Share

4. Jaga Jarak

Penulis: Miafily
last update Tanggal publikasi: 2020-10-12 10:33:50

“Argh!” teriak Tessa terbangun dari tidurnya.

Lagi-lagi, Tessa mendapatkan mimpi buruk yang mengerikan. Teresa bangkit dari posisi berbaringnya dan beranjak untuk minum. Akhir-akhir ini, Tessa memang selalu terganggu oleh mimpi buruk. Mimpi buruk yang datang setelah Tessa bertemu dengan Aio tempo hari di klinik hewan. Sebenarnya, Aio sama sekali tidak melakukan sesuatu yang berlebihan padanya. Namun, perkataan yang dikatakan oleh Aio saat mencium pergelangan tangannya benar-benar terasa menakutkan bagi Tessa. “Aku akan membuatmu menjadi milikku, Tessa. Aku berjanji.”

Perkataan Aio itu terus terngiang dalam benak Tessa. Jelas, Tessa merasa takut. Rasanya, wanita mana pun akan merasa takut jika tiba-tiba ada pria asing yang mengatakan hal semacam itu padanya. Ayolah, Tessa dan Aio bahkan baru mengenal. Itu pun benar-benar hanya sekadar mengetahui nama saja, Tessa pun tidak memiliki ketertarikan lebih pada Aio semenjak pertama bertemu. Meskipun Aio memang berwajah tampan, tetapi Aio yang selalu membawa kesan dingin, sama sekali tidak sesuai dengan selera Tessa yang lebih senang dengan pria yang hangat. Selain itu, Tessa merasa Aio itu sudah terlalu dewasa baginya. Mungkin, Aio akan lebih cocok dengan Elena. Selain usia mereka yang tidak terpaut jauh, postur tubuh mereka juga tidak terlalu jauh. Berbeda dengan Tessa yang akan benar-benar tidak terlihat saat bersembunyi di belakang tubuh Aio yang tinggi kekar. Mungkin, itu pula hal yang membuat Tessa agak takut dengan Aio.

“Menyebalkan,” gumam Tessa lalu melirik jam di atas nakas.

Ini masih terlalu pagi untuk Tessa terbangun. Namun, Tessa tidak bisa tidur kembali, karena nantinya ia malah kesulitan bangun tepat waktu. Jadi, Tessa pun memilih untuk membuka laptopnya dan mengerjakan tugas untuk minggu depan. Ketika akan sibuk mengerjakan tugas, Tessa pun tanpa sadar mencari informasi mengenai Aio di internet. Tessa terkejut, saat mengetahui jika Aio adalah sulung dari kembar tiga. Ternyata, kembar tiga Dawson yang dinamai kembar ABC ini cukup terkenal di media sosial. Sayangnya, Tessa memang tidak tertarik dengan masalah semacam ini hingga tidak mengetahuinya lebih cepat. Tessa pun membaca data diri Aio yang memang dimuat di salah satu web terpercaya yang menyediakan data-data umum mengenai publik figure yang menginsipirasi.

“Nama lengkapnya Achazio Riutha Dawson. Putra sulung dari empat bersaudara. Ia adalah putra tertua dari kembar ABC, dan juga kakak dari putri bungsu keluarga Dawson. Achazio atau lebih akrab dipanggil Aio mengembangkan perusahaan IT dan penelitian ruang angkasa yang menampung bakat-bakat muda. Sosoknya sangat menginsipirasi dan bersih dari skandal apa pun.” Tessa membaca satu per satu kata di layar laptopnya dan menghela napas.

“Dia benar-benar orang yang terkenal. Karena dia benar-benar orang yang terkenal, maka aku harus menjaga jarak dengannya. Pasti Kak Elena sudah menargetkan dirinya, jadi lebih baik aku tidak memiliki hubungan apa pun dengannya. Ya meskipun, dia memang bukan tipeku,” ucap Tessa lagi sebelum menutup website dan kembali dengan niat awalnya mengerjakan tugas.

**

“Tessa, apa Achazio menemuimu?” tanya Galih pada putrinya ketika anggota keluarga Heidi tengah berkumpul menikmati sarapan mereka.

Tessa yang mendengar hal itu mengangkat kepalanya dengan kaku. Tessa langsung berpikiran negatif. Apa mungkin, Aio mengatakan pada Galih jika Tessa bekerja di klinik hewan? Jika iya, bisa-bisa Tessa akan mendapatkan kemarahan dari ibu tirinya. Tessa yang mendapatkan uang jajan terbatas, memanglah keputusan sepihak dari Vania. Sebenarnya, Galih sudah menyiapkan satu kartu ATM masing-masing bagi Tessa dan Elena. Setiap bulannya, ia memberikan uang saku yang sama besarnya bagi kedua putrinya itu. Jika sampai, Galih tahu jika kartu ATM Tessa disita oleh Vania, dan hanya diberi uang terbatas setiap harinya, sudah dipastikan jika Galih akan marah pada Vania. Lalu, hal itu akan berimbas pada Tessa, yang selama ini berusaha untuk hidup tenang dengan mengikuti kemauan ibu dan kakak tirinya itu.

“Me, Memangnya kenapa Ayah?” tanya balik Tessa.

Vania yang mendengar hal it mengernyit. “Tidak sopan! Orang tua bertanya, harusnya menjawab dengan benar. Bukannya malah bertanya balik seperti itu,” ucap Vania mengkritik sikap Tessa.

“Tidak apa-apa,” ucap Galih membela Tessa dan jelas hal itu membuat Vania agak jengkel. Sementara itu, Elena yang mendengar nama Aio disebut, segera memasanga telinganya dengan baik-baik. Tentu saja, ia harus mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya mengenai pria yang akan ia dekati.

“Jadi, apa dia menemuimu?” tanya Galih.

Tessa yang mendengar pertanyaan kali ini, mendapatkan keyakinan jika ayahnya tidak mengetahui fakta mengenai pekerjaan paruh waktunya. Tessa pun dengan percaya diri menggeleng. “Tidak, Ayah. Memangnya kenapa?” tanya Tessa.

Galih pun mengulum senyum dan menjawab, “Sepertinya, Achazio tertarik padamu.”

Saat itulah, Tessa benar-benar menyesal sudah mengajukan pertanyaan itu pada ayahnya. Karena saat itu pula, Tessa merasakan dua pasang tatapan tajam yang menghujam padanya. Sudah dipastikan, jika ke depannya, Tessa akan mendapatkan gangguan dari ibu dan kakak tirinya itu. Sesuai dengan perkiraan Tessa, setelah sarapan selesai, Elena pun menawarkan diri untuk mengantarkan Tessa kuliah. Tentu saja, Tessa tidak bisa menolak dan pada akhirnya berada satu mobil dengan kakak tirinya yang berprofesi sebagai model yang pamornya tengah naik daun. Saat memasuki jalan raya, barulah Elena mengatakan apa yang sejak tadi ia pendam. “Jangan pernah berpikir untuk mendekati Aio,” ucap Elena.

Tessa sama sekali tidak menolak dan menjawab patuh, “Iya, Kak.”

“Aku sama sekali tidak main-main, Tessa. Jika sampai kau berani memiliki hubungan dengannya, maka aku akan membuatmu bernasib sama dengan kucing yang dahulu kau pelihara. Aku akan membuat Ayah menendangmu dari rumah,” ucap Elena sungguh-sungguh.

Tessa yang mendengar hal itu menahan napasnya. Ini adalah sesuatu yang terasa menyedihkan bagi Tessa. Rumah yang mereka tinggali, adalah rumah hasil kerja keras Galih, ayah kandung Tessa. Namun, Tessa seakan-akan tinggal menumpang. Vania dan Elena yang datang tiba-tiba pada kehidupan Tessa terasa menguasai semuanya dengan mudah. Dimulai dari rumah, hingga Galih. Benar, selama bertahun-tahun, Tessa sudah mempelajari banyak hal mengenai ibu dan kakak tirinya itu. Keduanya sangat dicintai dan dipercaya oleh Galih. Bahkan, Tessa merasa jika Galih lebih mempercayai mereka daripada Tessa yang tak lain adalah putri kandungnya sendiri. Karena itulah, Tessa tidak memiliki pilihan lain, selain menurut pada Vania dan Elena, jika masih ingin hidup bersama sang ayah yang sangat ia sayangi itu.

“Iya, Kakak. Aku ngerti,” ucap Tessa lelah.

Lalu tiba-tiba, Elena menghentikan mobilnya di bahu jalan dan berkata, “Turun! Aku tidak memiliki waktu untuk mengantarmu.”

Tessa pun segera ke luar dari mobil dan Elena pergi begitu saja tanpa merasa bersalah. Tessa adalah putri kandung dari Galih, tetapi alih-alih dimanjakan, Tessa malah serba kesulitan. Untuk berangkat ke kampus pun, Tessa harus menggunakan angkutan umum daripada kendaran pribadi. Vania tidak mengizinkan Tessa diantar oleh supir atau memiliki kendaraan pribadi. Dengan lihainya, Vania meyakinkan Galih jika berbahaya mengizinkan Tessa mengendarai kendaraan secara pribadi, dan Tessa akan menjadi gadis manja saat diantar jemput oleh supir. Jadi, pada akhirnya Tessa harus menggunakan transportasi umum. “Ya, aku sudah terbiasa. Tapi jam segini, mana ada angkutan umum yang lewat?” tanya Tessa kesal pada dirinya sendiri dan mengeluarkan ponselnya berniat untuk memesan ojek online.

Sayangnya, tidak ada satu pun ojek online yang menerima pesanannya. Jelas, Tessa pun mulai kesal dan resah. Tinggal tersisa waktu tiga puluh menit sebelum kelas dimulai. Jika Tessa tidak datang tepat waktu, bisa-bisa Tessa harus mengulang kelas ini di semester depan. Tentu saja Tessa tidak ingin hal itu terjadi. Tessa berniat untuk menyelesaikan kuliahnya tepat waktu. Saat Tessa berniat untuk berjalan saja hingga kampusnya sembari menunggu pesanan ojeknya diterima, Tessa mendengar suara klakson motor. Begitu menoleh, Tessa segera tersenyum lebar. “Haikal!” seru Tessa senang.

“Seneng banget romannya ketemu Haikal,” ucap pemuda yang membuka kaca helm dan tersenyum lebar pada Tessa. Haikal dan Tessa memang sudah cukup akrab. Keduanya sudah saling mengenal sejak sekolah menengah pertama, dan berteman sejak saat itu. Meskipun kuliah di jurusan yang berbeda, tetapi keduanya masih menjalin hubungan yang cukup dekat sebagai teman. Bahkan, bisa terbilang jika Haikal adalah teman lelaki satu-satunya yang dimiliki oleh Tessa. Karena selama ini Tessa tidak bisa merasa nyaman saat berdekatan dengan lawan jenis yang ada saja tingkahnya yang membuat Tessa tidak nyaman dan menjaga jarak. Dan menurut Tessa, pria yang paling tidak membuatnya nyaman adalah Aio. Pria itu ada di urutan pertama.

“Iya dong, Haikal pasti mau nawarin tumpangan, kan? Dengan senang hati, Tessa terima,” ucap Tessa tanpa permisi segera naik ke atas motor gede Haikal dengan susah payah.

Haikal yang mendengar hal itu mendengkus. “Makanya, tumbuh dong. Orang lain tumbu ke atas, atau ke samping. Lo mah malah tumbuh ke bawah,” ucap Haikal.

“Emang ada ya yang tumbuh ke bawah?” tanya Tessa sembari dibantu mengenakan helm oleh Haikal.

“Ada. Jenglot, contohnya,” ucap Haikal membuat Tessa memukul punggungnya dengan keras.

“Massa Tessa disamain kayak jenglot?” tanya Tessa tidak terima.

Haikal tertawa keras dan berkata, “Kan emang sama-sama. Sama-sama kecil imut-imut,” ucap Haikal lalu melajukan motornya dengan kecepatan standar.

Tessa dan Haikal terus beradu pendapat saat motor tersebut melaju menuju kampus mereka berada. Keduanya sama sekali tidak menyadari jika ada sepasang mata yang mengawasi keduanya dengan tatapan begitu tajam. Sosok yang tengah sibuk mengawasi tersebut, tak lain adalah Aio. Pria itu menghubungi Chiko dan berkata pada bawahannya itu, “Carikan informasi mengenai pemilik moto bernomor polisi B 1234 TT. Saat aku sampai ke kantor, aku ingin semua informasinya sudah berada di atas mejaku.”

Setelah memutuskan sambungan telepon, Aio pun tetap mengendarai mobilnya mengikuti motor yang dikendarai Haikal tentu saja dengan menjaga jarak. Aio terlihat begitu kesal karena apa yang tadi ia lihat. Wajah ceria yang ditunjukkan oleh Tessa, dan keakraban Tessa dengan pemuda seumurannya itu sangat mengusik ketenangan Aio. “Aku sudah berjanji akan menjadikanmu sebagai milikku, Tessa. Maka aku tidak akan bermain-main dengan apa yang sudah aku katakan. Aku tidak akan segan-segan menyingkirkan orang-orang yang menghalangi jalanku,” bisik Aio sungguh-sungguh.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • The Billionaire Chasing Cinderella (Bahasa Indonesia)   6. Upik Abu

    “Tessa!”Tessa yang baru saja selesai menyisir rambutnya, segera berlari menuju lantai bawah di mana ibunya memanggilnya dengan keras. Sampai di hadapan ibunya, Tessa bertanya, “Iya, Bunda? Kenapa beteriak seperti itu, panggilnya pelan-pelan aja, Tessa dengar kok.”Hari ini, Tessa memang libur kuliah dan memilih untuk menghabiskan waktunya di rumah. Selain karena tidak memiliki rencana dengan teman-temannya, Tessa tidak memiliki uang. Namun, Tessa sendiri tidak merasa keberatan untuk tinggal di rumah. Setidaknya, Tessa bisa menggunakan waktu liburnya untuk istirahat di kamarnya. Itu pun, jika Tessa tidak diganggu oleh ibu dan kakaknya yang sering membuat tingkah menyebalkan saat ayahnya tidak ada di rumah. Benar, keduanya tampaknya sangat senang

  • The Billionaire Chasing Cinderella (Bahasa Indonesia)   5. Menunggu Waktu

    “Astaga!” seru Tessa kaget karena begitu ke luar dari klinik tempatnya bekerja, Tessa disambut oleh Aio yang menatapnya dengan datar.“Tu—Maksudku, Kak Aio, kenapa berdiri di sini? Kliniknya dan penitipan hewannya masih buka, kalo mau reserfasi, silakan masuk,” ucap Tessa lalu memberikan ruang bagi Aio memasuki klinik hewan tersebut. Namun, Aio sama sekali tidak bergeak.“Aku datang untuk bertemu denganmu,” ucap Aio.Tessa pun mundur menjauh saat Aio berusaha untuk meraih tangannya. Tessa tentu saja masih mengingat kejadian di mana Aio mencium tangannya dan mengatakan sesuatu yang terdengar menyeramkan bagi Tessa. Selain itu, Tessa sendiri sudah berjanji

  • The Billionaire Chasing Cinderella (Bahasa Indonesia)   4. Jaga Jarak

    “Argh!” teriak Tessa terbangun dari tidurnya.Lagi-lagi, Tessa mendapatkan mimpi buruk yang mengerikan. Teresa bangkit dari posisi berbaringnya dan beranjak untuk minum. Akhir-akhir ini, Tessa memang selalu terganggu oleh mimpi buruk. Mimpi buruk yang datang setelah Tessa bertemu dengan Aio tempo hari di klinik hewan. Sebenarnya, Aio sama sekali tidak melakukan sesuatu yang berlebihan padanya. Namun, perkataan yang dikatakan oleh Aio saat mencium pergelangan tangannya benar-benar terasa menakutkan bagi Tessa. “Aku akan membuatmu menjadi milikku, Tessa. Aku berjanji.”Perkataan Aio itu terus terngiang dalam benak Tessa. Jelas, Tessa merasa takut. Rasanya, wanita mana pun akan merasa takut jika tiba-tiba ad

  • The Billionaire Chasing Cinderella (Bahasa Indonesia)   3. Restu

    Aio terlihat begitu percaya diri saat melangkah memasuki gedung perusahaan keluarga Heidi, yang rasanya sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan perusahaan yang dimiliki oleh keluarga Dawson. Kehadiran Aio dengan fisiknya yang menonjol, jelas membuat perhatian orang-orang dengan mudahnya tertuju pada sosoknya yang memesona. Aio terlihat didampingi oleh seorang pria muda yang juga tidak kalah memesona darinya. Keduanya menjadi pusat perhatian para karyawan yang berlalu lalang. Namun, Aio dam asistennya yang bernama Chiko, sama sekali tidak terganggu dengan hal itu dan fokus dalam perjalanan mereka menuju lantai teratas gedung ini, di mana ruangan Galih Heidi berada.Tentu saja, karena para staf sudah mengenal Aio dan sebelumnya pun Chiko sudah membuat janji dengan asisten Galih, kedatangan Aio disambut dengan

  • The Billionaire Chasing Cinderella (Bahasa Indonesia)   2. Tanggung Jawab

    Mendengar keributan di taman, Galih pun beranjak dari ruang makan dan terkejut melihat putrinya yang tengah bergelayut di pembatas balkon. “Astaga, Tessa! Kenapa kamu seperti itu? Berbahaya, kembali ke tempat yang aman!” seru Galih. Seruan tersebut membuat Vania dan Elena beranjak mengikuti Galih. Keduanya merasa kesal karena Tessa yang terlihat muncul dengan kondisi cantik, merusak rencana yang sudah mereka susun. Perkiraan Tessa memang benar. Keduanya yang mengunci Tessa di dalam kamar, agar Aio tidak bisa bertemu dengan Tessa. Hal itu dilakukan, agar Aio hanya fokus dan jatuh hati pada Elena yang cantik. Namun, Tessa malah merusak semua usaha yang sudah dilakukan oleh ibu dan anak itu.“Iya, Ayah!” jawab Tessa sedikit berseru.

  • The Billionaire Chasing Cinderella (Bahasa Indonesia)   1. Pertemuan Pertama

    Vania—sang nyonya rumah di kediaman Heidi—memberikan isyarat pada putrinya Elena untuk mengikutinya ke lantai dua. Tentu saja, Elena yang mengerti dengan apa yang akan dilakukan oleh ibunya, segera melangkah mengikuti langkah ibunya dengan senang hati. Elena melirik kotak berisi gaun dari desainer terkenal di tangan ibunya. Elena mengerucutkan bibirnya dan mengeluh, “Kenapa Bunda menyiapkan gaun secantik itu untuknya? Harusnya, Bunda menyiapkan gaun cantik hanya untukku. Malam ini, aku harus terlihat mencolok karena kecantikanku, hingga anak itu tidak bisa menarik perhatian siapa pun.”Vania menatap putrinya yang cantik sembari mengulum senyum. “Bukan Bunda yang menyiapkan gaun ini dan gaun yang kau kenakan, Elena. Ayahmu yang menyiapkannya. Toh, gaun yang kamu kenakan terlihat leb

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status