LOGINAku seorang gadis biasa yang biasanya tak punya teman kini dikejutkan oleh kehadiran dua pria tampan yang telah berhasil mencuri hatiku. Tapi betapa terkejutnya aku saat salah satu dari mereka adalah hantu.
View MoreAku melihat ke luar jendela dan hujan di sore hari ini belum juga berhenti. Aku masih duduk sendiri di kafe ini dengan gelas berisi setengah kopi yang belum habis.
"Su-sudah berapa lama?" tanyaku sambil meremas kedua selempang ranselku."Sudah berapa lama kau jadian dengan Kak Kenzo?" tanyaku menanyai Agnes lebih lanjut."Hmm.. Itu tidak terlalu penting, yang jelas aku sudah terikat dengannya," jawabnya sambil menopang kepalanya dengan kedua tangannya yang tertaut."Iya, lebih baik mulai besok kau jauhi Kak Kenzo. Kalau kau masih mau dekat-dekat dengannya berarti kau itu.. Sama saja kan dengan wanita tak tahu diri?" Agnes menengok ke arahku. Aku hanya diam karena masih bingung dengan masalah ini. Apakah aku jahat atau Agnes yang jahat, aku menjadi tak tahu pasti. Jika benar Kak Kenzo adalah pacar Agnes, berarti aku sudah melakukan suatu kesalahan karena mendekati pacar orang lain."Tapi.. Katanya kau akan.. Mengajakku berbincang layaknya teman.. Tetapi kenapa kau malah mengata-ngataiku padahal aku tidak tahu apa-apa sebelumnya?!" tanyaku mencoba membela diri."Ya, sekarang kau s
"A-Agnes?" aku mengernyit saat diboncengkannya ke tempat yang berlawanan arah dari rumahku."Kita mau kemana? Bukankah kau bilang akan mengantarkanku pulang? Aku kan sudah memberitahukan kepadamu tentang lokasi rumahku," kataku mengingatkannya kembali, barang kali dia lupa."Aku ingin mengajakmu ke kafe sebentar," katanya."Ke kafe? Kenapa?" tanyaku agak bingung."Aku ingin berbicara denganmu, layaknya teman," jawabnya. Aku berpikir sejenak tetapi kemudian memilih untuk menuruti perkataannya saja. Akhirnya motor yang dikendarai Agnes menuntun kami ke sebuah kafe di kawasan tempat anak muda menghabiskan waktu sepulang sekolah. Entah itu hanya mengobrol santai sembari menikmati kopi, atau ajang memarkan diri sebagai anak milenial masa kini mungkin.Setelah kami memarkirkan motor Agnes di parkiran, Agnespun berjalan mendahuluiku yang reflek saja aku langsung mengekor di belakangnya karena ingat akan ajakannya
"Erika.. " Kak Kenzo mencoba memanggil namaku lagi. Tangannya masih menggenggam erat pergelanganku dan aku masih belum mau menengok kepadanya."Erika.." panggilnya lagi dengan nada memohon."Biarkan aku pergi Kak, aku mau pulang," kataku. Sebenarnya aku tidak berharap benar-benar dilepaskannya, tetapi hanya ingin tahu seberapa besar ia akan mempertahankanku."Erika.. Aku sudah bilang kan jika kau harus pulang bersamaku, dan kau sudah menyetujui itu. Apa kau ingin mengingkari janji?" tanyanya.Aku terdiam, bingung mencari kata-kata yang tepat untuk ini."Bukankah Kak Kenzo akan pulang bersama Agnes?" tanyaku dengan nada kesal. Tapi beberapa saat kemudian aku baru menyadari jika kata-kataku terlalu memperlihatkan kecemburuanku kepada Kak Kenzo yang sedang bersama Agnes. Memalukan sekali."Apa? Mana mungkin- maksudku.. Apakah kau salah paham dengan ini?" tanya Kak Kenzo kebingungan."Terserah Kak