LOGINAragon Gaultier, membangun istana Houston Hill untuk dihadiahkan kepada Puteri Elisa Denova. Sudah jelas dalam benak Elisa tentang tujuannya datang ke Slavidion. Berjalan mendatangi takdirnya. Seperti punya mata ketiga, dia bahkan tahu siapa yang kemudian dicintai dan mencintainya. Pertama kali Elisa melihat William Gaultier, pangeran itu terpukau dengan mawar yang ditanam di Houston Hill. Tanaman yang khusus dibawa Elisa dari kampungnya. Pangeran kecil ini, masih berusia dua puluh tahun saat itu, dia terlalu lugu untuk mengenal cinta. Dia tertegun melihat kecantikan Elisa, tapi kemudian ia memalingkan wajahnya untuk mawar-mawar di depannya. Masih bisa berpikir jernih ketika ingat gadis itu adalah tunangan ayahnya dan kedatangannya waktu itu untuk memperkenalkan diri sebagai calon anak tiri gadis yang mungkin berusia sama dengannya.
View MoreRin, sejak setengah jam lalu ketenangan hilang. “Bagaimana mungkin aku bisa lupa soal Isabel?” gumamnya sambil gigit jari. Sudah berkali-kali Rin mengatakan pada Isabel camp malam yang menjadi tradisi Slavidion, akan dilakukan di Istana Houston. Tapi, Isabel tak terlihat di antara kerumunan yang hadir. Dia berlari ke sana kemari, bertanya sana sini dan tak ada seorang pun tahu perihal Isabel. “Kupernya itu sungguh keterlaluan,”desah Rin lagi.&n
Cinta, mengubah seseorang menjadi setia. Tapi, Isabel tak mengerti kesetiaannya untuk siapa. Ingatannya terbelah antara kenyataan dan fantasi malamnya. Ada perasaan gugup yang mendera setiap kali bangun pagi, setelah bermimpi tentang orang yang berdiri di tengah lapangan Slavidion menghadap menara. Kali ini, perasaan gugup itu semakin menekan batinnya. Membuatnya enggan beranjak dari tempat tidur pagi itu.
'Apa yang kamu dengar, aku tak perlu mendengarnya dan apa yang terucap dari mulutmu, aku juga tak perlu tahu itu. Tapi, apa yang kamu lihat. Aku juga ingin melihatnya. Tahu semua yang mempengaruhi pikiranmu. Matamu telah bicara segalanya. Begitulah caraku bisa memahamimu.'&nb
Asrama laki-laki Slavidion, pukul empat siang. Isabel harus memastikan tidak ada satu pun yang melihatnya masuk ke asrama laki-laki. Aroma agak berbeda segera tercium di sana, diam di antara lorong-lorong yang tak terjamah wanita. Sudah diperhitungkan kalau sore itu tidak banyak yang ada di asrama. Senior sibuk mengurusi para junior yang akan melaksanakan ujian penentuan apakah mereka lulus orientasi atau tidak. Jika tidak lulus, mereka harus mengulang tahun depan dan tentu saja kehilangan kesempatan jadi senior selama tahun itu. Slavidion telah dibagi menjadi beberapa pos. Masing-masing dijaga oleh para senior. Junior wajib melewati itu semua jika ingin lulus, yang berarti mereka harus mengelilingi sel