MasukAio terlihat begitu percaya diri saat melangkah memasuki gedung perusahaan keluarga Heidi, yang rasanya sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan perusahaan yang dimiliki oleh keluarga Dawson. Kehadiran Aio dengan fisiknya yang menonjol, jelas membuat perhatian orang-orang dengan mudahnya tertuju pada sosoknya yang memesona. Aio terlihat didampingi oleh seorang pria muda yang juga tidak kalah memesona darinya. Keduanya menjadi pusat perhatian para karyawan yang berlalu lalang. Namun, Aio dam asistennya yang bernama Chiko, sama sekali tidak terganggu dengan hal itu dan fokus dalam perjalanan mereka menuju lantai teratas gedung ini, di mana ruangan Galih Heidi berada.
Tentu saja, karena para staf sudah mengenal Aio dan sebelumnya pun Chiko sudah membuat janji dengan asisten Galih, kedatangan Aio disambut dengan baik. Aio kini sudah berada di dalam ruangan kerja Galih. Ia duduk berseberangan dengan Galih yang tersenyum ramah. “Silakan diminum dulu,” ucap Galih saat asistennya sudah menyajikan minuman di hadapan Aio.
Aio mengangguk dan menyesap kopi tersebut setelah mengucapkan terima kasih. Setelah berbasa-basi sejenak, Aio pun berkata, “Aku memiliki beberapa hal yang harus dibicarakan secara pribadi dengan Anda, Tuan Heidi.”
Aio memang selalu menggunakan bahasa formal ketika tengah dalam jam kerja. Meskipun lawan bicaranya adalah orang yang sudah akrab sekali pun, Aio tetap memberikan batasan. Galih sendiri sama sekali tidak merasa terkejut dengan hal tersebut. Ia mengangguk dan meminta asistennya untuk ke luar mengikuti Chiko yang memang sudah lebih dulu keluar begitu mendapatkan isyarat dari Aio. Setelah keduanya ditinggalkan berdua, Galih pun bertanya, “Jadi, apa yang ingin kau bicarakan, Tuan Achazio?”
“Sepertinya, kita lebih baik menggunakan bahasa yang santai, Om. Karena yang ingin aku bicarakan ini, adalah hal yang pribadi,” jawab Aio membuat Galih yang mendengarnya tertawa.
“Apa aku tidak salah dengar? Wah, sepertinya apa yang ingin kamu bicarakan benar-benar sangar pribadi ya? Kamu bahkan meminta untuk berbicara santai lebih dulu. Baik, jadi apa yang ingin kamu bicarakan?” tanya Galih mengikuti apa yang diminta oleh Aio.
Aio terlihat gelisah untuk beberapa alasan. Namun, dengan pengendalian diri yang baik, Aio pun berkata, “Aku datang untuk meminta restu.”
Galih yang mendengar hal itu tidak terlihat terkejut. Sepertinya, ia sudah memperkirakan hal ini sebelumnya. Benar, Galih sudah memperkirakan jika Aio pasti akan jatuh hati pada putrinya ketika dirinya memperkenalkan mereka saat makan malam tempo hari. Galih pun memasang senyum seorang ayah dan berkata, “Sepertinya, kamu jatuh cinta pada pandangan pertama pada Elena, ya? Sejak tumbuh menjadi remaja, Om sudah sering kali bertemu dengan para pemuda yang meminta izin untuk memacari anak gadis Om yang satu itu.”
Namun, Aio yang mendengar hal itu malah mengernyitkan keningnya. Jelas, Aio menampilkan ekspresi seperti itu, karena dirinya sama sekali tidak tengah membicarakan Elena. Aio meminta restu pada Galih untuk mendekati Tessa, bukan untuk mendekati Elena yang sama sekali tidak menarik perhatiannya. Aio pun berkata, “Bukan. Aku bukan meminta restu untuk mendekati atau bahkan memacari Elena, Om. Aku datang untuk meminta restu mendekati Tessa.”
Kali ini Galih memasang ekspresi yang benar-benar terkejut. “Tu, Tunggu. Apa kamu tidak salah? Tessa?” tanya Galih meminta konfirmasi.
Aio yang melihat hal itu jelas menampilkan ekspresi aneh. Galih yang menyadari hal itu segera menggeleng dan menjelaskan, “Bukannya Om tidak menyadari pesona putri bungsu Om itu. Tapi, selain kaena pertemuan pertama kalian yang terkesan cukup tidak baik, Tessa itu masih kecil. Om rasa, Elena akan lebih cocok untukmu, Aio.”
“Tidak, Tessa sudah tidak kecil lagi, Om. Tessa sudah berusia dua puluh tahun, bahkan tahun ini ia akan berusia dua puluh satu tahun. Ia sudah dewasa, bahkan sudah siap menjadi seorang istri. Jadi, apa Om merestui hubungan kami?” tanya Aio.
Galih yang cukup mengenal Aio hanya bisa menghela napas. Menolaknya sama sekali bukan keputusan yang tepat. Untuk saat ini, Galih akan mengambil jalan yang aman. “Om tidak bisa memutuskan apa pun. Orang yang akan menjalani hubungan adalah kamu dan Tessa. Jika Tessa menerimamu, maka Om tidak akan mungkin tidak memberikan restu pada kalian. Jadi, datanglah kembali meminta restu, saat kamu sudah berhasil mendapatkan hati putri Om yang satu itu. Tapi yakinlah, dibanding Elena, Tessa akan lebih sulit kamu dapatkan hatinya. Dan Om peringatkan, jangan macam-macam dengan Tessa!”
Aio yang mendengarnya pun tersenyum. “Aku tidak mungkin melakukan hal yang macam-macam, sebelum dia menerimaku, Om. Selain itu, aku lebih tertarik pada perempuan yang jelas lebih sulit aku dapatkan hatinya.”
**
Tessa melihat uang sepuluh ribu di tangannya. Lagi, hari ini dirinya tidak mendapatkan uang jajan yang pantas dari ibunya. Ah, ralat! Maksud Tessa adalah ibu tirinya. Setiap hari, Tessa yang memang masih berkuliah di jurusan sastra Indonesia, mendapatkan uang jajan dari ibunya. Namun, uang jajan itu pasti selalu habis untuk keperluan kuliahnya, entah untuk biaya print, foto copy, atau membeli perlengkapan lainnya. Jika beruntung, Tessa akan mendapatkan uang lebih untuk ongkos pulang. Jika tidak, maka Tessa harus sedikit mengambil dari uang tabungannya. Benar, meskipun mendapatkan uang pas-pasan, Tessa masih bisa menabung. Tentu saja, tidak dari uang jajan yang ia dapatkan dari Vania, melainkan dari hasil usahanya bekerja.
Tessa memiliki beberapa pekerjaan. Yaitu, menjadi guru les privat, menjadi pelayan part time di restoran, dan menjadi pengasuh hewan di salah satu klinik hewan yang menyatu dengan tempat penitipan hewan. Semuanya memang tampak melelahkan, tetapi Tessa menjalaninya dengan cukup senang. Bagaimana tidak senang jika dirinya bisa menghasilkan cukup uang dan menabungnya. Kali ini, karena dirinya selesai kuliah lebih awal, Tessa segera beranjak menuju tempat penitipan hewan yang bergabung dengan sebuah klinik yang memang cukup terkenal di kota tersebut. Tessa disambut oleh dokter hewan pemilik klinik dengan ramah. “Pulang lebih awal?” tanya dokter bernama Mira.
Tessa mengangguk. “Iya, Dok. Hari ini ada hewan baru di tempat penitipan?” tanya Tessa.
“Ada. Kamu pasti akan menyukainya. Itu kucing Himalaya yang sangat gemuk,” jawab Mira.
Tessa yang mendengar hal itu tentu saja berbinar senang. Ia segera masuk ke ruang ganti dan mengganti pakaiannya dengan seragam kerja. Setelah itu, Tessa segera masuk ke dalam ruangan bermain kucing, dan gemas bukan main saat melihat kucing berjenis Himalaya yang tampak bermalas-malasan dengan manisnya. “Ah, dia sangat menggemaskan,” ucap Tessa hampir memekik saat dirinya mengelus lembut bulu kucing yang terasa begitu lebat dan lembut.
Alasan lain mengapa Tessa mau bekerja di klinik hewan dan penitipan hewan ini adalah, dirinya bisa berinteraksi dengan hewan berbulu yang sangat ia sukai ini. Benar, Tessa sangat menyukai kucing. Sayangnya, semenjak ayahnya menikah dengan Vania, Tessa sama sekali tidak bisa memelihara kucing. Hal tersebut disebabkan oleh Elena yang alergi bulu kucing. Karena itulah, kucing kesayangan Tessa pada akhirnya harus diserahkan pada penampungan hewan dan diadopsi oleh orang lain. Jelas, Tessa merasa sangat sedih dan terluka. Namun, Tessa tidak memiliki pilihan lain. Ia harus mengalah, demia kebahagiaan orang lain. Setidaknya, sekarang Tessa bisa bertemu dengan kucing-kucing lain dan merawat mereka seperti Tessa merawat kucingnya dahulu.
Tessa pun beranjak menarik sebuah kotak dan menyisir bulu-bulu kucing tersebut dengan penuh kasih sayang. Tessa juga memotong kuku mereka dengan hati-hati agar tidak melukai mereka. Semua yang dilakukan oleh Tessa terlihat begitu terbiasa. Tanda jika dirinya memang sudah sangat berpengalaman dalam mengurus hewan, terutama kucing. Di tempat penitipan hewan tersebut, Tessa memang dipercaya untuk mengurus kucing-kucing yang dititipkan. Tentu saja, yang bekerja di tempat itu memang tidak hanya Tessa saja. Jadi, mereka bisa berbagi tugas dalam mengurus hewan yang dititipkan. “Ah, imutnya,” ucap Tessa saat seekor kucing bergelayut manja di atas pangkuannya.
“Mau aku belikan satu yang seperti itu?”
Tessa hampir memekik kaget saat dirinya tiba-tiba mendengar suara tepat di samping telinganya. Begitu menoleh, Tessa melihat wajah pria tampan yang beberapa hari lalu baru pertama kali ia lihat. “Om Achazio?” tanya Tessa pada Aio yang ternyata kini duduk bersila di samping Tessa yang masih dikelilingi kucing.
“Cukup Aio saja. Aku belum terlalu tua untuk dipanggil seperti itu,” ucap Aio.
“Itu tidak sopan,” sanggah Tessa.
Aio yang mendengar hal itu tersenyum tipis dan menjawab, “Bagaimana kalau mulai saat ini panggil aku demikian. Aku sama sekali tidak merasa terganggu. Karena aku sudah megizinkannya, jadi itu tidak akan terasa tidak sopan.”
Tessa mengernyitkan keningnya, tetapi tak ayal berkata, “Iya, Kak Aio.”
Aio cukup terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Tessa dan mengepal-ngepalkan tangannya guna menahan sesuatu yang bergejolak dalam hatinya. “Kau terlalu menggemaskan, Tessa. Saking menggemaskannya, aku bahkan ingin mengurungmu, agar hanya aku seorang yang bisa melihat tingkah menggemaskanmu ini.”
Tessa yang mendengar hal itu mengedipkan matanya beberapa kali dan bertanya, “Maaf?”
Aio terkekeh dan menarik salah satu tangannya Tessa dan mencium pergelangan tangannya dengan lembut. “Aku akan membuatmu menjadi milikku, Tessa. Aku berjanji,” bisik Aio membuat Tessa merinding bukan main.
“Tessa!”Tessa yang baru saja selesai menyisir rambutnya, segera berlari menuju lantai bawah di mana ibunya memanggilnya dengan keras. Sampai di hadapan ibunya, Tessa bertanya, “Iya, Bunda? Kenapa beteriak seperti itu, panggilnya pelan-pelan aja, Tessa dengar kok.”Hari ini, Tessa memang libur kuliah dan memilih untuk menghabiskan waktunya di rumah. Selain karena tidak memiliki rencana dengan teman-temannya, Tessa tidak memiliki uang. Namun, Tessa sendiri tidak merasa keberatan untuk tinggal di rumah. Setidaknya, Tessa bisa menggunakan waktu liburnya untuk istirahat di kamarnya. Itu pun, jika Tessa tidak diganggu oleh ibu dan kakaknya yang sering membuat tingkah menyebalkan saat ayahnya tidak ada di rumah. Benar, keduanya tampaknya sangat senang
“Astaga!” seru Tessa kaget karena begitu ke luar dari klinik tempatnya bekerja, Tessa disambut oleh Aio yang menatapnya dengan datar.“Tu—Maksudku, Kak Aio, kenapa berdiri di sini? Kliniknya dan penitipan hewannya masih buka, kalo mau reserfasi, silakan masuk,” ucap Tessa lalu memberikan ruang bagi Aio memasuki klinik hewan tersebut. Namun, Aio sama sekali tidak bergeak.“Aku datang untuk bertemu denganmu,” ucap Aio.Tessa pun mundur menjauh saat Aio berusaha untuk meraih tangannya. Tessa tentu saja masih mengingat kejadian di mana Aio mencium tangannya dan mengatakan sesuatu yang terdengar menyeramkan bagi Tessa. Selain itu, Tessa sendiri sudah berjanji
“Argh!” teriak Tessa terbangun dari tidurnya.Lagi-lagi, Tessa mendapatkan mimpi buruk yang mengerikan. Teresa bangkit dari posisi berbaringnya dan beranjak untuk minum. Akhir-akhir ini, Tessa memang selalu terganggu oleh mimpi buruk. Mimpi buruk yang datang setelah Tessa bertemu dengan Aio tempo hari di klinik hewan. Sebenarnya, Aio sama sekali tidak melakukan sesuatu yang berlebihan padanya. Namun, perkataan yang dikatakan oleh Aio saat mencium pergelangan tangannya benar-benar terasa menakutkan bagi Tessa. “Aku akan membuatmu menjadi milikku, Tessa. Aku berjanji.”Perkataan Aio itu terus terngiang dalam benak Tessa. Jelas, Tessa merasa takut. Rasanya, wanita mana pun akan merasa takut jika tiba-tiba ad
Aio terlihat begitu percaya diri saat melangkah memasuki gedung perusahaan keluarga Heidi, yang rasanya sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan perusahaan yang dimiliki oleh keluarga Dawson. Kehadiran Aio dengan fisiknya yang menonjol, jelas membuat perhatian orang-orang dengan mudahnya tertuju pada sosoknya yang memesona. Aio terlihat didampingi oleh seorang pria muda yang juga tidak kalah memesona darinya. Keduanya menjadi pusat perhatian para karyawan yang berlalu lalang. Namun, Aio dam asistennya yang bernama Chiko, sama sekali tidak terganggu dengan hal itu dan fokus dalam perjalanan mereka menuju lantai teratas gedung ini, di mana ruangan Galih Heidi berada.Tentu saja, karena para staf sudah mengenal Aio dan sebelumnya pun Chiko sudah membuat janji dengan asisten Galih, kedatangan Aio disambut dengan
Mendengar keributan di taman, Galih pun beranjak dari ruang makan dan terkejut melihat putrinya yang tengah bergelayut di pembatas balkon. “Astaga, Tessa! Kenapa kamu seperti itu? Berbahaya, kembali ke tempat yang aman!” seru Galih. Seruan tersebut membuat Vania dan Elena beranjak mengikuti Galih. Keduanya merasa kesal karena Tessa yang terlihat muncul dengan kondisi cantik, merusak rencana yang sudah mereka susun. Perkiraan Tessa memang benar. Keduanya yang mengunci Tessa di dalam kamar, agar Aio tidak bisa bertemu dengan Tessa. Hal itu dilakukan, agar Aio hanya fokus dan jatuh hati pada Elena yang cantik. Namun, Tessa malah merusak semua usaha yang sudah dilakukan oleh ibu dan anak itu.“Iya, Ayah!” jawab Tessa sedikit berseru.
Vania—sang nyonya rumah di kediaman Heidi—memberikan isyarat pada putrinya Elena untuk mengikutinya ke lantai dua. Tentu saja, Elena yang mengerti dengan apa yang akan dilakukan oleh ibunya, segera melangkah mengikuti langkah ibunya dengan senang hati. Elena melirik kotak berisi gaun dari desainer terkenal di tangan ibunya. Elena mengerucutkan bibirnya dan mengeluh, “Kenapa Bunda menyiapkan gaun secantik itu untuknya? Harusnya, Bunda menyiapkan gaun cantik hanya untukku. Malam ini, aku harus terlihat mencolok karena kecantikanku, hingga anak itu tidak bisa menarik perhatian siapa pun.”Vania menatap putrinya yang cantik sembari mengulum senyum. “Bukan Bunda yang menyiapkan gaun ini dan gaun yang kau kenakan, Elena. Ayahmu yang menyiapkannya. Toh, gaun yang kamu kenakan terlihat leb