasih saran," sambil merintih menahan tangis.
"Capek kerja di sawan! Nyangkul! Emang kamu kerjaannya hanya berdoa di rumah?"
"Jangan sok ngatur!!" Bentak Ayah.
Naya mendengarnya dari bilik kamarnya. Kejadian itu hanya satu dari sekian yang tak pernah alpa dari telinganya. Ada satu kerinduan darinya. Yakni mencari sosok pendengar yang baik. Seseorang yang bisa mendengarkan masalahnya. Nayae mencoba terus mencari. Berharap yang dicari bukan kebalikannya lagi. Tapi benar-benar yang diimpikannya saat ini. Apakah kamu seorang pendengar yang baik itu?
Naya terus bertanya pada dirinya sendiri.
Keluarga Irfan menyelesaikan sarapannya. Begitu juga denganku."Nak Genta, saya sekeluarga pamit dulu. Sebentar lagi paling karyawan lain sudah masuk. Silahkan bekerja, ya.""Iya, Pak. Terimakasih banyak.""Semangat, Bro!" Irfan menepuk bahuku. Aku pun mengikuti langkah mereka keluar rumah.Saat Irfan dan keluarganya melesat jauh dengan mobil putih, aku terdiam sendiri. Mematung. Entah, menunggu seseorang menyapaku?Aku lihat sekelilingnya. Belum ada tanda-tanda karyawan lain sudah berangkat. Kulihat jam di ponselku. Pukul tujuh lebih dua puluh menit."Pantesan belum pada berangkat." Celetukku seraya memeriksa amplop upah pertamaku."Satu juta lima ratus ribu rupiah. Ah, sepertinya ini cukup untuk mengganti biaya hidupku. Sisanya bisa buat nyari kontrakan baru."Datang seorang perempuan berkerudung hitam. Berkulit kuning langsat, dan bermata teduh mendekatiku. Aku bergegas menaruh amplop di saku celanaku.
Kalian pernah menebak apa yang akan Genta itu putuskan? Tetap tinggal bersama Ahsan dan istrinya atau benar-benar memutuskan pindah?Begini, sayangnya kenyataan seringkali tak perlu ditebak. Meski takdir adalah sesuatu yang mirip tebak-tebakan. Bagaimana takdirmu beberapa detik setelah membaca ini? Pun tak ada yang tahu. Seseorang pernah mengatakan, "Jangan pernah menebak isi kepala perempuan."Namun, agaknya hal itu pun berlaku untuk laki-laki berwajah tegas bernama Genta itu. Ya, itulah dia. Aku sendiri. Setelah berbagai pertimbangan, ada satu hal yang benar-benar kuputuskan. Aku memilih pergi lebih jauh. Meski aku sendiri masih meragu bagaimana memakna jauh? Seperti seorang kekasih yang patah hati dan rela pergi sejauh ujung dunia ini? Ah, sebentar bukannya dunia ini bulat, bukan segitiga yang gampang ditebak ujungnya? Apa itu bermakna sejauh apapun pergi, hakikatnya ia tetap berada berputar di satu sisi: ingatan dan perasaannya sendiri.Aku merasa demikia
"Jangankan orang lain, tak jarang orangtua kita sendiripun belum tentu mengerti. Sejak aku mengenal kaum hawa, aku kira pertanyaan sia-sia yang paling populer dari mereka adalah, 'Kenapa gak bisa ngertiin aku?'"***Tak ada yang benar-benar mengerti selain diri sendiri. Kesepian barangkali semacam menu yang melekat pada tiap insan. Terutama, mereka yang senantiasa mengejar Cahaya. Berpegang teguh di dalamnya. Bersinar karena kebaikan-kebaikan yang ditebar, apapun yang diterimanya. Seorang aktivis Soe Hok Gie juga merasakan kesepian dalam menjalani hidupnya. Merasa sepi karena orang-orang tertentu tak mampu memahami jalan pikirnya. Idealisnya. Namun dia tetap fight dengan hal itu. Begitupun penulis sekelas Pramoedya Ananta Toer, selaras merasa kesepian—tersebab memang beberapa orang di sekitar kita barangkali memang tercipta bukan untuk memahami, tapi membentuk diri berjalan lebih tenang sendiri—tanpa puja puji."B
"Sukma, gimana? Sudah bisa dihubungi?" Ibunya Genta bertanya pada Sukma."Ibu kok kawatir sekali dengan Genta. Apa sudah sampai? Kenapa ia ndak kabarin Ibu?" Cemas kian menggelayutinya."Ibu tenang, ya. Mungkin hp Kakak mati. Jadi susah dihubungin."Gimana kalau dia benar-benar belum sampai?""Apa dia sudah makan?""Kenapa sampai sore hari tak berkabar?""Kan harusnya siang ini sudah sampai. Kenapa sampai sore begini, belum juga kabarin Ibu?""Ssstt, Ibu tenang, ya. Kakak pasti nggakpapa. Ibu istirahat dulu aja, ya. Biar nanti sorean Sukma telpon Kakak lagi.""Nak, tolong kabarin terus Kakakmu. Dia tak punya siapa-siapa di sana. Ibu kawatir dia kenapa-napa.""Iya, Bu... Ibu tenang, ya.""Ya Allah, Kakak kemana aja si? Kenapa gak berkabar juga?" Sukma ikut cemas.***Terik mentari siang itu cepat memudar. Setelah Genta makan siang di warung makan, ia segera bergegas pulang. Ada sedikit kelegaan yang di
Mataku memang tak berkaca. Tapi pikiranku sungguh penuh tanya. Apakah nanti di sana baik-baik saja? Di atas cemas Ibu dan adikku, sebenarnya aku lebih mencemasi diriku sendiri.Kupungut sedih yang tak kulukis di wajah. Tak kubiarkan wajah jadi kanvas lukisan mendung. Sebab awan mendung, tak pantas jadi pajangan. Begitu, pikirku.Kubalikkan wajah menatap Ibu dan Sukma, kutinggalkan senyum penuh tanda tanya."Esok?" "Bukankah hari inilah yang harus kulakukan sepenuhnya? Meski entah apa saja yang akan menimpa?" Aku tak membiarkan tanya itu keluar dari bagian tubuhku. Apalagi wajahku. Kembali, kukemasi segala cemas. Segala cemas kukemasi."Bismillaah... yaAllah, jika nanti benar yang terbaik, ridhoilah.""Bu, Genta pamit, ya. Cuma dua hari. Genta cuma ingin lihat suasana di sana dulu. Ada Kakaknya teman Genta di sana. Nanti Genta menginap di sana.""Kamu yakin?""Iya, Bu. Anggap saja ini semacam liburan. Tidak lama.""Bai
"Ada apa?" Genta bertanya pada salah satu temannya."Kamu dipanggil guru bimbingan konseling! Dari kemarin kenapa gak berangkat? Kamu ada masalah apa?""Masalah? Aku merasa tak ada masalah.""Ya sudah, lebih baik kamu temuin guru bimbingan konseling sana!""Baiklah. Makasih, infonya!"Beberapa saat kemudian, Genta keluar dari ruangan guru. Teman-temannya sudah cemas. Takut Genta tak lulus atau kabar buruk menyertainya."Gimana, Genta? Ada apa?""Tidak apa-apa. Bukan masalah ko. Tak usah kawatir.""Serius?""Iya.""Oh ya, kamu mau kemana setelah lulus nanti?""Lihat saja nanti ya. Aku mau pulang dulu.""Buru-buru?""Iya. Gatau kenapa lagi kangen Ibu.""Aneh banget kamu, Genta." Ucap salah seorang temannya.***Rumah ini pilihan IbuDipilih karena batu-batu rinduSapulah karena waktuKarena Ibu tahu kemana langkah waktuKarena Ibu...Rumah