Masuk"Ini belum seberapa. Kamu bakal saya terima di perusahaan ini dan jadi ...." Vrendy tertawa jahat sebelum menyelesaikan ucapannya.
Nasib sial yang menimpa Vita bertemu dengan boss yang menyebalkan membuat Vita hampir saja menikmati permainan Vrendy. Bagi Vita, yang terpenting sekarang mendapatkan pekerjaaan yang layak agar tidak menjadi penganguran lagi.
Vita menunggu Vrendy melanjutkan perkataannya.
"Jadi ...?" tanya Vita.
Vrendy tertawa jahat. "Jadi sekretaris. Lupakan! Kamu sudah diterima menjadi sekretaris. Jadi besok kamu mulai bekerja."
Pevita senang. "Terima kasih, Pak!"
****
"Eh, itu tuh lewat bro!" bisik Pandu bersemangat melihat wanita cantik tengah berjalan di lobi kantor. Sikunya menyenggol-nyenggol siku pemuda di sebelahnya, namanya Andra. Tatapan mata terfokus pada seorang wanita bertubuh sexy, sementara wanita itu terus mengumbar senyuman hangat kepada penghuni kantor. Siapa lagi kalau bukan Vita?
"Siapa?" tanya Andra tanpa terlalu menanggapi ucapan Pandu.
"Cewek yang kemarin gue bilang, yang diterima kerja jadi sekretaris sama Pak Vrendy tanpa syarat," jawab Pandu lirih, ia menelan ludah saat wanita itu berjalan semakin dekat, otomatis Pandu dapat melihat lengkuk tubuh sintal dengan puas dari jarak dekat.
Andra yang sedari tadi sibuk mengotak-atik ponsel kini kepalanya terangkat. Pandangan pertama yang dia liat adalah wanita yang dari ujung kepala hingga ujung kaki menggoda naluri hasrat setiap lelaki membuat Andra menatap makhluk sempurna tanpa berkedip.
Vita tersenyum ke arah mereka, "Selamat pagi," sapa Vita.
Setelah mendengar sapaan Vita mereka menjawab, "Pagi juga," Andra tersenyum kaku dan tatapan Pandu terfokus pada bagian dadanya yang sangat menggiurkan, tiba-tiba setan jahat berbisik ke telinga Pandu, "Gila, menggoda banget. Coba aja lo bisa pegang daerah itu, buka kutangnya gigit pake gigi."
Senyuman mengembang dari bibir Pandu, sesaat ia tersadar saat tubuh Vita menghilang dari penghilatan mata. "Gila!" umpatnya
"Anj1ng tuh badan!" suara dari meja sana terdengar seperti pujian yang penuh hasrat.
"Bro, siapa namanya?" tanya Pandu, dia menoleh kemeja ujung sana. Tempat dimana laki-laki yang sedang mengumpat sejadi-jadi setelah melihat lengkuk tubuh wanita yang sangat menggoda hasrat laki-laki.
"Vita," jawab salah satu dari mereka.
Andra hanya menggeleng kepala tidak ikut berkomentar bukan karena tidak tertarik. Andra cukup mengagumi karena nyatanya wanita itu memiliki seluruh kriteria yang sangat rupawan.
Langkah Vita semakin dekat dengan ruang manager utama, diperjalanan banyak tatapan mata seseorang menatap Vita dengan berbagai macam tatapan yang sulit diartikan. Vita sendiri tampak acuh.
Saat tepat di depan ruangan boss, hampir saja Vita mengetuk pintu tapi suara teriakan seseorang mendahului.
"VITA GRIZELDA!"
Dengan buru-buru Vita membuka pintu lantas berlari kecil ke arah boss yang sedang menyambut kedatangan Vita dengan mata tajam.
"Maaf, Pak. Saya terlambat," ucap Vita. "Saya kesiangan," ungkap Vita jujur, dia menunduk sopan, tidak berani memandang Vrendy.
Vrendy mendecak kesal. "Kamu tahu kesalahan kamu?" tanyanya.
Pevita mengangguk. "Datang terlambat," jawab Vita seadanya.
"Bagus!" Dilemparkan berkas-berkas yang harus Vita kerjakan. "Kerjakan nanti siang harus selesai," perintah Vrendy.
Dengan cepat Vita mengambil berkas tersebut. "Baik, Pak!"
Sepuluh detik Vita masih mematung membuat Vrendy mendengus kesal, mempunyai sekretaris yang bergerak lambat. "Kenapa masih disitu?" tanya Vrendy heran dengan suara dingin.
Vita menelan ludah. "Bapak nggak menghukum saya? Karena saya datang terlambat," tanya Vita polos
Pertanyaan Vita membuat Vrendy tertawa kecil, "Kamu pikir kantor saya seperti aturan di sekolah yang ada hukuman untuk orang terlambat?"
Wanita mengeyrit. Ada apa dengan sikap Vrendy? Sangat berubah dratis secara mendadak.
"Maaf ...." Vita menahan malu lalu dia segera membalikkan badan, mulai bekerja di hari yang pertama.
Vrendy tercekat, rasanya sangat susah menelan ludah melihat bentuk postur sekretaris yang sangat... Ah! Vrendy tidak mampu mengucapkan dengan kata-kata. Entah dari tadi dia tidak menyadari sosok Vita yang sangat menggoda, Vrendy menyadari saat Vita membalikkan badan.
"Tunggu!"
Baru saja Vita berjalan empat langkah, kini dia menghentikan kakinya. Memutarkan badannya lalu berjalan ke arah Vrendy membuat laki-laki itu dapat melihat jelas buah dada yang sangat menonjol, apalagi wanita itu berjalan sehingga payudara sedikit ikut bergerak.
"Ada apa, Pak?"
Suara Vita nampu membuat Vrendy tersadar kalau Vita sudah di depan meja, Vita sendiri tetap berdiri.
"Saya akan menghukum kamu."
"Hukuman apa, Pak?"
"Sekarang menurut apa kata saya sebagai boss kamu." Vrendy bangkit dari kursi lalu berjalan menghampiri Vita, matanya menatap wajah Vita dengan saksama, dari mata hingga turun ke bibir, 'Ingin rasanya aku melumat bibir manis itu,' batin Vrendy.
Langkahnya semakin dekat hingga Vrendy berdiri tepat di depan badan Vita, jarak mereka tidak cukup jauh, hanya duapuluh sentimeter. Jarak sedekat itu membuat Vita merasakan napas hangat menerpa wajahnya. Tiba-tiba Vita merasakan kegugupan dan kegelisahan, yang jelas Vita tidak tahu entah apa yang akan Vrendy lakukan.
"A-a-apa yang akan kamu lakukan?" tanya Vita dengan suara bergetar.
Tidak ada jawaban, melainkan laki-laki itu semakin mendekatkan tubuhnya membuat Vita berjalan mundur. Mendekat dan terus mendekat sampai Vita merasakan bagain punggung menabrak dinding ruangan kantor. Ketika laki-laki itu berhasil memegang tangan Vita dan mengunci, Vita sendiri menutup matanya karena tidak kuasa melihat wajah Vrendy yang tampan, apa lagi jarak sedekat ini.
Vrendy sedikit memiringkan wajah untuk mendekatkan ke muka Vita hingga Vita merasakan sesuatu menempel di bibir, dengan cepat Vita membuka kelopak mata, "Oh! Shit! Apa apaan ini!" batin Vita ingin memberontak.
Vrendy berhasil mendaratkan bibirnya, tanpa menunggu dia melumat bibir Vita dengan pelan. Diemutnya bibir Vita atas bawah secara berganti. Lidah Vrendy merobos masuk dan menjelajahi mulut Vita. Wanita itu sendiri ingin memberontak tetapi tidak bisa karena Vrendy menahan tubuhnya dengan kuat. Vita hanya diam saja saat dicium oleh Vrendy, hal itu membuat Vrendy kesal karena Vita tidak kunjung membalas ciumannya.
Vrendy melepaskan ciuman, bibirnya dan bibir Vita tampak basah. "Mainkan lidahnya," suruh Vrendy lalu mencium bibir Vita dengan rakus. Lidah Vrendy dan Vita saling membelit. Suasana hening hanya terdengar napas mereka semakin memburu. Dan mereka hanya memejamkan menikmati ciuman mereka.
Vita sudah menjatuhkan berkas ke lantai, tangan menggantung di leher Vrendy.
Vrendy semakin ganas, dia menurun mencium leher jenjang Vita dan dikecup berkali-kali. Anehnya, tangan Vrendy hanya memegang pinggul, tidak meremas dua buah dada. Sepertinya Vrendy ingin melakukan tanpa tergesa-gesa. Dia ingin menikmati tubuh Vita layaknya sepasang suami istri yang ingin melakukan hubungan dengan sangat romantis. Setelah puas, wajah Vrendy naik lagi ke bibir Vita, dengan sedikit permainan yaitu menggigit bibir Vita membuat Vita harus merasakan perih di benda kenyalnya.
"Apa yang kalian lakukan?!" tanya seseorang secara tiba-tiba membuat dua manusia yang tengah asik berciuman kini saling menjauhkan bibirnya.
"Vrendy, aku datang bawain kamu ...." ucapan itu terhenti saat matanya melihat seseorang tengah berciuman. Wanita yang melihat adegan panas itu tidak mengedipkan mata, dia berdiri kaku di ambang pintu, masih dengan memegang gagang pintu."H-He-Helfi?" panggil Vrendy terbata.Vrendy dan Vita sama-sama terkejut bukan main. Kedua manusia yang tengah asik berciuman kini saling melepaskan tautan bibir dan menjauhkan badan mereka. Vita berdiri kaku, sedikit menggeserkan badannya, dalam pikirannya bertanya-tanya. Siapa wanita itu? Jangan-jangan seorang karyawan.Wanita yang dipanggil Helfi itu bergeming, sorot mata memandang Vrendy dan Vita tidak percaya. "Apa yang sedang kalian lakukan tadi?" tanyanya dengan suara tidak enak untuk didengar."Aduh, mampus, Vit!" batin Pevita merutuki diri sendiri. Kenapa sampai
"Ini belum seberapa. Kamu bakal saya terima di perusahaan ini dan jadi ...." Vrendy tertawa jahat sebelum menyelesaikan ucapannya.Nasib sial yang menimpa Vita bertemu dengan boss yang menyebalkan membuat Vita hampir saja menikmati permainan Vrendy. Bagi Vita, yang terpenting sekarang mendapatkan pekerjaaan yang layak agar tidak menjadi penganguran lagi.Vita menunggu Vrendy melanjutkan perkataannya."Jadi ...?" tanya Vita.Vrendy tertawa jahat. "Jadi sekretaris. Lupakan! Kamu sudah diterima menjadi sekretaris. Jadi besok kamu mulai bekerja."Pevita senang. "Terima kasih, Pak!"****"Eh, itu tuh lewat bro!" bisik Pandu bersemangat melihat wanita cantik tengah berjalan di lobi kantor. Sikunya menyenggol-nyenggol siku pemuda di sebelahnya, namanya Andra. Tatapan mata terfokus pada seorang wanita bertubuh sexy, sementara wanita itu
Di ruangan besar tempat dimana Pevita sedang menjalani interview pekerjaan. Ternyata mencari pekerjaan tidak semudah yang Vita pikirkan. Dan jika ia berhasil, Ia akan langsung diterima diperusahaan bergengsi tersebut sebagai sekretaris manager utama.Hebat bukan? Selain uang gaji lumayan besar, para pekerja perusahaan juga kebayakan berwajah tampan. Apalagi manager utama dari perusahaan 'Andromeda Company' itu sangat tampan.Setelah menunggu dua jam lebih, akhirnya seorang Vita di panggil untuk interview.Gadis seksi itu berjalan dengan santai, Vita menghentikan langkahnya ketika diambang pintu lalu mengetuk pintu sampai terdengar suara seseorang menyuruh untuk masuk, barulah Vita membuka pintu secara perlahan.Seorang laki-laki duduk di belakang meja besar, kedatangan Vita disambut oleh pemuda tampan itu tersenyum tipis. "Silahkan duduk," perintahnya.Vita mengangguk, ia menarik kursi lantas mendudukan pantatnya. Mata gadis itu mengedarkan p