LOGINAku tak mengira kalau Dira akan bersikap seperti ini, apa mungkin ia sudah tak peduli pada ayahnya?
Ah, entahlah, aku mencoba membuka pintu mobil namun tak berhasil.
"Pak, tolong buka kuncinya." ucapku ke sopir pribadi Dira.
"Jangan." ucap Dira, aku meliriknya kesal.
"Kamu mau apa lagi?" tanyaku berteriak, Dira kemudian merebut tasku.
Dira mengambil buku dan pena, ia menulis di bukuku tersebut.
Setelah itu Dira mengambil materai dari dalam tasnya lalu menempelkannya di bukuku tersebut.
"Tanda tangan." ucap Dira sambil menyodorkan bukuku, aku menyambar bukuku tersebut lalu membaca isi tulisan Dira.
*Aku, Shakila Dewi, berjanji tidak akan menceraikan suamiku Dira Sudrajat, sebelum aku bisa memberinya anak.
Aku berjanji akan membayar denda sebesar 100 miliar rupiah jika aku meminta cerai sebelum aku memberi suamiku anak.
Tertanda, Shakila Dewi*.
"Kamu gila mas? Aku nggak akan tanda tangan!" teriakku ke Dira, ia hanya tersenyum kecut.
"Keluar." teriak Dira sambil menatap sopir pribadinya, tak lama kemudian sopir tersebut turun dari mobil.
Dira kemudian menarikku lalu menciumku, tangannya mencoba melepas pakaianku secara kasar.
Aku teriak meronta-ronta, namun takut juga kalau ada yang melihat ulah Dira yang sudah tak masuk akal ini.
Dira melepasku, menatapku tajam.
"Kamu mau tanda tangan sekarang atau.." ucapnya terpotong,
"Iya, aku tanda tangan." sahutku berteriak.
Dira akhirnya melepasku, aku kemudian menandatangani perjanjian yang dibuat Dira, terpaksa.
Dira juga menandatanginya perjanjian itu lalu menyobeknya, dimasukkan kertas sobekan itu ke dalam saku jasnya.
"Baguslah, aku akan beri kamu kebun berapapun yang kamu kalau penurut seperti ini." ucap Dira yang tersenyum kecut sambil mengelus kepalaku.
Aku keluar dari mobil setelah Dira menyuruh sopirnya masuk, ia kemudian pergi meninggalkanku.
Aku jongkok seketika, tak percaya dengan apa yang barusan aku lakukan.
Bagaimana bisa aku menandatangani perjanjian dimana aku harus memberi Dira anak? Bodohnya aku!
***
Aku pulang kuliah di sore hari, langsung pulang ke rumah mertuaku tanpa mampir-mampir.
Sesampainya di rumah, ibu dan ayah mertuaku menyambut kepulanganku dengan senyuman hangat.
Aku segera menghambur lalu memeluk ibu mertuaku, tak lupa kucium tangan ayah mertuaku.
"Sekarang di kamar kamu udah ada sofanya. Kalau ada yang kamu inginkan lagi, bilang sama ayah dan ibumu ya." ucap Pak Bima, ayah mertuaku, aku tersenyum mendengarnya.
Sekarang sofa itu terasa percuma karena aku tetap harus melayani Dira di ranjang.
Dira memintaku untuk memberinya anak, tak mungkin tak berbagi ranjang dengan suamiku.
"Terima kasih ya ibu, ayah, Kila senang kalian perhatian sama Kila. Walaupun Kila cuma anak orang miskin, nggak sebanding dengan kalian." ucapku tulus sambil memasanga senyum lebar di wajahku.
"Jangan sungkan, sekarang kami adalah orang tua kamu juga. Tolong maafkan kesalahan Dira dan bimbing dia biar jadi suami yang baik buat Kila." ucap ibu mertuaku, aku mengangguk pelan, berbohong demi kebaikan.
Andai Pak Bima dan Bu Wati tahu kalau anak semata wayangnya masih memiliki hubungan dengan istri orang, pasti kondisi Pak Bima akan kritis lagi.
Belum lagi kalau mereka tahu perlakuan Dira padaku tak lebih baik dari ibu tiri yang kejam.
Selesai berbincang-bincang dengan kedua mertuaku, aku masuk ke kamar.
Aku tersenyum kecut melihat sofa berwarna emas yang tampak mewah tak jauh dari ranjang.
Aku kemudian merebahkan tubuhku di sofa, nyaman sekali rasanya.
Tanpa terasa air mataku menetes pelan, namun semakin lama semakin deras.
Aku yang selama ini tak pernah menjalin hubungan asmara, harus terpaksa menikah dengan pria yang ternyata sudah memiliki pujaan hati.
Yang lebih menyakitkan lagi, pria itu selalu melecehkan kondisi sosialku karena aku hanyalah anak dari bawahan ayahnya.
Tanpa tersadar aku tertidur di sofa, masih dengan pakaianku sebelumnya.
Ketika aku masih terlelap tertidur, aku terbangun karena merasa ada yang meraba pahaku yang masih tertutup celana.
Aku bangun lalu duduk, menatap orang yang baru saja meraba pahaku, siapa lagi kalau bukan suamiku, Dira.
Aku terkejut dengan sikap Dira barusan, aku sadar kalau yang dia cintai hanya Dista.
Yang Dira inginkan dariku hanya anak, penerus untuk keluarga Sudrajat.
Rasanya risi ketika Dira meraba pahaku, sekalipun dia melakukan hubungan badan denganku, ia melakukannya karena terpaksa.
Tak ada cinta di antara kami, dan aku sendiri sangat membenci Dira karena ia memperlakukanku tak lebih baik dari seorang budak.
"Apa yang kamu lakukan?" kataku sambil beberapa kali mengedipkan mata.
"Aku cuma menyentuh istriku, nggak boleh?" ucap Dira yang tampaknya meledekku, ia duduk di sampingku.
"Aku masih bulanan, aku belum selesai." kilahku, Dira menyeringai.
"Aku cuma menyentuh paha kamu, siapa yang bilang aku mau minta keperawananmu sekarang." ucap Dira yang mulai melepas jas, dilanjutkan dengan melepas kemejanya.
Dira melempar jas dan kemejanya ke wajahku, dengan sengaja tentunya.
Akhir-akhir ini dia tak menyiksaku karena ia takut aku meminta cerai darinya.
Namun sekarang ia mengancamku dengan perjanjian bodoh yang ia buat sendiri dengan memaksaku tadi pagi.
Sikap Dira kembali seenaknya sendiri tanpa peduli perasaanku.
"Ayo kita pergi bulan madu setelah masa haidmu itu selesai. Aku pastiin kalau kamu akan pulang dalam kondisi hamil." ucap Dira yang kemudian berjalan menuju kamar mandi.
Entah kenapa aku merinding mendengar ucapan Dira barusan.
Rasanya aku tak ikhlas kalau harus menyerahkan keperawananku untuk suami yang tak mencintaiku itu.
Apalagi harus mengandung anaknya, aku ingin kabur dari kenyataan ini.
Namun kalau aku lari, aku yakin ayah dan Sera akan menderita.
Belum lagi Pak Bima juga akan kambuh lagi sakitnya, mungkin Pak Bima juga bisa saja meregangkan nyawanya kalau tahu aku meninggalkan anaknya karena ulah anaknya itu.
Selesai mandi, Dira menatapku tajam, sambil menggosok rambutnya menggunakan handuk kecil.
Aku masih duduk di sofa, membalas tatapan Dira dengan tatapan yang tak kalah tajam.
"Aku membelikanmu kebun 2 kali lipat dari yang ayah beli untuk kamu. Sertifikatnya akan aku kasih ke kamu kalau kamu mau tidur seranjang denganku malam ini." ucap Dira.
"Aku nggak minta, yang aku minta cuma sertifikat kebun yang ayah beli untukku." jawabku tegas, Dira menyeringai.
"Kamu pikir aku nggak bisa maksa kamu buat melayaniku di ranjang?" tanya Dira yang saat ini mendekatiku, ia memegang daguku kuat.
"Di perjanjian yang kamu buat tadi, aku akan membayar denda kalau aku yang meminta cerai. Bagaimana kalau ayah tahu kalau anaknya ini masih memiliki hubungan dengan istri orang dan mengancamku agar aku tutup mulut?" ancamku, Dira mendorong tubuhku sampai aku membentur dinding sofa.
Tampaknya Dira sangat marah dengan ucapanku barusan.
"Kalau sampai terjadi apa-apa dengan ayah, aku akan buat ayah dan adikmu menderita seumur hidup!" ancam Dira, ia melempar wajahku, sangat keras.
Bersambung...
Dira melangkah mendekatiku, aku ketakutan setengah mati. Masih kuingat dengan jelas tamparan Dira ketika aku memergokinya bersetubuh dengan Dista.Kali ini tidak menutup kemungkinan Dira akan menamparku lagi kalau tahu aku mengangkat telepon dari wanita yang ia cintai itu."Apa yang kamu sembunyiin?" tanya Dira dengan suara datar, terdengar dingin, sangat menakutkan."Enggak ada." jawabku gemetar, Dira masih terus mendekatiku, sampai ia berada di depanku dan menarik tanganku yang sedari tadi kusembunyikan di belakang punggungku.Dira merebut ponselnya dengan kasar, tatapan matanya seperti mengisyaratkan kalau ia bisa membunuhku sekarang juga."Apa yang kamu lakukan?" tanyanya, membuatku semakin gemetar ketakutan.Dira menyalakan kembali ponselnya, aku berusaha menghindarinya dan berniat menghindarinya.Namun tangan Dira lebih dulu mencengkalku, menahanku agar aku tak pergi.
Sulit rasanya mataku ini diajak kompromi, aku tak kunjung tertidur.Sementara Dira, embusan nafasnya terdengar teratur, terasa meraba pundakku walau masih terhalang jilbabku, rasanya panas.Sepertinya Dira benar-benar tidur, mungkin karena efek obatnya. Karena aku tak biasa tidur pagi, yang ada aku terjaga dengan menahan hawa panas dari tubuh Dira.Karena aku merasa lelah, kupikir aku sudah bertahan cukup lama, hampir setengah jam berlalu.Aku mencoba mengangkat tangan Dira yang memelukku, sangat pelan, tentu saja agar ia tak bangun.Kacau kalau akhirnya ia terbangun, aku mungkin harus berada di dekapannya sampai nanti siang, argh, tak sanggup aku.Dengan sangat pelan aku mengangkat tangan Dira lalu pelan-pelan aku bangun.Baru satu kaki aku menurunkan kakiku dari ranjang, tangan Dira sudah menggapai tanganku."Kamu mau kemana?" ucap Dira, terdengar serak."Aku kepanasan mas,
Aku memang sakit, menerima kenyataan bahwa suamiku memiliki hubungan gelap dengan istri orang. Dan secara terang-terangan mengatakan padaku kalau aku bukan siapa-siapa baginya kecuali lintah darat yang ingin ia manfaatkan demi memiliki anak.Namun kenyataan bahwa hatiku sakit tak menghentikanku untuk berharap bisa menjadi satu-satunya wanita di hati Dira, suamikuDira masih memegang tengkukku dengan kuat, tak membiarkanku melepas ciumannya.Tiba-tiba saja, klek! Ibu mertuaku masuk ke kamar di saat yang tidak tepat.Aku gelagapan tak karuan, bingung dan malu bercampur menjadi satu."Ibu, bisa nggak kalau masuk ketuk pintu dulu?!" teriak Dira, ibu juga memasang wajah kaget."Maaf, ibu sangat khawatir waktu ayah kamu bilang kamu sakit. Ibu cuma mau bilang kalau ibu udah telepon dokter buat ke sini. Ibu juga mau tanya kamu mau makan apa, ibu nggak ada niat buat ganggu kalian." ucap ibu mertuaku ya
Suara adzan subuh yang berkumandang merdu di teleponku membangunkanku.Aku menggeliat lalu membuka mataku lebar-lebar ketika mendapati Dira sudah tidur di ranjang.Aku menyeringai, puas karena pastinya Dira semalam tidur tak nyenyak.
Dira menatapku tajam, ia kemudian turun dari atas tubuhku lalu duduk di sampingku.Aku hendak berlari, memungut pakaianku lagi. Namun tangan Dira segera mencegahku, ia menarik tanganku sampai aku duduk di sampingnya.Lalu tangan kanannya segera memiting leherku, aku merasa sedikit tercekik.Tanganku secara reflek menyilang menutupi bagian dadaku.Dira kemudian mendekatkan wajahnya ke samping telingaku."Kalau aku tahu kamu ngelakuin itu sama pria lain, aku akan hancurin pria itu sampai berkeping-keping." bisik Dira di telingaku, membuatku merinding tak karuan.Aku hanya diam, embusan nafas Dira masih meraba leher dan telingaku, membuatku semakin merinding.&
"Baiklah, kamu harus bayar Soni lebih, kalau perlu 3 kali lipat dari gaji yang kamu janjikan. Dia juga perlu menraktirku makan kalau kami jalan berdua." ucapku setengah berteriak.Karena rasa cemburuku pada Dira, aku semakin ingin membuatnya mengakui kalau dia menyukaiku, walau aku tahu itu adalah hal yang mustahil.Aku sadar kalau aku ini hanya wanita miskin, yang Dira anggap tak lebih dari lintah darat.Dira menatapku tajam, "Makanlah." ucapnya dingin.Aku tak menjawabnya, tak juga mengindahkan permintaannya untuk makan."Baiklah, aku akan beri gaji 3 kali lipat buat pacar kamu itu. Aku juga akan kasih kamu kartu kredit tanpa limit. Pakai aja duit itu buat senang-senang sama dia." ucap Dira, aku menyeringai."Makanlah, aku nggak mau kamu sakit. Merepotkan." ucap Dira ketus, aku akhirnya menuju sofa lalu memakan makanan yang Dira bawa."Apa kamu bener-bener menyuka