ANMELDENKisah dari Adam Atmaja bersama kakaknya Arya Bramaja dalam menjalankan kehidupan yang penuh tantangan dalam perjalanan mencari pembunuh ibunya. Lantas bagaimana kisah mereka , yuk selalu stay tune di novelku. Selamat membacanya. Love you guys
Mehr anzeigen“Kenapa kau tiba-tiba kabur?” Ucap Alice sembari mengikuti langkah Adam menuju ruang gudang tempat Arya mengurung dirinya.“Aku akan menemui kakakku.” Jawab Adam singkat. “Kalau begitu pelan-pelan saja kali ku sakit. Hei,,,hei,,hei!” Pinta Alice yang tak berhenti berceloteh kepada Adam.Teriakan terakhir nya berhasil membuat Adam berhenti berjalan. “Jangan membuat ku marah, nanti aku bisa meledak.” Terang Alice berharap Adam mengasihinya.“Mangkanya aku ajari metode itu.” Jawab Adam dengan sabar. “ Itu tidak akan berhasil untukku.maka kau harus menjadi tuas pengamanku.” Alice dengan tegas berkata seperti memaksa Adam untuk memenuhi pintany akali ini.“Apa?” Adam berkat
“Wah saat cemberut seperti ini, wajahmu mirip sekali dengan ibumu. Ibu bukan hanya pandai menulis tapi juga sangat cantik dan seks. Kau sangat mirip dengan ibu mu.i” Tangan Alice seketika melayang pertanda ingin menggapai mulut Atos.Belum sempat tangan Alice mengenai Atos lagi- lagi, Adam berusaha menahannya.”Tutup mulutmu dan pergilah!”“wah, keadaan semakin menarik, kau harus lebih berhati-hati. Ibumu yang penulis novel terkenal, tiba-tiba di kabarkan meninggal. Dan ayahmu yang merupakan arsitek terkenal, tiba-tiba masuk rumah sakit jiwa. Lantas aku penasaran bagaimana nasibmu nanti ya?” Dengan perkataan yang menanam pada Alice, Atos berkata-kata seolah tanpa dosa mengucapkannya.“Setiap kali berurusan dengan wanita ini, kau akan merasakan akhir yang buruk, i
Arya yang masih ke panikan dengan trauma masa lalunya terbanyang seketika di kepalanya, seperti cuplikan film di kepalanya.Segera membuka pintu masuk Adam menenangkan Arya."Dai menjambak rambutku.""Tenanglah, maafkan aku.""Aku tidak apa-apa.""Ya. Kau baik-baik saja. Maafkan aku." Menenangkan Arya di pelukannya dengan bungkusan jekat hitam yang Adam sungkupkan di atas kepala Arya, agar membuatnya merasa lebih aman."Aku sudah baik-baik saja sekarang.""Tenanglah." Kilauan lampu kamera dari wartawan yang menghadiri acara penerbitan buku Alice , bersautan sama lain untuk bere
Di pagi hariHari ini merupakan hari penerbitan buku dongen Alice yang ke-4, Arya sangat menantikan hari ini.Pukul 06.00 dini hari Arya telah siap-siap untuk ikut menghadiri acara peluncuran buku dongen Alice.Air yang mengalir dari ujung rambut merambat ke seluruh tubuh Arya, berpadu dengan lagu yang selalu dinyanyikannya."Ya ampun Bram. Ayolah anggkat telpon dari ku." Tangan Adam yang menggenggam ponsel bolak-balik di letakkan di dekat telinganya.Namun tetap saja panggilan dari Adam tak di terhiraukan oleh Bram.Di kedai ayam milik Bram, terlihat tubuh Bram yang terlelap di atas deretan kursi, masih mengigau menyebut nama Kanza. S





