Share

Syarat keduaku

Author: komsatun
last update publish date: 2020-10-06 23:51:41

Aku keluar dari kamar mandi setelah mencoba mengatasi rasa sakit hatiku.

Aku memasang ekspresi natural, setelah mencuci mukaku tentunya, aku menuju ke ranjang lagi.

Sungguh aku tak ingin berbagi ranjang dengan pria yang mencintai wanita lain, tapi apa daya, kalau aku tidur di lantai bisa jadi aku sakit seperti dulu lagi.

Dira hanya menatapku dalam diam, kami membisu namun saling adu tatap.

Akhirnya aku memilih keluar dari kamar, aku mencoba berkeliling rumah yang luasnya puluhan kali lipat dibanding rumah orang tuaku.

Aku duduk di teras bagian belakang rumah Pak Bima ini, aku memandangi berbagai tanaman yang ditata rapi dan dirawat dengan sangat baik.

Tiba-tiba hujan turun, wajahku dan tubuhku terkena cipratan air hujan yang menetesi tanaman di hadapanku ini.

Aku tak pergi, kubiarkan air hujan menjadi temanku saat ini, teman saat aku sedang merasa tersakiti.

Aku memang tak punya siapa-siapa untuk kuajak bicara. Dulu, karena kesibukanku kuliah dan kerja sambilan, aku tak pernah punya waktu untuk dekat dengan siapapun.

Dan sekarang, aku bahkan tak punya seorang pun yang bisa kupinjam pundaknya ataupun telinganya walau hanya sekedar mendengar keluh kesahku.

Aku teringat Soni, selama ini dialah yang selalu mendekatiku.

Aku ingin sekali setidaknya satu orang saja yang bisa mendengar dan menjadi saksi betapa pahitnya hidupku ini.

"Kamu bisa sakit kalau hujan-hujannan seperti anak kecil seperti itu." ucap Dira yang tiba-tiba muncul, entah sejak kapan ia memperhatikanku.

Bajuku sudah basah semua, aku kemudian beranjak lalu pergi masuk ke kamar.

Aku hendak mengganti pakaianku, Dira mengikutiku masuk ke ruang pakaian.

"Keluarlah, aku mau ganti baju." kataku pelan, aku malas berdebat dengannya.

"Jadi syaratmu selanjutnya, aku tak boleh melihat tubuhmu? Itu artinya aku juga tak boleh menyentuhmu?" tanya Dira, aku menolehnya lalu menatapnya kesal.

"Aku bertahan jadi istri kamu demi Pak Bima dan demi Sera. Jadi jangan memintaku menjadi istri yang baik, karena kamu sendiri bukan suami yang baik." kataku tegas, aku akhirnya membawa pakaianku ke kamar mandi dan berniat berganti pakaian di kamar mandi saja.

Malam ini kulewati dengan banyak air mata, aku menangis dalam diam. Aku memunggungi Dira semalaman, walau rasanya tak nyaman aku tak merubah posisiku sama sekali.

***

"Ayah, ibu, Kila ingin pindah ke rumah mas Dira lagi. Kami kan sudah baikan, kami ingin menikmati masa-masa pengantin baru kami. Boleh ya bu, ayah.." rayuku ke ayah dan ibu mertuaku ketika kami sedang sarapan.

Ayah dan ibu saling tatap, Dira menatapku lekat tanpa mengucapkan apapun.

Wajahnya datar, aku sendiri gelisah, takut kalau rayuanku gagal kali ini.

Kalau gagal, artinya aku dan Dira harus satu ranjang setiap malam, yang ada aku akan mandi air mata setiap malam.

"Ayah ingin kalian tinggal di sini, apa kamu nggak suka tinggal sama ayah dan ibu?" tanya Pak Bima dengan sedikit gemetar, aku tak tega melihat ekspresi kecewa pada ayah mertuaku ini.

"Baiklah, kalau begitu Kila mau di kamar ada sofa, Kila suka belajar sambil duduk di sofa." kilahku, aku mencari alasan agar aku bisa membawa sofa ke kamar kami, kamarku dan Dira.

"Ya sudah, nanti ayah beliin sofa yang baru. Kamu mau yang bagaimana?" tanya ayah mertuaku antusias, aku lega akhirnya bisa membawa sofa ke kamarku.

Dengan begitu aku tidak perlu tidur seranjang dengan Dira.

"Kila mau yang apa aja yah, yang penting nyaman dipakai." jawabku girang karena akhirnya rayuanku kepada ayah mertuaku ini berhasil.

"Baiklah, nanti ayah suruh orang untuk membeli dan meletakkan sofa di kamar menantu ayah yang cantik ini." ucap Pak Bima dengan senyuman lebar di wajahnya.

Aku membalas senyuman ayah mertuaku karena akhirnya aku tak perlu berbagi ranjang dengan pria yang sudah mengkhianati pernikahannya denganku.

Selesai sarapan, aku langsung berangkat kuliah. Kali ini Dira mengantarku, aku menurut saja karena ayah dan ibu mertuaku tampaknya senang melihat kami pergi bersama.

"Bagaimana sertifikat kebunnya? Apa mas udah bicara sama ayah?" tanyaku ketika kami sudah berada di dalam mobil.

Mobil melaju cukup kencang, membelah keramaian jalanan dengan lincahnya.

"Aku belum bicara sama ayah, tunggulah. Apa kamu sedang berusaha mempersiapkan segalanya, agar kamu merasa aman ketika kita bercerai nanti?" tanya Dira, aku terkejut mendengarnya karena ia mengatakan masalah pribadi kami di depan orang lain, walaupun itu sopir pribadinya.

Bagaimana kalau sopir Dira ini mengadu pada mertuaku, bisa semakin runyam masalahnya.

Aku tak ingin dipandang sebagai wanita materalistis oleh Pak Bima dan istrinya.

"Kalau udah tahu, nggak perlu kujawab kan?" jawabku sinis, Dira sepertinya mulai kesal padaku.

"Kamu minta sofa sama ayah agar kita nggak perlu seranjang lagi?" tanya Dira dengan sedikit berteriak, sepertinya sifat aslinya mulai keluar. Selama ini memang Dira lebih sering membentakku, ia berbicara pelan padaku hanya karena aku memegang kartu Asnya.

Namun sepertinya kali ini Dira sudah tak peduli lagi dengan kartu As yang kupegang. Dira menatapku tajam, seakan ingin menerkamku bak hewan buas yang kelaparan.

"Tentu saja, syarat keduaku yaitu jangan ada kontak fisik di antara kita." jawabku tegas, Dira tampak semakin kesal atau bahkan mungkin marah karena sikapku.

"Selama aku belum menceraikanmu, kamu masih menjadi istri sahku. Aku berhak atas semua tubuhku!" teriak Dira, aku tertawa mendengar ucapannya.

"Kamu nggak usah gila mas, kita tahu kalau pernikahan kita biss bertahan karena aku peduli sama Pak Bima dan juga adikku, Sera." kataku sinis, Dira menyeringai sembari melirikku tajam.

Mobil kami sudah berhenti di halaman kampusku, aku hendak keluar dari mobil ini dan meninggalkan suamiku yang tak punya perasaan padaku ini.

Belum sempat aku membuka pintu, Dira menarikku lalu memegang tengkukku.

Secara mengejutkan Dira menciumku, di dalam mobil, di halaman kampusku, disaksikan oleh sopir pribadinya.

Aku berusaha melepaskan ciuman Dira, namun ia memegangku erat.

Aku memukuli Dira, mencoba mengatakan sesuatu namun yang terdengar hanya eranganku yang tak jelas.

Dira menciumku dengan kasar, menyesap bibirku sampai aku kesulitan bernafas.

Aku yang sudah pasrah akhirnya berhenti memukulinya, hanya air mata yang menjadi teman setiaku.

Dira akhirnya melepas ciumannya setelah air mataku semakin deras terjatuh.

Secara reflek aku menampar pipi suamiku, ia hanya tersenyum menyeringai.

Aku melihat bekas tanganku tampak merah di pipi kirinya.

"Kamu udah gila mas?" teriakku ke Dira, Dira tak menjawabku dan sibuk mengelus pipinya yang sudah kutampar itu.

"Apa ada aturan kalau suami tak boleh menyentuh istrinya sendiri? Aku hanya menciummu, kamu berani menamparku. Bagaimana kalau aku memintamu melayaniku di ranjang, apa kamu akan membunuhku?" teriak Dira, aku semakin kesal mendengarnya.

Kali ini Dira tampak seperti Dira yang kukenal, jahat dan mirip seperti iblis.

"Kalau sikap kamu seperti ini, aku akan menggugat cerai kamu secepatnya!" ancamku ke Dira, suamiku.

Namun sepertinya Dira tak takut debgan ancamanku, dia malah tertawa menanggapi ancamanku tersebut.

Bersambung...

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pernikahan yang Tak Kuinginkan   Tugas istri

    Dira melangkah mendekatiku, aku ketakutan setengah mati. Masih kuingat dengan jelas tamparan Dira ketika aku memergokinya bersetubuh dengan Dista.Kali ini tidak menutup kemungkinan Dira akan menamparku lagi kalau tahu aku mengangkat telepon dari wanita yang ia cintai itu."Apa yang kamu sembunyiin?" tanya Dira dengan suara datar, terdengar dingin, sangat menakutkan."Enggak ada." jawabku gemetar, Dira masih terus mendekatiku, sampai ia berada di depanku dan menarik tanganku yang sedari tadi kusembunyikan di belakang punggungku.Dira merebut ponselnya dengan kasar, tatapan matanya seperti mengisyaratkan kalau ia bisa membunuhku sekarang juga."Apa yang kamu lakukan?" tanyanya, membuatku semakin gemetar ketakutan.Dira menyalakan kembali ponselnya, aku berusaha menghindarinya dan berniat menghindarinya.Namun tangan Dira lebih dulu mencengkalku, menahanku agar aku tak pergi.

  • Pernikahan yang Tak Kuinginkan   Berdebat lagi

    Sulit rasanya mataku ini diajak kompromi, aku tak kunjung tertidur.Sementara Dira, embusan nafasnya terdengar teratur, terasa meraba pundakku walau masih terhalang jilbabku, rasanya panas.Sepertinya Dira benar-benar tidur, mungkin karena efek obatnya. Karena aku tak biasa tidur pagi, yang ada aku terjaga dengan menahan hawa panas dari tubuh Dira.Karena aku merasa lelah, kupikir aku sudah bertahan cukup lama, hampir setengah jam berlalu.Aku mencoba mengangkat tangan Dira yang memelukku, sangat pelan, tentu saja agar ia tak bangun.Kacau kalau akhirnya ia terbangun, aku mungkin harus berada di dekapannya sampai nanti siang, argh, tak sanggup aku.Dengan sangat pelan aku mengangkat tangan Dira lalu pelan-pelan aku bangun.Baru satu kaki aku menurunkan kakiku dari ranjang, tangan Dira sudah menggapai tanganku."Kamu mau kemana?" ucap Dira, terdengar serak."Aku kepanasan mas,

  • Pernikahan yang Tak Kuinginkan   Dira sakit (2)

    Aku memang sakit, menerima kenyataan bahwa suamiku memiliki hubungan gelap dengan istri orang. Dan secara terang-terangan mengatakan padaku kalau aku bukan siapa-siapa baginya kecuali lintah darat yang ingin ia manfaatkan demi memiliki anak.Namun kenyataan bahwa hatiku sakit tak menghentikanku untuk berharap bisa menjadi satu-satunya wanita di hati Dira, suamikuDira masih memegang tengkukku dengan kuat, tak membiarkanku melepas ciumannya.Tiba-tiba saja, klek! Ibu mertuaku masuk ke kamar di saat yang tidak tepat.Aku gelagapan tak karuan, bingung dan malu bercampur menjadi satu."Ibu, bisa nggak kalau masuk ketuk pintu dulu?!" teriak Dira, ibu juga memasang wajah kaget."Maaf, ibu sangat khawatir waktu ayah kamu bilang kamu sakit. Ibu cuma mau bilang kalau ibu udah telepon dokter buat ke sini. Ibu juga mau tanya kamu mau makan apa, ibu nggak ada niat buat ganggu kalian." ucap ibu mertuaku ya

  • Pernikahan yang Tak Kuinginkan   Dira sakit

    Suara adzan subuh yang berkumandang merdu di teleponku membangunkanku.Aku menggeliat lalu membuka mataku lebar-lebar ketika mendapati Dira sudah tidur di ranjang.Aku menyeringai, puas karena pastinya Dira semalam tidur tak nyenyak.

  • Pernikahan yang Tak Kuinginkan   Dira semakin kejam

    Dira menatapku tajam, ia kemudian turun dari atas tubuhku lalu duduk di sampingku.Aku hendak berlari, memungut pakaianku lagi. Namun tangan Dira segera mencegahku, ia menarik tanganku sampai aku duduk di sampingnya.Lalu tangan kanannya segera memiting leherku, aku merasa sedikit tercekik.Tanganku secara reflek menyilang menutupi bagian dadaku.Dira kemudian mendekatkan wajahnya ke samping telingaku."Kalau aku tahu kamu ngelakuin itu sama pria lain, aku akan hancurin pria itu sampai berkeping-keping." bisik Dira di telingaku, membuatku merinding tak karuan.Aku hanya diam, embusan nafas Dira masih meraba leher dan telingaku, membuatku semakin merinding.&

  • Pernikahan yang Tak Kuinginkan   Sandiwara, lagi

    "Baiklah, kamu harus bayar Soni lebih, kalau perlu 3 kali lipat dari gaji yang kamu janjikan. Dia juga perlu menraktirku makan kalau kami jalan berdua." ucapku setengah berteriak.Karena rasa cemburuku pada Dira, aku semakin ingin membuatnya mengakui kalau dia menyukaiku, walau aku tahu itu adalah hal yang mustahil.Aku sadar kalau aku ini hanya wanita miskin, yang Dira anggap tak lebih dari lintah darat.Dira menatapku tajam, "Makanlah." ucapnya dingin.Aku tak menjawabnya, tak juga mengindahkan permintaannya untuk makan."Baiklah, aku akan beri gaji 3 kali lipat buat pacar kamu itu. Aku juga akan kasih kamu kartu kredit tanpa limit. Pakai aja duit itu buat senang-senang sama dia." ucap Dira, aku menyeringai."Makanlah, aku nggak mau kamu sakit. Merepotkan." ucap Dira ketus, aku akhirnya menuju sofa lalu memakan makanan yang Dira bawa."Apa kamu bener-bener menyuka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status