Share

Menguntit suami

Author: komsatun
last update publish date: 2020-10-01 00:34:13

Ada pepatah yang mengatakan kalau orang itu yang dipegang omongan.

Aku memilih memegang janji Dira kalau dia akan berhenti berhubungan dengan kekasih gelapnya, Dista.

Aku tahu pasti kalau manusia adalah tempatnya salah dan dosa.

Tidak hanya Dira, semua orang pasti pernah melakukan kesalahan dan berbuat dosa. Aku berharap Dira bisa belajar dari kesalahan di masa lalunya agar menjadi pribadi yang lebih baik.

Aku memberi kesempatan Dira bukan tanpa alasan, bukan karena aku murahan dan bukan pula karena takut akan ancamannya.

Aku hanya ingin memberi suamiku ini kesempatan demi membuktikan bahwa dirinya bisa berubah menjadi pribadi yang lebih baik.

Namun keraguanku mulai muncul kembali setelah mendengar obrolan Dira kemarin dengan entah siapa yang meneleponnya.

Dira berjanji akan menemui orang tersebut siang ini di hotel X.

Aku yang sudah dikuasai rasa penasaran tingkat akut memilih membolos kuliah demi membuktikan rasa curigaku, aku ingin melihat dengan siapa Dira akan bertemu kali ini.

Aku mengikuti Dira menggunakan jasa taksi online.

Sampailah kami di hotel X, aku membuntuti Dira perlahan sampai ia masuk ke dalam kamar.

Sayang sekali aku tidak bisa melihat siapa yang membuka pintu untuk suamiku itu.

Kali ini aku dilema karena bingung harus terus lanjut atau berhenti di sini.

Kalau lanjut, aku takut Dira akan marah jika di dalam kamar itu nyatanya adalah teman atau rekan kerjanya.

Namun kalau aku berhenti, semua usahaku mengikuti Dira dari tadi pagi pasti sia-sia.

Aku bahkan sudah meninggalkan kuliah hari ini, tak rela rasanya jika harus berhenti sampai di sini.

Dengan langkah yang sangat berat, aku memberanikan diri untuk memencet bel kamar yang sudah dimasuki suamiku.

Setelah itu aku langsung berbalik agar wajahku tak kelihatan dari kaca pembesar yang menempel di pintu kamar hotel ini.

Setelah aku mendengar suara pintu kamar terbuka, aku langsung membalikkan badanku dan menatap siapa yang sudah membuka pintu untukku.

Betapa terkejutnya aku, ternyata kekhawatiranku menjadi kenyataan.

Wanita yang pernah kulihat bercumbu dengan suamiku ada di kamar hotel ini dengan suamiku.

Aku sangat yakin kalau wanita ini adalah kekasih Dira karena aku ingat betul bentuk rambut, warna kulit dan bagaimana perawakan wanita ini ketika kulihat di rumah Dira dulu.

"Siapa?" tanya Dista yang tampaknya tak tahu kalau aku ini adalah istri dari pacarnya itu.

Tidak heran, memang pertemuan singkat kami waktu itu tak mengizinkan kami saling bertatap muka.

"Siapa sayang?" ucap Dira yang muncul di belakang Dista.

Aku menyeringai menyadari betapa bodohnya aku karena sudah percaya pada janji Dira waktu itu.

Mana mungkin Dira akan benar-benar meninggalkan kekasih gelapnya yang sangat ia cintai ini hanya demi aku, demi istri yang tak pernah ia anggap.

Dira tampak terkejut melihat kedatanganku, Dista hanya diam melihat aku dan pacarnya itu adu tatap.

Aku tanpa bicara apapun langsung pergi meninggalkan Dira dan kekasih gelapnya itu.

Dira mengejarku lalu memegang tanganku erat, aku menghentikan langkahku dengan terpaksa.

"Aku mau bicara." ucap Dira yang tampak tergesa.

"10 detik." jawabku tegas.

"Tolong jangan adukan ini pada ayah dan ibu." ucapnya yang penuh iba, tak seperti dulu ketika ia membentakku dan menamparku. Kali ini Dira bak pengemis di mataku.

"Waktumu habis. Maaf, aku tetap akan menggugat cerai. Sesuai dengan janji yang kita buat." ucapku tegas dan lantang.

Tiba-tiba Dira menyeretku masuk ke kamar hotel yang ia gunakan untuk aktivitas seksnya bersama dengan kekasih gelapnya itu.

"Maaf, bisa kamu pergi sekarang? Aku akan beri anak ini pelajaran." ucap Dira pada Dists.

Dista tanpa berkata apapun langsung meninggalkan kamar ini, wajahnya tampak kesal dan marah.

Dira kemudian menyeretku mendekati kasur, lalu didoronglah tubuhku sampai aku terbaring di kasur.

Dalam sekejap tubuh Dira sudah meninduh tubuhku.

Dira menciumku dengan paksa, aku meronta-ronta dan berusaha keras menghentikan aksi gila Dira.

Dira mulai merobek pakaianku, aku masih tak bisa melawannya karena kedua tanganku dipegang erat oleh tangan kirinya.

Aku menangis mendapati bajuku yang sudah robek karena ulah Dira.

"Kamu mau apa? Menghamiliku? Kamu lupa aku sedang datang bulan? Sia-sia kamu begini, aku nggak akan hamil." ucapku dalam tangis ketika Dira mencoba membuka pakaiannya.

Aku asal saja mencari alasan agar Dira tak benar-benar merebut keperawananku saat ini.

Aku tahu Dira adalah suamiku, namun aku ingin menggugat cerainya. Jadi aku tak mungkin melayaninya dalam urusan ranjang saat ini.

Aku tahu betul Dira hanya ingin aku hamil anaknya untuk menyenangkan ayah dan ibunya.

Aku sadar kalau janji Dira kemarin hanya akal-akalannya saja karena aku mengancam ingin bercerai.

Dira pasti membodohiku agar aku mau bertahan dengannya sampai aku hamil. Dengan begitu ia bisa memberikan cucu pada orang tuanya tanpa harus meninggalkan kekasih gelapnya, Dista.

Dira tampak percaya akan ucapanku, padahal aku sendiri tak yakin apakah ucapanku tadi benar atau tidak.

Dira duduk, ia menunduk lalu menjambak rambutnya dengan menggunakan kedua tangannya.

Aku ikut duduk di sampingnya sambil memegangi bajuku yang sudah tak berbentuk.

"Setidaknya tunggu 3 bulan lagi kalau ingin bercerai. Dokter bilang kondisi ayah saat ini sangat buruk. Namun jika ayah mampu bertahan selama 3 bulan, kesempatan ayah sembuh bisa lebih besar." ucap Dira yang tampaknya sudah frustrasi menghadapiku.

Aku tahu betul kalau kondisi Pak Bima memang sedang tak sehat.

Aku sendiri tak tega jika harus melihat Pak Bima meregang nyawa akibat ulah Dira.

"Baiklah, aku akan berpura-pura kita baik-baik saja di depan ayah dan ibu. Tapi aku punya banyak syarat untukmu. Dan yang paling penting, kamu harus siapkan banyak uang demi membayarku kali ini." aku mencoba bernegoisasi dengan Dira karena menurutku aku harus memanfaatkan keadaan ini agar mendapatkan keuntungan.

Aku harus mulai memikirkan Sera dan bapakku, jangan sampai mereka menerima akibatnya jika aku memaksa meminta cerai dari Dira sekarang juga.

"Kalau kamu mau hamil anakku dan melahirkannya, aku akan beri berapapun yang kamu minta. Asalkan ketika kamu pergi, jangan bawa anakku itu." ucap Dira yang bagaikan silet yang mengiris hatiku.

Bagaimana bisa dia menganggap anak bisa dibeli dengan uang.

Betapa picik pria yang sudah menjadi imam keluargaku ini.

Aku semakin yakin untuk menggugat cerai dirinya sesegera mungkin setelah kondisi ayahnya membaik.

"Jangan mimpi, aku nggak akan mau hamil anakmu apalagi sampai melahirkannya. Yang aku kandung dan aku lahirkan adalah anakku, tak akan bisa dibeli dengan uang." teriakku ke Dira.

Aku berharap Allah akan membalas rasa sakit hatiku ini pada pria yang tak punya hati ini.

Pria yang sudah mengucapkan ijab qabul untukku namun tak berusaha bertanggung jawab atas ijab qabulnya tersebut.

Bersambung..

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pernikahan yang Tak Kuinginkan   Tugas istri

    Dira melangkah mendekatiku, aku ketakutan setengah mati. Masih kuingat dengan jelas tamparan Dira ketika aku memergokinya bersetubuh dengan Dista.Kali ini tidak menutup kemungkinan Dira akan menamparku lagi kalau tahu aku mengangkat telepon dari wanita yang ia cintai itu."Apa yang kamu sembunyiin?" tanya Dira dengan suara datar, terdengar dingin, sangat menakutkan."Enggak ada." jawabku gemetar, Dira masih terus mendekatiku, sampai ia berada di depanku dan menarik tanganku yang sedari tadi kusembunyikan di belakang punggungku.Dira merebut ponselnya dengan kasar, tatapan matanya seperti mengisyaratkan kalau ia bisa membunuhku sekarang juga."Apa yang kamu lakukan?" tanyanya, membuatku semakin gemetar ketakutan.Dira menyalakan kembali ponselnya, aku berusaha menghindarinya dan berniat menghindarinya.Namun tangan Dira lebih dulu mencengkalku, menahanku agar aku tak pergi.

  • Pernikahan yang Tak Kuinginkan   Berdebat lagi

    Sulit rasanya mataku ini diajak kompromi, aku tak kunjung tertidur.Sementara Dira, embusan nafasnya terdengar teratur, terasa meraba pundakku walau masih terhalang jilbabku, rasanya panas.Sepertinya Dira benar-benar tidur, mungkin karena efek obatnya. Karena aku tak biasa tidur pagi, yang ada aku terjaga dengan menahan hawa panas dari tubuh Dira.Karena aku merasa lelah, kupikir aku sudah bertahan cukup lama, hampir setengah jam berlalu.Aku mencoba mengangkat tangan Dira yang memelukku, sangat pelan, tentu saja agar ia tak bangun.Kacau kalau akhirnya ia terbangun, aku mungkin harus berada di dekapannya sampai nanti siang, argh, tak sanggup aku.Dengan sangat pelan aku mengangkat tangan Dira lalu pelan-pelan aku bangun.Baru satu kaki aku menurunkan kakiku dari ranjang, tangan Dira sudah menggapai tanganku."Kamu mau kemana?" ucap Dira, terdengar serak."Aku kepanasan mas,

  • Pernikahan yang Tak Kuinginkan   Dira sakit (2)

    Aku memang sakit, menerima kenyataan bahwa suamiku memiliki hubungan gelap dengan istri orang. Dan secara terang-terangan mengatakan padaku kalau aku bukan siapa-siapa baginya kecuali lintah darat yang ingin ia manfaatkan demi memiliki anak.Namun kenyataan bahwa hatiku sakit tak menghentikanku untuk berharap bisa menjadi satu-satunya wanita di hati Dira, suamikuDira masih memegang tengkukku dengan kuat, tak membiarkanku melepas ciumannya.Tiba-tiba saja, klek! Ibu mertuaku masuk ke kamar di saat yang tidak tepat.Aku gelagapan tak karuan, bingung dan malu bercampur menjadi satu."Ibu, bisa nggak kalau masuk ketuk pintu dulu?!" teriak Dira, ibu juga memasang wajah kaget."Maaf, ibu sangat khawatir waktu ayah kamu bilang kamu sakit. Ibu cuma mau bilang kalau ibu udah telepon dokter buat ke sini. Ibu juga mau tanya kamu mau makan apa, ibu nggak ada niat buat ganggu kalian." ucap ibu mertuaku ya

  • Pernikahan yang Tak Kuinginkan   Dira sakit

    Suara adzan subuh yang berkumandang merdu di teleponku membangunkanku.Aku menggeliat lalu membuka mataku lebar-lebar ketika mendapati Dira sudah tidur di ranjang.Aku menyeringai, puas karena pastinya Dira semalam tidur tak nyenyak.

  • Pernikahan yang Tak Kuinginkan   Dira semakin kejam

    Dira menatapku tajam, ia kemudian turun dari atas tubuhku lalu duduk di sampingku.Aku hendak berlari, memungut pakaianku lagi. Namun tangan Dira segera mencegahku, ia menarik tanganku sampai aku duduk di sampingnya.Lalu tangan kanannya segera memiting leherku, aku merasa sedikit tercekik.Tanganku secara reflek menyilang menutupi bagian dadaku.Dira kemudian mendekatkan wajahnya ke samping telingaku."Kalau aku tahu kamu ngelakuin itu sama pria lain, aku akan hancurin pria itu sampai berkeping-keping." bisik Dira di telingaku, membuatku merinding tak karuan.Aku hanya diam, embusan nafas Dira masih meraba leher dan telingaku, membuatku semakin merinding.&

  • Pernikahan yang Tak Kuinginkan   Sandiwara, lagi

    "Baiklah, kamu harus bayar Soni lebih, kalau perlu 3 kali lipat dari gaji yang kamu janjikan. Dia juga perlu menraktirku makan kalau kami jalan berdua." ucapku setengah berteriak.Karena rasa cemburuku pada Dira, aku semakin ingin membuatnya mengakui kalau dia menyukaiku, walau aku tahu itu adalah hal yang mustahil.Aku sadar kalau aku ini hanya wanita miskin, yang Dira anggap tak lebih dari lintah darat.Dira menatapku tajam, "Makanlah." ucapnya dingin.Aku tak menjawabnya, tak juga mengindahkan permintaannya untuk makan."Baiklah, aku akan beri gaji 3 kali lipat buat pacar kamu itu. Aku juga akan kasih kamu kartu kredit tanpa limit. Pakai aja duit itu buat senang-senang sama dia." ucap Dira, aku menyeringai."Makanlah, aku nggak mau kamu sakit. Merepotkan." ucap Dira ketus, aku akhirnya menuju sofa lalu memakan makanan yang Dira bawa."Apa kamu bener-bener menyuka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status