Share

Malam pertama?

Author: komsatun
last update Petsa ng paglalathala: 2020-09-28 02:08:25

Hingga malam tiba, jantungku masih berdegub kencang mengingat permintaan suamiku tadi pagi.

Karena ini pertama kalinya bagiku, aku masih grogi dan takut sakit.

"Kila makan yang banyak ya." ucap ibunya Dira yang mengambilkanku banyak nasi.

Kami makan malam dengan banyak tertawa, ibu mertuaku menceritakan masa lalunya dengan ayah yang banyak hal-hal lucunya.

Aku senang ada hari seperti ini, hari di mana aku bisa tertawa bareng suamiku dan keluarganya.

Aku merasa senang karena keputusanku agar memberi kesempatan kepada suamiku.

Bagiku, manusia adalah tempatnya salah dan dosa. Tak ada salahnya aku memberi kesempatan suamiku demi kebahagiaan bersama.

Selesai makan malam, aku dan Dira masuk ke kamar.

Tentu saja Dira ingin menagih haknya seperti yang ia katakan tadi pagi.

Aku pergi ke kamar mandi dulu, untuk mempersiapkan mentalku terlebih dahulu.

Aku menatap wajahku di cermin besar yang ada di kamar mandi, menoleh ke kanan dan ke kiri.

Aku menarik nafas panjang lalu mengeluarkannya pelan, kulakukan berulang kali agar detak jantungku dapat terkontrol.

Aku bahkan mengecek ketiakku, apakah bau atau tidak.

Setelah mengetahui bahwa suamiku sering berhubungan badan dengan wanita lain, tentu saja aku harus ekstra menjaga penampilanku. Jangan sampai aku suamiku tak puas dengan pelayananku di ranjang.

Setelah aku puas bercermin, aku ingin buang air kecil sebelum keluar kamar.

Deg, aku kaget melihat noda merah di celana dalamku.

Ah, rupanya aku datang bulan kali ini.

Entah aku harus senang atau sedih karena hal ini.

Aku keluar dari kamar mandi dengan gugup, kulihat suamiku sudah bertelanjang dada dan rebahan di kasur.

"Mas.." panggilku ke Dira dengan manja,

"Apa?" tanyanya lantang ketika melihatku bersikap manja, sementara selama ini memang aku tak pernah melakukannya.

"Aku datang bulan.." kataku pelan,

"Apa?!" teriak Dira yang tampak tak percaya dengan ucapanku.

"Aku datang bulan, barusan aja keluarnya." lanjutku, kali ini aku mulai berani bicara lantang.

"Kamu bohong kan? Pasti cuma nyari-nyari alasan." sahut Dira yang saat ini melangkah menghampiriku.

"Aku nggak bohong mas, bener." ucapku meyakinkan Dira.

"Arrrgghh." teriak Dira yang kemudian menendang angin, mungkin karena kesal.

Aku tahu Dira pasti sudah tidak sabar ingin menagih haknya.

Namun apa daya ketika aku datanv bulan seperti sekarang.

Akhirnya malam ini tak ada namanya malam pertama. Tak ada juga pijatan dari suamiku, mungkin ia kesal.

Dira langsung menyibukkan dirinya dengan mengerjakan pekerjaannya di ponselnya.

Aku memilih untuk langsung tidur karena memang badanku yang rasanya sangat lelah.

***

Pagi ini aku kuliah diantar oleh suamiku, aku manut saja.

Semenjak dibelikan mobil, aku sama sekali belum pernah menggunakannya ke kampus.

Mobil itupun saat ini masih ada di rumah Dira.

"Kamu pulang jam berapa? Biar aku jemput." ucap Dira, akhir-akhir ini Dira memang tampak seperti manusia biasa karena sudah tak membentakku lagi.

"Nggak usah mas, nanti aku naik taksi aja ya." ucapku ke Dira agar ia tak perlu menjemputku.

"Ya udah, aku pergi dulu." pamit Dira yang mampu membuatku tersenyum senang.

Aku bak ABG labil yang baru mengenal cinta, sementara usia sekarang sudah 21 tahun.

Aku berharap keharmonisanku dengan Dira kali ini akan bertahan lala, selamanya kalau perlu.

"Itu suami mbak Kila?" suara pria yang tiba-tiba mengakhiri lamunanku, Soni rupanya.

"Ah, iya." jawabku singkat, malu kalau sampai Soni tahu aku sedang kasmaran pada suamiku sendiri.

"Udah kerja ya?" lanjut Soni yang masih ingin menginterogasiku.

"Iya, dia lebih tua dariku 9 tahun. Sudah sangat dewasa." ucapku membanggakan suamiku tanpa alasan.

"Hanya karena udah tua belum berarti dewasa mbak." ucap Soni seperti memberi pukulan berat di dadaku.

Aku menyadari kalau sikap Dira selama ini masih jauh dari kata dewasa.

"Ah iya juga, aku masuk ke kelas dulu ya." ucapku ke Soni agar segera pergi darinya, entah rasanya malu tanpa alasan.

***

Sore ini tak ada yang spesial, suasananya nampak biasa saja.

Aku selesai dengan kuliahku, lalu aku segera pulang.

Ketika sampai di rumah, aku terkejut karena mobil Dira sudah terparkir di halaman rumah Pak Bima.

Serta ada beberapa mobil yang tak kutahu milik siapa itu.

Aku terus melangkah masuk ke dalam rumah.

Aku melihat ada banyak tamu di rumah, mungkin teman kerjanya Dira.

Aku yang masih berdiri di bibir pintu menatap pada setiap wajah yang hadir malam ini.

Aku mencari sosok wanita yang tak lain adalah kekasih gelap suamiku.

Namun aku tak kunjung menemukannya, mungkin ia tak berani menemui mertuaku.

Dira yang melihatku berdiri di  bihir pintu langsung menghampiriku dan menggandengku, membawaku masuk dan memperkenalkanku di hadapan teman-temannya itu.

Aku hanya bisa tersenyum dan mengangguk demi menghormati para tamu.

"Wah, Dira sukanya sama daun muda ini." ledek salah satu temannya, Dira tertawa terbahak-bahak.

Setelah ikut duduk beberapa menit, aku pamit ingin mandi terlebih dahulu.

Dira masih asik mengobrol dengan mereka, gelak tawa Dira adalah hal baru bagiku kali ini.

Ternyata Dira seperti manusia lain yang bisa tertawa ngakak.

Aku pergi ke kamarku dan mandi. Keluar dari kamar mandi, Dira sudah duduk di kasur.

"Udah pada pulang, mas?" tanyaku ke Dira, ia menangguk lalu tersenyum padaku.

Sejuk rasanya melihat suamiku yang selama ini membentakku, kali ini tersenyum hangat kepadaku.

Kebahagiaanku terhenti ketika ada telepon masuk ke ponsel suamiku.

Ia melihat layar ponselnya lalu memilih keluar kamar untuk mengangkat panggilan telepon yang masuk itu.

Aku mulai kesal dan curiga, kenapa Dira harus keluar kamar hanya untuk menerima telepon yang masuk.

Aku akhirnya memutuskan untuk keluar kamar dan menuju kamar ayah mertuaku.

Sayangnya ayah mertuaku tak ada di kamarnya, aku mencarinya di ruangan lain.

Tanpa sengaja aku mendengar obrolan Dira dengan orang yang meneleponnya.

"Aku akan temuin kamu besok siang, di hotel X." ucap Dira yang langsung menutup teleponnya.

Deg, entah kenapa setelah mendengar kata hotel membuat kakiku melemas.

Aku curiga kalau Dira, suamiku masih berhubungan dengan Dista.

Jangan sampai Dira selama ini baik padaku hanya agar aku mau hamil anaknya. Setelah itu dia mungkin akan meninggalkanku dan kembali pada Dista.

Jantungku berdegub tak terkendali lagi, aku jongkok seketika karena kakiku yang terasa lemas.

Aku sangat penasaran dengan siapa suamiku membuat janji bertemu di hotel.

Aku akan mengikutinya besok agar tahu apakah ini hanya rasa curigaku atau memang nyata kalau Dira masih berhubungan dengan Dista.

Kalau seandainya Dira masih berhubungan dengan Dista, saat itu juga aku akan meminta cerai.

Aku tak akan pernah lagi memaafkannya karena sudah mengkhianatiku 2 kali. 

Namun untuk sekarang aku akan bersikap biasa agar Dira tak curiga padaku.

Aku mengelilingi rumah dan mendapati kedua mertuaku sedang asik mengobrol di dekat kolam renang.

"Ibu, ayah, Kila nyari di kamar, pantesan nggak ada. Ternyata asik pacaran di sini, panas tauk bu, yah." kataku meledek kedua mertuaku ini.

Aku akhirnya menghabiskan sore yang segera diganti gelap itu dengan bercanda bersama mertuaku.

Ayah mertuaku  pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil.

"Tolong bertahan menghadapi Dira, biarkan ayahnya mati setelah menggendong cucunya kelak." ucap ibunya Dira yang menyentuh hatiku.

Bagaimana kalau besok aku memergoki Dira berselingkuh dengan Dista lagi, aku pasti akan meminta cerai padanya.

Namun aku berharap semoga Dira tak menduakan aku lagi.

Bersambung...

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Pernikahan yang Tak Kuinginkan   Tugas istri

    Dira melangkah mendekatiku, aku ketakutan setengah mati. Masih kuingat dengan jelas tamparan Dira ketika aku memergokinya bersetubuh dengan Dista.Kali ini tidak menutup kemungkinan Dira akan menamparku lagi kalau tahu aku mengangkat telepon dari wanita yang ia cintai itu."Apa yang kamu sembunyiin?" tanya Dira dengan suara datar, terdengar dingin, sangat menakutkan."Enggak ada." jawabku gemetar, Dira masih terus mendekatiku, sampai ia berada di depanku dan menarik tanganku yang sedari tadi kusembunyikan di belakang punggungku.Dira merebut ponselnya dengan kasar, tatapan matanya seperti mengisyaratkan kalau ia bisa membunuhku sekarang juga."Apa yang kamu lakukan?" tanyanya, membuatku semakin gemetar ketakutan.Dira menyalakan kembali ponselnya, aku berusaha menghindarinya dan berniat menghindarinya.Namun tangan Dira lebih dulu mencengkalku, menahanku agar aku tak pergi.

  • Pernikahan yang Tak Kuinginkan   Berdebat lagi

    Sulit rasanya mataku ini diajak kompromi, aku tak kunjung tertidur.Sementara Dira, embusan nafasnya terdengar teratur, terasa meraba pundakku walau masih terhalang jilbabku, rasanya panas.Sepertinya Dira benar-benar tidur, mungkin karena efek obatnya. Karena aku tak biasa tidur pagi, yang ada aku terjaga dengan menahan hawa panas dari tubuh Dira.Karena aku merasa lelah, kupikir aku sudah bertahan cukup lama, hampir setengah jam berlalu.Aku mencoba mengangkat tangan Dira yang memelukku, sangat pelan, tentu saja agar ia tak bangun.Kacau kalau akhirnya ia terbangun, aku mungkin harus berada di dekapannya sampai nanti siang, argh, tak sanggup aku.Dengan sangat pelan aku mengangkat tangan Dira lalu pelan-pelan aku bangun.Baru satu kaki aku menurunkan kakiku dari ranjang, tangan Dira sudah menggapai tanganku."Kamu mau kemana?" ucap Dira, terdengar serak."Aku kepanasan mas,

  • Pernikahan yang Tak Kuinginkan   Dira sakit (2)

    Aku memang sakit, menerima kenyataan bahwa suamiku memiliki hubungan gelap dengan istri orang. Dan secara terang-terangan mengatakan padaku kalau aku bukan siapa-siapa baginya kecuali lintah darat yang ingin ia manfaatkan demi memiliki anak.Namun kenyataan bahwa hatiku sakit tak menghentikanku untuk berharap bisa menjadi satu-satunya wanita di hati Dira, suamikuDira masih memegang tengkukku dengan kuat, tak membiarkanku melepas ciumannya.Tiba-tiba saja, klek! Ibu mertuaku masuk ke kamar di saat yang tidak tepat.Aku gelagapan tak karuan, bingung dan malu bercampur menjadi satu."Ibu, bisa nggak kalau masuk ketuk pintu dulu?!" teriak Dira, ibu juga memasang wajah kaget."Maaf, ibu sangat khawatir waktu ayah kamu bilang kamu sakit. Ibu cuma mau bilang kalau ibu udah telepon dokter buat ke sini. Ibu juga mau tanya kamu mau makan apa, ibu nggak ada niat buat ganggu kalian." ucap ibu mertuaku ya

  • Pernikahan yang Tak Kuinginkan   Dira sakit

    Suara adzan subuh yang berkumandang merdu di teleponku membangunkanku.Aku menggeliat lalu membuka mataku lebar-lebar ketika mendapati Dira sudah tidur di ranjang.Aku menyeringai, puas karena pastinya Dira semalam tidur tak nyenyak.

  • Pernikahan yang Tak Kuinginkan   Dira semakin kejam

    Dira menatapku tajam, ia kemudian turun dari atas tubuhku lalu duduk di sampingku.Aku hendak berlari, memungut pakaianku lagi. Namun tangan Dira segera mencegahku, ia menarik tanganku sampai aku duduk di sampingnya.Lalu tangan kanannya segera memiting leherku, aku merasa sedikit tercekik.Tanganku secara reflek menyilang menutupi bagian dadaku.Dira kemudian mendekatkan wajahnya ke samping telingaku."Kalau aku tahu kamu ngelakuin itu sama pria lain, aku akan hancurin pria itu sampai berkeping-keping." bisik Dira di telingaku, membuatku merinding tak karuan.Aku hanya diam, embusan nafas Dira masih meraba leher dan telingaku, membuatku semakin merinding.&

  • Pernikahan yang Tak Kuinginkan   Sandiwara, lagi

    "Baiklah, kamu harus bayar Soni lebih, kalau perlu 3 kali lipat dari gaji yang kamu janjikan. Dia juga perlu menraktirku makan kalau kami jalan berdua." ucapku setengah berteriak.Karena rasa cemburuku pada Dira, aku semakin ingin membuatnya mengakui kalau dia menyukaiku, walau aku tahu itu adalah hal yang mustahil.Aku sadar kalau aku ini hanya wanita miskin, yang Dira anggap tak lebih dari lintah darat.Dira menatapku tajam, "Makanlah." ucapnya dingin.Aku tak menjawabnya, tak juga mengindahkan permintaannya untuk makan."Baiklah, aku akan beri gaji 3 kali lipat buat pacar kamu itu. Aku juga akan kasih kamu kartu kredit tanpa limit. Pakai aja duit itu buat senang-senang sama dia." ucap Dira, aku menyeringai."Makanlah, aku nggak mau kamu sakit. Merepotkan." ucap Dira ketus, aku akhirnya menuju sofa lalu memakan makanan yang Dira bawa."Apa kamu bener-bener menyuka

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status