Mag-log in
Di ruangan besar tempat dimana Pevita sedang menjalani interview pekerjaan. Ternyata mencari pekerjaan tidak semudah yang Vita pikirkan. Dan jika ia berhasil, Ia akan langsung diterima diperusahaan bergengsi tersebut sebagai sekretaris manager utama.
Hebat bukan? Selain uang gaji lumayan besar, para pekerja perusahaan juga kebayakan berwajah tampan. Apalagi manager utama dari perusahaan 'Andromeda Company' itu sangat tampan.
Setelah menunggu dua jam lebih, akhirnya seorang Vita di panggil untuk interview.
Gadis seksi itu berjalan dengan santai, Vita menghentikan langkahnya ketika diambang pintu lalu mengetuk pintu sampai terdengar suara seseorang menyuruh untuk masuk, barulah Vita membuka pintu secara perlahan.
Seorang laki-laki duduk di belakang meja besar, kedatangan Vita disambut oleh pemuda tampan itu tersenyum tipis. "Silahkan duduk," perintahnya.
Vita mengangguk, ia menarik kursi lantas mendudukan pantatnya. Mata gadis itu mengedarkan pandangan seisi ruangan tersebut. Terasa nyaman, beginikah rasanya bekerja di kantor perusahaan. Suasana dingin dari AC dan ruangan yang begitu mewah, pasti dirinya merasa betah.
Tatapan mereka bertemu satu sama lain kemudian Vita meletakkan CVnya di meja. Lelaki itu sebagai Direktur membuka CV Vita dan membaca sambil bergumam.
"Pevita Grizelda, 22 tahun, S2 dari bidang informatika?" tanyanya memastikan kebenaran nama Vita.
Pertanyaan dari lelaki itu membuat Vita mengangguk seraya menjawab, "Iya, Pak," jawab Vita sopan dan singkat. Sebagai pelamar pekerjaan Vita harus bersikap sopan kepada atasannya, takut mendapatkan nilai kepribadian buruk.
"Sepertinya kamu cukup menarik," ucap pria itu menatap Vita dengan saksama. "Kayanya kita pernah bertemu?" Direktur itu mengelus dagunya sendiri, mengingat-ingat.
"AH! Sial," umpat Vita dalam hati. Dia pikir, lelaki di depannya tidak akan mengenalinya. Ternyata dugaan Vita salah. Lelaki itu mengenalinya. Ingatan macam apa itu? Bahkan kejadian sudah tiga bulan lalu.
Vita tertawa kecil, mengelak. "Mana mungkin, Pak. Ini baru bertemu dengan bapak pertama kali,” tutur Vita meyakinkan.
Lelaki itu menggelengkan kepala, tidak percaya. Dia merasa pernah bertemu dengan Vita, entah kapan. "Saya tidak lupa, Pevita Grizelda. Jangan membohongi saya,” ucapan terdengar lebih dingin.
Vita menelan saliva dengan susah payah. "Maaf...” Sial! Sial! Direktur pasti sudah mengingat semua kejadian beberapa bulan lalu. OMG! “Mati gue!” batin Pevita.
Vrendy mengetuk-etuk jari telunjuk di meja, matanya menatap gadis di depannya dengan saksama dan tanpa berkedip. "Kamu masih ingat dengan saya?" Direktur bernama Vrendy semakin mengorek kebenaran ucapannya, sangat yakin pernah bertemu dengan Vita.
Vita mengangguk kaku. Dia menjadi panik, gelisah dan berkeringat dingin. Keringat sebiji jagung di pelipisnya mulai merosot ke pipi hingga dagu dan jatuh mengenai pergelangan tangan. Jari jemari sudah bergetar sambil mencengkram rok ketatnya.
Vrendy tersenyum kering. "Vita, kamu ingat kejadian dua bulan lalu?" Perkataan Vrendy membuat Vita teringat kejadian dua bulan, tiba-tiba melintas diotak begitu saja. Saat itu, Vita sedang dikejar oleh kekasihnya atau pacarnya, her boyfriend.
Dua bulan lalu ....
Vita berlari dengan bertelanjang kaki dan drees selutut. Bagian atasnya pun terdapat sedikit robekan, sambil berlari gadis itu terus memegangi robekan agar tidak memperlihatkan bagian dada yang menggoda hasrat.
Vita berlari sekuat-kuatnya dan berhasil kabur dari seorang laki-laki yang merupakan pacarnya. Ah bukan! Vita memutuskan hubungan saat itu juga, status pun berganti sebagai, 'mantan Kekasih.'
Sungguh Vita merasa lelah, ia menghentikan larinya untuk mengatur napas sembari kepalanya menoleh ke belakang. “Selamat juga," gumam Vita sedikit legah. Deru napas yang diatur perlahan sedikit mengurang.
Ternyata dugaannya salah, mantan kekasihnya muncul dengan cepat sekali. Pevita kabur, karena kekasihnya memaksa untuk bercinta. Vita kembali berlari sekuat-kuatnya. Ia menyesali kenapa jalan malam ini nampak sepi, padahal Vita sudah berteriak namun hasilnya nihil tak ada seorang pun yang merespon.
Dari jauh Vita melihat sinar lampu mulai mendekat, pastinya ia akan selamat. Vita tidak akan mati konyol karena tertabrak mobil.
TINNNNN !!
Pengemudi mobil itu menekan klakson panjang. Seorang gadis melintas di depannya begitu saja membuat Vrendy mengerem mobilnya mendadak. Vita sudah merentangkan kedua tangannya seolah ingin bunuh diri.
"STOP! STOP! STOP!!!!!" jerit Vita.
Brak. Dug.
Vrendy mengelus-elus keningnya akibat terhantam kemudi, hampir saja ia menabrak tubuh seseorang. Gadis gila yang menjadi penghalang perjalanan pulang, mata Vrendy menatap gadis itu tajam dan kesal lantas ia keluar dari mobil.
Vrendy menarik napasnya lega, untung saja mobilnya tidak menabrak tubuh gadis itu. Tapi, anehnya gadis yang hampir ia tabrak sudah terkapar di aspal dan tak sadarkan diri membuatnya bingung.
"Kamu tahu kesalahannya?"
Pertanyaan Vrendy membuyarkan lamunan Vita, dengan cepat Vita menggeleng kepala dan menjawab, "Tidak, saya tidak tahu." Ya, memang. Pevita tidak tahu kesalahannya dimana, dia membuat drama waktu kejadian itu.
Vrendy menatap wajah Vita geram. "Anda telah membohongi saya, berpura-pura tertabrak dan membuat saya harus berurusan dengan polisi!" tegas Vrendy.
Vita tertegun, yang ia ingat saat itu dirinya dilarikan rumah sakit dan tidak ada orang lain di kejadian itu. Kecelakan tidak cukup parah. Tubuhnya tidak tersentuh badan mobil, bagaimana bisa kecelakan parah? Bodohnya, Vrendy memanggil ambulans untuk Vita. Jadi, Vita di bawah ke rumah sakit.
Vita menatap Vrendy bingung seakan meminta penjelasan, tetapi pemuda itu bangkit, berjalan kearah Vita. “Polisi? Bukankah tidak ada polisi waktu saya tertabrak mobil?” tanya Vita.
Vrendy tertawa garing lalu mendecak kesal. "Tertabrak? Yang benar saja. Kamu hanya berpura-pura tertabrak bukan?"
Pevita tidak menjawab. Diam seribu bahasa.
Vrendy berdiri di belakang Vita. "Kamu harus membayar kesalahannya," bisik laki-laki itu di telinga Vita, ia meniup-niup telinga Vita dua kali. "Karena kejadian itu membuat saya kena sial."
Vita tidak tahu harus membayar kesalahannya dengan apa, uang? Mungkin saja Vrendy menginginkan uang.
"Bagaimana caranya aku membayar kesalahan?" tanya Pevita bingung.
"Cukup dengan ini," bisik Vrendy menggoda.
Vrendy meletakkan tangannya di atas dua gundukan kenyal milik Vita. Hal itu sontak membuat mata Vita melotot sempurna dan bibir terbuka, terkejut. Dengan cepat Vita menepiskan tangan Vrendy dari bagian itu. Vita tersenyum miring, boss macam apa yang seenaknya menyentuhnya?
Vita berdiri, membalikkan badan, menatap Vrendy tidak terima. Tetapi setelah melihat senyuman Vrendy yang manis menampakkan lesung pipit membuat ketampanan bertambah. Sial! Amarah Vita pun mereda seketika.
Vrendy tersenyum puas melihat ekspresi Vita yang kalah dengannya. "Kamu mau kerja di sinikan?" tanya Vrendy kembali meletakan tangannya di gundukan Vita lalu meremas nakal.
"Vren ... Vrendy ... ah.. Mhhh ...." Pevita mendesah.
Vrendy memperkeras remasannya. Haha. Permainan yang dia buat ternyata cukup merangsang Pevita dalam beberapa detik saja. "Saya butuh jawaban, bukan desahan!" tegas Vrendy.
"Iyahh, Saya mau ... Nnghh, jangan remas lagi, Pak...."
Vrendy tersenyum kembali. "Kalau kamu ingin kerja di sini, kamu harus ikuti saya sebagai boss kamu," pungkas Vrendy.
Vita melenguh saat tangan laki-laki itu meremas dua bukit kembar dengan gemas dan parahnya, Vita menikmati remasan itu. Shit! Walaupun dari luar kemeja yang dikenakannya, remasan itu cukup merangsangnya.
Tangan Vrendy itupun mulai bermain nakal di paha Vita. Dielus-elusnya paha hingga pangkal paha Vita, membuat Vita semakin terangsang. Apalagi dengan sengaja, lelaki itu menyenggol bagian kewanitaan.
"Uh ... Ahh ...."
Vrendy menghentikan gerakan remasan, ia tersenyum devil. "Sepertinya kamu menikmati," goda Vrendy.
Seketika raut wajah Vita tampak kecewa, ia menggigit bibir bawahnya. Vrendy yang mengetahui jalan pikiran wanita di depannya terkekeh pelan. "Saya tahu, Vit. Pasti kamu menginginkan yang lebih bukan?"
Pipi Vita memerah, menahan malu. Ia membatin sendiri, "Tidak! Vita! jangan seperti wanita murahan."
Vrendy memperhatikan Vita, "Ini belum seberapa. Kamu bakal saya terima di perusahaan ini dan jadi ...." Vrendy tertawa jahat sebelum menyelesaikan ucapannya.
Nasib sial yang menimpa Vita bertemu dengan boss yang menyebalkan membuat Vita hampir saja menikmati permainan Vrendy. Bagi Vita, yang terpenting sekarang mendapatkan pekerjaaan yang layak agar tidak menjadi penganguran lagi.
Vita menunggu Vrendy melanjutkan perkataannya.
"Jadi ...?"
"Vrendy, aku datang bawain kamu ...." ucapan itu terhenti saat matanya melihat seseorang tengah berciuman. Wanita yang melihat adegan panas itu tidak mengedipkan mata, dia berdiri kaku di ambang pintu, masih dengan memegang gagang pintu."H-He-Helfi?" panggil Vrendy terbata.Vrendy dan Vita sama-sama terkejut bukan main. Kedua manusia yang tengah asik berciuman kini saling melepaskan tautan bibir dan menjauhkan badan mereka. Vita berdiri kaku, sedikit menggeserkan badannya, dalam pikirannya bertanya-tanya. Siapa wanita itu? Jangan-jangan seorang karyawan.Wanita yang dipanggil Helfi itu bergeming, sorot mata memandang Vrendy dan Vita tidak percaya. "Apa yang sedang kalian lakukan tadi?" tanyanya dengan suara tidak enak untuk didengar."Aduh, mampus, Vit!" batin Pevita merutuki diri sendiri. Kenapa sampai
"Ini belum seberapa. Kamu bakal saya terima di perusahaan ini dan jadi ...." Vrendy tertawa jahat sebelum menyelesaikan ucapannya.Nasib sial yang menimpa Vita bertemu dengan boss yang menyebalkan membuat Vita hampir saja menikmati permainan Vrendy. Bagi Vita, yang terpenting sekarang mendapatkan pekerjaaan yang layak agar tidak menjadi penganguran lagi.Vita menunggu Vrendy melanjutkan perkataannya."Jadi ...?" tanya Vita.Vrendy tertawa jahat. "Jadi sekretaris. Lupakan! Kamu sudah diterima menjadi sekretaris. Jadi besok kamu mulai bekerja."Pevita senang. "Terima kasih, Pak!"****"Eh, itu tuh lewat bro!" bisik Pandu bersemangat melihat wanita cantik tengah berjalan di lobi kantor. Sikunya menyenggol-nyenggol siku pemuda di sebelahnya, namanya Andra. Tatapan mata terfokus pada seorang wanita bertubuh sexy, sementara wanita itu
Di ruangan besar tempat dimana Pevita sedang menjalani interview pekerjaan. Ternyata mencari pekerjaan tidak semudah yang Vita pikirkan. Dan jika ia berhasil, Ia akan langsung diterima diperusahaan bergengsi tersebut sebagai sekretaris manager utama.Hebat bukan? Selain uang gaji lumayan besar, para pekerja perusahaan juga kebayakan berwajah tampan. Apalagi manager utama dari perusahaan 'Andromeda Company' itu sangat tampan.Setelah menunggu dua jam lebih, akhirnya seorang Vita di panggil untuk interview.Gadis seksi itu berjalan dengan santai, Vita menghentikan langkahnya ketika diambang pintu lalu mengetuk pintu sampai terdengar suara seseorang menyuruh untuk masuk, barulah Vita membuka pintu secara perlahan.Seorang laki-laki duduk di belakang meja besar, kedatangan Vita disambut oleh pemuda tampan itu tersenyum tipis. "Silahkan duduk," perintahnya.Vita mengangguk, ia menarik kursi lantas mendudukan pantatnya. Mata gadis itu mengedarkan p