LOGINCERITA KHUSUS DEWASA 21+ Sepasang kekasih yang baru saja menikah tidak tahu apa yang harus dilakukan mereka pada saat malam pertama, dan bagaimana cara agar memuaskan nafsu mereka masing-masing. Satu-satunya cara adalah bertanya pada teman, agar bisa mendapatkan seorang cucu untuk orang tuanya. Apakah teman mereka mau memberitahunya atau sebaliknya menertawainya?
View More"Naoki, apakah kamu akan menyayangi istrimu seperti dirimu sendiri?" ucap pendeta sambil memegang buku agenda di tangannya dan menatap Naoki dengan serius.
"Iya," jawab Naoki.
Setelah Naoki selesai berbicara dengan pendeta, kali ini adalah giliran Affry. Pasangan Naoki yang menemaninya di altar pernikahan, dengan menggunakan baju pengantin berwarna putih dan bunga merah di tangannya, menggandeng tangan Naoki dengan polosnya.
"Affry, apakah kamu akan selalu mencintai suamimu, bagaimana pun keadaannya?" ucap pendeta. Itulah namanya, Affry. Wanita yang akan menjadi istri dari Furakawa Naoki yang dulu namanya adalah Affry Yuu sekarang menjadi Furakawa Affry di depan semua orang. Affry berasal dari Amerika dan Naoki dari Jepang.
"Iya,” sahut Affry sambil melihat ke arah Naoki dengan senyum manis. Akhirnya pendeta memberkati mereka dan mengesahkan mereka menjadi pasangan suami-istri yang baru.
"Baiklah proses pernikahan ini telah selesai, sekarang Tuan Furakawa, Anda boleh mencium istri Anda." Suara sorak-sorai terdengar mengelilingi altar tempat pernikahan tersebut dilaksanakan.
"Cium ... cium ... cium...." Riuh para penonton dengan begitu gembira sambil menepuk tangan mereka dengan begitu kuat. Tapi mendengar itu Naoki hanya diam saja mematung.
Naoki yang selama hidupnya tidak pernah pacaran, apalagi mencium seorang wanita, merasa sungkan untuk melakukannya. Tapi mau tidak mau dia harus melakukannya karena itu adalah tradisi.
Cup....
Satu ciuman tepat di kening Affry. Para penonton yang melihatnya teriak karena Naoki tidak menciumnya di bibir, harusnya di bibir, karena biasanya itu dilakukan di bibir dengan cara romantis.
Affry tidak peduli apa kata orang, Naoki menciumnya di kening. Itu sudah cukup membuatnya malu dan tidak berani menatap Naoki secara langsung.
♡♡♡
Di rumah keluarga Furakawa, Naoki, Affry dan kedua orang tua Naoki saling berbicara satu sama lain mengenai kehidupan pasangan muda yang baru saja menikah.
"Baiklah kalau begitu, kami akan menunggu seorang cucu dari kalian,"
ucap Tn. Furakawa sambil tertawa memandang istrinya Ny. Furakawa. Naoki mendengarnya merasa canggung.
"Hm ... tapi Ayah, aku tidak tahu bagaimana cara membuat anak?”
ucap Naoki dengan begitu polosnya. Pernyataan yang sangat memalukan di depan kedua orang tuanya sendiri.
"Haa?” Kedua orang tua tidak percaya dengan pernyataan Naoki, mereka saling melotot dan menatap rendah Naoki.
"Kamu serius dengan perkataanmu, sekarang umurmu sudah menginjak 23 tahun dan kamu tidak tahu caranya membuat anak?” pekik Ny. Furakawa dengan nada tinggi yang cukup memekakkan telinga.
"Baiklah kalau begitu, istrimu akan mengajarkannya. Nak, kamu tahu kan cara membuatnya?” tanya Ny. Furakawa dengan yakin pada Affry.
"Maaf Ibu, aku juga tidak tahu cara membuatnya, tapi sebelum aku menikah, aku menanyakannya pada temanku, dan temanku bilang tinggal masukkan saja ke dalam lubangnya kok ribet sih ... tapi, sampai sekarang aku tidak mengerti apa yang diucapkannya? Dan lubang yang mana yang harus dimasuki?” jelas Affry dengan begitu polosnya sambil menundukkan kepalanya karena malu.
"Astaga ... kenapa kalian berdua begitu bodoh?” ucap Ny. Furakawa sambil memegang kepalanya yang sakit karena memikirkan Naoki dan Affry yang tidak tahu apa-apa.
"Ibu. Ibu dan Ayah bisa mengajari kami kan bagaimana cara membuatnya? Soalnya Ibu dan Ayah sudah berhasil membuatku, jadi pasti ibu tahu cara membuatnya?” terang Naoki dengan lugunya.
Ny. Furakawa dan Tn. Furakawa hanya mematung mendengar ucapan anak semata wayangnya itu. Mereka tidak tahu apa yang harus dikatakan, bagi mereka itu adalah urusan mereka berdua.
"Kalian cari tahu sendirilah, pokonya Ibu dan Ayah ingin segera memiliki seorang cucu,” ucap Ny. Furakawa sambil meninggalkan mereka berdua beserta dengan Tn. Furakawa juga. Dengan rasa kesal dan kecewa karena selama ini mereka tidak sadar kalau anak mereka itu sangat berbeda dengan laki-laki normal.
"Bagaimana ini? Apa yang akan kita lakukan?” tanya Affry sambil melihat kepergian orang tua Naoki dengan rasa bersalah di hatinya.
"Aku tidak tahu.” Setidaknya Naoki bisa menanyakannya pada temannya sendiri masalah tersebut.
Di malam pertama seharusnya pasangan muda yang baru saja menikah saling bermesraan dan melakukan hubungan mereka? Tapi tidak dengan pasangan polos kali ini. Di malam pertama mereka, mereka menelepon seseorang untuk mengajari mereka bagaimana cara membuat anak? Aneh kan? Tapi, itu kenyataannya.
"Naoki, apa yang harus kita lakukan? Ibumu sepertinya sangat marah pada kita.” Affry tak bisa melakukan apa pun selain bertanya dan diam.
"Tidak tahu, aku akan mencoba menanyakannya pada temanku," ucap Naoki, mengambil teleponnya yang berada di samping tempat tidur, dan mulai mencari nomor telepon yang akan dihubunginya.
“Halo.” Saat telepon itu terhubung, Naoki langsung berbicara tanpa menerima jawaban dari sang penerima telepon. “Natsu, apa kamu sibuk? Aku ingin menanyakan sesuatu padamu,” ucap Naoki.
"Tidak, katakanlah. Tapi, sebelum itu selamat ya atas pernikahanmu dengan Affry, semoga kalian selalu bahagia dan sehat selalu.”
"Semoga? Kalau begitu tidak selamanya dung? Kok doanya seperti itu. Teman macam apa yang berdoa untuk kehancuran temanya,” ketus Naoki. Dia sungguh polos bin polos.
"Sabar, maaf. Kalau begitu apa yang ingin kamu tanyakan?” tanya Natsu sedikit menahan emosinya karena kebodohan yang diucapkan Naoki tadi.
"Begini, Ibu dan Ayahku menginginkan seorang cucu,” jelas Naoki berharap Natsu akan membantunya.
"Ya sudah ... kamu tinggal membuatnya bersama dengan istrimu,” jawab Natsu, Natsu lupa kalau Naoki itu polos hingga dia menjelaskan tidak terlalu rinci, dan membuat Naoki sedikit kesal.
"Masalahnya itu, aku tidak tahu caranya, kamu kan sudah menikah dan sekarang juga istrimu sedang hamil, ajari aku dung cara buatnya,” bujuk Naoki dengan nada seperti anak kecil yang meminta dibelikan es krim.
"Astaga ... dasar bodoh! Kamu tinggal masukkan adikmu ke Miss V istrimu, selesai. Gampang kan? Itu saja harus ditanya!"
"Natsu, BODOH! Kamu tahu kan aku itu anak satu-satunya, aku itu tidak punya seorang adik, dan juga Miss V .... mulai dari Taman Kanak-kanak sampai kuliah pun kita selalu bersama kan? Memang guru Bahasa Inggris kita ada yang bernama V apa? Jadi manusia bodoh kali ... sih?!” teriak Naoki dengan kuat, dan membuat Natsu tercengang diam. Dia heran, yang bodoh itu dia atau Naoki?
"Mati saja sana, sudah salah, mengotot lagi!” ujar Natsu dengan nada marah sambil memegang telinganya yang sakit karena teriakan Naoki seperti petasan yang menyala.
“Kalau mau tahu caranya sana pergi tonton film dewasa," terang Naoki kemudian mematikan teleponnya dengan Natsu.
Tut ... Tut....
"Ni anak gila kali ya?” gumam Naoki sambil melihat teleponnya lalu tidur.
"Apa kata temanmu?" tanya Affry, saat melihat Naoki tidur di sampingnya.
"Tidak ada, ayo tidur besok kita harus ke kampus.” Naoki mengambil selimut lalu menyelimuti dirinya dan Affry.
Takishima Natsu adalah teman Naoki mulai dari kecil, mereka selalu bersama hingga sekarang.
Bab 5 Lubang yang Mana?☆☆☆"Ya ampun bisa gila aku ditaruh anak yang satu ini,” rengek Natsu sambil memegang kepalanya."Memang kamu tahu?” Naoki dengan begitu polos dan percaya diri, seolah-olah dialah yang paling benar."Kan ada gambarnya di buku paket, tidak kau perhatikan ya? Padahal waktu ujian kenaikan kelas salah satu soal kita adalah gambarkan sel telur dan sel sperma, kau dapat nilai 100 kok, tapi kenapa kau tidak tahu itu sel sperma atau sel telur, asal kau gambari ya?” jelas Natsu, sekalian meledeknya."Oh, kan aneh sih coba pikirkan ibu guru bilang sel sperma jika masuk ke tubuh wanita akan mencapai jutaan atau ribuan. Coba bayangkan kalau sebanyak itu kayak mana mau masuknya baru itu kecil-kecil lagi.” Apa Natsu bisa menjawab pertanyaan Naoki."Mati saja sana!” Wajar jika Natsu marah terhadap Naoki, pertanyaan kayak begitu semua orang pasti merasa geli jika harus menjawab pertanyaan itu. Bahkan jika dia pun menanyakannya pada anak SM
Bab 4 Percakapan Polos yang Menggelikan☆☆☆Happy Reading :)Di malam hari ini, mereka masih saja memperdebatkan kepolosan atau bisa dibilang juga kebodohan mereka masing-masing, di mana yang satu mengatakan kalau punyanya tidak bau, dan yang satu lagi mengatakan itu wajar karena tempat pembuangan."Tidak kok, tempat pipisku harum kok, lihatlah.” Affry membuka semua celananya dan tampaklah semua pemandangan jarang yang membuat Naoki heran, apa itu sebenarnya.“Eh ... punyamu kok beda denganku ya?” tanya Naoki dengan rasa penasaran.“Aku tidak tahu, padahal kita sama-sama manusia.”Jawaban yang sangat polos, walau sama-sama manusia, pasti memiliki perbedaan ‘kan? Apalagi dengan sesama lawan jenis. Tapi, Naoki yang mendengarnya hanya menjawab, iya. Lalu kembali memperhatikan perbedaan mereka berdua."Nah sekarang kamu isap punyaku, pasti harum," ucap Affry sambil mengangkang, dia memberikan punyanya secara terang-terangan ter
Bab 3 Jijik☆☆☆Natsu terus memainkan tangannya dengan sangat manja di balik baju Honoka. Kali ini buka hanya itu saja, dia mulai menghisap gundukan tersebut dan memainkan benda kecil menonjol berwarna merah jambu di dalam mulutnya. Membuat Honoka mengeluarkan suara yang sangat indah.“Akh,” rintih Naoki, menghancurkan pandangan Affry.“Ada apa?” tanya Affry, sambil melihat Naoki dengan sedikit heran.“Sepertinya di celanaku ada yang ingin keluar.” Pernyataan yang sangat vulgar, Affry langsung menunduk dan melihat celana milik Naoki. Dia heran, kenapa celana Naoki bisa tiba-tiba jadi besar dan seperti ada yang menonjol.“Naoki, celanamu kok tiba-tiba jadi besar?” Affry semakin menatapnya tajam dan heran. Kali ini dia semakin aneh karena bagian itu semakin besar dan seperti ingin keluar.“Tidak tahu." Dengan nada polosnya, Naoki mengucapkannya.“Ya sudah sini, aku
Besok paginya Naoki dan Affry memulai pelajarannya di kampus, masing-masing mereka memasuki kelas yang mereka pilih. Kurang lebih tiga jam pelajaran pertama telah selesai dan semua murid dapat beristirahat.Naoki pergi ke kantin bersama Natsu sedangkan Affry pergi ke kantin sendirian, dari arah jauh Naoki melihat Affry sedang kebingungan mencari tempat duduk untuk ia duduki."Affry!” Naoki yang melihatnya langsung memanggil Affry, Affry menoleh ke asal suara itu. Dia melihat Naoki dan langsung saja menghampirinya tanpa basa-basi sedikit pun.Jika dilihat, mereka hanya seperti teman sekampus saja, padahal tidak. Affry mendatangi Naoki dan langsung duduk bersamanya, bukan hanya itu saja, Natsu. juga ada di tempat itu.