Share

Syarat pertamaku

Author: komsatun
last update Petsa ng paglalathala: 2020-10-03 11:52:09

Aku pulang setelah Dira membelikanku pakaian, entah dari mana.

Tentu saja karena pakaianku tadi sudah tak bisa dipakai lagi akibat ulah Dira.

"Aku akan memberimu banyak syarat, kamu harus menyiapkan itu semua. Akan aku katakan nanti malam, di rumah." kataku sebelum meninggalkan suamiku di kamar hotel.

Aku pulang menggunakan jasa taksi online lagi, namun aku tak langsung menuju ke rumah mertuaku.

Aku memilih pulang ke rumah orang tuaku, setelah menikah aku belum pernah pulang ke sana.

Aku hanya bertukar pesan demi menanyakan kabar orang tuaku dan juga Sera.

"Kila, kamu sendiri?" teriak ibu yang langsung memelukku ketika aku tiba di rumah orang tuaku.

"Iya bu, mas Dira masih kerja." jawabku berbohong, aku melempar senyum ke ibuku, wanita yang paling kusayangi.

"Ya udah ayo masuk, ibu buatkan makanan ya." ucap ibuku yang langsung menuju dapur.

"Bapak dimana bu?" kataku yang saat ini sudah duduk di meja makan.

"Biasalah, di kebun. Bapak sekarang dibantu sama Joko, anaknya Pak Juki. Bapak kuwalahan mengurungi kebun sekarang, Pak Bima memberi 5 hektar kebun atas nama kamu. Sebagai hadiah pernikahan kalian." terang ibuku sambil memasak untukku.

Jadi Pak Bima memberiku banyak kebun, atas namaku? Syukurlah, jadi ancaman mas Dira akan membuat keluarga miskin hanya sekedar ancaman, pikirku.

"Sertifikatnya? Apakah udah ada di tangan bapak? Atau masih di tangan Pak Bima?" tanyaku penasaran.

"Kayaknya masih di tangan Pak Bima, ibu juga nggak terlalu paham." sambung ihu.

Kalau begitu aku harus meminta Dira agar menyerahkan sertifikat atas kebun-kebun yang sudah Pak Bima belikan untukku sebagai salah satu syaratku.

Aku akhirnya makan setelah ibu selesai memasak untukku.

Aku sangat merindukan ibuku, namun aku harus segera pulang karena sudah sore.

Aku tak enak hati kepada ayah dan obu mertuaku karena yang mereka tahu aku pergi kuliah.

Aku tak bertemu dengan ayahku karena ayah biasa pulang kalau hari sudah mulai petang.

Sementara Sera sendiri sedang belajar kelompok di rumah temannya.

Aku memberikan ibuku uang yang kuambil dari uang sakuku setiap bulan dari mertuaku.

Awalnya ibu menolak, tapi aku memaksa dan akhirnya ibu menerimanya.

Sesampainya di rumah, mobil Dira sudah terparkir di halaman rumah.

Aku masuk ke dalam rumah setelah menarik nafas panjang lalu memasang wajah ceria.

"Assalamualaikum." sapaku melihat ibu dan ayah mertuaku sedang mengobrol di ruang tamu. Dira juga ikut bergabung, ia sudah mengenakan pakaian kasual.

Dira menatapku lekat, tak sedetikpun ia melepas pandangannya dariku.

Aku mencium tangan ayah mertuaku, ibu mertuaku lalu suamiku secara bergantian, sesaat setelah mereka menjawab salamku.

"Udah pulang sayang?" tanya ibu mertuaku, aku mengangguk lalu ikut bergabung duduk bersama mereka di ruang tamu ini.

"Bagaimana kuliahnya? Capek ya?" tanya ayah mertuaku yang tampaknya terlihat fresh sore ini.

Aku senang melihat Pak Bima yang terlihat segar bugar, bagaimanapun Pak Bima adalah orang yang baik.

"Biasa aja yah, ayah sepertinya kelihatan seneng hari ini. Ada apa?" tanyaku berbasa-basi, aku melirik ke Dira yang masih menatapku lekat.

Mungkin Dira takut kalau aku akan membahas soal perceraianku dengannya.

Tenanglah, aku tak akan menceraikanmu kalau aku belum bisa mengamankan posisiku.

Bukan karena aku matrealistis, hanya saja ancaman Dira yang akan membuat keluarga sengsara yang membuat aku berpikir sejauh ini.

"Ayah seneng, tadi Dira bilang kalian akan pergi berbulan madu." ucap Pak Bima yang membuatku terkejut.

Aku membulatkan mataku seketika, apa yang sedang Dira rencanakan kali ini?

"Aku bilang ke ayah dan ibu soal keinginan kita berbulan madu. Ya walaupun kita belum menentukan tanggal pastinya." sahut Dira, wajahnya masih tampak datar.

Aku melirik Dira tajam, aku tak mengerti kenapa ia harus berbohong. Atau mungkin sebenarnya ia akan pergi dengan Dista dan aku yang ia jadikan umpannya?

"Kita kan belum merasakan apa itu bulan madu. Aku minta maaf mengenai kesalahanku di masa lalu. Tapi mari kita mencoba memulai membangun keluarga kita dari awal." lanjut Dira, aku masih terdiam mendengarkannya.

"Bagaimana sayang, kamu suka kan?" tanya ibu mertuaku, aku langsung memasang senyum ceria di wajahku lalu mengangguk menyetujui rencana Dira tersebut.

"Kila nurut aja kok bu, Kila seneng kalau ibu dan ayah juga seneng." aku berbohong lagi demi tujuanku menyelamatkan keluargaku dari Dira.

Selesai mengobrol, aku masuk ke kamar lalu mandi.

Ketika aku selesai mandi, kulihat Dira sudah duduk bersandar di ranjang.

"Terima kasih." ucapnya dengan santai, aku menatapnya beberapa saat.

"Serahkan sertifikat kebun yang baoakku kelola. Bukankah itu kebunku, hadiah dari ayahmu karena kita menikah?" ucapku yang saat ini berdiri di dekat ranjang dan menatap pada Dira, suamiku.

"Ayah yang punya." sahutnya singkat,

"Baiklah kalau begitu, aku akan menggugat cerai kamu sekarang juga." ancamku.

"Baiklah, aku akan berusaha mendapatkannya dari ayah." sahut Dira yang tampak takut dengan ancamanku.

"Aku beri waktu 2 kali 24 jam, kalau sampai waktu kamu habis dan sertifikat itu belum ada di tanganku, lihat apa yang akan kulakukan." ancamku lagi, sepertinya Dira mulai geram kepadaku.

"Baiklah. Apalagi syaratmu?" tanya Dira dengan lantang.

"Nanti aku pikirkan lagi." jawabku santai.

Aku kemudian naik ke ranjang dan tidur dengan memunggungi suamiku, Dira.

"Maafkan aku." ucap Dira tiba-tiba yang membuatku membelalakkan mata.

Apa Dira serius meminta maaf padaku? Kenapa? Bukankah selama ini sikapnya padaku lebih kejam dari ibu tiri?

Aku hanya diam, aku bingung harus menjawabnya apa.

"Aku masih mencintai Dista, walaupun dia sudah menikah dan aku hanya dijadikan simpanannya. Aku nggak bisa membohongi hatiku." terang Dira, entah kenapa rasanya hatiku sakit mendengar ucapannya barusan.

Selama ini memang belum ada rasa cinta yang hadir dalam pernikahan kami.

Namun karena Dira milikku, rasanya aku sakit hati mengetahui hatinya sudah untuk orang lain.

Aku terdiam, mencoba memejamkan mata, namun yang ada bulir bening menetes dan membasahi bantalku.

Rasanya aku seperti bermimpi, bisa menikah muda, dengan anak orang kaya pula. Namun mimpiku ini adalah mimpi buruk, karena suamiku sudah melabuhkan hatinya pada wanita lain, wanita yang sudah bersuami.

Semakin banyak air mata yang membasahi bantalku, aku sungguh ingin bangun dari mimpi buruk ini, segera.

"Aku sungguh tak ingin melibatkan siapapun masuk ke dalam hubunganku dengan Dista. Itu sebabnya aku tak ingin menikah, namun kondisi ayah semakin memburuk setelah tahu aku memiliki hubungan dengan Dista." ucap Dira, aku semakin menangis mendengarnya.

"Tolong mengerti keadaanku, cinta tak bisa dipaksa. Aku hanya mencintai Dista." lanjut Dira, aku bangkit lalu menuju kamar mandi untuk menutupi tangisanku.

Aku menghidupkan kran di wastafel agar tangisanku tak didengar oleh Dira.

Kenapa rasanya sakit sekali, padahal selama ini aku tak mencintai Dira.

Atau, apa mungkin aku sudah mulai mencintai suamiku itu? Entahlah, aku hanya ingin menangis saat ini.

Bersambung...

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Pernikahan yang Tak Kuinginkan   Tugas istri

    Dira melangkah mendekatiku, aku ketakutan setengah mati. Masih kuingat dengan jelas tamparan Dira ketika aku memergokinya bersetubuh dengan Dista.Kali ini tidak menutup kemungkinan Dira akan menamparku lagi kalau tahu aku mengangkat telepon dari wanita yang ia cintai itu."Apa yang kamu sembunyiin?" tanya Dira dengan suara datar, terdengar dingin, sangat menakutkan."Enggak ada." jawabku gemetar, Dira masih terus mendekatiku, sampai ia berada di depanku dan menarik tanganku yang sedari tadi kusembunyikan di belakang punggungku.Dira merebut ponselnya dengan kasar, tatapan matanya seperti mengisyaratkan kalau ia bisa membunuhku sekarang juga."Apa yang kamu lakukan?" tanyanya, membuatku semakin gemetar ketakutan.Dira menyalakan kembali ponselnya, aku berusaha menghindarinya dan berniat menghindarinya.Namun tangan Dira lebih dulu mencengkalku, menahanku agar aku tak pergi.

  • Pernikahan yang Tak Kuinginkan   Berdebat lagi

    Sulit rasanya mataku ini diajak kompromi, aku tak kunjung tertidur.Sementara Dira, embusan nafasnya terdengar teratur, terasa meraba pundakku walau masih terhalang jilbabku, rasanya panas.Sepertinya Dira benar-benar tidur, mungkin karena efek obatnya. Karena aku tak biasa tidur pagi, yang ada aku terjaga dengan menahan hawa panas dari tubuh Dira.Karena aku merasa lelah, kupikir aku sudah bertahan cukup lama, hampir setengah jam berlalu.Aku mencoba mengangkat tangan Dira yang memelukku, sangat pelan, tentu saja agar ia tak bangun.Kacau kalau akhirnya ia terbangun, aku mungkin harus berada di dekapannya sampai nanti siang, argh, tak sanggup aku.Dengan sangat pelan aku mengangkat tangan Dira lalu pelan-pelan aku bangun.Baru satu kaki aku menurunkan kakiku dari ranjang, tangan Dira sudah menggapai tanganku."Kamu mau kemana?" ucap Dira, terdengar serak."Aku kepanasan mas,

  • Pernikahan yang Tak Kuinginkan   Dira sakit (2)

    Aku memang sakit, menerima kenyataan bahwa suamiku memiliki hubungan gelap dengan istri orang. Dan secara terang-terangan mengatakan padaku kalau aku bukan siapa-siapa baginya kecuali lintah darat yang ingin ia manfaatkan demi memiliki anak.Namun kenyataan bahwa hatiku sakit tak menghentikanku untuk berharap bisa menjadi satu-satunya wanita di hati Dira, suamikuDira masih memegang tengkukku dengan kuat, tak membiarkanku melepas ciumannya.Tiba-tiba saja, klek! Ibu mertuaku masuk ke kamar di saat yang tidak tepat.Aku gelagapan tak karuan, bingung dan malu bercampur menjadi satu."Ibu, bisa nggak kalau masuk ketuk pintu dulu?!" teriak Dira, ibu juga memasang wajah kaget."Maaf, ibu sangat khawatir waktu ayah kamu bilang kamu sakit. Ibu cuma mau bilang kalau ibu udah telepon dokter buat ke sini. Ibu juga mau tanya kamu mau makan apa, ibu nggak ada niat buat ganggu kalian." ucap ibu mertuaku ya

  • Pernikahan yang Tak Kuinginkan   Dira sakit

    Suara adzan subuh yang berkumandang merdu di teleponku membangunkanku.Aku menggeliat lalu membuka mataku lebar-lebar ketika mendapati Dira sudah tidur di ranjang.Aku menyeringai, puas karena pastinya Dira semalam tidur tak nyenyak.

  • Pernikahan yang Tak Kuinginkan   Dira semakin kejam

    Dira menatapku tajam, ia kemudian turun dari atas tubuhku lalu duduk di sampingku.Aku hendak berlari, memungut pakaianku lagi. Namun tangan Dira segera mencegahku, ia menarik tanganku sampai aku duduk di sampingnya.Lalu tangan kanannya segera memiting leherku, aku merasa sedikit tercekik.Tanganku secara reflek menyilang menutupi bagian dadaku.Dira kemudian mendekatkan wajahnya ke samping telingaku."Kalau aku tahu kamu ngelakuin itu sama pria lain, aku akan hancurin pria itu sampai berkeping-keping." bisik Dira di telingaku, membuatku merinding tak karuan.Aku hanya diam, embusan nafas Dira masih meraba leher dan telingaku, membuatku semakin merinding.&

  • Pernikahan yang Tak Kuinginkan   Sandiwara, lagi

    "Baiklah, kamu harus bayar Soni lebih, kalau perlu 3 kali lipat dari gaji yang kamu janjikan. Dia juga perlu menraktirku makan kalau kami jalan berdua." ucapku setengah berteriak.Karena rasa cemburuku pada Dira, aku semakin ingin membuatnya mengakui kalau dia menyukaiku, walau aku tahu itu adalah hal yang mustahil.Aku sadar kalau aku ini hanya wanita miskin, yang Dira anggap tak lebih dari lintah darat.Dira menatapku tajam, "Makanlah." ucapnya dingin.Aku tak menjawabnya, tak juga mengindahkan permintaannya untuk makan."Baiklah, aku akan beri gaji 3 kali lipat buat pacar kamu itu. Aku juga akan kasih kamu kartu kredit tanpa limit. Pakai aja duit itu buat senang-senang sama dia." ucap Dira, aku menyeringai."Makanlah, aku nggak mau kamu sakit. Merepotkan." ucap Dira ketus, aku akhirnya menuju sofa lalu memakan makanan yang Dira bawa."Apa kamu bener-bener menyuka

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status