LOGIN"Vrendy, aku datang bawain kamu ...." ucapan itu terhenti saat matanya melihat seseorang tengah berciuman. Wanita yang melihat adegan panas itu tidak mengedipkan mata, dia berdiri kaku di ambang pintu, masih dengan memegang gagang pintu.
"H-He-Helfi?" panggil Vrendy terbata.
Vrendy dan Vita sama-sama terkejut bukan main. Kedua manusia yang tengah asik berciuman kini saling melepaskan tautan bibir dan menjauhkan badan mereka. Vita berdiri kaku, sedikit menggeserkan badannya, dalam pikirannya bertanya-tanya. Siapa wanita itu? Jangan-jangan seorang karyawan.
Wanita yang dipanggil Helfi itu bergeming, sorot mata memandang Vrendy dan Vita tidak percaya. "Apa yang sedang kalian lakukan tadi?" tanyanya dengan suara tidak enak untuk didengar.
"Aduh, mampus, Vit!" batin Pevita merutuki diri sendiri. Kenapa sampai ketahuan segala? Jika Helfi menyebarkan apa yang dia liat, pasti akan ada hot news. "Tinggal nunggu nasib aja," lanjut Vita dalam hati. Vita pasrah, kalau dia dipecat. Bodohnya! Vita menikmati ciuman dari Vrendy.
"Jawab, apa yang tadi kalian lakukan?" tanya Helfi mengulang. Wanita itu langsung mendekati Vrendy dan mendorong tubuh Vita dengan kasar sehingga Vita tubuh Vita terhuyung ke samping.
"T-tid----"
Baru saja Vita akan menjawab pertanyaan itu, suara Vrendy mendahului, "Ini tadi ada bulu mata yang ngangkut di kelopak mata. Jadi, aku menyuruh dia buat tiup kelopak mataku," jawab Vrendy.
Bagus. Alasan yang tidak masuk akal. Ingin sekali Helfi memaki Vrendy yang jelas-jelas tadi ia melihat dengan kepala sendiri kalau mereka berdua tengah berciuman panas. Helfi tidak mungkin salah melihat.
"BOHONG!" kata Helfi tidak percaya dengan alasan Vrendy.
Vrendy membalikan badan Helfi agar menghadapnya dan memandangnya. "Sayang. Kamu tidak percaya denganku?" Tatapan Vrendy membuat hati Helfi luluh. Demi apapun! Ketika Helfi menatap manik hitam Vrendy, rasa marah dan kesal lenyap dalam hitungan detik saja.
"Gimana aku mau percaya, Vren?" tanya Helfi dengan nada rendah. Tatapan Vrendy memang sangat manjur untuk meluluhkan hati kaum hawa. "Aku liat sendiri, kalau kamu ci---"
"Hust!" Vrendy meletakan jari telunjuk di bibir Helfi. "Mungkin kamu salah liat tadi."
"Enggak! Aku enggak mungkin salah liat, sayang. Kamu mau coba-coba bohongi aku?"
Melihat mereka berdua berbicara membuat Vita ingin muntah, satu mendengar kata sayang yang teramat menjijikkan untuk di dengar, dua Vrendy mengelak dengan alasan tidak logis atau tidak masuk akal, ketiga, panggilan sayang dari Helfi untuk Vrendy. Wow, Helfi sudah melihat Vrendy berciuman dengan Vita, sempat-sempatnya dia memanggil Vrendy sebutan sayang.
Rupanya mereka sepasang kekasih.
Oke, nasib Vita akan aman.
"Beneran, sayang. Mungkin kamu halusinasi karena kebanyakan pikiran."
Helfi menyilangkan kedua tangan di bawah dadanya. Bibir maju beberapa senti.
"Jangan ngambek dong, sayang," rayu Vrendy. "Nanti setelah pulang dari kantor kita ke mall, deh. Kamu bebas mau beli apa," lanjut Vrendy dengan tatapan nakalnya, menjawir dagu Helfi.
"Ah, serius, yang?" Mata Helfi berbinar-binar.
Helfi tidak jadi untuk ngambek ceritanya. Lol. Soal uang, harta, pasti dia akan bersemangat.
"Iya dong, Sayang. Aku janji bakal beliin kamu apa aja," kata Vrendy. Tangan Vrendy merapikan anak rambut Helfi lalu berbisik, bisikan itu terdengar oleh Vita. "Jangan lupa jatahnya," bisik Vrendy di telinga Helfi. Bisikan Vrendy seolah menggoda Vita, karena ketika dia membisikan—tatapan mata memandang Vita dengan sorot yang
.... menggoda.Mendengar itu, Helfi hanya tersenyum malu-malu.
Vita berdecih lalu tertawa kecil, tawa mengejek. Dia melihat interaksi kedua pasangan itu. Buaya darat dan wanita matre, mereka bersatu menjadi sepasang kekasih? Wah, cocok sekali. Selain itu, hubungan mereka lebih menarik. Segampang itu cara Vrendy merayu Helfi? Dengan iming-iming pergi ke mall dan shoping? Benar-benar wanita mata duitan.
"Vren, dia siapa, sih?" tanya Helfi dengan suara manja. Dia menarik ujung jas Vrendy dan menunjuk ke arah Vita yang sejak tadi berdiri. "Kok aku baru liat," tambahnya memperhatikan wajah Vita.
"Oh dia." Pandangan Vrendy ke Vita. "Dia Vita, sekretaris baru aku," jawab Vrendy gugup, dia menetralkan suaranya sebisa mungkin.
Wanita berstatus sebagai kekasih Vrendy menatap Vita dan menaikkan alisnya. "Dia nggak macem-macem sama kamu, 'kan?" tanya Helfi. "Aku tadi liat kalian ciuman atau halusinasi aku, ya?"
"Mana mungkin dia macam-macam, Helfi Sayang. Dia, kan bawahan aku," jawab Vrendy. "Kamu itu halusinasi karena banyak pikiran." Vrendy merapikan rambut Helfi yang agak berantakan. Lelaki itu melingkarkan tangannya di pinggang Helfi dengan mesra tidak memperdulikan seseorang masih ada diruangannya.
Helfi memandang Vita dengan meremehkan dan merendahkan.
"Saya Pevita Grizelda sekretaris baru Pak Vrendy." Vita mengenalkan dirinya dan mengulurkan tangannya, mengajak Helfi bersalaman. "Salam kenal. Kamu pacarnya Pak Vrendy?" Vita bertanya basa-basi.
Helfi menepis tangan Vita dengan kasar. "Oh, sekretaris baru. Lo jadi sekretaris aja belagu, sok-sokan baik, ya!" kata Helfi dengan tajam, kedua bola mata melotot.
What? Ngegas ini wanita. Vita mengangkat dagunya, seakan-akan menantang Helfi. Vrendy yang melihat sikap Vita berubah seratus persen menjadi wanita pemberani alias pecicilan, hanya bisa diam menatap mereka secara bergantian.
Vrendy menjadi ingat, ternyata Vita adalah bocah yang dia kenal di sekolah dasar kelas empat. Dulu Vita bocah pecicilan yang hobi membully temannya. Senyum miring tergambar di bibir Vrendy ketika mengingat Vita pernah membullynya.
"Mau apa lo?" tanya Vita menantang. Dia sudang berkacak pinggang.
Plak! Helfi sudah tidak sabar memberikan hadiah untuk Vita karena sikap Vita berani menantang dirinya, tamparan di pipi kanan. Bunyi tamparan lumayan keras membuat Vrendy terkejut begitu juga Vita. Dirinya masih tidak percaya kalau dia mendapatkan, sebuah tamparan? Keluarga Vita saja tidak pernah menampar Vita.
Plak!
Tamparan kedua berhasil mengenai pipi kiri mulus Vita mendarat sempurna. Perlahan Vita bisa merasakan pipi yang mulai memanas. Sakit? Pasti. "Kenapa lo tampar gue!" kata Vita dengan tajam Vita tidak terima.
Plak!
"Anjing! Kenapa lo tampar gue!" Tamparan ketiga Vita meringis kesakitan, bahkan saat dengan sengaja Vita menyentuh pipi, terasa perih dan panas di area tamparan. Sabar, hanya itu yang bisa Vita lakukan supaya tidak membalas tamparan Helfi dan Vita cukup sadar diri. Jangan sampai membuat keributan, walaupun perkelahian kecil, nanti pasti akan kehilangan pekerjaan atau di pecat!
Helfi mengangkat tangannya kembali untuk menampar Vita, namun tangannya terhenti di udara saat Vrendy mencekal tangan Helfi dan memberi isyarat untuk tidak melakukannya lagi, tetapi Helfi tidak memperdulikan.
Helfi tersenyum sinis, "Lepasin tangan aku!"
"Nggak."
"Kenapa nggak? Mau ngelindungi nih jalang?" tanya Helfi tersenyum miring. Tangannya memberontak agar terlepas dari cekalan Vrendy. "Lepas!!!"
"Sudah cukup! Helfi Arinda!"
Helfi terdiam membantu. Mendengar bentakan dari pacarnya membuat hatinya sakit. Dia menampar Vita karena agar Vita tidak macam-macam dengan Vrendy dan ingin memperhatikan bahwa Vrendy adalah miliknya, apalagi sikap Vita tadi menantang membuat amarah Helfi meluap.
"Kok kamu melindungi dia sih, Vren?!"
"Bukan gitu, sayang. Tapi ingat ini kantor, jangan bikin ribut."
Pevita tidak mau ambil pusing, dia langsung keluar dari ruangan Vrendy.
****
Ketika jam istirahat, Vrendy menarik paksa tangan Vita. Sepanjang lorong kantor, Vita memberontak untuk melepaskan tangannya dari cekalan Vrendy. Bahkan karyawan lain melihat ke arah mereka dan menjadi pusat perhatian. Helfi sudah pulang satu jam lalu, wanita itu bahkan sudah mengancam kepada Vita untuk tidak macam-macam dengan Vrendy.Langkah Vita dan Vrendy semakin pelan tiba di suatu tempat yang Vita pikir sebuah kantin kantor. Ya, benar. Vrendy menyuruh Vita untuk duduk kemudian lelaki itu pergi sebentar dan kembali membawa bungkusan plastik.
Vita menatap Vrendy heran. Vrendy duduk tepat disamping Vita, dia mengikat plastik tersebut. Wajah Vita itu masih memandang Vrendy dengan tatapan bingung. Apa yang di dalam bungkus plastik hitam itu?
"Tatap mataku!" perintah Vrendy dengan tegas.
"Ngapain?" tanya Vita bingung.
"Nurut saja Pevita Grizelda," mendengar perintah Vrendy, Vita langsung menurut.
Sejurus kemudian Vrendy menempelkan plastik itu ke pipi kiri dan kanan Vita. Ah, ternyata es batu. Vita meringis antara kesakitan dan kedinginan.
"Es batu bisa menyembuhkan luka memar," ujar Vrendy sambil telaten menempelkan plastik berisi es batu itu di bagian pipi Vita yang memerah. "Biar kamu nggak perih."
Vita hanya terdiam, hanya bisa merasakan sakit yang perlahan menghilang, tidak seperti sebelumnya. Sekaran Vita bisa melihat Vrendy dari jarak yang dekat, tatapan kehangatan terpancar dari bola mata hitam, benar! Ini tatapan yang baru pertama kali Vita liat. Merasakan aroma maskulin pemuda itu mengeruak ke indra penciuman.
Apalagi tatapan mata yang mampu menyihir wanita. Kali ini lebih hangat, bukan hanya tatapan penuh hasrat.
"Nah! Sudah tidak sakit lagi, 'kan?" tanya Vrendy memecahkan keheningan.
Vita mengangguk kepada lalu menjawab dengan jujur, "Lumayan."
"Vrendy, aku datang bawain kamu ...." ucapan itu terhenti saat matanya melihat seseorang tengah berciuman. Wanita yang melihat adegan panas itu tidak mengedipkan mata, dia berdiri kaku di ambang pintu, masih dengan memegang gagang pintu."H-He-Helfi?" panggil Vrendy terbata.Vrendy dan Vita sama-sama terkejut bukan main. Kedua manusia yang tengah asik berciuman kini saling melepaskan tautan bibir dan menjauhkan badan mereka. Vita berdiri kaku, sedikit menggeserkan badannya, dalam pikirannya bertanya-tanya. Siapa wanita itu? Jangan-jangan seorang karyawan.Wanita yang dipanggil Helfi itu bergeming, sorot mata memandang Vrendy dan Vita tidak percaya. "Apa yang sedang kalian lakukan tadi?" tanyanya dengan suara tidak enak untuk didengar."Aduh, mampus, Vit!" batin Pevita merutuki diri sendiri. Kenapa sampai
"Ini belum seberapa. Kamu bakal saya terima di perusahaan ini dan jadi ...." Vrendy tertawa jahat sebelum menyelesaikan ucapannya.Nasib sial yang menimpa Vita bertemu dengan boss yang menyebalkan membuat Vita hampir saja menikmati permainan Vrendy. Bagi Vita, yang terpenting sekarang mendapatkan pekerjaaan yang layak agar tidak menjadi penganguran lagi.Vita menunggu Vrendy melanjutkan perkataannya."Jadi ...?" tanya Vita.Vrendy tertawa jahat. "Jadi sekretaris. Lupakan! Kamu sudah diterima menjadi sekretaris. Jadi besok kamu mulai bekerja."Pevita senang. "Terima kasih, Pak!"****"Eh, itu tuh lewat bro!" bisik Pandu bersemangat melihat wanita cantik tengah berjalan di lobi kantor. Sikunya menyenggol-nyenggol siku pemuda di sebelahnya, namanya Andra. Tatapan mata terfokus pada seorang wanita bertubuh sexy, sementara wanita itu
Di ruangan besar tempat dimana Pevita sedang menjalani interview pekerjaan. Ternyata mencari pekerjaan tidak semudah yang Vita pikirkan. Dan jika ia berhasil, Ia akan langsung diterima diperusahaan bergengsi tersebut sebagai sekretaris manager utama.Hebat bukan? Selain uang gaji lumayan besar, para pekerja perusahaan juga kebayakan berwajah tampan. Apalagi manager utama dari perusahaan 'Andromeda Company' itu sangat tampan.Setelah menunggu dua jam lebih, akhirnya seorang Vita di panggil untuk interview.Gadis seksi itu berjalan dengan santai, Vita menghentikan langkahnya ketika diambang pintu lalu mengetuk pintu sampai terdengar suara seseorang menyuruh untuk masuk, barulah Vita membuka pintu secara perlahan.Seorang laki-laki duduk di belakang meja besar, kedatangan Vita disambut oleh pemuda tampan itu tersenyum tipis. "Silahkan duduk," perintahnya.Vita mengangguk, ia menarik kursi lantas mendudukan pantatnya. Mata gadis itu mengedarkan p